No. 94/ Tahun IX Februari 2008
majalah gumi bali [sarad]
prihal pikir, kata dan laku manusia bali
 
Reracikan/Daftar Isi
Paruman/Sajian Utama
Cakepan
Paras Paros
Nyama Braya
Bale Bengong
Dresta
Orta
Sameton
Sasih
Sorot
Susila
Tatwa
Upacara
Wirasa/Surat Pembaca

   

NYAMA BRAYA

Pindah Agama Gaya Hindu Tengger

Walau sudah dilindungi undang-undang, lembaga-lembaga resmi keagamaan, puluhan kertas kerja hasil penelitian, warga Hindu di Tengger masih saja tetap jadi incaran untuk pindah ke agama Semit. Tanya kenapa?

Warga Hindu Tengger, Jawa Timur, secara resmi tercatat masuk Hindu sejak 1975. Namun dalam rentang waktu selama itu, infrastruktur masih belum menunjukan gejala-gejala membaik. Warga Hindu Tengger masih berkutat pada persoalan minimnya akses pada ekonomi, pendidikan, dan komunikasi. Berputar-putar bagai lingkaran setan. Kondisi ini merupakan lahan subur bagi pengikut agama misionaris untuk menjaring anggota baru. Lihat saja Anis, bukan nama sebenarnya, warga Desa Tegalsari, Kecamatan Tegalsari, Kabupaten Pasuruan atau Tengger Utara. Anis lahir dari pasangan suami istri yang berlainan agama. Ibunya beragama Hindu sementara sang ayah pengikut agama Semit. Anis adalah putri keempat dari lima bersaudara. Di antara keluarga itu, kakak nomor dua Anis yang mengikuti agama sang ayah. Anis sendiri beragama Hindu. Saat Anis masih ingusan, sang ayah pergi entah ke mana. Pamitnya ‘hendak mencari kerja’, tapi tak kembali berbulan-bulan. Sampai beberapa tahun kemudian terdengar kabar sang ayah menikah lagi dengan wanita seiman. Tak pelak lagi, ibu Anis beserta ayahnya (kakek Anis) memeras keringat untuk menjalani kehidupan. Ibu Anis bekerja sebagai penjual makanan khas Tengger saat perayaan agama Semit dan juga ritual budaya lokal seperti Karo dan Kasodo. Tapi dagangan sang ibu kini kurang laku, kalah bersaing dengan jajan ‘impor’ dari kota, yaitu Pasuruan.
Sementara sang kakek bekerja sebagai pemborong bangunan, namun usia yang tidak mengizinkan dia untuk meneruskan pekerjaan itu. Kakek Anis juga berprofesi sebagai dukun (sebuah istilah yang lebih menekankan makna pemimpin spiritual dibandingkan dengan sebuah profesi yang berkaitan dengan klenik), dan lewat profesinya itu dia mendapatkan uang dari sesari untuk dibawa pulang. Itupun setelah dibagi dengan dua orang ‘asisten’nya, yaitu sepuh dan legen.
Saat kakek Anis menjalani masa ‘pensiun’ sebagai dukun, Anis sudah melewati masa akil baliq dan mengalami kesulitan untuk membiayai sekolahnya. Ia, bersama sang kakak nomor tiga, lalu bekerja sebagai tukang cuci piring pada seorang yang disebutnya juragan, penjual bakso kaki lima. Sang juragan adalah pengikut agama Semit. Ia, saat pembeli sepi, secara agresif mendorong Anis agar pindah agama saja. Anis menolak, tapi sang juragan tidak menyerah. Sampai suatu saat, pertahanan Anis jebol, yaitu saat ujian tiba. Ibu dan kakeknya lagi bokek, tidak punya uang untuk membiayai ujian Anis. Sang juragan datang sebagai dewa penyelamat, dengan membiayai ujian. Anis pun menganggukkan kepala saat diminta masuk agama Semit. Para tetangga mendengar berita itu. Kontan mereka mendatagi rumah Anis dan memberi beragam fasilitas peribadatan agama Semit. Kakek Anis shock dan masuk Intensive Care Unit (ICU) untuk beberapa hari. Sang kakek merasa gagal membina keluarga. Maklum, bagi