No. 95/ Tahun IX Maret 2008
majalah gumi bali [sarad]
prihal pikir, kata dan laku manusia bali
 
Reracikan/Daftar Isi
Paruman/Sajian Utama
Cakepan
Paras Paros
Nyama Braya
Bale Bengong
Dresta
Kelir
Kalangan
Parinama
Orta
Sasih
Susila
Tatwa
Upacara
Wirasa/Surat Pembaca
Samatra
Sameton


   
SAMETON

Merentas Jalan Satukan Pengusaha

Komitmennya begitu kuat rela meninggalkan status sebagai pegawai negeri. Dia justru menghimpun pedagang kecil untuk bersatu. Membangun sebuah kekuatan menghadapi para pemodal besar.

Pancaran sinar mentari pagi pada pertengahan Pebruari lalu, menggoda burung perkutut yang tergantung apik di tepian langit-langit sebuah rumah di bilangan Jalan WR Supratman, Jero Gede Puri Pemayun di Banjar Kedaton, Desa Kesiman, Kecamatan Denpasar Timur, Kota Denpasar, untuk bersenandung riang. Suaranya mendayu-dayu saling bersahutan dengan burung puter. Bunyi kukuruyuk ayam jantan menambah sumringah suasana. Sungguh menyentuh kalbu memang. Gaduh riuh Kota Denpasar pun seakan sirna.
Di tengah-tengah kesibukan penghuni rumah menunaikan beraneka tugas rutin, seorang lelaki tua mengenakan sarung, berkaos oblong warna putih tampak sedang sembahyang. Ketika SARAD mencoba menanyakan ada seorang yang ada di rumah, wanita paruh baya itu menyuruh menunggu sesaat. “ Jantos ajebos nggih , (tunggu sebentar ya...),” himbau wanita tadi.
Sesaat kemudian, pria kelahiran Kesiman, 8 Pebruari 1921, dari pasangan I Gusti Ketut Pugeg dan Jero Tunjung ini pun keluar dari pamerajan . Itulah I Gusti Ketut Gede.
Orang-orang mengenalnya sebagai wirausaha tulen, mempelopori pendirian berbagai usaha. Hampir sepenuh hidupnya dia abdikan menjadi seorang usahawan. Berkiprah di swasta. Dulu, ketika masih muda, saat banyak orang menghindar dari pekerjaan di swasta, dia justru berani pasang badan. Mempelopori dunia wirausaha. “Kalau di zaman saya muda dulu, bagi yang berpendidikan menengah ke atas semuanya mengejar profesi menjadi pegawai negeri,” dia mengenang.
Ada berbagai pertimbangan hingga orang kerap menghindar menjadi wirausaha. Bila jadi pegawai negeri, begitu diangkat langsung mendapat penghasilan. Berbeda dengan wirausaha, harus cari hasil dulu baru berusaha.
Kiprah Gusti Ketut Gede di bidang usaha, sejatinya dilalui penuh perjuangan. Diawali dari Kota Buaya, Surabaya. Tahun 1937, saat usianya baru 15 tahun pergi ke Surabaya guna melanjutkan sekolah. Di kota ini dia menempuh pendidikan di Institut Voor Handelsonderwys (sekolah dagang), yang kala itu beralamat di Jalan Bali Werti No. 3 Surabaya, di kawasan Blauran. Pilihan jatuh di sekolah dagang karena ingin sekolah di tempat lain ternyata terlambat. Daripada menunggu sampai setahun, akhirnya pilihan jatuh di sekolah dagang. Di sini belajar sekitar tiga tahun.
Setelah menyelesaikan studi di sekolah dagang tahun 1940-an, mulailah mencoba hidup mandiri dengan bekerja di pelabuhan Tanjung Perak sebagai klerek (setingkat lebih tinggi dari juru tulis). Sembari bekerja, dia melanjutkan kursus tata buku. Tahun 1942 Jepang menguasai Indonesia dan nasib kurang bersahabat mendera perusahaan tempatnya bekerja. Jepang tak memberi ijin perusahaan di tempat kerjanya beroperasi lagi di pelabuhan alias ditutup. Karyawan di pelabuhan memang ada yang tetap bekerja tapi tak digaji hampir tiga bulanan.
