No. 95/ Tahun IX Maret 2008
majalah gumi bali [sarad]
prihal pikir, kata dan laku manusia bali
 
Reracikan/Daftar Isi
Paruman/Sajian Utama
Cakepan
Paras Paros
Nyama Braya
Bale Bengong
Dresta
Kelir
Kalangan
Parinama
Orta
Sasih
Susila
Tatwa
Upacara
Wirasa/Surat Pembaca
Samatra
Sameton


   
BALE BENGONG
hal 1 | hal 2 | hal 3

Hiruk Pikuk di Hari Sepi
Agus S Mantik

Pergantian tahun Saka dimulai pada tanggal 1 bulan Waishakamasa (bulan ke sepuluh di mana Sravana adalah bulan pertama) yang hampir tidak ada bedanya dengan Tahun Baru Masehi (yang sebenarnya juga bulannya dimulai dengan bulan Maret). Perhitungannya juga sama yaitu mengikuti peredaran matahari. Kita tidak memiliki bukti pasti mengapa kedua hal itu bisa demikian, barangkali saat terjadi pergantian kedua Tahun Baru tersebut, matahari sedang bergerak di atas katulistiwa dan menuju ke utara ( uttarayana ); sesuatu yang dianggap masa paling baik untuk melaksanakaan pekerjaan apapun di dalam penanggalan Hindu.
Sebagai bentuk penghormatan terhadap kedua Hari Raya itu, di mana mana diadakan keramaian (festival). Bulan Waishaka di Jawa dianggap sebagai bulan di mana cuaca mulai terang benderang, segar, dan menyenangkan. Hujan pun sudah reda.
Pada hari yang dicanangkan sebagai hari pergantian tahun (penambahan satu tahun di dalam penanggalan), orang pergi berduyun-duyun ke gunung dan menonton berbagai jenis pertunjukan terutama wayang kulit. Rumah rumah dihiasi janur dan pesta keramaian diiringi dengan gamelan, kendang, dan seruling sambil mendengarkan kisah-kisah yang dipetik dari epos Mahabharata. Kita tidak tahu apakah hal seperti ini pernah dialami di Bali. Atau sejak kapan penyelenggaraan Hari Raya Nyepi yang mirip dengan yang kita kenal sekarang mulai dilaksanakan di Bali?
Yang jelas bahwasannya apa yang kita laksanakan di Bali bukanlah mainstream dalam pemahaman pemeluk Hindu biasanya menghadapi Hari Raya Tahun Baru.
Kita bisa saja mengatakan bahwa apa yang berlangsung di Bali khas Hindu, akan tetapi bentuknya sudah di-rohani-kan ( spiritualize ), seperti biasanya masyarakat Bali me-rohani-kan hal-hal lain. Pemimpin pemimpin agama di Bali barangkali beranggapan bahwa bentuk syukuran yang paling bagus adalah dengan melihat ke dalam, bukannya mementingkan yang bersifat keluar, seperti ritual maupun seremonial tiap mereka menyatakan terimakasihnya pada Hyang Widhi.
Hal ini sebenarnya bisa dilihat sekarang ini juga, di mana ada usaha untuk memasyarakatkan Hari Raya Siwaratri. Padahal penghormatan atas hari ini pada zaman dahulu hanya dilaksanakan oleh beberapa puri dan griya saja.
Bisa juga diperkirakan bahwa Hari Raya Nyepi sudah ada bahkan sebelum Hindu/Budha masuk ke Bali, dan hal ini memastikan bahwa ketika kita menerima keimanan kedua agama itu, sesungguhnya kita juga sudah memiliki tradisi keagamaan yang utuh dan mendalam. Berlainan dengan kepercayaan agama semitik. Hindu dan Budha menerima dan menganggap sejajar serta memberikan ruang pada tradisi dari agama/kepercayaan sebelumnya.
