No. 94/ Tahun IX Februari 2008
majalah gumi bali [sarad]
prihal pikir, kata dan laku manusia bali
 
Reracikan/Daftar Isi
Paruman/Sajian Utama
Cakepan
Paras Paros
Nyama Braya
Bale Bengong
Dresta
Orta
Sameton
Sasih
Sorot
Susila
Tatwa
Upacara
Wirasa/Surat Pembaca

   

TATWA

Stana Kala Raja Palinggih Taksu

Beragam Palinggih di Pamrajan
Lazimnya di Sanggah Kamulan ada tiga palinggih saling terkait, yakni: Sanggah Kamulan, Taksu, dan Pangrurah. Menurut kebiasaan di Bali, yang dipuja di Sanggah Kamulan adalah Batara Kawitan, sering disebut Batara Hyang Guru. Saya tidak tahu, siapa yang kita puja di palinggih Taksu dan siapa yang kita puja di palinggih Pangrurah? Dan apa pula kaitannya dengan palinggih Batara Hyang Guru itu? Mohon petunjuk!
Nyoman Sarwada
Jl. Gunung Andakasa Gg IV, Denpasar

Jawab:
Antara tahun 2000 sampai 500 Sebelum Masehi (SM), telah terjadi perpindahan bangsa Austronesia secara bergelombang dari Hindia Belakang ke berbagai pulau/kepulauan antara Madagaskar di barat sampai pulau Paska di timur, dan antara pulau Formusa di utara sampai pulau Selandia Baru di selatan. Termasuk ke Bali.
Kedatangan mereka ke kepulauan Nusantara terjadi dalam dua gelombang. Gelombang pertama terjadi sekitar tahun 2000 SM dan gelombang kedua tahun 500 SM. Bangsa Austronesia yang datang pada gelombang pertama disebut Proto Melayu, yang cirri khasnya masih menggunakan alat-alat dari batu, tetapi cara pembuatannya sudah sangat halus. Oleh karena itu mereka disebut pendukung kebudayaan Batu Baru. Dan zamannya disebut zaman Batu Baru (Neolitikum). Diperkirakan bangsa Proto Melayu ini juga pernah mendiami daratan Bali. Terbukti dari ditemukannya peninggalan-peninggalan zaman Batu Muda tersebar di Pulau Bali (Soekmono, 1073).
Bangsa Austronesia yang datang pada gelombang kedua disebut dengan Deutro Melayu. Bangsa inilah yang merupakan nenek moyang orang Bali Asli. Adanya sebutan Bali Mula adalah untuk membedakan dengan orang-orang yang leluhurnya datang belakangan ke Bali. Mereka datang umumnya dari Jawa.
Dari temuan-temuan arkeologi disimpulkan, bahwa ada tiga jenis pemujaan yang dilakukan masyarakat Bali yang berkembang pada zaman itu, yaitu :
a. Pemujaan terhadap arwah leluhur.
b. Pemujaan terhadap arwah para pemuka masyarakat.
c. Pemujaan terhadap kekuatan alam.
Roh-roh tersebut diyakini dapat memberikan perlindungan dan pertolongan kepada manusia, tetapi dapat pula menimbulkan bencana. Oleh karena itu untuk mengambil hati roh-roh tersebut (agar tidak mencelakakan, tetapi sebaliknya memberikan bantuan), maka dipuja melalui persembahan saji-sajian. Pertama yang dipuja adalah roh orang-orang besar dan roh nenek moyang, yang disebut Hyang atau Dang Hyang. Roh suci seseorang ditempatkan di kamimitan sanggah/pamrajan.
Jadi adanya sanggah atau pamrajan sebagai pemujaan terhadap roh-roh leluhur itu sudah ada sebelum agama Hindu datang ke Bali.
