|
|
SUSILA
Diramal Akibat Gangguan
Orang
Keluarga
saya sedang mengalami sakit. Kakinya terasa tebal, kepala
pusing, dan badan terasa gerah. Sudah diobati, tapi
kambuh lagi. Satu ketika dia bertanya kepada orang pintar,
dan orang pintar itu meramal bahwa semua kejadian yang
dialami saudara saya akibat gangguan alam gaib (niskala),
terutama oleh benda tertentu yang dikubur pada pekarangan
rumahnya yang dilakukan orang lain.
Saudara saya jadi kebingungan. Di satu sisi apa yang
didapat dari jawaban orang pintar tadi bertentangan
dengan hati nuraninya. Dia takut, kalau sampai terlalu
percaya pada ramalan terebut, perasaan curiga senantiasa
menghatui dirinya. Untuk itu, dia memilih tidak melakukan
apa pun dan mengabaikan ramalan itu. Salahkah tindakan
saudara saya yang mengabaikan ramalan tersebut? Apakah
ramalan sejenis layak dipercaya kebenarannya?
Made Sugiarta
Jl. Pramuka, Singaraja
Jawab:
Tindakan keluarga saudara untuk tidak melakukan apa-apa
dan bahkan mengabaikan ramalan itu, merupakan tindakan
sangat tepat. Tanpa mengurangi rasa hormat kita kepada
orang-orang pintar yang sebenarnya berniat baik untuk
membantu sesama manusia, maka harus dipahami bahwa ramalan-ramalan
itu tidak selamanya mengandung kebenaran. Bahkan dalam
batas-batas tertentu, bisa menyesatkan dan menyebabkan
saling curiga di antara anggota-anggota keluarga sehingga
pada gilirannya memecah belah kerukunan keluarga.
Dasar pemikiran mengapa tindakan anggota keluarga saudara
itu dinilai tepat dan mengapa ramalan-ramalan para peramal
tadi - mungkin lebih tepat disebut balian saja
- bisa menyesatkan, adalah karena para balian
itu menggunakan rumus yang sama untuk semua gejala penyakit
yang beraneka ragam. Jadi, apapun gejala penyakit yang
dialami seseorang, maka kesimpulan akhir dari diagnosanya
adalah sama, yaitu: kena serangan black magic, atau
ada benda yang dipasang di dalam pekarangan rumah atau
lazim disebut “pepasangan”, dan berbagai
variasi sejenis itu. Saya ingin berbagi pengalaman dengan
saudara Made dari Singaraja. Di desa saya, yaitu:
Kelurahan
Serangan, Denpasar Selatan, ada seorang warga yang mengalami
sakit, yang gejala-gejalanya kurang lebih sama seperti
yang saudara ceritakan di atas, yaitu kaki membengkak
dan terasa tebal, pusing, kurang enak makan dan badan
terasa gerah. Dari tiga orang balian yang dimintai bantuan,
kesimpulan atas diagnosa penyakitnya adalah sama, yaitu
kena serangan black magic dan ada benda yang dikubur
di dalam pekarangan rumahnya. Terapi atas penyakit tersebut
juga kurang lebih sama, yaitu: melakukan ritual pada
malam hari sesuai dengan waktu yang telah ditentukan.
Ritual tersebut dilakukan di dalam pekarangan rumah
dengan maksud untuk menghalau benda “ajaib”
yang menjadi penyebab penyakit tersebut. Selain ritual
juga dibarengi dengan memberikan ramuan obat-obatan
dalam bentuk pil dan jamu. Sayang sekali, setelah hampir
setahun berobat, penyakit warga tersebut malahan semakin
parah dan mengkhawatirkan. Alhasil, atas informasi dari
berbagai sumber yang diperolehnya, warga tadi mengayunkan
langkahnya ke rumah seorang balian usadha di daerah
Pengosekan, Ubud, dan balian usadha ini menyimpulkan,
bahwa warga tadi, yang adalah seorang ibu yang sudah
uzur, tidak ada hubungannya dengan serangan penyakit
black magic atau benda yang di pasang di dalam pekarangan
rumah. Ibu itu mengalami halusinasi akut karena kebiasaannya
sejak muda menjadi pekerja ulet dengan rezeki (penghasilan)
yang cukup memadai untuk menghidupi dan membesarkan
keluarganya. Ambisinya menjadi pekerja ulet dengan rezeki
yang memadai tetap membara ketika usianya semakin uzur.
Sayang sekali, fisik dan lingkungan sosial tidak mendukung
untuk mengulang kembali kejayaannya bekerja seperti
di masa lalu. Ia pun mengalami halusinasi akut. Mungkin
ini paralel dengan sejenis syndrome dalam ilmu pengobatan
modern. Saya sengaja menekankan pentingnya peranan balian
usadha untuk membedakannya dengan balian-balian lain
yang mengandalkan kemampuan siddhi-siddhi belaka dalam
melakukan diagnosa terhadap suatu jenis penyakit. Tentu
saja ini tidak dimaksudkan untuk memandang mereka dengan
sebelah mata. Sebagaimana saya uraiakan pada awal tulisan
ini, mereka, para balian yang mengandalkan siddhi-siddhi
ini sebenarnya mempunyai niat yang luhur untuk membantu
sesama umat manusia. Usadha adalah ilmu pengetahuan
pengobatan tradisional Bali yang masih digunakan secara
luas oleh masyarakat Bali sampai saat ini. Pada intinya,
ilmu kesehatan usadha menekankan untuk menjaga keseimbangan
Panca Mahabutha yang membentuk tubuh dengan menggunakan
potensi atau kandungan obat dalam tumbuh-tumbuhan sesuai
dengan kasiatnya. Penyakit terjadi apabila keseimbangan
Panca Mahabutha di dalam tubuh terganggu. Penyakit-penyakit
non-medis juga bisa dideteksi dengan melihat keseimbangan
unsur Panca Mahabutha tersebut. Ilmu kesehatan usadha
ini dapat dikatakan sebagai kelanjutan yang lebih detail
dari ilmu kesehatan ayurveda yang pada umumnya menguraikan
prinsip-prinsip dasar.
