|
|
SAMETON
Jangan Abaikan Wilayah
Perbatasan
Lemahnya pengelolaan wilayah perbatasan suatu negara,
di samping berpeluang memantik konflik antar negara
juga dapat menyuburkan munculnya kejahatan bersifat
transnasional.
Aula
serba guna Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) Bandung,
Propinsi Jawa Barat, pertengahan Januari lalu, sejak
pagi dijejali banyak orang. Diiringi alunan merdu seniman
musik yang memperdengarkan lagu-lagu Parahyangan (Sunda)
instrumentalia, satu persatu mereka menuju ruangan yang
cukup luas itu. Di antara yang hadir ada yang langsung
duduk, tak jarang pula memanfaatkan kesempatan berbincang-bincang
tentang banyak hal. Waktu terus berputar. Jarum jam
mendekati angka 10.00 WIB (Waktu Indonesia Barat). Tetamu
yang semula tertinggal di luar gedung, mulai merapat
ke dalam aula. Mereka terlihat suntuk mengikuti satu
acara yang tergolong langka terjadi di Indonesia. Hari
itu, Sabtu, 12 Januari 2008, Unpar Bandung menggelar
pengukuhan jabatan Guru Besar dalam bidang Ilmu Hubungan
Internasional (HI) pada Anak Agung Banyu Perwita. Guru
besar HI pertama di kota dingin ini. Sedangkan untuk
di Indonesia, dari lebih 200 juta penduduknya, baru
ada tiga yang berhak menyandang gelar Guru Besar HI.
Masing-masing Yuwono Sudarsono (kini Menteri Pertahanan),
Mochtar Ma’soed (Guru Besar HI Universitas Gajah
Mada, Yogyakarta), dan terakhir AA Banyu Perwita (Guru
Besar HI Unpar, Bandung).
Jabatan teramat langka memang. Dan, gelar yang kini
ada dalam genggaman pria kelahiran 6 Februari 1967,
tentu dilalui dengan proses perjalanan, pengabdian,
dan pengalaman yang cukup panjang.
Di tengah-tengah kesibukan menjadi dosen tetap di FISIP
Unpar, peraih gelar doktoral dalam bidang Asian Studies
dengan judul desertasi “Between Secularisation
and Islamisation: Indonesia’s Foreign Policy Toward
The Muslim Worlad In the Soeharto Era” di Flinders
University, Adelaide-Australia, pada Juli 2002, juga
mengikuti segudang kegiatan pengabdian ke masyarakat
dan melakukan berbagai penelitian.
Peraih penghargaan Dosen Berprestasi I Kopertis IV Jawa
Barat tahun 2004 ini, juga dikenal kreatif menulis buku
di antaranya Pengantar Ilmu Hubungan Internasional,
terbitan PT Remaja Rosda Karya Bandung.
Banyu Perwita juga aktif berkontribusi pada beberapa
buku yang kini beredar di pasaran. Kontributor pada
buku Lumpur Panas Sidoarjo: Jangan Biarkan Kami Tenggelam,
Ed Muradi, Bandung, PSKN Unpad. Menjadi kontributor
dalam buku: Mencari Desain Baru Politik Luar Negeri
Indonesia.
Secara umum, tulisannya lebih memfokuskan pada sistem
pertahanan dan kamanan, termasuk pada pengukuhan sebagai
guru besar, Banyu Perwita juga membahas perihal kondisi
keamanan lewat pidatonya berjudul: Dinamika Keamanan
Dalam Hubungan Internasional dan Implikasinya Bagi Indonesia.
Bagaimana pria berdarah Bali kelahiran Jakarta, pada
6 Februari 1967, memandang keamanan dan hubungannya
dengan dunia internasional? Berikut uraiannya:
Keamanan
sering menjadi topik pembicaraan hangat dalam setiap
kesempatan. Kenapa ini terjadi? Keamanan itu merupakan
satu elemn dasar dalam kehidupan manusia. Maka, tak
berlebihan jika keamanan (security) merupakan satu konsep
paling sering diperdebatkan alam tata interaksi umat
manusia di dunia ini. Apa saja yang menjadi pemantik
kurang terpeliharanya keamanan dan kenyamanan dalam
hidup?
