|
|
NYAMA
BRAYA
Pindah Agama Gaya Hindu
Tengger
Walau sudah dilindungi undang-undang,
lembaga-lembaga resmi keagamaan, puluhan kertas kerja
hasil penelitian, warga Hindu di Tengger masih saja
tetap jadi incaran untuk pindah ke agama Semit. Tanya
kenapa?
Warga
Hindu Tengger, Jawa Timur, secara resmi tercatat masuk
Hindu sejak 1975. Namun dalam rentang waktu selama itu,
infrastruktur masih belum menunjukan gejala-gejala membaik.
Warga Hindu Tengger masih berkutat pada persoalan minimnya
akses pada ekonomi, pendidikan, dan komunikasi. Berputar-putar
bagai lingkaran setan. Kondisi ini merupakan lahan subur
bagi pengikut agama misionaris untuk menjaring anggota
baru. Lihat saja Anis, bukan nama sebenarnya, warga
Desa Tegalsari, Kecamatan Tegalsari, Kabupaten Pasuruan
atau Tengger Utara. Anis lahir dari pasangan suami istri
yang berlainan agama. Ibunya beragama Hindu sementara
sang ayah pengikut agama Semit. Anis adalah putri keempat
dari lima bersaudara. Di antara keluarga itu, kakak
nomor dua Anis yang mengikuti agama sang ayah. Anis
sendiri beragama Hindu. Saat Anis masih ingusan, sang
ayah pergi entah ke mana. Pamitnya ‘hendak mencari
kerja’, tapi tak kembali berbulan-bulan. Sampai
beberapa tahun kemudian terdengar kabar sang ayah menikah
lagi dengan wanita seiman. Tak pelak lagi, ibu Anis
beserta ayahnya (kakek Anis) memeras keringat untuk
menjalani kehidupan. Ibu Anis bekerja sebagai penjual
makanan khas Tengger saat perayaan agama Semit dan juga
ritual budaya lokal seperti Karo dan Kasodo. Tapi dagangan
sang ibu kini kurang laku, kalah bersaing dengan jajan
‘impor’ dari kota, yaitu Pasuruan.
Sementara sang kakek bekerja sebagai pemborong bangunan,
namun usia yang tidak mengizinkan dia untuk meneruskan
pekerjaan itu. Kakek Anis juga berprofesi sebagai dukun
(sebuah istilah yang lebih menekankan makna pemimpin
spiritual dibandingkan dengan sebuah profesi yang berkaitan
dengan klenik), dan lewat profesinya itu dia mendapatkan
uang dari sesari untuk dibawa pulang. Itupun setelah
dibagi dengan dua orang ‘asisten’nya, yaitu
sepuh dan legen.
Saat kakek Anis menjalani masa ‘pensiun’
sebagai dukun, Anis sudah melewati masa akil baliq dan
mengalami kesulitan untuk membiayai sekolahnya. Ia,
bersama sang kakak nomor tiga, lalu bekerja sebagai
tukang cuci piring pada seorang yang disebutnya juragan,
penjual bakso kaki lima. Sang juragan adalah pengikut
agama Semit. Ia, saat pembeli sepi, secara agresif mendorong
Anis agar pindah agama saja. Anis menolak, tapi sang
juragan tidak menyerah. Sampai suatu saat, pertahanan
Anis jebol, yaitu saat ujian tiba. Ibu dan kakeknya
lagi bokek, tidak punya uang untuk membiayai ujian Anis.
Sang juragan datang sebagai dewa penyelamat, dengan
membiayai ujian. Anis pun menganggukkan kepala saat
diminta masuk agama Semit. Para tetangga mendengar berita
itu. Kontan mereka mendatagi rumah Anis dan memberi
beragam fasilitas peribadatan agama Semit. Kakek Anis
shock dan masuk Intensive Care Unit (ICU) untuk beberapa
hari. Sang kakek merasa gagal membina keluarga. Maklum,
bagi orang Tengger jabatan sebagai dukun identik sebagai
panutan masyarakat. Bukan hanya itu, Anis ternyata hamil,
dihamili sang juragan. Untuk mengurangi rasa malu dihadapan
masyarakat sang kakek mengawinkan Anis dengan sang juragan
dengan status ‘kawin kontrak’. Tetapi kesabaran
kakek Anis sudah habis. Ia pun diusir dari rumah. Sedangkan
Anis, kini terbang bersama angin. Terbang entah ke mana.
