No. 95/ Tahun IX Maret 2008
majalah gumi bali [sarad]
prihal pikir, kata dan laku manusia bali
 
Reracikan/Daftar Isi
Paruman/Sajian Utama
Cakepan
Paras Paros
Nyama Braya
Bale Bengong
Dresta
Kelir
Kalangan
Parinama
Orta
Sasih
Susila
Tatwa
Upacara
Wirasa/Surat Pembaca
Samatra
Sameton


   
TATWA

Jangan Pernah Abaikan Leluhur
Tjok. Rai Sudharta






Bingung Soal Pitara
Saya seorang yang awam tentang agama. Tempo hari, saat hari Umanis Galungan saya bertemu sahabat baik, di mana dalam rentang sepuluh tahun karena alasan kerja dan kesibukan kami berpisah. Sahabat kami ini lahir dari keluarga brahmana di Tabanan. Dari dulu, semenjak kuliah di IHD, kini Unhi (Universitas Hindu ) Denpasar teman saya ini sangat suka mendalami soal spiritual dan agama.
Sekali waktu saat kami masih gradag-grudug , kami suka bertanya soal kepercayaan dan spiritualisme padanya. Saat bertemu, pas hari Umanis Galungan kami sekeluarga mendapat “ceramah” menarik. Intinya begini, dia kini tidak lagi memuja leluhur, justru itulah dia kini tidak lagi membuat sanggah pamrajan (sanggah kamulan) di rumah barunya di bilangan desa asri, Denpasar Barat. Yang dibangun cukup palinggih Padmasari, yang katanya menurut teman saya tempat memuja Tuhan Mahatinggi, Tuhan Krisna. Menurutnya, kalau tetap memuja leluhur harapan kita tak akan sampai ke hadapan Tuhan. Mendapat ceramah ini saya jadi bingung, bukankah kebiasaan Hindu Bali senantiasa melakukan pemujaan pada roh leluhur (pitra puja)? Lalu mana yang benar, cara teman saya atau cara kebanyakan orang Bali? Mohon penjelasan!
I Dewa Putu Sugiantara
Jl. Tukad Melangit, Denpasar

Jawab:
Ada dua hal yang bisa disimpulkan dari pertanyaan tadi, yaitu pemujaan terhadap leluhur dan posisi Hyang Widhi yang diganti dengan Tuhan Krisna. Mengenai pemujaan terhadap leluhur perlu diketahui, bahwa sebelum datangnya agama dan kepercayaan serta kebudayaan India, sudah datang ke Bali atau Nusantara ini kepercayaan lain yaitu kepercayaan bangsa Austronesia.
Kedatangan mereka ke Nusantara terjadi dalam dua gelombang. Pertama sekitar tahun 2000 SM, dan kedua tahun 500 SM. Bangsa Austronesia yang datang pada gelombang pertama disebut Proto Melayu, bangsa yang masih menggunakan alat-alat dari batu, tetapi cara pembuatannya sudah sangat halus. Mereka disebut pula pendukung kebudayaan Batu Baru. Jamannya disebut Jaman Batu Baru (Neolitikum). Diperkirakan bangsa Proto Melayu ini juga pernah mendiami daratan Bali, terbukti dari ditemukannya peninggalan-peninggalan Jaman Batu Muda tersebar di pulau Bali (Soekmono, 1073).
Bangsa Austronesia yang datang pada gelombang kedua disebut Deutro Melayu. Bangsa inilah yang merupakan nenek moyang sebagai orang Bali Asli. Adanya sebutan Bali Mula adalah untuk membedakan dengan orang-orang yang leluhurnya datang belakangan ke Bali, yang mereka datang umumnya dari Jawa dan menjadi orang Bali Aga karena mereka datang dari desa Aga sebagai pengikut Maharsi Markandheya.
Dari temuan-temuan Arkeologi disimpulkan ada tiga jenis pemujaan yang dilakukan oleh masyarakat Bali yang berkembang pada zaman itu, meliputi pemujaan terhadap arwah leluhur, pemujaan terhadap arwah para pemuka masyarakat, dan pemujaan terhadap kekuatan alam.
