TATWA
Jangan
Pernah Abaikan Leluhur
Tjok. Rai Sudharta
Bingung Soal Pitara
Saya seorang yang awam tentang agama. Tempo hari,
saat hari Umanis Galungan saya bertemu sahabat baik,
di mana dalam rentang sepuluh tahun karena alasan
kerja dan kesibukan kami berpisah. Sahabat kami ini
lahir dari keluarga brahmana di Tabanan. Dari dulu,
semenjak kuliah di IHD, kini Unhi (Universitas Hindu
) Denpasar teman saya ini sangat suka mendalami soal
spiritual dan agama.
Sekali waktu saat kami masih gradag-grudug , kami
suka bertanya soal kepercayaan dan spiritualisme padanya.
Saat bertemu, pas hari Umanis Galungan kami sekeluarga
mendapat “ceramah” menarik. Intinya begini,
dia kini tidak lagi memuja leluhur, justru itulah
dia kini tidak lagi membuat sanggah pamrajan (sanggah
kamulan) di rumah barunya di bilangan desa asri, Denpasar
Barat. Yang dibangun cukup palinggih Padmasari, yang
katanya menurut teman saya tempat memuja Tuhan Mahatinggi,
Tuhan Krisna. Menurutnya, kalau tetap memuja leluhur
harapan kita tak akan sampai ke hadapan Tuhan. Mendapat
ceramah ini saya jadi bingung, bukankah kebiasaan
Hindu Bali senantiasa melakukan pemujaan pada roh
leluhur (pitra puja)? Lalu mana yang benar, cara teman
saya atau cara kebanyakan orang Bali? Mohon penjelasan!
I Dewa Putu Sugiantara
Jl. Tukad Melangit, Denpasar
Jawab:
Ada dua hal yang bisa disimpulkan dari pertanyaan
tadi, yaitu pemujaan terhadap leluhur dan posisi Hyang
Widhi yang diganti dengan Tuhan Krisna. Mengenai pemujaan
terhadap leluhur perlu diketahui, bahwa sebelum datangnya
agama dan kepercayaan serta kebudayaan India, sudah
datang ke Bali atau Nusantara ini kepercayaan lain
yaitu kepercayaan bangsa Austronesia.
Kedatangan mereka ke Nusantara terjadi dalam dua gelombang.
Pertama sekitar tahun 2000 SM, dan kedua tahun 500
SM. Bangsa Austronesia yang datang pada gelombang
pertama disebut Proto Melayu, bangsa yang masih menggunakan
alat-alat dari batu, tetapi cara pembuatannya sudah
sangat halus. Mereka disebut pula pendukung kebudayaan
Batu Baru. Jamannya disebut Jaman Batu Baru (Neolitikum).
Diperkirakan bangsa Proto Melayu ini juga pernah mendiami
daratan Bali, terbukti dari ditemukannya peninggalan-peninggalan
Jaman Batu Muda tersebar di pulau Bali (Soekmono,
1073).
Bangsa Austronesia yang datang pada gelombang kedua
disebut Deutro Melayu. Bangsa inilah yang merupakan
nenek moyang sebagai orang Bali Asli. Adanya sebutan
Bali Mula adalah untuk membedakan dengan orang-orang
yang leluhurnya datang belakangan ke Bali, yang mereka
datang umumnya dari Jawa dan menjadi orang Bali Aga
karena mereka datang dari desa Aga sebagai pengikut
Maharsi Markandheya.
Dari temuan-temuan Arkeologi disimpulkan ada tiga
jenis pemujaan yang dilakukan oleh masyarakat Bali
yang berkembang pada zaman itu, meliputi pemujaan
terhadap arwah leluhur, pemujaan terhadap arwah para
pemuka masyarakat, dan pemujaan terhadap kekuatan
alam.
Roh-roh tersebut dapat memberikan perlindungan dan
pertolongan kepada manusia, tetapi dapat pula menimbulkan
bencana. Makanya untuk mengambil hati roh-roh tersebut
(agar tidak mencelakakan, tetapi sebaliknya memberikan
bantuan), roh tersebut dipuja melalui persembahan
sesajian. Pertama yang dipuja adalah roh orang-orang
besar dan roh nenek moyang yang disebut Hyang atau
Dewa Hyang. Roh suci seseorang ditempatkan di Kamimitan
Sanggah/Pamerajan.
Fungsi pamerajan adalah untuk memuja roh suci leluhur
atau atma yang telah disebut Dewa Pitara (Sidha Dewata).
