No. 94/ Tahun IX Februari 2008
majalah gumi bali [sarad]
prihal pikir, kata dan laku manusia bali
 
Reracikan/Daftar Isi
Paruman/Sajian Utama
Cakepan
Paras Paros
Nyama Braya
Bale Bengong
Dresta
Orta
Sameton
Sasih
Sorot
Susila
Tatwa
Upacara
Wirasa/Surat Pembaca

   

ORTA

UNUD Peduli Tanaman Banten
Perkembangan adat Bali yang demikian pesat, seperti kasepekang, pananjung batu, dan langkanya tanaman banten memerlukan perhatian lebih dari berbagai pihak. Kondisi ini menimbulkan gagasan bagi Lembaga Pengadian kepada Masyarakat Universitas Udayana Denpasar (LPM-UNUD) untuk melakukan sesuatu, terutama yang berkaitan dengan semakin langkanya tanaman banten. “Selama ini masyarakat menilai Perguruan Tinggi (PT) selalu disamakan dengan ‘menara gading’. Kami menginginkan Unud juga bisa menjadi menara air. Ini sesuai dengan motto Unud: unggul, mandiri, dan berbudaya,” ujar Ketua LPM Unud, Made Pasek Diantha, saat membuka ‘Bali Shanti’: Pusat Pelayanan dan Pengembangan Adat/Kebudayaan Bali, di Jalan P Moyo, Denpasar, awal Januari lalu.
Dalam penjelasan Diantha, lembaga yang dipimpinnya ini melakukan pelayanan kepada masyarakat dalam tiga bentuk kegiatan: Pertama pengkajian pada kebudayaan Bali dengan menggunakan catur dresta sebagai tolok ukur. Bentuk kongkretnya berupa seminar yang rencananya akan dilaksanakan tiga kali dalam setahun. Kegiatan kedua adalah konsultasi pada masyarakat. Bali Santhi akan membuka ruang konsultasi kepada masyarakat menyangkut masalah-masalah adat yang sementara waktu menggunakan rumah pribadi rektor Unud di Jln. PB Sudirman, Denpasar. Sementara kegiatan ketiga terang guru besar Fakultas Hukum Unud ini, berupa pelayanan, yaitu menyediakan tanaman banten, terutama yang langka seperti nyuh Rangda, nyuh Sudamala dan sebagainya. Kegiatan ini diwadahi pada lembaga ‘Bali Shanti’. Sebanyak puluhan tanaman banten yang bernilai non ekonomis dibibitkan pada tanah seluas setengah hektar, di kebun percobaan Fakultas Pertanian Unud Jln P Moyo, Pesanggrahan, Denpasar.
Rektor Unud, Made Bakta berharap kehadiran Bali Shanti berguna bagi masyarakat, khususnya sebagai lembaga konsultasi dan pengembangan adat/budaya Bali. Hal ini sejalan dengan pengejawantahan Tri Dharma perguruan tinggi di antaranya memberikan pengabdian kepada masyarakat. Unud yang pola ilmiah pokoknya kebudayaan dan visinya: unggul, mandiri, dan berbudaya, tepat sekali memberikan pelayanan, konsultasi dan pengkajian di bidang adat/buday.

Seks dan Siwalatri
Karya sastra Siwalatri Kalpa ternyata memiliki bias gender. Ini bisa dilihat dari tokoh-tokoh yang sebagian besar berjenis kelamin lelaki, seperti Dewa Siwa, Yama Lubdhaka. Padahal secara konseptual visual sifat kepurusaan dewa tidak mempunyai arti apa-apa tanpa pradana. Seperti pasangan Siwa Parwati, Brhma-Saraswati, yang menunjukan sifat purusa dan pradana sekaligus. ”Itupun, kalau kita mau berpegang pada prinsip tatwa” ujar Wayan Budi Utama, dalam diskusi bertajuk Siwaratri di Pura Universitas Hindu (Unhi) Denpasar, awal Januari lalu. Sebagai teks Siwaisme, Tantrisme varian Siwaisme justru lebih memposisikan sakti (pradana) daripada dewa. Paham penting dalam Tantrisme adalah mencapai penyatuan spiritual dengan sang pencipta adalah aktivitas senggama, terutama pasangan itu mencapai orgasme secara bersamaan. ”Untuk mencapai orgasme, puncal pengalaman siritual, egoisme masing-masing pihak harus dileburkanSecara sosial harus dilakukan oleh pasangan yang sah. ”Karena legalisasi seksual hanya mungkin lewat piranti sosial, tanpa egoisme satu pihak yang dimenangkan. Perempuan jadi pihak subordinan terus. Padahal Tanra menghendaki keseimbangan”ujar dosen Sosilogi Agama Unhi ini. Masyarakat cenderung menginterpretasikan Siwalatri yang bersifat asketisme.
Dalam cerita memang tidak disebutkan aktivitas seksual dan orang menterjemahkan adanya larangan berhubungan kelamin. ”Tetapi, sekali lagi, persoalan ini sangat tergantung bagaimana perspektif masyarakat melihat teks Lubdhaka itu. Kalau perspektif yang digunakan tantraisme maka penyatuan spiritual bisa dilakukan dengan aktivitas seksual, urai Budi Utama panjang lebar.

