|
|
SOROT
hal 1 | hal
2
Angin Surga Berbuntut
Petaka
Fenomena pedofil di pulau dewata
jadi momok sangat menakutkan. Jika lemah dalam penanganannya,
bukan mustahil bisa menjerumuskan generasi penerus Bali.
Fenomena
pedofil di pulau dewata jadi momok sangat menakutkan.
Jika lemah dalam penanganannya, bukan mustahil bisa
menjerumuskan generasi penerus Bali. Berhati-hatilah
terhadap orang asing yang berbuat baik, apalagi belum
dikenal betul wataknya. Alih-alih mendapat bantuan,
babak akhirnya justru terjerat dalam petaka.
Mau contoh? Cobalah lihat anak-anak korban pedofil di
Bali yang sesuai hasil penelitian Rohman dari Pusat
Studi Kependudukan dan Kawasan (PSKK) Universitas Gajah
Mada (UGM) Yogyakarta, selama 10 tahun (1995-2005) jumlahnya
sekitar 17 orang. Awalnya, anak-anak dari keluarga kurang
mampu, korban perceraian, dan kurang mendapat perhatian
dari orangtua itu mendapat perhatian sangat besar dari
para pedofil. Mereka diajak bermain ke tempat yang bagus,
diberikan barang-barang yang menarik hati, dan dibelai
dengan penuh kasih sayang. Namun, dibalik tumpahan rasa
sayang itu, ternyata anak-anak ini menjadi obyek seksual
para pedofil. Dalam usia yang masih belia dihadapkan
pada perilaku seks nyeleneh, sesuatu yang tak lazim
dalam hidupnya. Mau menolak takut, akhirnya si korban
pun mengikuti hasrat hati para pelaku pedofilia. Akibat
akhirnya, tentu membawa dampak negatif bagi perkembangan
korban. Tekanan mental yang dirasakan para korban pun
cukup berat. Dari hasil penelitian I Dewa Gede Basudewa,
korban pedofilia akan menderita trauma dan penyesalan
yang panjang. Setidaknya ada empat trauma yang dialami,
trauma karena kejadian itu sendiri, trauma akibat dimarahi
orangtua, trauma bila keluar rumah diejek teman-teman
di sekolah, dan trauma diejek masyarakat.
Kalau sampai tak mendapat penanganan secara profesional
dan saling mendukung, maka akan menjadi gangguan selama
hidupnya. Korban mengalami kesulitan dalam memandang
kehidupan selanjutnya, terkait dengan diri dan orang-orang
dewasa di sekitar, dan kelak bila dewasa akan berpengaruh
pula terhadap hubungan seksual dengan pasangannya. Di
mana akan terjadi konflik-konflik. Seperti dialami korban
pedofil sebut saja namanya Gede, dari Karangasem. Akibat
tindakan para pedofilia, kerap kali dia merasa mual
bila mengingat peristiwa menjijikan itu. Di samping
itu, pikirannya seringa tegang saat mana bertemu dengan
orang asing, terutama laki-laki “Sangat besar
akibat yang ditimbulkan dari perilaku para pedofilia
terhadap anak-anak di Bali,” dosen Bagian Psikiater
dari Fakultas Kedokteran Unud ini mengingatkan. Bukan
hanya Gede, korban pedofilia yang lain juga mengalami
penderitaan berat. Putu (bukan nama sebenarnya), korban
dari Tony pedofil asal Australia, mengaku sering mimpi
buruk dan tidurnya tak nyenya, takut kalau ada orang
luar yang mendatangi dan minder bila keluar rumah. Dia
kerap merasa dikejar-kejar sesuatu serta seakan-akan
tinggal di laut sendirian.
Tak berhenti sampai di situ. Putu juga sering jadi objek
ejekan teman-teman satu sekolah. Akibatnya dia jadi
mudah marah tersinggung tanpa sebab, bingung, dan terkadang
menangis sendirian. Beruntung teman sekelasnya tak sampai
menistakan Putu. Itu semua akibat besarnya kesadaran
di antara teman sesama satu kelas, serta peran wali
kelas yang selalu mengingatkan teman-temannya supaya
tak menyakiti perasaan orang yang jadi korban pedofilia.