orang Tengger jabatan sebagai dukun identik sebagai panutan masyarakat. Bukan hanya itu, Anis ternyata hamil, dihamili sang juragan. Untuk mengurangi rasa malu dihadapan masyarakat sang kakek mengawinkan Anis dengan sang juragan dengan status ‘kawin kontrak’. Tetapi kesabaran kakek Anis sudah habis. Ia pun diusir dari rumah. Sedangkan Anis, kini terbang bersama angin. Terbang entah ke mana. Kisah pilu Anis ini bisa jadi tidak tertangkap kamera statistik pemerintah, organisasi agama, objek material penelitian, atau apapun itu. Tetapi cerita anak manusia dari Tengger itu toh menguatkan pendapat, bahwa terdapat bahaya-bahaya tertentu dari peran pemerintah yang begitu mendalam dalam persoalan agama. Salah satunya adalah peminggiran agama-agama lokal dengan tehnik yang luar biasa halus, tapi mematikan.
Sebagaimana diketahui publik, pada tahun 1965, ketika gerakan G30S/PKI meletus, masyarakat Tengger kebingungan “mencari” agama. Pada waktu itu, bagi warga negara Indonesia, beragama adalah pilihan yang tak boleh ditawar. Siapa saja yang menjadi warga Negara Republik Indonesia harus beragama. Jika tidak, yang bersangkutan akan dituduh sebagai atheis; dan atheis adalah komunis; dan komunis adalah PKI. Begitu pemahaman sebagian masyarakat pada saat itu. Pemerintah hanya mengakui lima agama, yaitu Islam, Protestan, Katolik, Hindu, dan Budha. Seorang padanda yang datang ke Tengger memastikan bahwa ritual Karo dan Kasada yang dilakukan masyarakat setempat adalah agama Hindu. Upacara kurban Kasada merupakan salah satu upacara keagamaan atau upacara adat yang digunakan orang Tengger, sebagai sarana untuk berkomunikasi dengan kekuatan besar yang mereka muliakan tetapi sekaligus mereka takuti, agar memberikan perlindungan dan mengabulkan keinginannya. Pada awalnya, yang menjadi kurban adalah seorang manusia bernama Raden Kusuma. Tapi setelah itu Raden Kusuma berpesan bahwa untuk selanjutnya kurban yang dipersembahkan berupa hasil pertanian saja, karena ia telah menjadi kurban yang mewakili saudara-saudaranya. Raden Kusuma dianggap sebagai penyelamat anak cucu Dewi Rara Anteng dan Jaka Seger yang lain. Secara teknis, ritual Kasada ini dianggap sebagai varian dari Hinduisme — sejajar dengan varian lain seperti Sai Baba, Hare Khrisna dan sebagainya.
Lokasi upacara Kasada dilaksanakan di Pura Poten, sebuah areal persembahyangan seluas dua hektar. Pada mulanya areal Pura Poten hanya berupa bale benggong yang difungsikan sebagai tempat melakukan ritual pengorbanan. Namun sejalan dengan pilihan warga Tengger untuk megarahkan semangat keberagamaannya pada Hindu, maka areal itu pun dibangun pura dengan gaya arsitektur campuran Bali dan Jawa.
Bersamaan dengan itu, muncul pula organisasi keagamaan seperti Parisada yang kepengurusannya dijabat orang Bali. Sementara Perhimpunan Pemuda Hindu Dharma Indonesia (Peradah) mulai diaktifkan kembali tahun-tahun belakangan ini dengan warga Tengger sebagai pucuk pimpinan. Munculnya organisasi-organisasi ini bukan secara otomatis menjadikan infrastruktur kehinduan menjadi kuat, tapi masih belum mampu bergerak pada tingkat penyelesaian persoalan ekonomi, pendidikan, dan komunikasi.