Candi Jawa Material dari Bali
Pada hari Sabtu, akhir Desember 2007, Yayasan Dharma Kerthi Majapahit, berhasil mewujudkan pendirian padmasana yang diberi nama Candi Wilwatikta (Majapahit) bertempat di situs Majapahit, Dusun Denok, Desa Temon, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Propinsi Jawa Timur. Sekitar 300 meter selatan Candi Tikus. Yayasan yang beralamat di Jalan Gatot Subroto Timur No. 80 Denpasar Bali tersebut, memiliki kepedulian untuk menjaga kelestarian dari peninggalan-peninggalan budaya, khususnya mengenai keberadaan situs-situs kuno kerajaan Majapahit. Menurut I Gusti Ngurah Subudi tokoh warga Hindu di Jawa Timur, pembangunan candi sangat diharapkan warga Hindu yang berdomisili di Jawa Timur dan sekitarnya maupun penganut Hindu pendatang ke tempat tersebut.
“Pembangunan Candi Wilwatikta ini diharapkan pula dapat memotivasi masyarakat sekitarnya untuk ikut serta melestarikan budaya peninggalan kerajaan Majapahit yang pernah sangat berpengaruh tidak saja di Nusantara, tetapi bahkan diseluruh dunia pada jamannya” beber Wijana. Hal sama disampaikan Ida Bagus Suteja, tokoh warga Hindu yang berdomisili di Mojokerto, yang menyambut positif keberadaan candi dengan sangat antusias. Pembangunan candi (berupa Padmasana) itu sendiri dikerjakan dalam waktu satu hari. Mulai dari upacara ngeruak sampai dengan melaspas dengan sulinggih bersama rombongan yang datang dari Bali, di antaranya: Ida Padanda Gede Ketut Keniten dari Griya Dawan Kelod Klungkung dan Ida Padanda Gede Purwa Gautama dari Griya Budha Wanasari Karangasem. Ketua penyelenggara kegiatan, I Gusti Ngurah Agung Wiguna menegaskan, Candi tersebut dibangun di areal tanah seluas 9.700 meter persegi. Pembagunan fisik candi, dikerjakan tenaga dari Bali dan dibantu pula oleh warga sekitar, dengan material bangunan candi (berupa Padmasana) didatangkan langsung dari Bali.

Bali: Dari Trauma ke Trauma
Sebuah diskusi buku yang lagi-lagi tentang paradoks Bali di gelar di Taman 65, Jln. WR Supratman 193, Denpasar, Bali, pertengahan Januari lalu. Diskusi ini secara khusus membahas buku yang berisi kumpulan tulisan IBM Palguna yang berjudul ‘Budaya Kepintaran sampai Budaya Kekerasan Pikiran’ Dalam bahasan Ngurah Karyadi, buku Gus Pal (panggilan akrab IBM Palguna) menunjukan bahwa Bali bergerak dari satu trauma ke trauma lainnya. Menurutnya, setiap kesatuan bersama memiliki trauma-trauma. Orang Bali hidup dengan trauma. “Bukankah, keBalian dibentuk dari pengalaman-pengalaman negatif? Dalam artian ini, orang Bali hidup dalam trauma. Trauma utama warga pulau seribu pura ini lahir dari dominasi, yang meniadakan yang lain bentuk kekuasaan yang sampai di tingkat pemikiran, telah meninggalkan bekas traumatis,” tuturnya sembari menunjuk pada tulisan Gus Pal yang berjudul “Menderita di Dunia, Bahagia di Akhirat”.
Karyadi berharap agar penulis buku memiliki jarak dengan trauma-trauma itu. “Mudah-mudahan penulis buku ini tidak kena virusnya, karena mengambil posisi di perbatasan sebagaimana ditunjukan dalam tulisan berjudul: Jalan Raya dan Jalan Alternatif”, ujar pria berbadan ceking itu. Secara terinci, bekas traumatis tersebut tidak tampil dalam bentuk kebencian terhadap orang luar atau asing. Namun, lebih percaya daripada dengan sesamanya. Meskipun keterjajahan sudah dilerai secara politis, secara psikologis dan budaya tetap berkelanjutan. Orang luar dapat memimpin lebih baik daripada orang sendiri. “Itulah prasangka yang tumbuh subur di pulau ini, terlebih setelah Bali menjadi pusat pariwisata. Suatu contoh keberhasilan proses cuci otak dari masa lalu,” tunjuknya. Lebih parah lagi, kini prasangka tersebut karena membentuk ketidakyakinan diri sendiri terwujud dalam kenyataan. “Ketidakpercayaan diri tersebut bersifat traumatis” cecarnya. Trauma itu telah meyakinkan warga. Bahkan kenyakinan diri itu terlalu berlebihan. Ketidakpercayaan diri ini sangat berbahaya. Semua ini akan memunculkan sikap melarikan diri dari tanggungjawab dan ketakutan bersungguh-sungguh. Wujud dari sikap melarikan diri itu terlihat dalam beragam permainan orang dewasa di Bali. “Bukankah orang Bali suka main-main-lewat tajen, layangan atau ogoh-ogoh? Atau tampil dengan kepercayaan diri luar biasa dalam berbagai arena kesenian,” detail pekerja sosial ‘serabutan’ itu.
Trauma akibat itu tidak berakhir saat ini. Pengejaran atas mereka yang dituduh berbeda atau menentang tradisi merupakan bagian traumatis berikut, yang mungkin paling kelam sejarah Bali. Trauma massa ini sesungguhnya tidak terletak pada peristiwa itu sendiri sudah terjadi. Ketakutan akan ketakutan, lebih menakutkan dan melumpuhkan, daripada jenis ketakutan lainnya. Hal inilah yang dimanfaatkan oleh suatu politik penguasaan massa, dari mereka yang hendak berkuasa, atau penguasa itu sendiri.