Kisah pilu Anis ini bisa jadi tidak tertangkap kamera
statistik pemerintah, organisasi agama, objek material
penelitian, atau apapun itu. Tetapi cerita anak manusia
dari Tengger itu toh menguatkan pendapat, bahwa terdapat
bahaya-bahaya tertentu dari peran pemerintah yang begitu
mendalam dalam persoalan agama. Salah satunya adalah
peminggiran agama-agama lokal dengan tehnik yang luar
biasa halus, tapi mematikan.
Sebagaimana diketahui publik, pada tahun 1965, ketika
gerakan G30S/PKI meletus, masyarakat Tengger kebingungan
“mencari” agama. Pada waktu itu, bagi warga
negara Indonesia, beragama adalah pilihan yang tak boleh
ditawar. Siapa saja yang menjadi warga Negara Republik
Indonesia harus beragama. Jika tidak, yang bersangkutan
akan dituduh sebagai atheis; dan atheis adalah komunis;
dan komunis adalah PKI. Begitu pemahaman sebagian masyarakat
pada saat itu. Pemerintah hanya mengakui lima agama,
yaitu Islam, Protestan, Katolik, Hindu, dan Budha. Seorang
padanda yang datang ke Tengger memastikan bahwa ritual
Karo dan Kasada yang dilakukan masyarakat setempat adalah
agama Hindu. Upacara kurban Kasada merupakan salah satu
upacara keagamaan atau upacara adat yang digunakan orang
Tengger, sebagai sarana untuk berkomunikasi dengan kekuatan
besar yang mereka muliakan tetapi sekaligus mereka takuti,
agar memberikan perlindungan dan mengabulkan keinginannya.
Pada awalnya, yang menjadi kurban adalah seorang manusia
bernama Raden Kusuma. Tapi setelah itu Raden Kusuma
berpesan bahwa untuk selanjutnya kurban yang dipersembahkan
berupa hasil pertanian saja, karena ia telah menjadi
kurban yang mewakili saudara-saudaranya. Raden Kusuma
dianggap sebagai penyelamat anak cucu Dewi Rara Anteng
dan Jaka Seger yang lain. Secara teknis, ritual Kasada
ini dianggap sebagai varian dari Hinduisme — sejajar
dengan varian lain seperti Sai Baba, Hare Khrisna dan
sebagainya.
Lokasi upacara Kasada dilaksanakan di Pura Poten, sebuah
areal persembahyangan seluas dua hektar. Pada mulanya
areal Pura Poten hanya berupa bale benggong yang difungsikan
sebagai tempat melakukan ritual pengorbanan. Namun sejalan
dengan pilihan warga Tengger untuk megarahkan semangat
keberagamaannya pada Hindu, maka areal itu pun dibangun
pura dengan gaya arsitektur campuran Bali dan Jawa.
Bersamaan dengan itu, muncul pula organisasi keagamaan
seperti Parisada yang kepengurusannya dijabat orang
Bali. Sementara Perhimpunan Pemuda Hindu Dharma Indonesia
(Peradah) mulai diaktifkan kembali tahun-tahun belakangan
ini dengan warga Tengger sebagai pucuk pimpinan. Munculnya
organisasi-organisasi ini bukan secara otomatis menjadikan
infrastruktur kehinduan menjadi kuat, tapi masih belum
mampu bergerak pada tingkat penyelesaian persoalan ekonomi,
pendidikan, dan komunikasi.
Bidang pendidikan agama Hindu misalkan, masih saja menghadapi
persoalan yang sama, jalan di tempat, yaitu urusan administrasi-birokrasi.
Kasus pemuda Tengger Raha Winarko adalah satu contoh
yang bagus untuk ditampilkan. Sama seperti Anis. Raha
nyaris berpindah agama dari Hindu ke agama Semit lainnya.