Pemilik perusahaan jawatan pelabuhan akhirnya melapor ke Pemerintah Kota Madya Surabaya, akhirnya dikasih tempat saja. Lokasinya di sekitar jembatan merah. Perusahaan pun punya kantor, cuma tak diijinkan masuk lagi ke pelabuhan oleh Jepang.
Sampai akhirnya pertengahan 1942, karena nasib tak menentu dan Pemerintah Kota Madya Surabaya mencari pegawai, akhirnya kesempatan tersebut tak disia-siakan. Gusti Ketut Gede bersama banyak warga Surabaya ikut melamar.
Nasib lagi berpihak pada pria yang menikahi I Gusti Ayu Ari pada Desember tahun 1942. Lamarannya diterima dan dia mendapat posisi sebagai pegawai bagian asisten pembantu kepala pembukuan.
Di Kota Madya Surabaya dia bekerja sampai tahun 1945. Namun akibat ada revolusi fisik—kejadian bermula dari kedatangan NICA yang ingin melucuti tentara Jepang di Surabaya. Tapi karena ada penembakan terhadap seorang tentara NICA yang ada di atas kapal, akhirnya pasukan sekutu Inggris yang ditunggangi pasukan Belanda ini ‘ngamuk'—Surabaya jadi kacau. Hingga tanggal 24 Nopember 1945, arus pengungsi besar-besaran terjadi dari Kota Surabaya melalui Jor-joran ke selatan terjadi.
Revolusi fisik pasca kemerdekaan Agustus 1945 memang sulit terhindarkan. Hal itu pula memaksa Gusti Ketut Gede bersama istri dan anak keduanya yang masih bayi mengungsi sampai ke Sidoarjo. Dalam desingan peluru dia berusaha menyelamatkan diri, bergabung dengan pengungsi lain. Perjalanan yang dilalui penuh dengan debaran jantung, karena dalam perjalanan sering bertemu dengan tentara Jepang yang tidak mau dilucuti tentara NICA, malah masih bersikap sok kuasa.
Perjalanan menuju ke Bali tak melewati jalur yang lumrah ditempuh. Selalu mengambil jalan yang sekiranya lebih aman. Setelah hari kelima perjalanan dari Sidoarjo baru sampai ke Jember dan di kota ini menginap di rumah seorang temannya. Setelah lima hari terdengar kabar bahwa pasukan RI tak bisa kembali ke kota (Surabaya). “Kalau begini saya tak bisa terlalu lama mendompleng di tempat teman,” dia mengenang.
Akhirnya cari jalan terus ke timur dan menarik diri menuju ke Banyuwangi. Di sini pun keamanan tak terjamin, karena pasukan Jepang terus memburu warga pribumi.
Kebetulan telepon masih tetap nyambung, saling kontak antarteman pun terjadi. Jika sudah aman disuruh melanjutkan perjalanan.
Setelah melalui perjuangan cukup panjang dan melelahkan, akhirnya pada 8 Desember 1945 dengan menaiki perahu berhasil mendarat di pantai Cupel, Jembarana. Setelah bermalam di Jembrana keesokan harinya, tanggal 9 Desember 1945, baru diangkut ke Denpasar. “Selama di Denpasar saya bersama teman-teman juga berusaha berjuang mengusir penjajah,” kata ayah lima putra ini heroik.
Tahun 1946, setelah mulai mereda, akhirnya muncul keinginan untuk mencari kerja. Cuma kerja apa yang diambil juga tak pasti. Nah, ketika sempat berbincang dengan Cokorda Agung Ngurah Agung dari Puri Satria yang sempat menjadi punggawa di Puri Kesiman, muncul ide membentuk koperasi. Usaha yang ditangani ini nantinya akan mendistribusikan barang-barang dari pemerintah ke rakyat.
Ide brilian tersebut tak hendak dibiarkan tertelan waktu. Mulailah Gusti Ketut Gede mengontak orang-orang untuk diajak masekaa membangun usaha koperasi. Ajakan Gusti Ketut Gede disambut positif para kerabat. Akhir April 1946, koperasi terwujud, namanya Koperasi Pusat Kesiman dan Gusti Putu Gede langsung didaulat memegang posisi pimpinan. Anggota saat itu berjumlah sekitar 12 orang sebagian besar kalangan perbekel, seperti perbekel Penatih, Peguyangan, Tonja, Kesiman, Kedaton, Kelandis, Sanur, Renon, dan Sesetan. Nominal setoran sesuai hasil kesepakatan antara Rp 1.000 sampai Rp 1.200 per anggota. Baru setahun berjalan ternyata koperasi yang dikelolanya memperoleh untung.