Dalam beberapa sumber pustaka disebutkan yang distanakan
di Kamulan adalah Sang Hyang atma (roh suci). Yang
distanakan di Kamulan untuk dipuja bukanlah Dewa tetapi
Pitara yang telah mencapai alam Dewa, oleh karena
itu disebut Dewa Pitara. Fungsi Merajan Kamulan sebagai
tempat Sang Hyang Atma disebutkan dalam beberapa lontar
sebagai berikut:
Lontar Gong Wesi menyebutkan sebagai berikut:
…….. ngarania ira sang Atma, ring Kamulan
tengen Bapanta nga Sang Paratma ring Kamulan kiwa
ibunta ngaran sang Siwatma, ring Kamulan madia waganta,
atma dadi meme bapa ragane mantuk ring dalem dadi
Sang Hyang Tunggal nunggalang raga…..
Artinya:
……namanya beliau Sang Atma, pada Kamulan
kanan sebagai Bapa adalah Paratma, pada Kamulan kiri
sebagai ibu namanya Siwatma, pada Kamulan tengah wujudnya
adalah sang Atma, menjadi ibu bapa pada wujudnya Sanghyang
Tunggal mempersatukan diri.
Penjelasan yang hampir sama disebutkan pada Lontar
Usana Dewa sebagai berikut:
Ring Kamulan ngaran Ida Sang Hyang Atma, ring Kamulan
tengen bapa ngaran sang Paratma, ring Kamulan kiwa
ibu ngaran Sang sieatma, ring Kamulan Tengah ngaran
raganya, tu Brahma dadi meme bapa maraga Sang Hyang
Tuduh.
Artinya:
Pada Kamulan nama Beliau adalah Sang Hyang Atma, di
Kamulan sebelah kanan adalah linggih Paratma adalah
Bapak. Di Kamulan ruang sebelah kiri adalah linggih
Siwatma adalah Ibu, di Kamulan tengah adalah wujudnya
Brahma menjadi Ibu Bapak yang berwujud Sang Hyang
Tuduh.
Selanjutnya dapat pula kita tambahkan disini penjelasan
Lontar Siwagama sargah 10 yang berbunyi sebagai berikut:
“…….. kramania Sang Pitara mulihang
batur Kamulanya nguni.
Artinya:
Kemudian Sang Pitara kembali pada tempat Kamulannya
dulu.
Mangka kramanya benering kaprawrtinta marakrti ring
kawitan, yan tan samangkana tan tutug ikang pali-pali
sang dewa pitara, maneher sira gawang tan molih unggwen
tan ana pasenetanya, dadi kasambatsara santananya
mwang wandu warganya, pada ya katepu tegah de sang
guru pitaranya, ya dadi gering ambeda-beda tan manut
tataning ashoda, matugering mangyat mangyat amung
panglaku, amungsangkrama, ayan, lwang mwang kena gering
angrerepe edan-edanan, kena bayu sangkara, ogan tunggah,
angliyep mwah kadikmeling kena sungsung baru satus
akutus kwehnya sungsung hane ika pada tinahanan pwa
dena sanggahnya kowos boros sakwehning raja drwenya
henti tanpakrama, satata rumasa kurang ring pangan
kinum, apan kerugan dening kala bhuta mwang dengan.
Apan sang dewa pitaranya seaawase tan ane linggih,
tan ana jeneknya dening santanya kurang tuna prakerti
tuna pangewruh, tuna pangasa kewala wruh mangrasani
wareg mwang lapa tan maphala prawrti ring raga sarira,
tan pakrti ring kawitan.
Artinya:
Begitulah suatu cara yang benar untuk berbakti kepada
leluhur, sehingga selesai upacara untuk Dewa Pitara.
Bila sang Dewa Pitara berkeliaran tak mendapat tempat
pasti, maka diumpatlah keturunan dan keluarganya.
Wujudnya bisa disakiti oleh Dewa Pitara. Itu pula
menyebabkan datang penyakit aneh-aneh, tak mempan
diobati menurut ketentuan usada. Muncul penyakit ajaib,
tingkah laku yang tak patut, gila-gilaan, hati rusak,
ayan, bingung, sakit lemah, murung, sungsung baru
dan juga menyebabkan boros kekayaanya habis tanpa
sebab, selalu merasa kurang makan dan minum. Itu terjadi
akibat telah dirusak bhuta kala sebagai akibat selamanya
Dewa Pitara tak mempunyai tempat. Atau tempatnya tidak
menentu, karena keturunannya, kurang bhakti, kurang
pengetahuan, kurang perasaan, karena hanya tahu merasakan
kenyang dan lapar, tidak berjasa pada diri sendiri
dan tidak pula berbhakti kepada leluhur.