Pamrajan bukan merupakan tempat pemujaan umum yang berlaku bagi setiap pemeluk Hindu. Pamrajan hanya tempat pemujaan bagi pnganut Hindu yang memiliki ikatan keluarga sama. Pamrajan adalah “ulun Karang” atau kalau diumpamakan seperti manusia, dapat diumpamakan sebagai kepala atau ulu nya pekarangan. Sanggah memiliki tingkatan-tingkatan menurut besar kecilnya keluarga panyungsung dan bentuk serta kelengkapan dari palinggih-palinggih yang ada. Dalam lontar Siwagama ada disebutkan tingkatan-tingkatan menurut besar kecilnya keluarga panyungsung dan bentuk serta kelengkapan dari palinggih-palinggih yang ada, sebagai berikut :
……Bhagawan Menohari, Siwapaksa sira, kenedwa kinon de sri-gondara-pati umarja nang sad kahyangan,manista madya motama, mamari wata swadharma ning wwang kabeh, lyan swadyaning wwang saduluhing wang kawandasa kinon magawaya panti karma, wwang satengah bhaga rwang puluhing saduluk, ibu wangunanika, nistha sapuluhing saduluk, sanggar pratiwi wagunan ika, wwang kamulan pamanggalanya sowing.
Artinya:
........Bhagawan Manohari beliau beraliran Siwa dengan tugas disuruh oleh Sri Gondarapati, memelihara dengan baik sadkahyangan kecil, sedang dan besar, sebagai kewajiban semua orang. Dan lainnya lagi ialah asal kelahiran seseorang. Setiap 40 pekarangan rumah disuruh mendirikan panti, adapun setengah bagian dari itu yakni 20 pakarangan rumah supaya mendirikan palinggih Ibu, kalau kecilnya 10 pakarangan rumah, palinggih Pratiwi supaya didirikan, dan palinggih kamulan didirikan pada masing-masing pakarangan rumah.Berdasarkan keterangan lontar Siwagama tersebut, kalau kita sesuaikan dengan kenyataan di masyarakat, maka yang disebut pamrajan atan sanggah adalah tempat pemujaan yang letaknya di “hulu rumah pakarangan”, yang palinggih pokoknya berupa kamulan. Sedangkan pada tingkatan yang lebih tinggi dimana “Gedong Pratiwi” sebagai palinggih utamanya sudah disebut dengan pamrajan agung atau sanggah gede.Fungsi pamrajan untuk memuja roh suci leluhur atau atma yang telah disebut Dewa Pitara (Sidha Dewata). Dalam beberapa sumber pustaka disebutkan yang distanakan di kamulan adalah Sang Hyang Atma (roh suci). Yang distanakan di kamulan untuk dipuja bukanlah Dewa tetapi Pitara yang telah mencapai alam Dewa, oleh karena itu disebut Dewa Pitara. Fungsi mrajan kamulan sebagai tempat Sang Hyang Atma disebutkan dalam beberapa lontar sebagai berikut Lontar Gong Wesi menyebutkan sebagai berikut :
………. Ngarania ira sang Atma, ring Kamulan tengen Bapanta nga Sang Paratma ring Kamulan kiwa ibunta ngaran sang Siwatma, ring Kamulan madia waganta, atma dadi meme bapa ragane mantuk ring dalem dadi Sang Hyang Tunggal nunggalang raga…..
Artinya :
………. Namanya beliau Sang Atma, pada Kamulan kanan sebagai Bapa adalah Paratma, pada kamulan kiri sebagai ibu namanya Siwatma, pada kamulan tengah wujudnya adalah sang Atma, menjadi ibu bapa pada wujudnya Sanghyang Tunggal mempersatukan diri.
Penjelasan yang hampir sama disebutkan pada Lontar Usana Dewa sebagai berikut :
Ring Kamulan ngaran Ida Sang Hyang Atma, ring Kamulan tengen bapa ngaran sang Paratma, ring Kamulan kiwa ibu ngaran Sang sieatma, ring Kamulan Tengah ngaran raganya, tu Brahma dadi meme bapa maraga Sang Hyang Tuduh.
Artinya :
Pada kamulan nama Beliau adalah sang Hyang Atma, di Kamulan sebelah kanan adalah linggih (stana) Paratma adalah Bapak. Di kamulan ruang sebelah kiri adalah linggih Siwatma adalah Ibu, di kamulan tengah adalah wujudnya Brahma menjadi Ibu Bapak yang berwujud sang Hyang Tuduh.
Selanjutnya dapat pula kita tambahkan di sini penjelasan lontar Siwagama Sargah 10 yang berbunyi sebagai berikut :
“……kramania Sang Pitara mulihang batur kamulanya nguni.
Artinya :
Kemudian Sang Pitara kembali pada tempat kamulan-nya dulu.
