|
|
WIRASA
Pemangku juga Pendidik
Pulau Bali sudah dikenal dimata dunia sebagai pulau
dewata atau pulau seribu pura. Sebagian besar masyarakat
Bali memeluk agama Hindu. Di mata orang asing, orang
Bali dikenal sangat taat menjalankan ibadah. Padahal
kalau kita lihat dalam kenyataannya agama hanya dijadikan
tameng untuk menarik para wisatawan agar datang berlibur
ke Bali. Tidak bisa dipungkiri bahwa dalam kenyataanya
banyak masyarakat atau orang Bali kurang percaya dengan
agamanya sendiri. Kita bisa lihat dari keseharian yaitu
banyak orang yang datang maturan/sembahyang ke pura
Besakih, dengan hikmat, tapi tidak jarang kita lihat
banyak juga yang memanfaatkan dengan hanya sekedar datang
ke pura tersebut untuk mejeng atau hanya sekedar jalan-jalan.
Maka dari itu, perlu diadakan atau dilakukan pendidikan
tentang sopan santun, etika dalam bermasyarakat secara
tidak langsung oleh para pemangku (penglingsir) agar
generasi muda Bali mengerti tentang budaya Bali dan
tidak meniru budaya Barat atau tingkah laku orang Barat.
Jadi biarpun orang Barat atau asing sering datang ke
Bali tidak akan menjadi ancaman bagi kebudayaan Bali
itu sendiri. Masyarakat Bali bisa menyaring kebudayaan
yang masuk, tanpa harus menghilangkan budaya sendiri.
Made Heli Widiasmini
Br. Kaja Kangin, Desa Tegak Klungkung
Terlalu Banyak Ngayah
Agama Hindu dan kebudayaannya tidak bisa dipisahkan,
keduanya saling berkaitan, karena budaya masyarakat
Bali lebih sibuk di bandingkan dengan adat-adat lainnya.
Karena kesibukan adat, banyak masyarakat tidak bisa
melakukan aktivitas/pekerjaan dibelit urusan sedikit-sedikit
ngayah. Sebut saja, dari kegiatan Bhuta Yadnya sampai
ke Dewa Yadnya. Banyak generasi muda yang sering mengeluh
dengan kegiatan adat. Tapi, tidak bisa dipungkiri itulah
kebudayaan.
Kebudayaan itu muncul dari sekelompok masyarakat atau
suku, berkembang dan terus berkembang kemudian menjadi
peraturan-peraturan yang harus dipenuhi dan apabila
dilangar maka kita akan dikenakan sangsi bahkan mungkin
diusir dari lingkungan adat. Manusia adalah makhluk
yang berbudaya, karena budaya itulah yang menyebabkan
dia dikenal.
Menurut saya budaya Bali itu terlalu banyak di kait-kaitkan
dengan agama. Sehingga menyebabkan dirinya sibuk.
Kalau agama Hindu di luar Bali tidak sesibuk di Bali,
karena jumlah-jumlah pura tidaklah begitu banyak.
Dewo Made Pernata
Tembau, Denpasar
Seiring berjalannya waktu, perkembangan Hindu
di India juga berdampak pada perkembangan Hindu di Indonesia,
khususnya di Bali. Dulu kasta hanya bertujuan untuk
membedakan atau lebih pas digunakan pada kelompok masyarakat
yang dianggap mampu di bidang tersebut, seperti: golongan
Brahmana yang bertujuan hanya sebagai pemimpin upacara
yadnya atau suatu kurban suci. Tetapi kalau kita telaah
lebih lanjut seperti seorang polisi. Bila sang ayah
jadi polisi apakah anaknya juga jadi jadi polisi? Jawabnya
pasti belum tentu. Lalu kenapa golongan Brahmana lalu
mempunyai seorang anak dan anaknya itu mewarisi klan
dari Bapaknya padahal jabatan itu hanya dimiliki oleh
bapaknya? Dampak dari kasta itu terjadi pada saat adanya
interaksi baik itu dilakukan dengan seorang Brahmana
ataupun dengan anak dari seorang Brahmana dimana golongan
sudra atau masyarakat bawah harus hormat kepada anak
dari Brahmana tersebut dalam hal tutur sapa sementara
mereka yang merasa memiliki kasta yang lebih tinggi
seenaknya atau semaunya sendiri dalam berbicara. Menurut
saya tradisi seperti ini sudah tidak relevan lagi di
jaman sekarang karena jika dilihat dari kacamata agama,
sesungguhnya Tuhan tidak membedakan umatnya lalu kenapa
kita sebagai manusia justru membuat jurang atau membuat
kelompok sendiri untuk membuat kebenarannya sendiri-sendiri.