Roh-roh tersebut dapat memberikan perlindungan dan pertolongan kepada manusia, tetapi dapat pula menimbulkan bencana. Makanya untuk mengambil hati roh-roh tersebut (agar tidak mencelakakan, tetapi sebaliknya memberikan bantuan), roh tersebut dipuja melalui persembahan sesajian. Pertama yang dipuja adalah roh orang-orang besar dan roh nenek moyang yang disebut Hyang atau Dewa Hyang. Roh suci seseorang ditempatkan di Kamimitan Sanggah/Pamerajan.
Fungsi pamerajan adalah untuk memuja roh suci leluhur atau atma yang telah disebut Dewa Pitara (Sidha Dewata). Dalam beberapa sumber pustaka disebutkan yang distanakan di Kamulan adalah Sang Hyang atma (roh suci). Yang distanakan di Kamulan untuk dipuja bukanlah Dewa tetapi Pitara yang telah mencapai alam Dewa, oleh karena itu disebut Dewa Pitara. Fungsi Merajan Kamulan sebagai tempat Sang Hyang Atma disebutkan dalam beberapa lontar sebagai berikut:
Lontar Gong Wesi menyebutkan sebagai berikut:
…….. ngarania ira sang Atma, ring Kamulan tengen Bapanta nga Sang Paratma ring Kamulan kiwa ibunta ngaran sang Siwatma, ring Kamulan madia waganta, atma dadi meme bapa ragane mantuk ring dalem dadi Sang Hyang Tunggal nunggalang raga…..
Artinya:
……namanya beliau Sang Atma, pada Kamulan kanan sebagai Bapa adalah Paratma, pada Kamulan kiri sebagai ibu namanya Siwatma, pada Kamulan tengah wujudnya adalah sang Atma, menjadi ibu bapa pada wujudnya Sanghyang Tunggal mempersatukan diri.
Penjelasan yang hampir sama disebutkan pada Lontar Usana Dewa sebagai berikut:
Ring Kamulan ngaran Ida Sang Hyang Atma, ring Kamulan tengen bapa ngaran sang Paratma, ring Kamulan kiwa ibu ngaran Sang sieatma, ring Kamulan Tengah ngaran raganya, tu Brahma dadi meme bapa maraga Sang Hyang Tuduh.
Artinya:
Pada Kamulan nama Beliau adalah Sang Hyang Atma, di Kamulan sebelah kanan adalah linggih Paratma adalah Bapak. Di Kamulan ruang sebelah kiri adalah linggih Siwatma adalah Ibu, di Kamulan tengah adalah wujudnya Brahma menjadi Ibu Bapak yang berwujud Sang Hyang Tuduh.
Selanjutnya dapat pula kita tambahkan disini penjelasan Lontar Siwagama sargah 10 yang berbunyi sebagai berikut:
“…….. kramania Sang Pitara mulihang batur Kamulanya nguni.
Artinya:
Kemudian Sang Pitara kembali pada tempat Kamulannya dulu.
Mangka kramanya benering kaprawrtinta marakrti ring kawitan, yan tan samangkana tan tutug ikang pali-pali sang dewa pitara, maneher sira gawang tan molih unggwen tan ana pasenetanya, dadi kasambatsara santananya mwang wandu warganya, pada ya katepu tegah de sang guru pitaranya, ya dadi gering ambeda-beda tan manut tataning ashoda, matugering mangyat mangyat amung panglaku, amungsangkrama, ayan, lwang mwang kena gering angrerepe edan-edanan, kena bayu sangkara, ogan tunggah, angliyep mwah kadikmeling kena sungsung baru satus akutus kwehnya sungsung hane ika pada tinahanan pwa dena sanggahnya kowos boros sakwehning raja drwenya henti tanpakrama, satata rumasa kurang ring pangan kinum, apan kerugan dening kala bhuta mwang dengan. Apan sang dewa pitaranya seaawase tan ane linggih, tan ana jeneknya dening santanya kurang tuna prakerti tuna pangewruh, tuna pangasa kewala wruh mangrasani wareg mwang lapa tan maphala prawrti ring raga sarira, tan pakrti ring kawitan.
