|
|
TATWA
Stana Kala Raja Palinggih
Taksu
Beragam Palinggih
di Pamrajan
Lazimnya di Sanggah Kamulan ada tiga palinggih saling
terkait, yakni: Sanggah Kamulan, Taksu, dan Pangrurah.
Menurut kebiasaan di Bali, yang dipuja di Sanggah Kamulan
adalah Batara Kawitan, sering disebut Batara Hyang Guru.
Saya tidak tahu, siapa yang kita puja di palinggih Taksu
dan siapa yang kita puja di palinggih Pangrurah? Dan
apa pula kaitannya dengan palinggih Batara Hyang Guru
itu? Mohon petunjuk!
Nyoman Sarwada
Jl. Gunung Andakasa Gg IV, Denpasar
Jawab:
Antara
tahun 2000 sampai 500 Sebelum Masehi (SM), telah terjadi
perpindahan bangsa Austronesia secara bergelombang dari
Hindia Belakang ke berbagai pulau/kepulauan antara Madagaskar
di barat sampai pulau Paska di timur, dan antara pulau
Formusa di utara sampai pulau Selandia Baru di selatan.
Termasuk ke Bali.
Kedatangan mereka ke kepulauan Nusantara terjadi dalam
dua gelombang. Gelombang pertama terjadi sekitar tahun
2000 SM dan gelombang kedua tahun 500 SM. Bangsa Austronesia
yang datang pada gelombang pertama disebut Proto Melayu,
yang cirri khasnya masih menggunakan alat-alat dari
batu, tetapi cara pembuatannya sudah sangat halus. Oleh
karena itu mereka disebut pendukung kebudayaan Batu
Baru. Dan zamannya disebut zaman Batu Baru (Neolitikum).
Diperkirakan bangsa Proto Melayu ini juga pernah mendiami
daratan Bali. Terbukti dari ditemukannya peninggalan-peninggalan
zaman Batu Muda tersebar di Pulau Bali (Soekmono, 1073).
Bangsa Austronesia yang datang pada gelombang kedua
disebut dengan Deutro Melayu. Bangsa inilah yang merupakan
nenek moyang orang Bali Asli. Adanya sebutan Bali Mula
adalah untuk membedakan dengan orang-orang yang leluhurnya
datang belakangan ke Bali. Mereka datang umumnya dari
Jawa.
Dari temuan-temuan arkeologi disimpulkan, bahwa ada
tiga jenis pemujaan yang dilakukan masyarakat Bali yang
berkembang pada zaman itu, yaitu :
a. Pemujaan terhadap arwah leluhur.
b. Pemujaan terhadap arwah para pemuka masyarakat.
c. Pemujaan terhadap kekuatan alam.
Roh-roh tersebut diyakini dapat memberikan perlindungan
dan pertolongan kepada manusia, tetapi dapat pula menimbulkan
bencana. Oleh karena itu untuk mengambil hati roh-roh
tersebut (agar tidak mencelakakan, tetapi sebaliknya
memberikan bantuan), maka dipuja melalui persembahan
saji-sajian. Pertama yang dipuja adalah roh orang-orang
besar dan roh nenek moyang, yang disebut Hyang atau
Dang Hyang. Roh suci seseorang ditempatkan di kamimitan
sanggah/pamrajan.
Jadi adanya sanggah atau pamrajan sebagai pemujaan terhadap
roh-roh leluhur itu sudah ada sebelum agama Hindu datang
ke Bali.
Pamrajan bukan merupakan tempat pemujaan umum yang berlaku
bagi setiap pemeluk Hindu. Pamrajan hanya tempat pemujaan
bagi pnganut Hindu yang memiliki ikatan keluarga sama.
Pamrajan adalah “ulun Karang” atau kalau
diumpamakan seperti manusia, dapat diumpamakan sebagai
kepala atau ulu nya pekarangan. Sanggah memiliki tingkatan-tingkatan
menurut besar kecilnya keluarga panyungsung dan bentuk
serta kelengkapan dari palinggih-palinggih yang ada.
Dalam lontar Siwagama ada disebutkan tingkatan-tingkatan
menurut besar kecilnya keluarga panyungsung dan bentuk
serta kelengkapan dari palinggih-palinggih yang ada,
sebagai berikut :
……Bhagawan Menohari, Siwapaksa sira, kenedwa
kinon de sri-gondara-pati umarja nang sad kahyangan,manista
madya motama, mamari wata swadharma ning wwang kabeh,
lyan swadyaning wwang saduluhing wang kawandasa kinon
magawaya panti karma, wwang satengah bhaga rwang puluhing
saduluk, ibu wangunanika, nistha sapuluhing saduluk,
sanggar pratiwi wagunan ika, wwang kamulan pamanggalanya
sowing.