Dari penjelasan beberapa kutipan lontar tadi, dapat disimpulkan bahwa yang disembah melalui tempat pemujaan pamrajan kamulan adalah Sang Hyang Atma yang telah mencapai alam ke-Dewa-an. Tujuan utama dari menstanakan roh suci leluhur di kamulan adalah agar keturunan dapat menyembah roh suci leluhurnya. Karena amat besarlah pahala orang yang berbakti kepada leluhurnya. Kalau kurang bakti pada leluhur apalagi tidak menstanakan di kamulan, maka kesengsaraan hiduplah yang akan dialami. Hal ini ditegaskan dalam lontar Purwabhumi Kamulan sebagai berikut : Ring wus mangkana, ikang daksina pengadegan Sang Dewa Pitara tinuntunakena maring sanggah Kamulan, yan lanang unggahakena maring tengen, yan wadon unggahakena maring kiwa, irika mapisan lawan dewa hyangnya nguni, winastu jaya jaya de sang pandita kinabhaktyanana mwah dening swarganya mwang Santana nira. Telas mangkana, tutug saparikramanya, puja simpen praline kadi lagi. Ikang adegan wenang lukar sapokaranya wenang geseng akena juga, pushadika, winadahan nyuh gading saha kawangi pendem ring ulwaning sanggah kamulan saharamnya dening kidung kekawin sahawruhanira. Mangka kramanya benering kaprawrtinta marakrti ring kawitan, yan tan samangkana tan tutug ikang pali-pali sang dewa pitara, maneher sira gawang tan molih unggwen tan ana pasenetanya, dadi kasambatsara santananya mwang wandu warganya, pada ya katepu tegah de sang guru pitaranya, ya dadi gering ambeda-beda tan manut tataning ashoda, matugering mangyat mangyat amung panglaku, amungsangkrama, ayan, lwang mwang kena gering angrerepe edan-edanan, kena bayu sangkara, ogan tunggah, angliyep mwah kadikmeling kena sungsung baru satus akutus kwehnya sungsung hane ika pada tinahanan pwa dena sanggahnya kowos boros sakwehning raja drwenya henti tanpakrama, satata rumasa kurang ring pangan kinum, apan kerugan dening kala bhuta mwang dengan. Apan sang dewa pitaranya seaawase tan ane linggih, tan ana jeneknya dening santanya kurang tuna prakerti tuna pangewruh, tuna pangasa kewala wruh mangrasani wareg mwang lapa tan maphala prawrti ring raga sarira, tan pakrti ring kawitan.
Artinya :
Setelah itu daksina palinggih Sang Dewa Pitara itu distanakan di kamulan, kalau laki (roh suci) distanakan di ruang bagian kanan, kalau perempuan, distanakan di ruang kiri (dari kamulan) di sana bersatu dengan Dewa Hyang-nya dulu, oleh Sang Pendeta diberikan puja jaya-jaya, hendaknya disembah oleh semua warga keturunannya. Setelah demikian selesai tata caranya, dan barulah dilakukan pralina dengan puja panyimpenan. Daksina palinggih itu boleh di ‘likar’ terus dibakar, abunya dimasukkan ke dalam kelapa gading disertai dengan kwangen lalu ditanam dibelakang sanggah kamulan, dibarengi dengan kidung kakawin yang diketahui oleh keluarganya. Begitulah caranya suatu cara yang benar untuk berbakti kepada leluhur. Kalau tidak seperti itu tidaklah selesai upacara untuk Dewa Pitara. Sang Dewa Pitara akan berkeliaran tidak mendapat tempat, tidak ada tempatnya yang pasti, maka diumpatlah keturunan dan keluarganya. Semua ditimpa penyakit disakiti oleh Dewa Pitara-nya. Itulah menyebabkan datang penyakit yang aneh-aneh, tidak bisa diobati menurut ketentuan usada. Muncul penyakit ajaib, tingkah laku yang tidak patut, gila-gilaan, hati rusak, organ, tunggah, ayan, bingung, sakit lemah, murung, sakit ingatan, sungsung baru dan juga menyebabkan boros kekayaannya habis tanpa sebab, selalu merasa kurang makan dan minum, sebab telah dirusak oleh bhuta kala karena selamanya Dewa Pitara tidak mempunyai tempat. Atau tempatnya tidak menentu, karena keturunannya kurang bakti, kurang pengetahuan, kurang perasaan, karena hanya tahu merasakan kenyang dan lapar, tidak berjasa pada diri sendiri dan tidak pula berbakti kepada leluhur.