Dari kenyataan tersebut, pria yang memiliki lima putra ini mengambil satu kesimpulan bahwa bila dikelola secara benar dan profesional, koperasi bisa menjadi badan usaha yang cukup menjanjikan.
Setelah membentuk koperasi, dia pun sering ke kota lain dan bertemu kawan-kawan lama. Bersua banyak orang yang berkutat di berbagai usaha.
Pada tahun 1947, pemerintah melalui Perkumpulan Dagang Indonesia (Perdi), mengeluarkan pengumuman bahwa pengusaha Indonesia punya kesempatan menjadi importir. Para serikat dagang di Bali memiliki peluang emas untuk berkembang, termasuk menjadi pengimpor berbagai jenis barang dagangan dari luar negeri. Mendengar pengumuman seperti itu, semua pengusaha turut melamar. Sayang semua ditolak, karena tak satu pun saudagar di Bali kala itu memiliki badan hukum. Satu syarat penting supaya bisa bergerak di bidang usaha. Sayang, karena kecil dan tak kuat dari permodalan, maka para serikat pekerja tak mampu menangani usaha dalam kapasitas lebih besar, lebih-lebih hingga tembus ke mancanegara. Apalagi tak memiliki badan hukum. “Peluang saat itu sebenarnya cukup besar,” ingatnya
Penolakan akibat tak memiliki badan hukum ternyata tak menyurutkan para pengusaha di Bali agar bisa mengimpor barang dari luar. Mengingat kesempatan itu tak boleh disia-siakan. Sedapat mungkin harus dimanfaatkan dengan baik.
Gagal bergerak sendirian, akhirnya falsafah sapu lidi yang kuat ketika bersatu, coba diterapkan dalam kehidupan nyata. Suatu ketika ada 17 serikat dagang di Bali menyatakan diri menyatu dalam satu wadah koperasi. “Semangat yang kami bangun saat itu di samping memperkuat modal juga menunjukkan kekuatan pada pihak luar,” dia beralasan. Bahwa saudagar Bali juga memiliki kemampuan menangani berbagai bidang usaha, termasuk impor beraneka jenis tekstil.
Berhasil? Belum ternyata. Mengingat koperasi juga tak memiliki badan hukum resmi, maka pemerintah saat itu juga tak memberikan izin bagi kumpulan pedagang ini mengambil peran sebagai importir. Akhirnya kumpulan serikat pedagang itu membikin NV (kini setingkat PT) yang jelas payung hukumnya, dan sesuai rencana awal dinamakan Gabungan Impor Bali.
Tapi dalam persiapan mengatur anggaran akhirnya terpikir tentang peluang ekspor yang tak akan ada menangani. Akhirnya, jadilah GIEB (Gabungan Impor Ekspor Bali).
Dari 17 perusahaan yang berhasil dihimpun Gusti Ketut Gede, mampu mengumpulkan modal awal Rp 64.000. Sedangkan agar bisa menangani impor dana yang mesti terkumpul harus mencapai Rp 100.000. “Beruntung ada kerjasama dengan Bali Darma di Singaraja hingga ketentuan untuk bisa mengimpor barang terpenuhi,” pria yang langsung didaulat memimpin GIEB itu berkisah.
Dengan modal yang terkumpul mulailah serikat pedagang yang kala itu mengepakkan sayap mengimpor tekstil dari Jepang dan Eropa. Tahun 1951, usahanya ditambah menjadi pengekspor berbagai jenis kesenian, kopi, kacang tanah, dan produk pertanian lainnya. “Semangat menyatu serikat dagang kala itu cukup kuat. Resepnya, saling percaya pada anggota, terutama dalam mengurus manajemen usaha,” ujarnya.
