|
|
PARUMAN
hal 1 | hal
2 | hal 3 | hal
4
Bunyi “Kriak”
di Pundak Sadra
Bagi seorang dukun, memegang penuh
hukum kesantunan hidup, panggilan sebagai pengobat merupakan
investasi di bank alam, investasi yang belum tentu mendatangkan
keutungan langsung. Lalu.......
Apakah
Anda pernah terjebak ulah dukun (balian) palsu? Gampang-gampang
susah dijelaskan, tentu. Bila Anda menuntut jawaban
berdasarkan data kepolisian, tak ada bukti nyata meyakinkan
Anda. Pantauan SARAD di Kepolisian Daerah (Polda) Bali,
perihal kurban terlapor diolok-olok dukun palsu nyaris
nihil, alias tiada laporan. Dari fakta ini, berdasarkan
data terlapor di kepolisian, Bali boleh dianggap aman
dari ulah dukun palsu.Tapi nanti dulu, hendaknya Anda
jangan kurang waspada. Fakta-fakta di lapangan memperlihatkan
begitu banyak orang terjebak dukun palsu. Ni Nyoman
Rinti (43), wanita kelahiran Desa Bebandem, Karangasem,
ibu dua putra yang kini tinggal di wilayah Desa Kerobokan,
Denpasar Barat menuturkan pengalaman pahit. Tujuh tahun
didera sakit kepala dan mata berkunang-kunang, beberapa
kali ia diperdaya dukun palsu. Sayang ia tak hendak
melapor ke polisi, dalihnya; malu dibilang bloon, alias
bodoh. Kini Rinti sembuh hanya dengan malukat, menyucikan
diri, sembari rajin meminun urine, air kencing sendiri.
Kebiasaan ini sudah dilakukan lebih dari satu tahun.
“Aneh, ke dokter tak mau sembuh, ke dukun diolok-olok,
toh akhirnya sembuh dengan minum air kencing,”
tukas Rinti yang kini sibuk berjualan jajan bali di
bilangan Jalan Gunung Agung. Suatu hari, ia lupa tahun
kejadiannya, Rinti datang berobat pada seorang dukun
di wilayah Padanggalak, Desa Kesiman, Denpasar Timur.
Ia berniat mengobati sakit kepala yang tak kunjung sembuh.
Menurut Rinti, dukun ini berasal dari luar, sang istri
kebetulan orang Bali. Ia mengaku bisa mengobati penyakit
apa saja. Pasien yang datang pun melimpah, apalagi saat
hari-hari libur. Mulanya Rinti percaya, dukun ini penyembuh
hebat. Saban kali datang berobat, sebagaimana petunjuk
dukun Rinti disuruh membawa satu telor bebek. Begitu
datang, setelah mengaturkan canang di tepat yang telah
disediakan, telor diambil sang dukun, dibawa masuk ke
ruangan khusus, di mana orang lain tidak dibolehkan
masuk. Dua tiga menit sang dukun datang menghampiri
Rinti, menggelilingkan telor bebek di sekujur tubuh,
mulai dari kaki, badan hingga ke seluruh tubuh. Hal
ini juga dilakukan juga pada pasien-pasien lain. Sang
dukun berlagak sedang konsentrasi penuh, beberapa kemudian
telor dipecah. Aneh bin ajaib, dari dalam telor keluar
benda-benda nyata, berupa paku, rambut, katik sate,
dan benda-benda lain.
“Ini, penyakitnya sudah keluar. Isinya paku, katik
sate, dan rambut. Tolong nanti buang ke laut,”
sang dukun berguman dingin. Saking gembiranya, Rinti
hanya bisa mengangguk. Ia lega sakitnya pasti segera
sembuh. Setelah sakit dinyatakan keluar, sang dukun
menyodori pasiennya obat-obat paten, ber-merk impor,
dengan harga lumayan mahal. Waktu itu Rinti dikasi sebotol
minuman suplemen, rasanya enak seperti air kelapa. Enam
kali datang ke dukun, Rinti tak kunjung sembuh, sakit
kepala makin menjadi-jadi. Padahal menurut sang dukun,
sakit sudah dianggap keluar, berupa paku, rambut, batu-batu,
dan potongan katik sate. Enam kali berobat, ia telah
menghabiskan duit 2 juta lebih. Beberapa hari kemudian
Rinti merasa diolok-olok. Rinti curiga, bahwa telor
yang dibawa para pasien ditukar dengan telor yang sudah
diisi benda-benda nyata, semisal paku, jarum, rambur,
tulang, dan benda-benda lain. I Wayan Sadha, kartunis
kelahiran Jimbaran, Badung mengamini praktik itu mudah
dilakukan. Ia sendiri pernah mengintip seorang dukun
sengaja membuat olok-olok itu, yakni dengan melobangi
telor. Kedalam telor dimasukkan benda-benda semisal
paku, jarum, lidi dan sebagainya. Lubang kemudian ditempel
kapur bercampur lem khusus. “Nah telor-telor inilah
kemudian yang dipakai mengolok-olok pasein yang mudah
terkagum-kagum dengan mujizat nyata,” ujar Wayan
Sadha sembari ketawa ngakak.