Artinya:
........Bhagawan Manohari beliau beraliran Siwa dengan
tugas disuruh oleh Sri Gondarapati, memelihara dengan
baik sadkahyangan kecil, sedang dan besar, sebagai kewajiban
semua orang. Dan lainnya lagi ialah asal kelahiran seseorang.
Setiap 40 pekarangan rumah disuruh mendirikan panti,
adapun setengah bagian dari itu yakni 20 pakarangan
rumah supaya mendirikan palinggih Ibu, kalau kecilnya
10 pakarangan rumah, palinggih Pratiwi supaya didirikan,
dan palinggih kamulan didirikan pada masing-masing pakarangan
rumah.Berdasarkan keterangan lontar Siwagama tersebut,
kalau kita sesuaikan dengan kenyataan di masyarakat,
maka yang disebut pamrajan atan sanggah adalah tempat
pemujaan yang letaknya di “hulu rumah pakarangan”,
yang palinggih pokoknya berupa kamulan. Sedangkan pada
tingkatan yang lebih tinggi dimana “Gedong Pratiwi”
sebagai palinggih utamanya sudah disebut dengan pamrajan
agung atau sanggah gede.Fungsi pamrajan untuk memuja
roh suci leluhur atau atma yang telah disebut Dewa Pitara
(Sidha Dewata). Dalam beberapa sumber pustaka disebutkan
yang distanakan di kamulan adalah Sang Hyang Atma (roh
suci). Yang distanakan di kamulan untuk dipuja bukanlah
Dewa tetapi Pitara yang telah mencapai alam Dewa, oleh
karena itu disebut Dewa Pitara. Fungsi mrajan kamulan
sebagai tempat Sang Hyang Atma disebutkan dalam beberapa
lontar sebagai berikut Lontar Gong Wesi menyebutkan
sebagai berikut :
………. Ngarania ira sang Atma, ring
Kamulan tengen Bapanta nga Sang Paratma ring Kamulan
kiwa ibunta ngaran sang Siwatma, ring Kamulan madia
waganta, atma dadi meme bapa ragane mantuk ring dalem
dadi Sang Hyang Tunggal nunggalang raga…..
Artinya :
………. Namanya beliau Sang Atma, pada
Kamulan kanan sebagai Bapa adalah Paratma, pada kamulan
kiri sebagai ibu namanya Siwatma, pada kamulan tengah
wujudnya adalah sang Atma, menjadi ibu bapa pada wujudnya
Sanghyang Tunggal mempersatukan diri.
Penjelasan yang hampir sama disebutkan pada Lontar Usana
Dewa sebagai berikut :
Ring Kamulan ngaran Ida Sang Hyang Atma, ring Kamulan
tengen bapa ngaran sang Paratma, ring Kamulan kiwa ibu
ngaran Sang sieatma, ring Kamulan Tengah ngaran raganya,
tu Brahma dadi meme bapa maraga Sang Hyang Tuduh.
Artinya :
Pada kamulan nama Beliau adalah sang Hyang Atma, di
Kamulan sebelah kanan adalah linggih (stana) Paratma
adalah Bapak. Di kamulan ruang sebelah kiri adalah linggih
Siwatma adalah Ibu, di kamulan tengah adalah wujudnya
Brahma menjadi Ibu Bapak yang berwujud sang Hyang Tuduh.
Selanjutnya dapat pula kita tambahkan di sini penjelasan
lontar Siwagama Sargah 10 yang berbunyi sebagai berikut
:
“……kramania Sang Pitara mulihang batur
kamulanya nguni.
Artinya :
Kemudian Sang Pitara kembali pada tempat kamulan-nya
dulu.