Di zaman globalisasi ini kita melihat ada fenomena baru di dalam setiap perayaan Nyepi. Sebagian pemeluk Hindu mulai bingung dengan cara mengisi waktu liburan Tahun Baru Saka. Persyaratan mengenai amati karya dan amati lalanguan malah merepotkan mereka. Orang-orang merasa tak etis pergi ke mall misalnya atau piknik ke tempat-tempat mengasyikkan, lebih lagi untuk menikmati santapan di berbagai restoran. “Ajaran agama” tidak membenarkan mereka berbuat demikian. Puasa, tak ke mana-mana, tanpa nyala lampu tapi mereka harus tetap terjaga ( melek, tidak tidur). Inilah menyebabkan mereka gelisah. Pikiran tak pernah dilatih untuk diam. Padahal, hanya pikiran diam saja yang mensyaratkan tiadanya kegiatan (yang bersifat keluar). Kegelisahan pun terjadi karena mereka tidak tahu harus berbuat apa.
Walaupun fenomena serupa tak menghinggapi semua orang, keadaan ini tentu saja memprihatinkan. Akibatnya, dalam masa liburan hari Nyepi, penyewaan VCD/DVD pun laris manis. Termasuk juga makanan/minuman dan tentu saja minuman ber-alkohol. Modernisasi di sini menjadi bertentangan dengan kontemplasi, perenungan di mana biasanya dalam hari raya seperti ini kita diwajibkan untuk mawas diri. Melihat ke dalam diri kita sendiri.
Meditasi, diskusi tentang falsafah agama tentu saja masih dilaksanakan di beberapa tempat, tapi jumlah makin lama tambah berkurang. Termasuk yang tidak menjalankan upawasa sebagai salah satu bentuk untuk pendisiplinan diri ( sadhana ) juga bertambah banyak. Kita tentu berhak untuk khawatir atas perkembangan seperti ini, yang jika dibiarkan, maka makna daripada perayaan Tahun Baru Saka menjadi semakin sirna. Arus globalisasi membawa kita semakin jauh ke susuatu bersifat luar ke arah hiruk pikuk yang menonjolkan lahiriah. Padahal seperti yang sering saya sitir dari tafsir Prof Radhakrishnan di dalam Gita, kehidupan rohani (spiritual) adalah (i) bhakti yang mendalam, (ii) samadhi yang diam, (iii) dibukanya kesadaran yang terdalam dari jiwa yang menghubungkan diri sejati dengan azas Tuhan, (iv) tidak memerlukan bantuan dari luar, (v) tidak ada kepercayaan terhadap dogma, (vi) tanpa partisipasi di dalam ritual, dan (vii) visi kreatif karena digabungkannya penyerapan dengan tiadanya keterikatan.
Apabila kita ingin menduniakan semangat Hari Nyepi seperti yang sering dikumandangkan banyak pihak belakangan ini, maka makna inilah yang harus dipertahankan.
Perohanian ini membawa kita kepada arti yang sesungguhnya dari kehidupan mistik, bahwa: (i) bukanlah teori bersifat intelektual atau keilmuan, (ii) pada dasarnya dia adalah azas hidup yang aktif, formatif, kreatif, dan yang memuliakan, (iii) pemahaman rohani daripada tujuan dan masalah-masalah hidup pada tingkatan yang lebih nyata dan lebih akhir dibandingkan dengan kemungkinan yang hanya melalui akal dan fikiran saja, (iv) pemuliaan yang berjenjang dalam nilai nilai rohani, dalam pengalaman dan cita cita rohani ( spiritual ideals ), (v) memiliki beragam sisi dalam perkembangannya, sangat kaya dan komplit seperti hidup itu sendiri, (vi) di dalam semua pengikut mistik di dunia, ada rasa mendalam mengenai perlunya pikiran yang bersih, penyangkalan diri. Selalu tertujunya pikiran kepada Tuhan ( ekagrata ). Agus S. Mantik