Dalam banyak kasus, sumber ancaman datang dari militer
dan non militer. Pada tataran nasional dan lokal, urgensi
keamanan ditandai dengan maraknya konflik komunal dan
ikatan parokial lainnya, serta makin rusaknya daya lingkungan
hidup. Penebangan kayu yang tak tekendali dan eksploitasi
sumber daya alam lain yang juga membawa dampak negatif
dalam tata kehidupan global. Sedangkan dalam tingkat
global muncul isu-isu non tradisonal, seperti serangan
teroris atau penyelundupan barang dari satu negara ke
negara lain.
Bagaimana sepatutnya
memandang keamanan di masa kini?
Keamanan memang tak bisa dipandang sepihak. Hanya pada
militer. Non militer seperti persoalan politik, ekonomi,
sosial, dan lingkungan juga penting diperhatikan. Mengingat
soal keamanan bukan hanya ditujukan bagi kelangsungan
negara, juga menjadi kebutuhan berbagai lini dalam kehidupan.
Putra pertama buah hati Anak Agung Gede Raka dan Nengah
Sukarmini ini melihat, kedua sektor tadi (militer dan
non militer-red), sejatinya saling berpengaruh dan mendukung.
Dia mencontohkan Republik Rakyat Cina (RRC). Ketika
kemampuan ekonomi negeri tirai bambu ini semakin meningkat,
maka dapat berubah menjadi sebuah keputusan politik
untuk memperkuat stabilitas militer. Atau sebaliknya,
keputusan politik dengan memperkuat kapabiltas militer,
maka akan menyedot sumber ekonomi yang begitu besar.
Apakah berarti
keamanan harus dipahami secara multidimensional?
Mesti dilihat secara keseluruhan dan ada beberapa poin
penting menyangkut dimensi keamanan. Perlu diketahui
tentang konsep “the origin of threats”.
Dalam masa perang dingin, ancaman yang dihadapi selalu
dianggap datang dari pihak luar (eksternal) sebuah negara,
pada masa kini ancaman dapat berasal dari dalam negeri
(domestik) dan global. Ancaman dari dalam biasanya tekait
dengan isu-isu primordial seperti etnis, budaya, dan
agama yang termanifestasikan dalam konflik komunal.
Apakah ini juga
muncl di tanah Nusantara?
Konflik serupa juga melanda negeri ini. Dalam konteks
Indonesia, konflik-konflik ini diperuncing lagi oleh
karakteristik geografis (faktor alam) Indonesia. Berbagai
tindak kekerasan (separatisme) yang dipicu oleh sentimen
ethnonasionalis yang terjadi di berbagai belahan wilayah
negeri ini misalnya, telah pula menyedot perhatian nasional
dan internasional. Dan, tatkala geliat-geliat separatisme
ini makin mengemuka dan mengglisahkan hati anak bangsa,
maka kita dihadapkan paa keraguan yang amat besar terhadap
masa depan dunia dan Indonesia sebagai sebuah negara
keatuan.Masih menyangkut soal keamanan, terutama bertalian
dengan perbatasan negara.
Bagaimana Anda memandang hal itu?
Batas negara sejatinya memainkan peranan penting dalam
menentukan kedaulatan dan keamanan nasional suatu negara.
Bahkan batas negara memiliki posisi penting dalam politik
luar negeri sebuah negara, guna membentuk interaksi
antar negara yang konstruktif dalam suatu cakupan kawasan
geografis.
Banyak
kasus muncul terutama di negara berkembang, batas negara
(teritorial) kurang mendapat pengawasan dan tak dikelola
dengan baik. Kenapa ini bisa terjadi?