Dari penjelasan lontar Purwa Kamulan ini, amatlah terang bahwa salah satu fungsi dari pada mrajan adalah sebagai tempat menstanakan roh suci leluhur (Dewa Pitara) yang dilakukan pada palinggih kamulan. Tujuan dari pada “ngalinggihang” Dewa Pitara di kamulan agar dapat disembah oleh semua keluarga dan keturunannya sebagaimana ditegaskan dalam kalimat : “kinebaktenana dening sewarganya mwang santananya”. Maka, dari menstanakan dan memuja leluhur di kamulan adalah untuk mendapatkan ke ‘rahayu’ an hidup. Menurut ajaran agama Hindu leluhur yang tidak distanakan dan tidak dipuja di tempat suci akan dapat menimbulkan bencana bagi kehidupan manusia di dunia. Fungsi pamrajan di samping untuk menstanakan roh suci leluhur, juga untuk disembah oleh keluarga dan keturunannya.
Demikianlah beberapa hal tentang mrajan yang ditandai oleh adanya palinggih kamulan. Di samping itu di pamrajan terdapat palinggih Taksu dan Ngrurah. Taksu adalah stana dari sang Kala Raja, yaitu lambang sumber energi. Kala artinya energi atau kekuatan, juga kata ‘kala’ artinya waktu. Fungsi dari pada “Taksu” adalah sebagai palinggih untuk memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa agar dianugerahkan kekuatan spiritual, untuk memelihara semangat hidup yang penuh dengan godaan. Sedangkan palinggih Ngerurah adalah palinggih untuk “Sang Catur Sanak” yang telah suci sebagaimana halnya kamulan untuk palinggih Sang Atma yang sudah suci. Dalam lontar Anggastya Prana disebutkan: sang bayi mempunyai saudara yang disebut Sang Catur Sanak. Saudara empat sang bayi itu selalu menyertai kehidupan sang bayi guna melindungi bayi dari berbagai godaan dalam kehidupannya dari kecil sampai kembali ke asal.
Keadaan Catur Sanak selalu menyesuaikan dan mengikuti perkembangan si bayi. Setiap upacara yang berfungsi meningkatkan status si bayi ada pula upacara yang ditujukan untuk Catur Sanak. Setiap peningkatan status yang dicapai oleh si bayi, Catur Sanak pun mengikutinya. Demikian pula kalau orang meninggal itu diupacarai seperti “Ngaben” misalnya, Catur Sanak juga ikut diberikan upacara. Setelah Ngaben (Sawa/Asti Wedana) dilanjutkan dengan upacara Atma Wedana (Mamukur) Catur Sanak pun ikut diupacarai.
Setelah Atma Wedana dilangsungkan, maka upacara berikutnya adalah Dewa Pitara Pratista yaitu menstanakan roh suci di kamulan. Kalau Atma yang telah suci distanakan di kamulan, maka Catur Sanak yang telah suci distanakan di palinggih “Ngerurah” yang letakanya di sebelah kiri kamulan. Sanghyang Atma yang telah suci berstana di palinggih Ngerurah diharapkan dapat menganugerahi kehidupan pratisantana atau keturunannya yang masih hidup.
Kalau kita perhatikan dari sudut fungsi masing-masing palinggih di pamrajan atau “ulun Karang” ini, maka akan mendapatkan suatu konsepsi peningkatan mutu hidup manusia dengan penyucian spritual. Di samping itu digambarkan pula bahwa roh yang kita sembah adalah roh leluhur yang telah suci.
Mengapa kita memuja roh leluhur yang suci? Hal ini didasarkan pada pengertian, bahwa yang menyembah secara bertahap agar mencapai kesucian yang disembah. Karena tujuan, akhir dari kehidupan manusia menurut pandangan Hindu, bersatu dengan yang suci. Dewa Pitara yang distanakan di kamulan itu karena telah mencapai alam ke-dewa-an atau alamnya Sang Hyang Tri Murti, maka Dewa Pitara itu diidentikan dengan Sang Hyang Tri Murti. Kamulan itu bukan palinggih Tri Murti.
Dewa Pitara yang berstana di kamulan disebut “Bhatara Hyang Guru”. Kata Hyang dari pengaruh Austronesia dan kata Guru pengaruh Sanskerta yang bermakna Guru Rupaka, yaitu leluhur yang memberi rupa wajah kepada keturunannya.