Artinya:
Begitulah suatu cara yang benar untuk berbakti kepada leluhur, sehingga selesai upacara untuk Dewa Pitara. Bila sang Dewa Pitara berkeliaran tak mendapat tempat pasti, maka diumpatlah keturunan dan keluarganya. Wujudnya bisa disakiti oleh Dewa Pitara. Itu pula menyebabkan datang penyakit aneh-aneh, tak mempan diobati menurut ketentuan usada. Muncul penyakit ajaib, tingkah laku yang tak patut, gila-gilaan, hati rusak, ayan, bingung, sakit lemah, murung, sungsung baru dan juga menyebabkan boros kekayaanya habis tanpa sebab, selalu merasa kurang makan dan minum. Itu terjadi akibat telah dirusak bhuta kala sebagai akibat selamanya Dewa Pitara tak mempunyai tempat. Atau tempatnya tidak menentu, karena keturunannya, kurang bhakti, kurang pengetahuan, kurang perasaan, karena hanya tahu merasakan kenyang dan lapar, tidak berjasa pada diri sendiri dan tidak pula berbhakti kepada leluhur.
Dalam kekawin Ramayana I, 3 ada disebutkan sebagai berikut:
Gunamanta sang Dasaratha
wruh sira ring weda bhakti ring dewa
Tar malupeng pitra puja
Masih ta sireng swagotra kabeh
Artinya:
Amat utama Sang Dasaratha
Beliau pandai tentang weda dan bhakti pada Dewa (Tuhan)
Tidak pernah lupa memuja leluhur
Amat kasih beliau terhadap seluruh keluarganya.
Pada waktu kedatangan Dang Hyang Nirarta ke Bali mendampingi pemerintahan Dalem Watu Renggong di Bali berkembanglah bentuk palinggih yang baru bernama Padmasana. Dari segi arti kata Padmasana berarti bunga teratai sebagai tempat duduk. Padmasana dalam pengertian Agama Hindu adalah suatu bangunan ‘palinggih' lambang stana Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
Di dalam ikonografi dewa-dewa Hindu dilukiskan sebagai arca duduk di atas bunga teratai. Arca Dewa di atas bunga teratai banyak dijumpai pada zaman Kediri , Singasari, dan Majapahit. Bunga teratai itu berhelai delapan dipergunakan sebagai simbol Asta Aiswarya yaitu: delapan kemahakuasaan Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang menguasai delapan penjuru angin. Bunga teratai itu sering disebut ‘Pangkaja' yang artinya lahir dari Lumpur. Di dalam cerita-cerita Purana disebutkan para Dewa muncul dari Padma
Pada naskah Wrhaspati Tattwa disebutkan Padmasana sebagai stana dari Sang Hyang Sadha Siwa. Demikian pula dalam kakawin Arjuna Wiwaha ketika Arjuna bertapa digoda Gandarwa dan setelah dilawan berperang Gandarwa itu berubah wujud menjadi Dewa Siwa yang bertahta di Padmasana Manik. Dalam kakawin Arjuna Wiwaha disebutkan “… .nareswara teka hana ring padmasana manik ”.
Jadi, sejatinya Padmasana adalah stana Sang Hyang Widhi Wasa. Namun teman Anda membangun cukup palinggih Padmasari dapat saya uraikan sebagai berikut: Padmakancana , berlokasi di Timur, menghadap ke Barat, sedangkan Padmasana berlokasi di Selatan, menghadap ke Utara. Padmasana Sari , berlokasi di Barat, menghadap ke Timur, kemudian Padmasana Lingga berlokasi di Utara, menghadap ke Selatan. Padma Asta Sadana, berlokasi di Tenggara, menghadap ke Barat Laut, Padmanoja, berlokasi di Barat Daya, menghadap ke Timur Laut, Padmakaro , berlokasi di Barat Laut, menghadap ke Tenggara, Padmasaji , berlokasi di Timur Laut, menghadap ke Barat Daya, dan Padmakurung, berlokasi di Tengah-tengah, marong tiga (beruang tiga), di puncaknya, menghadap ke lawangan, atau pintu keluar.
Padma berdasarkan lokasi, nama, menurut lontar Wariga Catur Winasasari, lontar Asta Kosala-Kosali, lontar Astabhumi, bisa dipedomi oleh para Undagi Meranggi, Sangging Maranggi, pada waktu membangun Padma-padma yang telah dikemukakan. Termasuk juga mewujudkan sebagai nyasa profil-profil, sebagai unsur menurut struktur bangunan Padma-padma yang diciptakan dan dibangun. Demikian tercipta berkepatutan selaras dengan tuntunan sumber Sastra yang telah dikemukakan.
