|
KALANGAN
Cak Bona
Saat Berbenah Sebelum Punah
Lama tiada kabar, kecak Desa
Bona kembali pentas. Tampil diperkuat seniman muda dengan
lakon cak yang belum lumrah di masyarakat. Satu pertanda
bangkitnya cak di tanah kelahiran sendiri?
Sinar
temaram lampu neon menghiasi wantilan jaba Pura Puseh
Desa Pakraman Bona, Kecamatan Blahbatuh, Kabupaten Gianyar,
Sabtu malam, tanggal 2 Pebruari silam. Puluhan orang
hanya mengenakan sarung duduk bersila. Begitu bersemangat
memang. Peluh yang mulai menetes dari badan tiada terhiraukan.
Begitu komando “cak...”, muncul dari satu
orang, penari lain menimpali dengan berucap “cak-cak-cak...,
cak-cak-cak...” Begitulah seterusnya.
Di tepi arena pertunjukkan ratusan penonton dari berbagai
kalangan—sebagian besar warga Bona dan beberapa
warga asing—tampak berdesak-desakan. Mereka saling
mendongakkan kepala, tak hendak melewatkan satu pementasan
tari yang sempat amat melekat di hati warga Bona..
Malam itu di Pura Puseh Desa Pakraman Bona memang sedang
berlangsung pementasan tari kecak. Satu kesenian yang
sempat mengharumkan nama desa yang mewilayahi lima banjar
adat ini hingga ke seantero dunia.
Pentas berdurasi satu jam 45 menit di awal tahun tikus
(2008) itu, didukung penari tua dan muda. Seniman tua
bahkan tak mau kalah energik dengan pemain muda.
Nuansa pentas kala itu memang terlihat beda, terutama
dari lakon yang tak lagi mengusung cerita kesenian cak
lumrahnya yang kini bertumbuh di Bali. Jika pentas cak
selama ini—lebih-lebih yang disuguhkan untuk turis—cenderung
berkiblat dari epos Ramayana, tentang penculikan Sita
oleh Rahwana, tari cak garapan para seniman Bona pada
hari Kuningan malam itu, mengambil lakon Sutasoma. Tokoh
dalam kekawin Sutasoma yang dikenal berbudi luhur. Kental
akan kasih sayang dan tulus dalam melakukan tugas-tugas
selama hidup. “Kami ingin menyuguhkan sesuatu
yang baru, terutama dari sisi cerita yang lebih menonjolkan
cinta kasih dan pengendalian diri,” jelas penggagas
sekaligus dalang cak Bona Ida Bagus Made Arjawa.
Satu suguhan yang amat memikat memang. Apalagi sang
dalang begitu piawai dan cerdas berimprovisasi. Lawakan
serta dagelan-dagelan nan segar, membuat geerr suasana.
Penonton silih berganti memberi aplus pada penari.
Cak Bona belum punah memang. Paling tidak ranah-ranah
seni tinggalan tetua tersebut masih bisa disaksikan
generasi kini. Asa membangkitkan kembali dari warga
begitu membahana.
Satu
upaya mulia apalagi bila menoleh ke belakang, seni cak
Bona sempat mengukir sejarah cukup panjang. Selain sempat
menjadi ikon desa, pada masa pemerintahan Presiden Republik
Indonesia (RI) pertama, Ir Soekarno, tarian cak Bona
seakan menjadi tarian wajib untuk dipersembahkan. Begitu
Bapak Proklamator berkunjung ke Bali, maka cak Bona
mesti pentas di Istana Presiden di Tampaksiring.
Pun dalam perhelatan kecak di Bali di masa-masa selanjutnya,
dalam cermatan pemerhati seni I Wayan Dibia, cak Bona
memiliki makna penting. “Tarian cak Bona punya
keterkaitan erat dalam perkembangan kesenian cak di
Bali,” mantan Rektor Institut Seni Indonesia (ISI)
Denpasar itu mengingatkan. Sebelum di Bona, cak sempat
berkembang di Desa Bedulu, Kecamatan Blahbatuh. Cuma,
kata guru besar ISI Denpasar, cak di Bedulu hanya berlangsung
sekejap. Malah cuma sempat pentas sekali dan tak berkembang
lagi. Justru kesenian tanpa dibantu alat musik itu berkembang
subur di Bona.