Bidang pendidikan agama Hindu misalkan, masih saja menghadapi persoalan yang sama, jalan di tempat, yaitu urusan administrasi-birokrasi. Kasus pemuda Tengger Raha Winarko adalah satu contoh yang bagus untuk ditampilkan. Sama seperti Anis. Raha nyaris berpindah agama dari Hindu ke agama Semit lainnya. Hanya saja agama Semit yang satu ini relatif lebih lembut dalam ‘menjaring’ pengikut baru. Jalur yang digunakan ini bukan ekonomi tapi pendidikan. “Ajaran agama mereka lebih bisa dimengerti dan cepat ditangkap,” ujar Raha.
Penututran Raha ini bisa dipahami karena seorang guru agama di Tengger bisa mengajar di lima sekolah. Artinya, bila guru agama Hindu yang setiap minggu diwajibkan mengajar pada satu sekolah datang pada sekolah A hari ini, maka belum tentu ia akan mengajar lagi di sekolah yang sama pada minggu depan. Akibatnya, siswa tidak bisa menerima pelajaran agama Hindu secara berkesinambungan
Raha sendiri sempat mengenyam pendidikan formal Sekolah Menengah Umum yang berbasis agama Semit. “Saya sempat meninggalkan Hindu pada waktu itu” desahnya. Selama tiga tahun itu Raha didekati oleh pengurus sekolah dan dibujuk agar mau beralih agama dengan tehnik yang terbilang klasik, yaitu diajari cara-cara bedoa, diberi perhatian lebih bahkan disuruh memimpin doa segala.
“Tapi segera saya kembali ke Hindu usai menamatkan SMA,” potong pemuda berambut ikal ini. Bukan hanya itu, semangat Raha untuk belajar agama Hindu kembali menyala. Bisa jadi, doa Raha didengar Tuhan. Seorang teman memberi tahu bahwa Universitas Hindu Denpasar (Unhi) dan Institut Agama Hindu Negeri (IHDN) Denpasar memberi beasiswa. Kalau IHDN membayar setengah, Unhi beasiswa penuh alias gratis. Raha sempat mempertanyakan istilah gratis itu, tapi pihak pegawai kecamatan tidak bisa memberi informasi yang tuntas.
Raha nekad. Bersama dengan seorang teman ia berangkat ke Denpasar dengan dibekali ibu tercinta uang Rp 500.000,00. Tetapi saat di meja pendaftaran calon mahasiswa Raha dimintai sejumlah uang yang jumlahnya belum dia pikirkan selama hidupnya. Raha bahkan sempat mendengar ucapan seorang pejabat Unhi: “Zaman sekarang mana ada pendidikan gratis”. Mendengar ucapan itu Raha bergidik, terkejut setengah mati. Teman Raha satu kampung balik kanan, pulang ke Tengger. Raha juga malu, merasa tersudut, tapi tak menyerah. Ia langsung menghadap rektor Unhi, Ida Bagus Yudha Triguna untuk meminta beasiswa penuh. Tanpa tending aling Yudha Triguna menganggukan kepala dan memberi Raha disposisi untuk ditindaklanjuti.
“Saya bebas uang SPP, uang gedung dan SKS,” rinci Raha. Bukan hanya itu, ia diperbolehkan tinggal dan bekerja di lingkungan kampus Unhi. Hanya saja, saat ini Raha masih harus menanggung utang ‘uang ospek’ yang juga tidak bisa dianggap murah bagi orang gunung seperti dia. Bukan hanya itu, bila dibandingkan dengan pelajaran agama Semit yang diterimanya saat SMA, “Ibaratnya botol, saya masih kosong, belum mendapatkan apa-apa selama kuliah di sini. Seperempat saja belum,” dia berkeluh. Ini bukan sihir bukan sulap, tapi fakta sosial.
Reformasi (varian) Hindu di Indonesia terhambat pada negara yang begitu usil mengurusi kehidupan keagamaan warganya, sementara klas menengah Hindu masih berkutat pada persoalan pengakuan politis dan prestise sosial. Karena persoalan kehinduan di Indonesia sudah jelas, maka yang diperlukan sebenarnya satu kata sederhana diucapkan, tapi berat dilaksanakan: komitmen pada perbaikan infrastruktur. Jayakumara