SUSILA
Adakah Dosa Itu Diampuni
I Ketut Widnya
Ditindih Rasa Penyesalan
Sebagai manusia saya merasa hidup ini berada dalam kubangan dosa. Saban hari saya dihantui perasaan ini. Saban hari terus-menerus merasa gelisah, terkadang merasa menyesal dan sedih. Mengenai dosa-dosa saya tak perlu menceritakan pada Bapak, yang jelas begitu berat menindih hati saya. Setiap hari bila sembahyang atau meditasi, saya mohon dosa-dosa diampuni Tuhan. Toh saya merasa tak pernah dibuat lega, atau nyaman, apalagi bahagia. Pertanyaan saya, mungkinkah dosa-dosa itu diampuni atau dimaafkan? Bagaimana merasakan bahwa dosa-dosa itu telah diampuni? Apakah berbagai derita, sakit, nasib apes, ketidakberuntungan yang dialami manusia bisa dianggap sebagai bagian dari penebusan dosa itu? Mohon pemahaman!
Ni Nengah Manis
Jl. Jempiring, Denpasar
Jawab:
Adakah manusia yang hidup di atas bumi ini tidak melakukan kesalahan sama sekali? Kalau kita mencoba meneliti setiap penduduk yang ada di dunia, apakah dia pernah atau tidak pernah melakukan kesalahan. Mungkin penelitian kita tidak pernah akan selesai, karena begitu banyak objek penelitian yang harus diamati satu persatu. Tetapi marilah kita kembalikan kepada kesimpulan umum yang disepakati sebagian besar orang, bahwa tidak ada orang yang luput dari kesalahan. Pepatah Indonesia mengatakan, Tidak ada gading yang tidak retak”, sementara orang Bali mendalilkan dalam petatah-petitih: ”Tan hana wong swasta anulus”.
Kesalahan adalah satu eksistensi kita sebagai manusia. Meskipun tidak ada orang yang ingin berbuat dosa, namun, dalam kenyataannya, tak ada orang yang bebas sama sekali dari perbuatan dosa. Hanya saja, apakah dosa itu disengaja atau tidak, inilah yang akan menentukan besar-kecil reaksi yang akan diterima. Kalau dosa itu dilakukan dengan sengaja, bahkan direncanakan, maka reaksi dosa yang diterima, pasti lebih besar dibandingkan dengan reaksi dosa yang akan diterima karena tidak sengaja melakukannya.
Zaman Kali diuraikan dalam Bhagawata Purana 12.3.51 sebagai kaler dosa-nidhe rajan. Zaman kali adalah lautan dosa. Tidak ada ruang kehidupan yang bebas dari kegiatan berdosa. Mulai dari lingkungan keluarga, desa, kecamatan, kabupaten, dan demikian seterusnya, sampai tingkat Propinsi, Nasional, dan Internasional, orang-orang melakukan berbagai jenis kegiatan yang berdosa. Mulai dari mencuri ayam, membunuh ayah kandung, ibu kandung, anak sendiri, sampai kepada kejahatan kerah putih dan terorisme yang sangat mengerikan.
Dalam peradaban Weda, orang-orang terhormat seperti kaum brahmana, ksatriya, waisya, dan sudra, menjaga kehormatannya dengan berbuat kebajikan sesuai tugas dan kewajiban yang telah ditetapkan berdasarkan guna dan karma. Namun, pada zaman Kali, semua orang dalam berbagai peringkat kehidupan melakukan kegiatan berdosa. Semua orang dipaksa keadaan untuk berbuat dosa, meskipun dia dari golongan atau keluarga terhormat. Satu contoh adalah hamil pranikah. Dahulu dianggap pelanggaran berat, tapi sekarang tidak lagi demikian. Jadi, semua orang melakukan kegiatan berdosa, lalu apa yang harus disesali?