Selama mengomandoi GIEB, mulai tahun 1948—kini I Gusti Ketut Gede duduk sebagai Komisaris PT GIEB—berbagai pernik terlewati, termasuk mampu membangun usaha lain. Tahun1957, GIEB dengan membuat badan baru mampu membangun Pelayaran Nusa Tenggara. Kala itu pelayaran Belanda mulai ditarik, makanya ilmunya di ambil dan tenaga kerjanya dipindah ke Pelayaran Nusa Tenggara. Pasca G 30 S/PKI, banyak usaha di Indoensia kelimpungan. Kala itu harga rupiah durun drastis. Nilai uang seribu menjadi Rp 1. Dan, GIEB kala itu tak ikut-ikutan kena imbas. Malah boleh dibilang terselamatkan oleh kondisi saat itu. “Kami pada masa itu banyak hutang. Sedangkan gudang penuh dengan beraneka barang,” katanya. Jadi dengan turunnya nilai rupiah, hutang bisa dibayar lebih besar.
Di bawah pimpinan Gusti Ketut Gede, GIEB memang cukup memiliki peran dalam kancah perbisnisan di Bali.
Sambil mengomandoi GIEB, pria yang pada tahun 2004, mendapat penghargaan dari PT Bali Post dalam kapasitas sebagai pelopor karya di Bali, tetap aktif membidani berdirinya berbagai perusahaan di Bali. Sesuai catatan yang disodorkan, selain mendirikan Koperasi Kesiman dan PT GIEB, Gusti Ketut Gede juga mendirikan sekaligus sebagai Komisaris Percetakan Bali tahun 1950, mendirikan NV (kini PT) Pelayaran Nusa Tenggara tahun 1957, Turut mendirikan PT Mabakti tahun 1970, mendirikan sekaligus sebagai Direktur PT Stiti/Karya Bhakti tahun 1980, serta turut mendirikan sekaligus sebagai komisaris di penerbitan Upada Sastra tahun 1988.
Sedangkan sejak tahun 1967 menerbitkan Buku Upadesa dan Kalender Bali. Tahun 1979 menerbitkan buku Eka Dasa Rudra di Besakih. “Persatuan antarpengusaha di Bali kala itu memang cukup kuat,” tegas Gusti Ketut Gede. Resepnya, saling percaya pada anggota, terutama dalam mengurus manajemen usaha.
Sesuatu yang amat sulit ditemukan kini. Lebih-lebih sejak pariwisata berkembang cepat, pengusaha Bali lebih egois. Sifat-sifat individu yang justru menonjol, tak lagi mau bergabung. Pengusaha yang bergerak dari tahun 1952 dan berhasil sampai kini, kelihatan bahwa modalnya tak rela digabungkan dengan yang lain. Dalam pandangan mereka tentu jika modal yang tersedia diputar sendiri, maka hasilnya akan jauh lebih banyak. Dan itu benar adanya walaupun reziko lebih tinggi.
Beda dengan dulu, persatuan antarpengusaha begitu kuat, sehingga mampu mengumpulkan dana cukup banyak dan bersaing dengan pengusaha luar. Tahun 1952, tunjuk Gusti Ketut Gede, pengusaha di Bali yang menggabungkan diri menjadi satu malah mampu membangun bank. Namanya Bank Perniagaan Umum (BPU). Anggotanya mendekati 1.000 orang dan berhasil mengumpulkan modal sampai setengah milyar.
BPU memang hanya mampu bergerak sampai dasawarsa 1990-an. Karena setelah tak berhasil mengumpulkan modal di Bali sesuai target, akhirnya komisaris yang baru mengajak untuk memindahkan head office ke Jakarta. Di sana mencari pengusaha yang diajak sebagai penyandang dana (kongsi), dan dapat modal sekitar Rp 5 milyar. Sayang modal itu kembali digerogoti yang diajak bergabung itu. Akhirnya cari penyandang dana lain dan menemukan anak pengusaha bank di Bali sebagai direktur.
Sayang, sang direktur ini memanipulasi keuangan dengan membuat berbagai usaha. Ujung dari manipulasi itu, BPU kena imbas dan dipailitkan. Sedangkan GIEB, masih tetap berjalan sekalipun kini sebagian sahamnya dimiliki bukan oleh pengusaha Bali, tapi dari pusat. “Pernyataan modal dari luar tersebut, karena di tahun 1997, saat krisis moneter tiba, GIEB keteteran sehingga harus ada menyuntikkan dana cukup besar,” ujar pria yang di usianya semakin uzur lebih banyak istirahat di rumah. Bercengkerama bersama anak-anak, bercanda dengan cucu-cucunya. I Wayan Sucipta