Agus Kumara
Kedung Tarukan Baru I/19 Surabaya
Soal Awig-awig dan Kipem
Agama Hindu identik dengan kebudayan yang taat dengan
peraturan-peraturan (awig-awig). Disini awig-awig dalam
lingkungan masyarakat sangat di taati, maupun dalam
perkumpulan musyawarah atau yang lebih dikenal dengan
istilah banjar dengan awig-awig kehidupan masyarakat
menjadi teratur tanpa ada masalah. Karena yang di turunkan
dalam awig-awig banjar juga terkandung bagaimana tata
cara manusia untuk melakukan upacara yadnya. Misalnya
dalam kegiatan ngaben (pelebon) setiap anggota banjar
di haruskan membantu tanpa pamrih seperti memberikan
beras, uang, perlengkapan yadnya itu sendiri dan lain
sebagainya.
Menurut saya tradisi seperti ini dan awig-awiglah yang
perlu dilestarikan dalam tata cara agama Hindu bertindak
ataupun bersosialisasi dalam masyarakat. Dampak negatif
dari awig-awig ini di pandang dari sudut orang pendatang
sangat merepotkan juga, karena banyak administrasi yang
mereka isi dan taati seperti salah satu contohnya Kipem
Kipem dikenakan bagi orang-orang pendatang di Bali.
Tetapi pada akhirnya awig-awig ini juga yang menjaga
keamanan Bali.
I Ketut Sumerta
Selamat Merayakan
Galungan dan Kuningan
Saya warga Bali yang tinggal di rantau mengucapkan selamat
merayakan hari kemenangan dharma melawan adharma atau
lumrah disebut Galungan, di tahun 2008 ini. Semoga di
hari yang suci ini kita semua bisa mulat sarira, koreksi
diri atas segala perbuatan yang bersifat tidak baik.
Diah Ratnadi
Riau
Melanggar Ajaran Agama
Ketika saya mendalami tentang Hindu, saya tahu bahwa
agama Hindu merupakan ajaran kebenaran murni. Namun
dalam perjalanannya, ada banyak tindakan yang dilakukan
warga Hindu seolah-olah tak sesuai dengan ajaran agamanya.
Saya jadi bertanya-tanya dalam hati, apa semua itu terjadi
karena persepsi pemeluk yang salah tentang ajaran agamanya,
atau keberadaan agama yang dibungkus budaya? Yang jelas
ini perlu kita pikirkan lebih jauh dan tindaklanjuti.
Satu dari sekian masalah adalah kurangnya perhatian
pemerintah tentang APBN khususnya bidang keagamaan contohnya,
dari semua agama yang ada di Indonesia, mestinya mendapat
kuota yang sama dalam APBN, tetapi Hindu hanya mendapat
2 persen dari 15 persen APBN. Menurut saya Agama Hindu
di Indonesia perlu berbenah dan berjuang dalam keminoritasannya
di kancah Nasional. Caranya; perlu membuat kepastian
kelembagaan umat Hindu, perlu sarana pendidikan khusus
agama Hindu dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi,
menambah sarana warga untuk memperbaiki kwalitas SDM
yang masih rendah, serta perlunya persatuan para intelek
Hindu Bali untuk berjuang demi agama.
I Kadek Satria
Renon
|