Lain Ni Nyoman Rinti, lain pula pengalaman lucu dialami
Made Sadra, pria jangkung asal Desa Padangsambian, Denpasar
Barat. Suatu kali berobat pada seorang dukun di Tabanan.
Niatnya mengobati rasa kesemutan yang tak pernah sembuh
di kaki. Kali ini dukunnya orang Bali, kata orang ia
sangat mumpuni, dan lama belajar di luar Bali. Menurut
Sadra, sang dukun terlalu banyak cakap. Mengaku-aku
telah menyembuhkan banyak orang, termasuk orang asing
dan para pejabat. Sebelum berobat, Sadra sempat ragu,
jangan-jangan sang dukun hanya sakti di mulut. Tapi,
ayah tiga putra ini coba menghilangkan pikiran ragu
itu. Sadra kemudian diobati, sekujur tubuh ditusuk-tusuk
dengan sarana taring (caling) binatang, entah binatang
apa. Beberapa lama, ketika tangan dukun menggapai leher
bagian belakang, Sadra mendengar ada benda berbunyi
“kriak” di kepalan tangan sang dukun. Sekejap
kemudian sang dukun memperlihatkan segenggam tulang-tulang,
mirip tulang binatang. Sadra terbengong, terkesima melihat
benda aneh yang konon menurut balian keluar dari tubuhnya.
Selintas keraguan tetap muncul, bagimana tubuh bisa
mengeluarkan tulang-belulang tanpa tindakan bedah. Menurutnya
ini aneh. Keanehan ini membuat ia jadi bimbang, antara
percaya dan tidak percaya. Yang jadi pertanyaan, saban
hari Made Sadra berobat ke dukun ini tubuhnya senantiasa
mengeluarkan tulang-tulang melulu. Dari mana gerangan
tulang-tulang ini. Sangat aneh, memang. Tapi yang jadi
pkiran, kesemutan di kaki tak kunjung sembuh. Saban
malam ia susah tidur. Ia pun berhenti berobat ke dukun.
Kali ini ia rajin ke dokter, Sadra diberi obat penormal
syaraf. Saban hari ia lakukan pemijatan di bagian-bagian
tertentu. Berangsur-angsur kesemutan di kaki sembuh,
lagi pula sampai kini sakitnya tak pernah kambuh. “Aduh
saya sudah mendatangi banyak balian, toh sakit saya
tak ada perubahan. Bosan, mungkin saya tak berjodoh
di balian,” aku Sadra pada SARAD.
Sadra memang tak menuduh dukun bersangkutan telah berolok-olok,
tapi di benaknya ia merasa dipermainkan. Jangan-jangan
dukun bersangkutan pandai bermain sulap. “Yang
tak habis pikir, selama sebulan berobat ke dukun bersangkutan
tubuh saya tetap dinyatakan keluar tulang. Nah, kesangsian
saya, apakah mungkin ada sekarung tulang liar di tubuh
saya? Lagi pula tulang-tulang selalu keluar lewat tubuh
bagian belakang, di wilayah yang sulit saya lihat. Ya,
inilah yang membikin saya ragu, alih-alih sakit saya
tak kunjung sembuh,” papar Sadra terheran-heran,
akhirnya merasa kapok. SARAD menemukan sekian banyak
kasus korban jebakan dukun palsu. Kisahnya bermacam-macam,
ada yang lucu, ada yang tragis. Misalnya, setelah makan
buah tertentu, seorang ibu dipastikan hamil oleh dukun,
ternyata orang bersangkutan hamil anggur. Belum lagi
berhadapan dengan dukun cabul, mata duitan, sok dekat
dengan para dewa. Tapi rata-rata korban enggan melaporkan
kasusnya ke pihak berwenang. Alasannya, sebagaimana
dituturkan Made Sadra, kasus ini semata karena kebodohan
sendiri, mudah termakan propaganda. “Ya buat apa
dilaporkan, kecuali mempermalu diri sendiri. Ya sekarang
harus hati-hati, jangan mudah termakan propaganda,”
ujar Sadra sembari menggendong si bungsu.