Selanjutnya berdasarkan rong (ruang) papalihan (tingkatan), bentuk dan jenis Padma, dibedakan menjadi: (1) Padmasana Anglayang , memiliki singhasana bebaturan marong tiga, strukturnya pitung palihan (tujuh tingkat), pada dasarnya memakai Badawangnala, yang dibelit oleh Naga, (2) Padma Agung , memiliki singhasana bebaturan marong kalih, strukturnya limang palihan (lima tingkat), pada dasarnya memakai Badawangnala, yang dibelit oleh Naga, (3) Padmasana , memiliki singhasana bebaturang marong siki, strukturnya limang palihan (lima tingkat), pada dasarnya memakai Badawangnala, yang dibelit oleh Naga, (4) Padmasari marong siki, strukturnya mapalih tiga (bertingkat tiga), yakni ring sor (bagian bawah), disebut Palih Taman, ring Madya (bagian tengah) disebut Palih Sancak, ring luhur (bagian puncak), disebut Palih Sari . Tidak memakai Badawangnala dan Naga, dan (5) Padmacapah marong siki , struktur, mapalih kalih (bertingkat dua), yakni ring sor (bagian bawah), disebut Palih taman, ring luhur (bagian puncak), disebut Palih Capah . Tidak memakai Badawangnala dan Naga.
Kalau disimak proses penyelesaian upacara semua bentuk dan jenis Padma yang telah dikemukakan, akan ada juga perbedaan. Kalau Padmasari dan Padmacapah yang tidak memakai Badawangnala dan Naga berfungsi sebagai tempat panyawangan atau pengayengan secara umum. Jadi Padmasari hanya untuk “penyawangan” bukan untuk sthana Tuhan Maha tinggi.
Teman Anda menempatkan Tuhan Krisna sebagai Tuhan Mahatinggi. Mengenai posisi Hyang Widhi Wasa dapat diuraikan sebagai berikut. Hyang Widhi mempunyai prabhawa untuk mencipta, memelihara ,dan mempralina ciptaan itu. Yang tugasnya memelihara itu Dewa Wisnu, Dewa Wisnulah yang mempunyai Awatara. Pemeluk Hindu di Bali percaya akan adanya Awatara. Hyang Widhi Wasa mempunyai Cadu Sakti, artinya memiliki empat kemahakuasaan yang disebut: Dujana Sakti, Wibhu Sakti, Prabhu Sakti, dan Kriya Sakti.
Dujana Sakti terdiri atas tiga kekuatan yaitu: Dura Darsana memiliki pengamatan tembus, Dura Sraawana memiliki pendengaran tembus, Dura Dnjana memiliki pemikiran tembus. Dengan ringkas dapat dikatakan bahwa sejauh-jauh warna, rupa, suara, dan pemikiran dari segala makhluk dapat dilihat, didengar dan diketahui olehNya.
Berikutnya Wibhu Sakti memiliki kekuatan yang gaib. Dapat memenuhi dan memasuki segala yang ada, namun sangat gaib dan rahasia tak tampak oleh mata. Bagaikan api yang terdapat dalam kayu, bagaikan minyak dalam susu, demikianlah kegaibanNya yang menembus luar dan dalam dari segala yang ada. Prabhu Sakti. Dialah yang menguasai Alam Semesta. Tidak ada sesuatu yang dapat menolak perintahnya, tunduk patuh tanpa reserve sebagai Raja, baik lahir maupun bathin. Terakhir, Kriya Sakti (Mahakarya). Alam semesta dan segala isinya adalah kekuasaan beliau itu.
Di samping itu masih ada pula kekuasaan Tuhan yang jumlah delapannya jenis yaitu:
a. Anima: Dapat dibentuk besar maupun kecil, gaib bagaikan langit, memenuhi sebesar-besarnya, dapat memasuki yang sekecil-kecilnya.
b. Lagima: Maha berat dan maha ringan dapat mengambang di atas air dan berjalan di udara
c. Mahima: Dipuja dan disembah dimana-mana, bahagia di sembarang tempat.
d. Pratima: Terjadi apa yang dikehendaki, tercapai sembarang keinginannya
e. Prakkamia: Dapat berwujud apa saja, misalnya hewan atau binatang atau apa saja apakah berwujud bayi, dewasa maupun tua, menjadi laki maupun perempuan, juga mampu memasuki pikiran dan segala yang berpikir.
f. Istawa: Di surga maupun di kahyangan disembah dan dimuliakan oleh para Dewa dapat memerintah dan mengusir para Dewata di Kahyangan.
g. Wasitwa: Tidak terhalang sembarang perintahnya, tidak hangus oleh api, tidak basah oleh air. Dapat mengitari alam semesta dalam sekejap, bebas dari marabahaya, masuk dan bergerak dalam air, tanah, cahaya dan udara maupun langit.
h. Jata Kamawasajitwa : Terkabul barang perintahnya, terlaksna kehendaknya, kendati menurunkan derajat Dewa menjadi Manusia.
