No. 94/ Tahun IX Februari 2008
majalah gumi bali [sarad]
prihal pikir, kata dan laku manusia bali
 
Reracikan/Daftar Isi
Paruman/Sajian Utama
Cakepan
Paras Paros
Nyama Braya
Bale Bengong
Dresta
Orta
Sameton
Sasih
Sorot
Susila
Tatwa
Upacara
Wirasa/Surat Pembaca

   

CAKEPAN

Phallus-Vagina pada Pura di Bali

Judul Buku : Jejak Tantrayana di Bali
Penulis : I Gusti Ayu Surasmi
Tebal : 148 halaman
Penerbit : CV Bali Media Adhikarsa
Cetakan : Cetakan Pertama Oktober 2007

Di mata penganut monoteistik, tantrayana dihakimi sebagai aliran hedonis. Buku ini hendak meluruskan persepsi yang bengkok itu. Tetapi buku ini terjebak pada persoalan masa lalu dan kadang salah memberi pengertian istilah-stilah kunci agama Hindu.

Masyarakat pemerhati masalah Tantrayana patut bersyukur karena kini telah terbit sebuah buku yang cukup menarik menyangkut Tantrayana. Langkah ini patut dihargai karena hadirnya buku ini paling tidak memberikan penawar dahaga di tengah-tengah kehausan terhadap informasi terkait dengan Tantrayana yang selama ini lebih dipahami sebagai ilmu tentang magis, ilmu tentang seksualitas, serta beberapa predikat miring yang dilekatkan pada ajaran ini karena dipandang mengusung hal-hal bersifat sangat materialistis dan hedonis (Panca Ma).
Jika selama ini sangat kuat berkembang pemikiran yang mengklaim bahwa Hinduisme adalah sebuah warisan besar dari bangsa Arya, dalam buku ini diberikan sebuah pemikiran baru bahwa Hinduisme yang terwariskan saat ini adalah hasil sebuah proses dialektis yang bersifat akulturatif dari sistem keyakinan Dravida dengan sistem keyakinan Arya yang datang belakangan ke India (hal.9-20). Jauh sebelum masuknya agama Arya ke India, di daerah Mahenjodaro dan Harrapa (kini berada di wilayah Pakistan) sudah berkembang baik sebuah sistem keyakinan yang mengutamakan pemujaan terhadap Sakti (Mother Goddes) disamping pemujaan terhadap Dewa (patung Siwa Pasupati). Arca Dewi yang bersifat prominen dan Arca Dewa yang digambarkan memiliki penis dalam keadaan ereksi ini diindikasikan sebagai atribut-atribut Tantrayana yang akan muncul kembali sekitar abad ke 5 di India. Ajaran ini sempat tenggelam ketika India dipengaruhi oleh ajararan-ajaran yang bersifat Aryan. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa munculnya Tantrayana ini sebagai munculnya kembali agama asli atau agama lokal India.
Pada saat India didominasi oleh paham Aryan, Dewa Siwa kurang mendapat perhatian. Hal ini dapat dilihat pada dewa-dewa pujaan yang tercantum pada kitab-kitab Weda. Pengaruh Siwaisme kembali berkembang belakangan sebagai kelanjutan dari benih-benih yang sudah tertanam jauh pada paham Dravidian. Kondisi ini dapat dibandingkan dengan Hindu di Bali. Hindu yang terwariskan sekarang di Bali dan Indonesia memang pengaruh India. Namun harus diingat bahwa sebelum masuknya pengaruh Hindu, di Indonesia dan Bali khususnya sudah berkembang agama-agama lokal. Itu sebabnya mengapa tidak terjadi dominasi Hindu India di Indonesia, karena adanya proses lokalisasi Hindu di Indonesia. Sebagai contoh perhatikanlah nama-nama dewa yang dipuja pada pura-pura atau palinggih-palinggih di Bali, kebanyakan menggunakan nama-nama dewa lokal seperti Ratu Nyoman, Ratu Gede Ratu Mujung, Ratu Meres, dam sebagainya.
Buku ini juga memberikan informasi tentang kuatnya pengaruh Tantrayana di daerah Sumatera, Jawa, dan Bali (hal.59-83). Hal ini bisa terjadi tak lepas pula dari adanya proses akulturatif antara Tantrayana dengan sistem keyakinan lokal. Ingat bahwa sebelum masuknya pengaruh Tantrayana ke Indonesia, sistem pemujaan dengan menggunakan simbol-simbol kelamin sudah berkembang di Indonesia, khususnya Bali terbukti dari beberapa tinggalan arkeologi yang ditemukan di Bali.
Buku ini memang memberikan informasi yang memadai tentang Tantrayana di Bali, namun karena sumber-sumber kajiannya adalah data arkeologi, maka hasilnya hanya berupa informasi-informasi tentang Tantrayana di masa lalu. Ini merupakan salah satu kelemahan penulisan sejarah. Menurut Sartono Kartodirdjo salah satu kelemahan penulisan sejarah di Indonesia adalah hanya berorientasi pada artifact, sementara sosifact dan mantifact sering diabaikan.
Tentu akan menjadi sangat menarik andai buku ini dilengkapi dengan data-data aktual yang memberikan informasi betapa kuatnya pengaruh Tantrayana di Bali, jika penelusurannya menggunakan sumber-sumber sosifact dan mantifact. Beberapa contoh dapat dikemukan di sini misalnya stilisasi bentuk-bentuk palus dan vagina dalam ritual di Bali menjadi tipat bantal, porosan silih asih, banten dewa-dewi, kala badeg dalam ritual perkawinan di daerah Sesetan Denpasar. Perhatikan juga bentuk bangunan palinggih di pura dan mrajan, tidakkah ia merupakan stilisasi dari bentuk phallus dan vagina?
Di samping itu, catatan lain yang bisa disampaikan adalah kelengahan di bagian kata pengantar, yaitu pemahaman tentang triwangsa dan triwarga. Redig menulis: ”yang dimaksud triwangsa adalah........(1) Dharma, (2) Artha dan (Kama)” (hal.xiv). Padahal istilah ’triwangsa’ semestinya menunjuk pada (1) Brahmana, (2) Ksatria dan (3) Wesya. Sebuah kesalahan yang fatal bila perbedaan pengertian triwangsa dan triwarga tidak diketahui.
Kesalahan lain, masih menyangkut kata-kunci, yaitu bagaimana penulis menerjemahkan kata ’prawritti’ menjadi kiri, (right-hand path) dan ’niwritti menjadi kanan (left-hand) (hal. 6). Padahal Zoetmulder menterjemahkan kata ’prawrtti’ dengan ’jalan karma’ sementara ’niwritti’ sebagai ’jalan jnana’. Lalu bagaimana kata ’kiri’ diterjemahkan ke Inggris menjadi right-hand path? Ini juga persoalan serius.
Kesalahan yang hanya bisa diobati dengan melakukan revisi pada cetak ulang nanti — kalau perlu disertai permintaan maaf pada publik. Wayan Budi Utama