Soal apakah dukun itu berlaku palsu atau tidak, sungguh
tak mudah didifinisikan. Orang pun tidak boleh menuduh
sembarangan, apalagi mengada-ada. Akan tetapi, subyektifitas,
mudah percaya, dan kerap berpikir instan memungkinkan
orang Bali mudah diolok-olok. Umumnya orang Bali mudah
percaya mujizat, sebagaimana istilah manik sakecap.
Ia tak hendak mau tahu proses, tak hendak mau berpikir
rasional, nganutin sulur. Tentu sangatlah berbahaya
orang yang tidak mau memahami proses, alih-alih anti
pada proses. Celakanya orang cuma akan jadi pemakai,
jadi konsumen semata, tanpa tahu prosesesnya. Dalam
dinamika hidup kian keras, dalam iklim pasar serba bebas,
ajaran belog polos orang Bali bisa memantik badai, tentu.
Di kawasan pulau kecil nan terbuka ini senyatanya apa
saja bisa terjadi. Orang baik, orang jahat akan sama-sama
mengadu nasib di Bali. Justru itu berhat-hatilah dengan
segala propaganda, rayuan, apalagi cumbuan. Karena tak
cuma turis, peneliti, usahawan, bandit, bandar judi,
bandar narkoba, wanita tuna susila (WTS), orang suci,
dan yogin akan menyemut ke Bali - akan tetapi
yang bernama dukun, tabib, pengobat tradisional juga
ramai-ramai berpraktik di Bali. “Jika perut lapar,
jangankan materi, teman dekat saja bisa dimakan,”
seloroh Nyoman Sukasih, pedagang rempah-rempah di pasar
Kumbasari, Denpasar - yang dulu pernah diolok-olok
dukun akibat lama tak bisa hamil.
Tak hendak menyudutkan profesi dukun yang sangat penting
di masyarakat, nyatanya tidak semua dukun atau balian
lega berolok-olok. Di Bali banyak dukun yang baik, tentu.
Mereka ikhlas mengabdikan tenaga demi panggilan kemanusiaan,
tak berhitung siang dan malam, hari hujan atau terang.
Mereka tak berpikir seberapa besar imbalan diterima.
Bagi seorang dukun, yang memegang penuh hukum kesantunan
hidup, panggilan sebagai pengobat merupakan investasi
hidup nyata, investasi yang belum tentu mendatangkan
keutungan langsung. Berolok-olok, main jebak-jebakan,
pamerih sama artinya dengan memiskinkan investasi hidup
-- karenanya ia tidak disebut balian, sang pengembali
hidup sempurna. Sebaliknya dukun yang suka pamerih,
disebut pula dengan ma-alih-alihan, artinnya; mengemis-ngemis
menanti kemiskinan. Bagi yang menghargai hidup, berolok-olok
tentu dianggap menistakan sang hidup - karena
sejatinya hidup yang senantiasa mengalir memerlukan
kerelaan melepas -- mengembalikan seseorang ke kodratnya
yang asali, sempurna-paripurna. Perihal dukun palsu
tidak merupakan fenomena baru, memang. Ia senantiasa
muncul dari zaman ke zaman. Ki Dalang Tangsub, sastrawan
pengarang geguritan Basur, sejak zaman silam sudah mewanti-wanti
tentang bentuk-bentuk penipuan seorang balian. Bahwa
begitu tipis perbedaan antara balian sakti dan balian
mabet sakti (pura-pura berlaku sakti). Perbedaannya
setipis celana dalam wanita, tentu. Maka itu, alangkah
elok jika orang Bali mulai pintar memilih, tak mudah
termakan propaganda. Wiweka, senantiasa berhati-hati
penting di zaman carut-marut ini. Tim SARAD
|