Hanya saja agama Semit yang satu ini relatif lebih lembut
dalam ‘menjaring’ pengikut baru. Jalur yang
digunakan ini bukan ekonomi tapi pendidikan. “Ajaran
agama mereka lebih bisa dimengerti dan cepat ditangkap,”
ujar Raha.
Penututran Raha ini bisa dipahami karena seorang guru
agama di Tengger bisa mengajar di lima sekolah. Artinya,
bila guru agama Hindu yang setiap minggu diwajibkan
mengajar pada satu sekolah datang pada sekolah A hari
ini, maka belum tentu ia akan mengajar lagi di sekolah
yang sama pada minggu depan. Akibatnya, siswa tidak
bisa menerima pelajaran agama Hindu secara berkesinambungan
Raha sendiri sempat mengenyam pendidikan formal Sekolah
Menengah Umum yang berbasis agama Semit. “Saya
sempat meninggalkan Hindu pada waktu itu” desahnya.
Selama tiga tahun itu Raha didekati oleh pengurus sekolah
dan dibujuk agar mau beralih agama dengan tehnik yang
terbilang klasik, yaitu diajari cara-cara bedoa, diberi
perhatian lebih bahkan disuruh memimpin doa segala.
“Tapi segera saya kembali ke Hindu usai menamatkan
SMA,” potong pemuda berambut ikal ini. Bukan hanya
itu, semangat Raha untuk belajar agama Hindu kembali
menyala. Bisa jadi, doa Raha didengar Tuhan. Seorang
teman memberi tahu bahwa Universitas Hindu Denpasar
(Unhi) dan Institut Agama Hindu Negeri (IHDN) Denpasar
memberi beasiswa. Kalau IHDN membayar setengah, Unhi
beasiswa penuh alias gratis. Raha sempat mempertanyakan
istilah gratis itu, tapi pihak pegawai kecamatan tidak
bisa memberi informasi yang tuntas.
Raha nekad. Bersama dengan seorang teman ia berangkat
ke Denpasar dengan dibekali ibu tercinta uang Rp 500.000,00.
Tetapi saat di meja pendaftaran calon mahasiswa Raha
dimintai sejumlah uang yang jumlahnya belum dia pikirkan
selama hidupnya. Raha bahkan sempat mendengar ucapan
seorang pejabat Unhi: “Zaman sekarang mana ada
pendidikan gratis”. Mendengar ucapan itu Raha
bergidik, terkejut setengah mati. Teman Raha satu kampung
balik kanan, pulang ke Tengger. Raha juga malu, merasa
tersudut, tapi tak menyerah. Ia langsung menghadap rektor
Unhi, Ida Bagus Yudha Triguna untuk meminta beasiswa
penuh. Tanpa tending aling Yudha Triguna menganggukan
kepala dan memberi Raha disposisi untuk ditindaklanjuti.
“Saya bebas uang SPP, uang gedung dan SKS,”
rinci Raha. Bukan hanya itu, ia diperbolehkan tinggal
dan bekerja di lingkungan kampus Unhi. Hanya saja, saat
ini Raha masih harus menanggung utang ‘uang ospek’
yang juga tidak bisa dianggap murah bagi orang gunung
seperti dia. Bukan hanya itu, bila dibandingkan dengan
pelajaran agama Semit yang diterimanya saat SMA, “Ibaratnya
botol, saya masih kosong, belum mendapatkan apa-apa
selama kuliah di sini. Seperempat saja belum,”
dia berkeluh. Ini bukan sihir bukan sulap, tapi fakta
sosial.
Reformasi (varian) Hindu di Indonesia terhambat pada
negara yang begitu usil mengurusi kehidupan keagamaan
warganya, sementara klas menengah Hindu masih berkutat
pada persoalan pengakuan politis dan prestise sosial.
Karena persoalan kehinduan di Indonesia sudah jelas,
maka yang diperlukan sebenarnya satu kata sederhana
diucapkan, tapi berat dilaksanakan: komitmen pada perbaikan
infrastruktur. Jayakumara
|