Sebenarnya tidak mungkin kita dapat melukiskan kekuasaan dan sifat-sifatnya yang memenuhi alam semesta yang tidak batas dan akhir.
Dalam hal ini kekuasaan Hyang Widhi yang dinamai Prakamia, yaitu kuasa untuk berbentuk apa saja sesuai dengan keperluan. Ini ada pada Dewa Wisnu yang kuasa berbentuk apa saja sesuai keadaan. Dewa Wisnu bisa berbentuk Awatara yang berjumlah sepuluh.
Pada waktu alam dipenuhi oleh air maka Dewa Wisnu membentuk dirinya sebagai Ikan (Metsya Awatara). Pada waktu alam sudah mulai menjadi sedikit padat Dewa Wisnu menjadilah sebagai Kurma (Kurma Awatara) yaitu penyu atau kura-kura makhluk yang mampu hidup di air dan juga di darat. (75 persen air + 25 persen darat). Pada waktu alam sudah menjadi 50 persen air dan 50 persen darat, Dewa Wisnu menjadikan dirinya sebagai Waraha (babi hutan) yang mampu hidup 50 persen di air dan 50 persen di darat.
Demikian seharusnya sampai pada kehidupan yang memerlukan pemikiran yang politis maka Krsnalah menjadi Awatara Wisnu. Jadi Sri Krsna adalah Awatara Dewa Wisnu adalah salah satu kemahakuasaan Hyang WidhiWasa guna memelihara kehidupan. Tuhan Mahatinggi adalah Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Inilah kepercayaan pemeluk Hindu dan Dewa Wisnu adalah salah satu kemahakuasaan Beliau, disamping Dewa Brahma dan Dewa Siwa sebagai Trimurti. Dewa Wisnu mempunyai salah satu Awatara yaitu Krsna.
Jika Krisna saja yang dipuja, apa lagi pada tempat Padmasari yang merupakan panyawangan , saya tidak tahu ke mana akan perginya roh yang memuja Awatara. Kalau kita terus menerus memuja roh leluhur yang merupakan Atma suci adalah juga memuja Parama Atma, Ida Sang Hyang Widhi Wasa atau Tuhan itu sendiri.
Pernah terjadi peristiwa yang sangat menyedihkan. Ada seorang Bali teman saya tidak mau lagi menyembah leluhurnya. Yang di sembah adalah tokoh spiritual lain yang fotonya diletakkan di Padmasananya. Seolah-olah dia tidak pernah “berhubungan” dengan leluhurnya. Kemudian dia meninggal dengan memakai cara upacara yang diajarkan oleh tokoh spiritual yang dipuja itu.
Setelah ia meninggal keluarganya sering mengalami musibah. Suatu hari ada salah seorang tetangganya pergi ke seorang “pintar” untuk menanyakan sesuatu untuk keluarganya sendiri. Bukan untuk menanyakan perihal keadaan kawan saya yang tidak menyembah roh leluhurnya. Tetangga itu heran kok roh kawan saya yang datang. Roh itu dengan perantara orang pintar itu menceritakan kesedihannya. Di alam sana yang dialaminya itu selalu gelap. Dia sedih karena tidak bertemu dengan roh ayah dan nenek serta semua leluhurnya. Dia dalam keadaan gelap, tidak tahu apa yang dia harus lakukan dan tidak tahu kemana ia harus memuja Dia bingung. Oleh karena itu mumpung ada kesempatan untuk berkomunikasi dia menyuruh, melaui media orang pintar, agar putra putrinya tidak mengikuti apa yang ia sudah lakukan yaitu tidak memuja leluhurnya. Dia sedih dan bingung mengetahui hal itu. Tetangga teman saya itu pergi kerumah teman saya menyampaikan pesan yang ia terima tadi. Itulah yang terjadi.
Jika Anda bertanya mana yang benar, apakah cara teman Anda atau cara kebanyakan orang di Bali yang menyembah leluhurnya? Ya, cermatilah apa yang saya tuturkan tadi, terutama penuturan roh teman saya itu.