Dalam kekawin Ramayana I, 3 ada disebutkan sebagai
berikut:
Gunamanta sang Dasaratha
wruh sira ring weda bhakti ring dewa
Tar malupeng pitra puja
Masih ta sireng swagotra kabeh
Artinya:
Amat utama Sang Dasaratha
Beliau pandai tentang weda dan bhakti pada Dewa (Tuhan)
Tidak pernah lupa memuja leluhur
Amat kasih beliau terhadap seluruh keluarganya.
Pada waktu kedatangan Dang Hyang Nirarta ke Bali mendampingi
pemerintahan Dalem Watu Renggong di Bali berkembanglah
bentuk palinggih yang baru bernama Padmasana. Dari
segi arti kata Padmasana berarti bunga teratai sebagai
tempat duduk. Padmasana dalam pengertian Agama Hindu
adalah suatu bangunan ‘palinggih' lambang stana
Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
Di dalam ikonografi dewa-dewa Hindu dilukiskan sebagai
arca duduk di atas bunga teratai. Arca Dewa di atas
bunga teratai banyak dijumpai pada zaman Kediri ,
Singasari, dan Majapahit. Bunga teratai itu berhelai
delapan dipergunakan sebagai simbol Asta Aiswarya
yaitu: delapan kemahakuasaan Ida Sang Hyang Widhi
Wasa yang menguasai delapan penjuru angin. Bunga teratai
itu sering disebut ‘Pangkaja' yang artinya lahir
dari Lumpur. Di dalam cerita-cerita Purana disebutkan
para Dewa muncul dari Padma
Pada naskah Wrhaspati Tattwa disebutkan Padmasana
sebagai stana dari Sang Hyang Sadha Siwa. Demikian
pula dalam kakawin Arjuna Wiwaha ketika Arjuna bertapa
digoda Gandarwa dan setelah dilawan berperang Gandarwa
itu berubah wujud menjadi Dewa Siwa yang bertahta
di Padmasana Manik. Dalam kakawin Arjuna Wiwaha disebutkan
“… .nareswara teka hana ring padmasana
manik ”.
Jadi, sejatinya Padmasana adalah stana Sang Hyang
Widhi Wasa. Namun teman Anda membangun cukup palinggih
Padmasari dapat saya uraikan sebagai berikut: Padmakancana
, berlokasi di Timur, menghadap ke Barat, sedangkan
Padmasana berlokasi di Selatan, menghadap ke Utara.
Padmasana Sari , berlokasi di Barat, menghadap ke
Timur, kemudian Padmasana Lingga berlokasi di Utara,
menghadap ke Selatan. Padma Asta Sadana, berlokasi
di Tenggara, menghadap ke Barat Laut, Padmanoja, berlokasi
di Barat Daya, menghadap ke Timur Laut, Padmakaro
, berlokasi di Barat Laut, menghadap ke Tenggara,
Padmasaji , berlokasi di Timur Laut, menghadap ke
Barat Daya, dan Padmakurung, berlokasi di Tengah-tengah,
marong tiga (beruang tiga), di puncaknya, menghadap
ke lawangan, atau pintu keluar.
Padma berdasarkan lokasi, nama, menurut lontar Wariga
Catur Winasasari, lontar Asta Kosala-Kosali, lontar
Astabhumi, bisa dipedomi oleh para Undagi Meranggi,
Sangging Maranggi, pada waktu membangun Padma-padma
yang telah dikemukakan. Termasuk juga mewujudkan sebagai
nyasa profil-profil, sebagai unsur menurut struktur
bangunan Padma-padma yang diciptakan dan dibangun.
Demikian tercipta berkepatutan selaras dengan tuntunan
sumber Sastra yang telah dikemukakan.