Jika peristiwa kekerasan seperti ejekan dari teman-teman
sekolah tak cepat tertangani, dalam amatan Dewa Basudewa,
trauma itu akan berimbas negatif secara permanen pada
kepribadian anak. Korban akan berkembang senantiasa
menjadi anak dengan kewaspadaan tingi, tegang, dan tak
percaya pada orang dewasa. Bukan mustahil, si korban
merasa tak mempunyai harapan dan pesimistis akan masa
depannya. “Korban pedofilia akan merasa sangat
tertekan oleh kondisi yang dialami. Lebih-lebih lingkungan
sekitar, termasuk orangtua kurang memahami keadaan psikologis
yang dialami korban”, cermat Psikolog dari Universitas
Udayana, I Made Rustika. Jika kurang mendapat perhatian,
maka yang bersangkutan akan merasa terpinggirkan, terkucilkan,
dan ujung-ujungnya beban mental terus menekan. Kurang
cepat menangani, bukan tak mungkin si korban mengalami
stres berat. Kasus-kasus pedofil yang dialami anak-anak
di Bali, memang berdampak pada aspek kejiwaan dan psikologis
pada diri korban. Di tambah lagi implikasinya pada aspek
kepercayaan kultural. Sebab di desa tertentu, seperti
pada satu desa di kaki kaki Gunung Agung, Karangasem,
muncul kepercayaan orang yang menjadi korban pedofil
bisa dikategorikan kotor (leteh/cuntaka), keberadaannya
dapat mengganggu keseimbangan alam Buana Alit (diri
anak sendiri), dan alam Buana Agung (alam raya).
Meminjam cara pandang kultural dari orang-orang di kaki
Gunung Agung seperti itu, berarti dapat diketahui bahwa
anak-anak korban pedofil itu, secara kultur telah bernilai
cuntaka dan dipandang dapat menimbulkan gangguan keseimbangan
alam Buana Agung - Buana Alit, baik secara skala maupun
niskala, yang sekaligus juga harus ditempatkan pada
posisi ruang yang nista. Di teben (hilir).
Sedangkan
dalam tradisi Bali, anak laki-laki seharusnya tak berada
pada situasi dan posisi seperti itu. Semestinya anak
laki-laki berada pada tempat (ruang) yang utama (suci),
atau pada areal luanan (hulu) karena posisinya sebagai
penerus keluarga dan kegiatan adat. Akibat menjadi korban
pedofil posisi dan nilai kultural tersebut menjadi tidak
bisa diperoleh, dan anak tersebut dipandang oleh kultur
telah bernilai cuntaka. Artinya lagi konflik telah terjadi
dan apabila tak segara dilukat (dibersihkan/disucikan),
dipercaya dapat menimbulkan bencana bagi kultur, termasuk
diri anak sendiri. Teramat menyesakkan memang akibat
yang dirasakan dari perilaku orang-orang pengidap pedofil
terhadap anak-anak di Bali. Mereka telah menutup rapat-rapat
peran generasi Bali di tanahnya sendiri. Belum lagi
reziko lain yang bisa dialami, seperti gangguan kesehatan
masyarakat, HIV/AIDS, HAM, migrasi, kejahatan terorganisir,
dan moral (sosial budaya).
Mengingat begitu besar dampak negatif yang ditimbulkan
oleh perilaku para pedofilia, selain berdampak pada
aspek kejiwaan dan psikologis pada diri anak itu sendiri,
juga berimplikasi pada aspek kepercayaan kultural masyarakat
Bali maka upaya menekan, mengantisipasi tindakan tersebut
agar tak tumbuh kembali harus terus digalakkan. Dewa
Basudewa kemudian menawarkan beberapa langkah yang intinya
minimal mampu mencegah tindakan pedofilia di Bali. Mewaspadai
bantuan orang asing merupakan satu keharusan, sekalipun
terhadap keluarga yang dari sudut kemampuan ekonomi
kurang menguntungkan. Jika ada orang luar memberikan
bantuan hendaklah dibicarakan dulu bersama dengan yang
lain. Kalau dirasa ada yang mencurigakan secepatnya
dilaporkan ke pihak berwenang. “Sumbangan hendaknya
diterima secara selektif,” himbau Basudewa.
Khusus pada anak-anak yang jadi korban, perlakukan secara
baik, arif, serta bijaksana. Tak mesti ditempatkan pada
posisi yang terpojok. Upaya yang tak kalah penting,
ingat Made Rustika, peran keluarga maupun masyarakat
dalam usaha memberi semangat hidup pada korban. Sampaikan
ke korban, bahwa yang bersangkutan akan bisa menghadapi
hidup lebih baik dan bertambah cerah di masa mendatang.
Di sisi lain, tidak ada alasan bagi pemerintah untuk
tidak serius menyikapi persoalan ini. Apalagi pedofilia
merupakan tinakan kriminal, maka masyarakat mesti meminta
pelaku dihukum berat. Tindakan itu penting dilakukan,
minimal untuk memunculkan efek jera bagi para pedofil
bila berkeinginan melakukan aksinya. I Wayan
Sucipta
|