No. 95/ Tahun IX Maret 2008
majalah gumi bali [sarad]
prihal pikir, kata dan laku manusia bali
 
Reracikan/Daftar Isi
Paruman/Sajian Utama
Cakepan
Paras Paros
Nyama Braya
Bale Bengong
Dresta
Kelir
Kalangan
Parinama
Orta
Sasih
Susila
Tatwa
Upacara
Wirasa/Surat Pembaca
Samatra
Sameton


   
SASIH

Mulailah dari Air

Inilah arti penting perjalanan ke pusat air. Secara simbolik tak semata diartikan menuju sumber air ragawi, namun meretas jauh melampui kedalaman samudra batin mahaluas, mahaening, suci nirmala, galang malilang.

Bali tengah memasuki musim pancaroba kini. Peralihan musim basah ke musim kering sedang berjalan. Sasih Kaulu (bulan kedelapan) baru saja lewat. Memasuki Sasih Kasanga kini, belum ada tanda-tanda hujan akan reda. Angin berembus kencang, merobohkan pohon-pohon dan rumah-rumah. Bencana alam, dan ancaman marana sasab (epidemi) senantiasa mengintai. Kilat dan petir kerap menyambar-nyambar. Angin berhembus dari arah selatan dengan kekuatan kencang. Pagi, siang dan malam udara terasa beeng (gerah). Maklum Kasanga kini tengah ngunya Kalima (bulan kelima), karakter hawa memang sedikit gerah.
Kendati telah memasuki pertengahan Sasih Kasanga, nelayan masih ragu turun melaut, ancaman badai bisa menghadang tiba-tiba. Bagi petani yang taat pada ketentuan kretamasa, aturan musim tanam, saat menggembirakan tengah menunggu kini. Bulir-bulir padi kian merunduk, panen menjelang tiba. Sejumlah pala gantung, buah-buahan semisal: duku, jeruk manis, salak matang dipohon. Pertanda bahagia ini, dibahasakan dengan candra : “wedharing wecana mulya”, tersiarnya berita bahagia.
Kini saban Kasanga tiba, orang Bali senantiasa diingatkan merawat sumber-sumber alam, terutama merawat sumber-sumber mata air, baik sumber air itu bernama danau, sungai, campuhan, klebutan , laut, pancuran, dan sebagainya. Bagi orang Bali yang nota bene “beragama air” lazim disebut “beragama tirta” memang senantiasa menempatkan air sebagai sumber mahahidup, karenanya air disebut juga toya, artinya: Ya, dia sang pemberi hidup. Inilah alasan mendasar, kenapa menjelang hari Nyepi, orang Bali melakukan perjalanan menuju tepi air, disebut dengan malasti . Tentu lewat upacara ini orang Bali diingatkan melakukan pensucian lahir-batin ke pusat-pusat mata air, serta-merta menyucikan segala pralingga, stana dewa-dewa pujaan.
Memang memasuki pergantian sasih, terutama menjelang memasuki sasih Kadasa, Bali pulau kecil yang terletak di garis selatan Khatulistiwa, akan menunggu daur hidup baru. Cuaca perlahan cerah, udara berangsur bersih. Musim hujan segera berakhir. Air sungai semakin bersih. Bunga-bunga mulai mekar, masa subur umumnya datang. Patani menunggu masa panen, seterusnnya menikmati jeda panjang guna menjalani penyucian dan penenangan batin.
Berkenan dengan penyucian diri itu, yang dilakukan tepat di hari Tilem Kasanga, teks Sundarigama misalnya menyuratkan jelas, “Mwang tka ning tilem, wenang mupuga lara roga wighna ring sarira, aturakna wangi-wangi ring sanggar parhyangan, mwang ring luhuring aturu . Tiba saat hari Tilem (bulan mati), hendaknya dilakukan penyucian diri, menghaturkan bunga-bunga serba harum di sanggar parhyangan, dan di hulu tempat tidur.”
Tiga hari menjelang Nyepi, tepat hari Selasa Umanis , Wuku Krulut, tanggal 4 Maret 2008, merupakan puncak upacara palelastian . Perjalanan menuju tepi air. Seluruh pratima dan pralingga (arca) stana dewa-dewa disucikan. Diusung menuju sumber mata air: samudra, danau, klebutan (pusat mata air), dan campuhan (titik pertemuan aliran air). Ini drama sosio-religius, memang. Perjalanan spritual gaya Bali, kental suasana agraris.
Melawati jalan setapak, membelah hambaran huma subur. Gemuruh tetabuhan, tambur, gong gambelan, genta pinandita diseka kidung suci, menyatu doa semesta. Harapan mereka: supaya sawah dan tegalan yang dilalui iringan-iringan dewa-dewi diberkati kesuburan. Semoga panen berhasil, hama penyakit menyingkir, dan ternak terselamatkan. Semoga air sumber hidup tetap mengalir, membasahi sawah, memberi kehidupan. Semoga damai semua.
Melasti mengingatkan orang untuk senantiasa menghargai air. Air penting bagi hidup. Bila sumber air mengering, berarti ada sesuatu yang tidak harmoni dalam ekosistem hutan. Air akan tetap mengalir jernih bila hutan-hutan tetap utuh, bukit dan gunung-gunung tetap lestari. Bila hutan dan gunung gundul, mata air akan menyurut. Bencana kekeringan dan longsor tinggal menunggu waktu. Karena itu mulailah memperbaiki hidup dari merawat air. Jika air tetap jernih bening, tak tercemar, niscaya hati dan pikiran pun jadi damai.
Di titik ini malasti atau perjalanan menuju air menjadi semacam ritus mengarungi air hidup. Inilah arti penting perjalanan ke pusat air. Secara simbolik tak semata diartikan menuju sumber air ragawi, namun meretas jauh melampui kedalaman samudra batin maha luas, sekaligus maha ening, suci nirmala, galang malilang.
Kasanga, sasih kesembilan dalam dua belas sasih yang ada dalam kalender Bali merupakan momen penting dalam tatanan kosmologi Bali. Saat ini, matahari tengah “melintas” di garis khatulistiwa, “bergerak” ke lintang utara, ngutarayana . Lintasan ini menentukan babakan penting perjalanan hidup manusia Bali, di mana di seantero Bali digelar serentak upacara bumi suddha , penyucian diri, tawur untuk kesucian dan keseimbangan jagat. Tawur yang diniatkan mengembalikan unsur-unsur yang membangun semesta alam ini agar alam ini tetap memberi daya hidup. Begitulah sepatutnya orang Bali menyambut nyepi, mesti diawali dengan “tawur” merawat sumber-sumber alam.