Selanjutnya berdasarkan rong (ruang) papalihan (tingkatan),
bentuk dan jenis Padma, dibedakan menjadi: (1) Padmasana
Anglayang , memiliki singhasana bebaturan marong tiga,
strukturnya pitung palihan (tujuh tingkat), pada dasarnya
memakai Badawangnala, yang dibelit oleh Naga, (2)
Padma Agung , memiliki singhasana bebaturan marong
kalih, strukturnya limang palihan (lima tingkat),
pada dasarnya memakai Badawangnala, yang dibelit oleh
Naga, (3) Padmasana , memiliki singhasana bebaturang
marong siki, strukturnya limang palihan (lima tingkat),
pada dasarnya memakai Badawangnala, yang dibelit oleh
Naga, (4) Padmasari marong siki, strukturnya mapalih
tiga (bertingkat tiga), yakni ring sor (bagian bawah),
disebut Palih Taman, ring Madya (bagian tengah) disebut
Palih Sancak, ring luhur (bagian puncak), disebut
Palih Sari . Tidak memakai Badawangnala dan Naga,
dan (5) Padmacapah marong siki , struktur, mapalih
kalih (bertingkat dua), yakni ring sor (bagian bawah),
disebut Palih taman, ring luhur (bagian puncak), disebut
Palih Capah . Tidak memakai Badawangnala dan Naga.
Kalau disimak proses penyelesaian upacara semua bentuk
dan jenis Padma yang telah dikemukakan, akan ada juga
perbedaan. Kalau Padmasari dan Padmacapah yang tidak
memakai Badawangnala dan Naga berfungsi sebagai tempat
panyawangan atau pengayengan secara umum. Jadi Padmasari
hanya untuk “penyawangan” bukan untuk
sthana Tuhan Maha tinggi.
Teman
Anda menempatkan Tuhan Krisna sebagai Tuhan Mahatinggi.
Mengenai posisi Hyang Widhi Wasa dapat diuraikan sebagai
berikut. Hyang Widhi mempunyai prabhawa untuk mencipta,
memelihara ,dan mempralina ciptaan itu. Yang tugasnya
memelihara itu Dewa Wisnu, Dewa Wisnulah yang mempunyai
Awatara. Pemeluk Hindu di Bali percaya akan adanya
Awatara. Hyang Widhi Wasa mempunyai Cadu Sakti, artinya
memiliki empat kemahakuasaan yang disebut: Dujana
Sakti, Wibhu Sakti, Prabhu Sakti, dan Kriya Sakti.
Dujana Sakti terdiri atas tiga kekuatan yaitu: Dura
Darsana memiliki pengamatan tembus, Dura Sraawana
memiliki pendengaran tembus, Dura Dnjana memiliki
pemikiran tembus. Dengan ringkas dapat dikatakan bahwa
sejauh-jauh warna, rupa, suara, dan pemikiran dari
segala makhluk dapat dilihat, didengar dan diketahui
olehNya.
Berikutnya Wibhu Sakti memiliki kekuatan yang gaib.
Dapat memenuhi dan memasuki segala yang ada, namun
sangat gaib dan rahasia tak tampak oleh mata. Bagaikan
api yang terdapat dalam kayu, bagaikan minyak dalam
susu, demikianlah kegaibanNya yang menembus luar dan
dalam dari segala yang ada. Prabhu Sakti. Dialah yang
menguasai Alam Semesta. Tidak ada sesuatu yang dapat
menolak perintahnya, tunduk patuh tanpa reserve sebagai
Raja, baik lahir maupun bathin. Terakhir, Kriya Sakti
(Mahakarya). Alam semesta dan segala isinya adalah
kekuasaan beliau itu.
Di samping itu masih ada pula kekuasaan Tuhan yang
jumlah delapannya jenis yaitu:
a. Anima: Dapat dibentuk besar maupun kecil, gaib
bagaikan langit, memenuhi sebesar-besarnya, dapat
memasuki yang sekecil-kecilnya.
b. Lagima: Maha berat dan maha ringan dapat mengambang
di atas air dan berjalan di udara
c. Mahima: Dipuja dan disembah dimana-mana, bahagia
di sembarang tempat.
d. Pratima: Terjadi apa yang dikehendaki, tercapai
sembarang keinginannya
e. Prakkamia: Dapat berwujud apa saja, misalnya hewan
atau binatang atau apa saja apakah berwujud bayi,
dewasa maupun tua, menjadi laki maupun perempuan,
juga mampu memasuki pikiran dan segala yang berpikir.
f. Istawa: Di surga maupun di kahyangan disembah dan
dimuliakan oleh para Dewa dapat memerintah dan mengusir
para Dewata di Kahyangan.
g. Wasitwa: Tidak terhalang sembarang perintahnya,
tidak hangus oleh api, tidak basah oleh air. Dapat
mengitari alam semesta dalam sekejap, bebas dari marabahaya,
masuk dan bergerak dalam air, tanah, cahaya dan udara
maupun langit.
h. Jata Kamawasajitwa : Terkabul barang perintahnya,
terlaksna kehendaknya, kendati menurunkan derajat
Dewa menjadi Manusia.