Kelahiran tari cak di desa yang terkenal dengan beraneka
kerajinan berbahan daun lontar ini, sejatinya sudah
ada sejak dasa warsa 1930-an. Semula lebih diarahkan
untuk persembahan ritual. “Dari cerita tetua di
Bona, dulu di desa kami sering terserang wabah,”
tutur Ida Bagus Arjawa. Bukan hanya warga tanaman di
huma juga tiada henti diterjang beraneka hama penyakit.
Guna menetralisir keadaan sekaligus mengatasi serangan
hama pertanian, maka perlu ada satu penetralisir. Entah
bagaimana awalnya, pilihan jatuh pada seni pertunjukkan
tanpa pengiring alat musik. Kesenian itulah yang dinamakan
cak.
Di masa-masa selanjutnya, tari kecak kerap dipentaskan
saat ada upacara di Pura Puseh. Masyarakat Bona kala
itu punya keyakinan dengan ditampilkan tari kecak yang
dilengkapi tari sanghyang (dedari dan jaran), maka bisa
memakmurkan masyarakat. Tanaman di huma maupun tegalan
terhindar dari hama. Tumbuh subur.
Saat pariwisata mulai berkembang di Bali, dasawarsa
1960-an, tari kecak Bona tak lagi sebatas bersifat ritual.
Turis yang berkunjung ke Bali, tak cukup menikmati budaya
khas daerah atau pemandangan alam. Mereka juga ingin
menikmati tari-tarian pulau alit ini. Kala itu, ada
tiga jenis tarian yang seakan menjadi tontonan wajib
tetamu asing. Tari legong dan barong (biasanya dari
Peliatan, Ubud atau Saba, Blahbatuh), dan kecak dari
Bona.
Jadilah tari kecak yang semula dipersembahkan untuk
ritual, menyerempet ke komersial. Di Bona sendiri, suguhan
tari kecak pada turis tergolong sederhana. Tak ada panggung
permanen layaknya tempat pentas sekarang. Turis menikmati
tari cak dengan duduk di kursi bambu yang dibawa langsung
para penari. Kala itu ada semacam kewajiban bagi penari
membawa satu kursi bambu bila ada tamu yang hendak menonton.
“Itu sebabnya, antara kerajinan kursi bambu dengan
seni kecak bertali temali amat erat di Bona,”
Ida Bagus Arjawa berkisah ulang perihal keterkaitan
tari cak dengan kursi bambu.
Cuma, pada masa-masa selanjutnya, kerajinan kursi bambu
bukannya berkembang pesat di Bona. Peluang emas itu
justru dibaca bernas warga desa tetangganya, perajin
Belega yang mampu mengembangkan kerajinan kursi bambu
hingga kini.
Kisah suram kerajinan kursi bambu Bona ternyata bertemali
dengan tari kecak. Tatkala dunia pariwisata menggeliat
di Bali, maka banyak daerah terutama di kantong-kantong
seni yang mudah terjangkau turis, seperti Desa Batubulan
dan Singapadu (Kecamatan Sukawati, Gianyar) serta di
Kota Denpasar, mulai ramai membangun grup tari kecak.
Garapannya sama persis dengan kecak Bona.
Alhasil, turis dan biro perjalanan pun lamat-lamat berpindah
menonton kecak ke tempat yang lebih strategis dan gampang
menempuh. Sebaliknya, ketenaran kecak Bona seolah tanpa
denyut, terus melorot. Jadwal pentas yang tadinya seminggu
sekali, bisa sampai sebulan tak ada permintaan. Dan,
dasawarsa 1990-an tari lawas ini benar-benar redup.
Hilang dari peredaran.
Ingin bangkit, terasa sulit mengkoordinir seniman. Lebih-lebih
warga telah disibukkan dengan kegiatan lain yang hasilnya
nyata di depan mata. Praktis anak-anak yang lahir tahun
1990-an ke atas hanya kenal cak Bona lewat nama saja.