Ada berbagai penyebab hingga satu negara kurang mampu
mengelola secara fisik wilayah perbatasaannya. Ketiadaan
administrasi yang efektif dalam mengatur batas wilayahnya,
hingga menambah rumit persoalan batas wilayah negara.
Ditambah lagi, banyak negara berkembang seperti Indonesia,
saat membicarakan isu perbatasan negara dan keamanan
nasional acap memunculkan dilematis. Aspek pertahanan
yang merujuk pada kemampuan mengatasi berbagai ancaman
internasional akan berbaur dengan aspek ancaman non
militer. Dan dalam banyak kasus di negara-negara berkembang,
berbagai isu non militer (pembangunan ekonomi, sosial
budaya dan politik nasional) akhirnya menjadi bagian
tak terlepaskan dari isu pertahanan negara dan keamanan
nasional.
Bagaimana dengan Indonesia?
Dalam Buku Putih Pertahanan Republik Indonesia (RI)
tahun 2003, secara tegas ada menyatakan RI masih memiliki
sejumlah persoalan menyangkut wilayah perbatasan dengan
sepuluh negara tetangga. Masing-masing dengan Singapura,
Malaysia, Australia, Filipina, Papua Nugini, Vietnam,
India, Thailand, Timor Leste, dan Republik Palau.
Dampak yang
ditimbulkan bila satu negara sampai abai pada wilayah
perbatasan?
Selain memiliki konsekwensi negatif pada berbagai dimensi
keamanan nasional, seperti dimensi keamanan militer,
politik, sosial dan lingkungan, juga bisa menjadi indikator
bahwa negara bersangkutan sangat lemah bahkan telah
gagal. Konsekwensi terburuk dari kegagalan negara dalam
memelihara wilayah perbatasan dan integritas teritorialnya,
adalah tercabik-cabiknya negara tersebut dalam perang
sipil yang akan bermuara pada fragmentasi dan disintegrasi.
Tak salah disampaikan ayah dua putra ini, akibat lain
dari keterbatasan dan rendahnya kemampuan negara mengelola
dan mengawasi semua wilayah perbatasan dan teritorialnya---udara,
laut, dan darat---, juga berdampak pada kondisi internal
maupun eksternal. Secara nasional maupun internasional.
Suami Made Kusumayanthi ini mencontohkan kasus Ambalat
yang melibatkan antara Indonesia dan Malaysia serta
gagalnya diplomasi Indonesia tatkala mengemuka isu kepemilikan
atas Pulau Sipadan dan Ligitan, sempat memunculkan ketegangan
antara kedua negara bertetangga ini Makna penting yang
bisa dipetik dari kasus tadi, betapa penting peranan
wilayah perbatasan dalam hubungan bernegara.
Kurang mampu mengelola kawasan
perbatasan, memang bisa memantik masalah dengan negara
tetangga. Adakah akibat lain yang dirasakan dari ketidakmampuan
menangani wilayah teritorial?
Negara gagal (failed State) yang tak mampu melindungi
wilayah perbatasannya akan menghadapi berbagai persoalan
ketidakamanan wilayah perbatasannya. Itu bisa muncul
dari non negara seperti kelompok penjahat transnasional,
yang menjalankan aksi kejahatan di antaranya perdagangan
narkotika, penyelundupan barang dan manusia, serta pencucian
uang. Termasuk kelompok teroris yang kerap memanfaatkan
lemahnya kontrol wilayah perbatasan dalam merencanakan,
mempersiapkan, dan menggalang semua aksi terorismenya.Kelemahan
satu negara maupun daerah mengelola wilayah perbatasan
memang kerap memunculkan masalah. Dalam skup wilayah
kecil, perbatasan antar satu desa dengan desa lain yang
belum jelas misalkan, juga banyak memunculkan masalah.
Bukan berita baru jika di Bali antara satu desa pakraman
dengan desa pakraman tetangganya kerap bersitegang soal
tapal batas. Keduanya kerap saling klaim bahwa wilayah
bersangkutan jadi milik desa yang berseteru.