Dari penjelasan beberapa kutipan lontar tadi, dapat
disimpulkan bahwa yang disembah melalui tempat pemujaan
pamrajan kamulan adalah Sang Hyang Atma yang telah mencapai
alam ke-Dewa-an. Tujuan utama dari menstanakan roh suci
leluhur di kamulan adalah agar keturunan dapat menyembah
roh suci leluhurnya. Karena amat besarlah pahala orang
yang berbakti kepada leluhurnya. Kalau kurang bakti
pada leluhur apalagi tidak menstanakan di kamulan, maka
kesengsaraan hiduplah yang akan dialami. Hal ini ditegaskan
dalam lontar Purwabhumi Kamulan sebagai berikut : Ring
wus mangkana, ikang daksina pengadegan Sang Dewa Pitara
tinuntunakena maring sanggah Kamulan, yan lanang unggahakena
maring tengen, yan wadon unggahakena maring kiwa, irika
mapisan lawan dewa hyangnya nguni, winastu jaya jaya
de sang pandita kinabhaktyanana mwah dening swarganya
mwang Santana nira. Telas mangkana, tutug saparikramanya,
puja simpen praline kadi lagi. Ikang adegan wenang lukar
sapokaranya wenang geseng akena juga, pushadika, winadahan
nyuh gading saha kawangi pendem ring ulwaning sanggah
kamulan saharamnya dening kidung kekawin sahawruhanira.
Mangka kramanya benering kaprawrtinta marakrti ring
kawitan, yan tan samangkana tan tutug ikang pali-pali
sang dewa pitara, maneher sira gawang tan molih unggwen
tan ana pasenetanya, dadi kasambatsara santananya mwang
wandu warganya, pada ya katepu tegah de sang guru pitaranya,
ya dadi gering ambeda-beda tan manut tataning ashoda,
matugering mangyat mangyat amung panglaku, amungsangkrama,
ayan, lwang mwang kena gering angrerepe edan-edanan,
kena bayu sangkara, ogan tunggah, angliyep mwah kadikmeling
kena sungsung baru satus akutus kwehnya sungsung hane
ika pada tinahanan pwa dena sanggahnya kowos boros sakwehning
raja drwenya henti tanpakrama, satata rumasa kurang
ring pangan kinum, apan kerugan dening kala bhuta mwang
dengan. Apan sang dewa pitaranya seaawase tan ane linggih,
tan ana jeneknya dening santanya kurang tuna prakerti
tuna pangewruh, tuna pangasa kewala wruh mangrasani
wareg mwang lapa tan maphala prawrti ring raga sarira,
tan pakrti ring kawitan.
Artinya :
Setelah itu daksina palinggih Sang Dewa Pitara itu distanakan
di kamulan, kalau laki (roh suci) distanakan di ruang
bagian kanan, kalau perempuan, distanakan di ruang kiri
(dari kamulan) di sana bersatu dengan Dewa Hyang-nya
dulu, oleh Sang Pendeta diberikan puja jaya-jaya, hendaknya
disembah oleh semua warga keturunannya. Setelah demikian
selesai tata caranya, dan barulah dilakukan pralina
dengan puja panyimpenan. Daksina palinggih itu boleh
di ‘likar’ terus dibakar, abunya dimasukkan
ke dalam kelapa gading disertai dengan kwangen lalu
ditanam dibelakang sanggah kamulan, dibarengi dengan
kidung kakawin yang diketahui oleh keluarganya. Begitulah
caranya suatu cara yang benar untuk berbakti kepada
leluhur. Kalau tidak seperti itu tidaklah selesai upacara
untuk Dewa Pitara. Sang Dewa Pitara akan berkeliaran
tidak mendapat tempat, tidak ada tempatnya yang pasti,
maka diumpatlah keturunan dan keluarganya. Semua ditimpa
penyakit disakiti oleh Dewa Pitara-nya. Itulah menyebabkan
datang penyakit yang aneh-aneh, tidak bisa diobati menurut
ketentuan usada. Muncul penyakit ajaib, tingkah laku
yang tidak patut, gila-gilaan, hati rusak, organ, tunggah,
ayan, bingung, sakit lemah, murung, sakit ingatan, sungsung
baru dan juga menyebabkan boros kekayaannya habis tanpa
sebab, selalu merasa kurang makan dan minum, sebab telah
dirusak oleh bhuta kala karena selamanya Dewa Pitara
tidak mempunyai tempat. Atau tempatnya tidak menentu,
karena keturunannya kurang bakti, kurang pengetahuan,
kurang perasaan, karena hanya tahu merasakan kenyang
dan lapar, tidak berjasa pada diri sendiri dan tidak
pula berbakti kepada leluhur.