Sebenarnya tidak mungkin kita dapat melukiskan kekuasaan
dan sifat-sifatnya yang memenuhi alam semesta yang
tidak batas dan akhir.
Dalam hal ini kekuasaan Hyang Widhi yang dinamai Prakamia,
yaitu kuasa untuk berbentuk apa saja sesuai dengan
keperluan. Ini ada pada Dewa Wisnu yang kuasa berbentuk
apa saja sesuai keadaan. Dewa Wisnu bisa berbentuk
Awatara yang berjumlah sepuluh.
Pada waktu alam dipenuhi oleh air maka Dewa Wisnu
membentuk dirinya sebagai Ikan (Metsya Awatara). Pada
waktu alam sudah mulai menjadi sedikit padat Dewa
Wisnu menjadilah sebagai Kurma (Kurma Awatara) yaitu
penyu atau kura-kura makhluk yang mampu hidup di air
dan juga di darat. (75 persen air + 25 persen darat).
Pada waktu alam sudah menjadi 50 persen air dan 50
persen darat, Dewa Wisnu menjadikan dirinya sebagai
Waraha (babi hutan) yang mampu hidup 50 persen di
air dan 50 persen di darat.
Demikian seharusnya sampai pada kehidupan yang memerlukan
pemikiran yang politis maka Krsnalah menjadi Awatara
Wisnu. Jadi Sri Krsna adalah Awatara Dewa Wisnu adalah
salah satu kemahakuasaan Hyang WidhiWasa guna memelihara
kehidupan. Tuhan Mahatinggi adalah Ida Sang Hyang
Widhi Wasa. Inilah kepercayaan pemeluk Hindu dan Dewa
Wisnu adalah salah satu kemahakuasaan Beliau, disamping
Dewa Brahma dan Dewa Siwa sebagai Trimurti. Dewa Wisnu
mempunyai salah satu Awatara yaitu Krsna.
Jika Krisna saja yang dipuja, apa lagi pada tempat
Padmasari yang merupakan panyawangan , saya tidak
tahu ke mana akan perginya roh yang memuja Awatara.
Kalau kita terus menerus memuja roh leluhur yang merupakan
Atma suci adalah juga memuja Parama Atma, Ida Sang
Hyang Widhi Wasa atau Tuhan itu sendiri.
Pernah terjadi peristiwa yang sangat menyedihkan.
Ada seorang Bali teman saya tidak mau lagi menyembah
leluhurnya. Yang di sembah adalah tokoh spiritual
lain yang fotonya diletakkan di Padmasananya. Seolah-olah
dia tidak pernah “berhubungan” dengan
leluhurnya. Kemudian dia meninggal dengan memakai
cara upacara yang diajarkan oleh tokoh spiritual yang
dipuja itu.
Setelah ia meninggal keluarganya sering mengalami
musibah. Suatu hari ada salah seorang tetangganya
pergi ke seorang “pintar” untuk menanyakan
sesuatu untuk keluarganya sendiri. Bukan untuk menanyakan
perihal keadaan kawan saya yang tidak menyembah roh
leluhurnya. Tetangga itu heran kok roh kawan saya
yang datang. Roh itu dengan perantara orang pintar
itu menceritakan kesedihannya. Di alam sana yang dialaminya
itu selalu gelap. Dia sedih karena tidak bertemu dengan
roh ayah dan nenek serta semua leluhurnya. Dia dalam
keadaan gelap, tidak tahu apa yang dia harus lakukan
dan tidak tahu kemana ia harus memuja Dia bingung.
Oleh karena itu mumpung ada kesempatan untuk berkomunikasi
dia menyuruh, melaui media orang pintar, agar putra
putrinya tidak mengikuti apa yang ia sudah lakukan
yaitu tidak memuja leluhurnya. Dia sedih dan bingung
mengetahui hal itu. Tetangga teman saya itu pergi
kerumah teman saya menyampaikan pesan yang ia terima
tadi. Itulah yang terjadi.
Jika Anda bertanya mana yang benar, apakah cara teman
Anda atau cara kebanyakan orang di Bali yang menyembah
leluhurnya? Ya, cermatilah apa yang saya tuturkan
tadi, terutama penuturan roh teman saya itu.