Pun di tingkat provinsi atau kabupaten, antar satu daerah
dengan daerah lain sering muncul gesekan terkait dengan
daerah perbatasan.
Ancaman lain dari kekurangawaspadaan mengelola wilayah
perbatasan negara tentu akan memperbesar peluang terjadinya
tindak kejahatan yang melibatkan dua atau lebih negara.
Dosen SESKOAD TNI ini memberi ilustrasi beberapa laporan
tentang tindak kejahatan yang memanfaatkan wilayah perbatasan
kurang terkontrol secara baik, yakni kejahatan transnasional
dan aktivitas terorisme di wilayah perbatasan Thailand,
Malaysia, dan Indonesia oleh kelompok teroris dalam
merancang, mempersiapkan, dan melaksanakan aktivitasnya
di Indonesia beberapa tahun terakhir. Wilayah perbatasan
di Thailand Selatan melalui Provinsi Satun ke Sumatera
(Kepulauan Riau) kemudian melewati jalur perairan Malaysia
di sekitar Langkawi-Penang, merupakan jalur darat dan
laut favorit yang digunakan untuk mengalirkan dana,
peredaran senjata, dan bahan peldak para pelaku teroris
guna meranang aktivitas terorisme-nya.
Selain itu, jalur penyaluran senjata dan manusia untuk
melakukan kegiatan terorisme di wilayah Indonesia Timur,
pergerakannya ditengarai melalui jalur wilayah perbatasan
Filipina Selatan dari Zamboanga dan Davao (Mindanao)
menuju kepulauan Sulu, kemudian bergerak ke Sarawak
dan Nunukan di Kalimantan serta Kepulauan Sanghie Talaud
di Sulawesi Utara, berikutnya menuju Maluku dan Sulawesi
Utara. Dari sini baru menuju Maluku dan Sulawesi Tengah.
Satu jalur kejahatan antar negara yang tertata begitu
apik memang.
Berpijak dari penjelasan tadi,
apa yang bisa dimaknai oleh Indonesia?
Lemahnya kontrol terhadap wilayah perbatasan jelas akan
menjadi faktor pengganggu dalam diplomasi perbatasan
yang harus Indonesia lakukan dengan beberapa negara
tetangga. Dengan kata lain, kenyataan ini juga akan
menjadi titik lemah dalam perumusan dan pelaksanaan
politik luar negeri Indonesia. Sedangkan untuk tingkat
nasional, konsekwensi terburuk dari kegagalan negara
dalam memelihara wilayah perbatasan dan integritas teritorialnya,
adalah tercabik-cabiknya negara berangkutan dalam perang
sipil serta bermuara pada disintegrasi bangsa.
Apa
sepatutnya dilakukan dalam mengelola dan mengawasi batas
teritorial?
Mengingat soal perbatasan dapat menjadi isu yang sangat
penting dalam agenda keamanan nasional. Dalam mengawasi
wilayah teritorial yang nantinya tak hanya mampu memperkuat
nation-state building juga mendorong terciptanya regional
security building, maka perlu diupayakan melalui kerjasama
dengan semua negara tetangga yang memiliki perbatasan
wilayah dengan kita. Cuma, sebelum sampai pada tahapan
kerjasama, kita harus mampu melibatkan berbagai dimensi
secara menyluruh, seperti ekonomi, sosial, hukum, dan
iplomasi dalam mengelola wilayah perbatasan.
Langkah lainnya?
Perlu dibangun kekuatan militer guna mengontrol batas
dan luas teritorial suatu negara. Dalam sebuah ruang
geografis kekuatan seperti ini amat diperlukan, yang
sekaligus pula akan berfungsi untuk melindungi dari
kemungkinan gangguan kedaulatan yang berasal dari luar
negara. Di samping itu pemahaman menyeluruh terhadap
konsep keamanan sepatutnya tak berhenti pada pendekatan
militer semata, mesti dilakukan secara komprehensif
dengan mengintegrasikan berbagai pendekatan lainnya.
Ketut Sudana (Bandung), I Wayan Sucipta
|