|
CAKEPAN
Membongkar Kekerasan Pikiran
Orang Bali
Judul
Buku : Budaya Kepintaran Sampai Budaya Kekerasan Pikiran
Penulis : IBM Dharma Palguna
Tebal : 187 Halaman
Penerbit : Sadampatyaksara, Mataram
Cetakan : Cetakan Pertama Oktober 2007
Decak kagum dan sesekali harus geleng-geleng
kepala ketika sebuah buku yang berjudul ” Budaya
Kepintaran Sampai Budaya Kekerasan Pikiran ” berada
di tangan saya sebagai teman ngobrol bersama secangkir
kopi Bali yang lebih mengantarkan saya untuk larut dalam
dialog pikiran penulis. Betapa tidak, kendati dengan
gaya bahasa yang lugas dan kadang terkesan kocak, penulis
mampu menciptakan dialog dengan pembaca dan sudah barang
tentu mampu menyampaikan pesan kritisnya seperti yang
dia harapkan dalam Kata Pengantar buku ini.
Dengan lugas Palguna memperkenalkan tehnik (yang secara
sekilas terlihat) baru dalam penulisan, yaitu pemahaman
sebuah — sebut saja — istilah dengan mencari
lawan kata dari istilah itu. Misalnya, arti kata pintar
bagi orang Bali justru bisa ditemukan oleh perilaku
orang bodoh dsb. dsb. Dengan demikian pembaca (diharapkan)
akan memahami secara utuh virus kegelisahan yang hendak
dimuncratkan Palguna, walau dalam bentuk yang labil-asimetris.
Jujur saja, tehnik yang ditawarkan Palguna bisa dibilang
tidak baru-baru amat. Bagi publik Bali mungkin iya,
tapi tidak bagi lalu lintas wacana pemikiran dalam negeri
sekali pun. Goenawan Moehamad misalnya, selalu mencari
hal-hal yang sifatnya kontradiktif dalam hampir setiap
tulisannya. Atau bisa juga dicari pada pemikir yang
'pangkat'nya lebih tinggi, yaitu Heidegger yang selalu
menggunakan analisa dua kata yang saling berlawanan
untuk memahami satu istilah. Misalnya istilah seni yang
merupakan perpaduan-saling-serang antara makna-kata
techne dan psyche . Itulah sebabnya, Heidegger terkenal
dengan julukan filsuf hutan. Beda dengan koleganya,
Karl Jasper yang terkenal dengan sebutan filsuf laut.
Dua puluh tujuh tulisan lepas Palguna dalam buku ini,
walaupun dia katakan sebagai hasil mengkritisi kebudayaan
sendiri (Bali), nampaknya lebih merupakan pedang bermata
dua. Artinya, secara esensi, disadari atau tidak, atau
bahkan secara kebetulan, penulis juga telah mengkritisi
kebudayaan di luar Bali. Dalam wujud yang berbeda tentunya,
masyarakat-masyarakat adat yang ada di Nusantara ini
nampaknya memiliki pandangan yang sama dalam upaya mempertahankan
tradisi. Dalam wujud yang berbeda pula masyarakat-masyarakat
tradisional di Nusantara ini terjebak dalam tipu muslihat
dan permainan bahasa untuk kepentingan kuasa. Pendek
kata, penulis telah mengatakan bahwa kesadaran kita
telah dininabobokkan oleh permainan bahasa demi kepentingan
kuasa dan mengantarkan kita pada dunia keterasingan.
Secara keseluruhan, tulisan Palguna dalam buku ini lebih
merupakan gumaman seorang penyair yang mewakili orang-orang
yang terbelenggu dalam ketidakberdayaannya. Tentu, dengan
embel-embel tehnik penulisan yang secara sepintas membuat
orang berkerut kening. Dengan metafor radikal dan analogi
kritis yang kocak, dia mencoba membangunkan pembaca
pada kesadarannya. Dia tidak akan memilih menjadi Gunung
yang tenang pada permukaan dan menyimpan gejolak di
kedalaman, pun dia juga tidak mau menjadi laut yang
selalu nampak gelisah dan memukul-mukulkan badan pada
batu karang. Nampaknya Palguna ingin menjadi angin sepoi-sepoi
yang selalu menghebuskan udara sejuk dan membisikkan
kesadaran atas ancaman budaya kekerasan pikiran sebagai
buah kontruksi-bawah-sadar dari modernisme. Walau tidak
dia katakan, secara implisit nampak jelas cara berfikir
yang dia gunakan sangat dipengaruhi oleh teori-teori
kritis posmodernisme, utamanya Dekonstruksi serta Bahasa
dan Kuasa.
Dengan sedikit lancang, peresensi mencoba menyimpulkan
keseluruhan isi buku ini, Palguna ingin mengingatkan
kita bahwa hampir seluruh kehidupan kita telah dikuasai
oleh roh jahat yang selalu merasuki pikiran dalam kehidupan
kita. Kalau tidak salah tebak, roh jahat yang dimaksud
adalah kapitalisme. Sosok roh yang mampu merubah dirinya
dalam segala wujud — termasuk idiom-idiom lokal.
Dia mampu merubah ruang-ruang publik menjadi pasar,
mampu merubah uang menjadi Tuhan, dan yang lebih mengerikan
dia mampu merubah manusia menjadi makhluk yang memiliki
etika predator.
Lalu, “Orang yang paling senang bersembunyi di
balik kata adalah penyair”, tulis Palguna pada
halaman 81. Ungkapan itu lebih tepat untuk mengatakan
siapa dirinya. Paling tidak, seperti halnya angin sepoi-sepoi
yang membisikkan serta menyilet kesadaran-diaspora orang
Bali. Kehadirannya hanya dapat dirasakan melalui-pesan-pesan
cerdas yang disampaikan. Tidak terjebak pada ke-Aku-an,
walau keberadaan sang penyair saat ini dalam kesepian
dan keterasingan atas kesadarannya. Akhirnya, dalam
pesan kesadaran yang dia bisikkan, buku ini telah menjadi
teman dialog yang menyodorkan logika-logika kritis dan
cerdas. Sebuah tehnik dekontruksi yang tidak hanya bisa
diterapkan bagi budaya Bali, tapi juga bisa di terapkan
pada budaya lain.
Titis S. Pitana , staf pengajar pada Jur. Arsitektur,
Fak. Teknik Universitas Sebelas Maret Surakarta yang
saat ini sedang menempuh program studi S-3 Kajian Budaya
Universitas Udayana Denpasar.
|