Dengan memperhatikan uraian di atas, jelas bahwa penyebab
penyakit bukanlah tunggal, bukan hanya disebabkan oleh
black magic semata-mata. Dalam bahasa Sanskerta ada
istilah klesa yang bisa mewakili pengertian penyakit,
penderitaan, kesusahan, kemalangan, keadaan yang sukar/berbahaya.
Secara umum dikenal ada tiga jenis penyakit dalam ilmu
kedokteran Veda. Pertama, adidaivika klesa, yaitu penyakit
yang disebabkan oleh para deva. Para dewa termasuk kedalam
kelompok jiwatattva atau makhluk hidup. Namun para dewa
bukan makhluk hidup biasa. Ia lebih unggul dari makhluk
hidup biasa karena sifat-sifat kebajikan (satvam) yang
lebih dominan atau lebih menonjol pada dirinya. Para
dewa diberikan tugas kewajiban yang khusus sebagai administrator
alam semesta atau penguasa yang diberikan otoritas khusus
untuk menjaga keteraturan dan ketersediaan aspek-aspek
alam tersebut untuk kebutuhan manusia.
Misalnya, Dewa Varuna sebagai dewa samudera atau dewa
yang mengendalikan keteraturan dan ketersediaan lautan
bagi kebutuhan manusia dan makhluk hidup lainnya. Demikian
juga Dewa Indra dan Dewa Marut yang masing-masing bertugas
sebagai pengendali hujan dan udara. Manusia berhutang
kepada para dewa karena para dewa itu secara langsung
menyediakan berbagai kebutuhan-kebutuhan manusia dan
makhluk hidup yang lain melalui aspek alam yang ada.
Sebenarnya, semua kebutuhan makhluk hidup disediakan
Tuhan. Para dewa menjadi perpanjangan tangan Tuhan untuk
membagikan semua aspek alam semesta yang menjadi milik
Tuhan. Oleh karena peranannya yang sangat sentral, maka
manusia wajib membalas kebaikan para dewa. Apabila para
dewa dipuaskan dengan persembahan yang diberikan manusia
melalui yajna, maka para dewa akan memberikan kemakmuran
dan kesejahteraan yang berlimpah ruah. Tetapi sebaliknya,
apabila para dewa tidak dipuaskan, maka ia akan mengirim
bencana. Bencana inilah yang dikenal dengan nama adidaivika
klesa. Hujan lebat yang melebihi kapasitas yang semestinya
sehingga pada gilirannya menimbulkan banjir bandang
adalah salah satu jenis adidaivika klesa. Demikian juga
berbagai jenis bencana alam seperti tsunami, kekeringan,
perubahan iklim global, termasuk kedalam jenis penyakit
adidaivika klesa. Di dalam Bhagavata Purana, terdapat
keterangan yang menjelaskan, bahwa Dewa Indra megirim
hujan dan petir kepada penduduk Vrindavan selama tujuh
hari berturut-turut karena penduduk di daerah Uttara
Pradesh itu menghentikan mempersembahkan yajna kepada
Dewa Indra. Sebenarnya, setting cerita ini dimulai dengan
perintah Krishna kepada penduduk Vrindavan untuk menghentikan
yajna kepada Dewa Indra, dan akhirnya, Krishna pula
yang melindungi penduduk Vrindavan dari hujan dan petir
yang dikirim Dewa Indra, dengan mengangkat bukit Govardhan
dengan kelingking tangan kiriNya.
Jenis
penyakit kedua adalah adyatmika klesa, yaitu penyakit
yang disebabkan oleh sesama manusia. Black magic dan
berbagai praktik ilmu hitam termasuk kedalam jenis ini.
Sedangkan penyakit ketiga adalah adibautika klesa, yaitu
penyakit yang disebabkan oleh mahluk hidup lain. Disengat
serangga, keracunan makanan karena bakteri dari makhluk
lain seperti tipes, termasuk dalam jenis penyakit ini.
Demikian juga penyakit sapi gila dan flu burung termasuk
dalam jenis adibautika klesa. Didalam Filsafat
Yoga diuraikan lima jenis klesa, yaitu: a-vidya(kebodohan),
as-mita(ego, keakuan), raga (keinginan),
dvesha (kemalasan) dan abhinivesha
(keterikatan kepada dunia material). Didalam ajaran
Buddha dikenal 10 klesa, tiga muncul melalui tindakan
(mencuri, membunuh, berzinah), empat melalui kata-kata
(berbohong, memfitnah, menghardik,memaki-maki, mencaci-maki,
menjelek-jelekkan orang lain), dan tiga lagi melalui
pikiran (irihati, dengki/benci, dan keragu-raguan, ketidakpercayaan
kepada ajaran agama). Sepuluh klesa ini paralel dengan
pembagian Tri Kaya Parisuddha sebagaimana diuraikan
dalam naskah Sarasamuccaya, meskipun dengan varian yang
sedikit berbeda.
Akhirnya, semua penderitaan yang kita alami dalam kehidupan
ini, adalah sebagai akibat dari akumulasi karma atau
perbuatan yang kita lakukan sejak waktu yang tidak dapat
dihitung lamanya. Penderitaan adalah buah matang dari
karma kita. Perbanyak subha-karma dan jangan terlalu
melekat dengan siddhi-siddhi atau kesaktian
yang sering menipu diri kita Astu. |