Dari penjelasan lontar Purwa Kamulan ini, amatlah terang
bahwa salah satu fungsi dari pada mrajan adalah sebagai
tempat menstanakan roh suci leluhur (Dewa Pitara) yang
dilakukan pada palinggih kamulan. Tujuan dari pada “ngalinggihang”
Dewa Pitara di kamulan agar dapat disembah oleh semua
keluarga dan keturunannya sebagaimana ditegaskan dalam
kalimat : “kinebaktenana dening sewarganya mwang
santananya”. Maka, dari menstanakan dan memuja
leluhur di kamulan adalah untuk mendapatkan ke ‘rahayu’
an hidup. Menurut ajaran agama Hindu leluhur yang tidak
distanakan dan tidak dipuja di tempat suci akan dapat
menimbulkan bencana bagi kehidupan manusia di dunia.
Fungsi pamrajan di samping untuk menstanakan roh suci
leluhur, juga untuk disembah oleh keluarga dan keturunannya.
Demikianlah
beberapa hal tentang mrajan yang ditandai oleh adanya
palinggih kamulan. Di samping itu di pamrajan terdapat
palinggih Taksu dan Ngrurah. Taksu adalah stana dari
sang Kala Raja, yaitu lambang sumber energi. Kala artinya
energi atau kekuatan, juga kata ‘kala’ artinya
waktu. Fungsi dari pada “Taksu” adalah sebagai
palinggih untuk memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa agar
dianugerahkan kekuatan spiritual, untuk memelihara semangat
hidup yang penuh dengan godaan. Sedangkan palinggih
Ngerurah adalah palinggih untuk “Sang Catur Sanak”
yang telah suci sebagaimana halnya kamulan untuk palinggih
Sang Atma yang sudah suci. Dalam lontar Anggastya Prana
disebutkan: sang bayi mempunyai saudara yang disebut
Sang Catur Sanak. Saudara empat sang bayi itu selalu
menyertai kehidupan sang bayi guna melindungi bayi dari
berbagai godaan dalam kehidupannya dari kecil sampai
kembali ke asal.
Keadaan Catur Sanak selalu menyesuaikan dan mengikuti
perkembangan si bayi. Setiap upacara yang berfungsi
meningkatkan status si bayi ada pula upacara yang ditujukan
untuk Catur Sanak. Setiap peningkatan status yang dicapai
oleh si bayi, Catur Sanak pun mengikutinya. Demikian
pula kalau orang meninggal itu diupacarai seperti “Ngaben”
misalnya, Catur Sanak juga ikut diberikan upacara. Setelah
Ngaben (Sawa/Asti Wedana) dilanjutkan dengan upacara
Atma Wedana (Mamukur) Catur Sanak pun ikut diupacarai.
Setelah Atma Wedana dilangsungkan, maka upacara berikutnya
adalah Dewa Pitara Pratista yaitu menstanakan roh suci
di kamulan. Kalau Atma yang telah suci distanakan di
kamulan, maka Catur Sanak yang telah suci distanakan
di palinggih “Ngerurah” yang letakanya di
sebelah kiri kamulan. Sanghyang Atma yang telah suci
berstana di palinggih Ngerurah diharapkan dapat menganugerahi
kehidupan pratisantana atau keturunannya yang masih
hidup.
Kalau kita perhatikan dari sudut fungsi masing-masing
palinggih di pamrajan atau “ulun Karang”
ini, maka akan mendapatkan suatu konsepsi peningkatan
mutu hidup manusia dengan penyucian spritual. Di samping
itu digambarkan pula bahwa roh yang kita sembah adalah
roh leluhur yang telah suci.
Mengapa kita memuja roh leluhur yang suci? Hal ini didasarkan
pada pengertian, bahwa yang menyembah secara bertahap
agar mencapai kesucian yang disembah. Karena tujuan,
akhir dari kehidupan manusia menurut pandangan Hindu,
bersatu dengan yang suci. Dewa Pitara yang distanakan
di kamulan itu karena telah mencapai alam ke-dewa-an
atau alamnya Sang Hyang Tri Murti, maka Dewa Pitara
itu diidentikan dengan Sang Hyang Tri Murti. Kamulan
itu bukan palinggih Tri Murti.
Dewa Pitara yang berstana di kamulan disebut “Bhatara
Hyang Guru”. Kata Hyang dari pengaruh Austronesia
dan kata Guru pengaruh Sanskerta yang bermakna Guru
Rupaka, yaitu leluhur yang memberi rupa wajah kepada
keturunannya.
|