Tanpa tahu persis wujud tariannya. Barulah di akhir
2007 keinginan membangkitkan kembali tari cak mencuat
ke permukaan. “Kami awalnya mencoba mencermati
faktor penyebab sampai tari kecak redup di Bona,”
ingat Ida Bagus Arjawa. Setelah melakukan berbagai analisa
masalah, ditemukan penyebab, seperti kekurangsigapan
menghadapi persaingan, tidak tepat waktu, dan sistem
manajemen yang masih kurang bagus.
Artinya, di samping memoles cerita lama dengan lakon
baru, maka memperbaiki kelemahan terdahulu amatlah penting
dilakukan, sehingga cak Bona bisa bersanding dengan
kesenian sejenis di daerah lain. I Wayan
Sucipta, Box
Meniti Tinggalan Tetua
Ida Bagus Arjawa
Bagi
masyarakat Desa Bona, tari kecak punya nilai sejarah
tersendiri. Lahir sebagai bagian dari persembahan ritual,
untuk menetralisir keadaan di desa. Selain itu, model
cak yang kini berkembang di Bali, termasuk yang dipentaskan
pada para turis juga bermula dari garapan seniman di
Bona. Tari kecak pula yang sempat lama menjadi ikon
dari desa ini.
Sayang, dalam perjalanannya tarian ini mengalami kemunduran
bahkan tenggelam bak ditelan bumi. Para pelanjut di
desa ini tiada banyak yang mau terlibat dalam seni ini.
Hingga di akhir tahun 2007, segelintir generasi muda
mulai tergugah asanya untuk kembali membangkitkan Cak
Bona beserta tari sanghyang.
Adalah Ida Bagus Arjawa, satu di antara turunan warga
Bona yang begitu bersemangat membangkitkan kembali seni
pentas yang sempat mengharumkan nama desa ini.
‘'Sebagai generasi penerus, kami merasa bertanggungjawab
untuk membangkitkan kembali kesenian cak di Bona,''
ujar jebolan Jurusan Padalangan Sekolah Tinggi Seni
Indonesia, Denpasar, tahun... ini
Tiada mudah memang menyetrum minat generasi muda Bona
membangkitkan tari kecak. Arjawa mesti rela berkorban
dalam banyak hal. Waktu, pekerjaan, bahkan materi.
Toh, itu tak pernah terhiraukan. Keinginan membangkitkan
kembali Desa Bona sebagai pusat pementasan tari cak
justru mengalahkan semua yang telah dikorbankan. “Terpenting
bagi saya, mengembalikan identitas Bona sebagai pusat
pengembangan tari kecak jauh lebih penting,” ayah
dua putra ini berkilah.
Bersama beberapa kerabatnya yang mempunyai kepedulian
kuat akan kebangkitan kecak Bona, Arjawa mulai menelisik
mencari warga sebagai penari. Di luar dugaan, ternyata
banyak warga yang memberi semangat akan upaya seniman
ini.
Setelah berhasil mengumpulkan seniman muda sekitar 80
orang, sejak lima bulan lalu latihan mulai digelar.
Dibina seniman tua Bona seperti dalang kesohor Made
Sija, latihan dilakukan dua kali seminggu.
Putra kedua Ida Bagus Windu,--- Ida Bagus Windu saat
masa jaya cak Bona dikenal sebagai tokoh Rama---, punya
cara tersendiri dalam menarik minat turis menyaksikan
kecak Bona. Di samping menampilkan kisah cerita berbeda,
yakni mengambil lakon Sutasoma, waktu pentas yang digelar
siang hari akan dikemas layaknya menonton kecak di malam
hari.
Tak hendak berhenti di tari kecak. Arjawa juga merintis
kembali kerajinan yang sempat mekar di Bona bersamaan
dengan harumnya tari kecak, yakni kerajinan kursi bambu.
Dalam bahasa Ida Bagus Arjawa, dia berusaha menghidupkan
kembali dua tinggalan dari tetua Bona tempo dulu. WS
|