Meratapi masa lalu yang penuh dosa hendaknya tidak membuat kita kehilangan elan vital untuk menapaki masa depan yang penuh harapan. Apalagi menyebabkan terjadinya stagnasi total dalam mengarungi samudera kehidupan. Agama membimbing kita untuk mengambil sikap atau bertindak hari ini sesuai dengan pahit-getir pengalaman di masa lalu, dan dengan semua itu, mengarahkan kehidupan guna merengkuh masa depan lebih baik. Ini sesuai dengan ajaran Tri Semaya, yaitu: atita, nagata, dan wartamana.
Pengakuan penanya di tadi, bahwa hidupnya penuh kubangan dosa, adalah pengakuan atau bentuk kesadaran akan masa lalu yang hitam. Ini suatu pertanda baik, bahwa semakin banyak orang yang sadar dan mau mengakui masa lalunya yang penuh dengan kegiatan berdosa. Sebab, pada umumnya, karena pengaruh ahamkara (ego), tidak banyak orang yang mau mengakui kesalahannya sendiri. Tetapi pengakuan akan kesalahan itu tentu tidak berhenti di sana. Sesuai ajaran Tri Semaya, kesalahan di masa lalu hendaknya dijadikan tonggak evaluasi atau mawas diri untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama di masa depan. Tetapi, kenyataannya, banyak orang terjebak dengan kesalahan yang sama. Itulah sebabnya, orang-orang bijak menasehati melalui peribahasa Indonesia: ”Jangan kehilangan tongkat untuk kedua kalinya”.
Dosa artinya kesalahan. Kesalahan tetap adalah kesalahan. Artinya, kesalahan tidak bisa dihapus, apalagi diubah menjadi kebenaran. Dalam Upanisad, ada contoh yang menganalogikan kegiatan berdosa dengan garam. Kalau garam dimasukkan ke dalam air, maka air itu akan terasa asin. Semakin banyak garam, maka air itu akan semakin asin. Tapi rasa asin itu bisa dikurangi sedikit demi sedikit apabila volume air ditambahkan. Sampai batas tertentu, apabila perbandingan garam dengan air mencapai limit yang sangat tinggi, misalnya satu banding sepuluh ribu, maka rasa asin garam tidak akan terasa dalam air, walau sesungguhnya garam itu tetap ada di dalam air tersebut.
Contoh Upanisad di atas diperkuat dengan contoh-tontoh lain dari Purana. Dalam Purana, diceritakan banyak raja-raja saleh, suci, serta dihormati oleh seluruh rakyatnya. Raja-raja itu dikatakan mencapai kedudukan keindraan karena kedermawanan dan pertapaan yang dilakukannya. Contohnya Raja Indrajumna sebagaimana diceritakan dalam Bhagawata Purana. Raja Indrajumna, karena kesalehannya, mencapai Surga setelah meninggalkan dunia ini. Namun, ia tetap mengalami penderitaan di Neraka karena mabuk-mabukan yang dilakukannya pada suatu hari.
Dalam Swarga Rohana Parwa, Yudisthira juga mengalami peristiwa yang serupa dengan Indrajumna. Yudisthira menerima Neraka karena keragu-raguannya melaksanakan perintah Krisna yang memerintahkan kepadanya untuk membunuh gurunya, Drona, di medan perang Kuruksetra.
Dalam prinsip bhakti memang dibenarkan meminta sesuatu kepada Tuhan melalui doa-doa yang dipanjatkan. Tuhan sering dihadirkan sebagai ayah atau ibu, dan dalam kedudukan seperti itu, kita sebagai putra-putraNya, berhak meminta sesuatu kepada Beliau. Ini seperti seorang anak yang meminta sesuatu kepada orang tuanya. Bahkan mantra-mantra Weda sendiri banyak mengandung doa-doa pujian yang meminta berbagai hal, mulai dari hal material sampai kepada hal-hal spiritual.
Memang, resiko dari meminta sesuatu bisa mengakibatkan kekecewaan kepada seseorang, apabila permintaan itu tak dipenuhi atau kita merasa permintaan kita tidak dipenuhi oleh Tuhan. Itulah sebabnya, dalam tataran spiritual tidak ada doa yang mengandung permintaan, melainkan hanya penyerahan diri kepada Tuhan.
Tentang apakah Tuhan akan mengampuni atau memaafkan dosa-dosa kita, ini pasti bahwa Tuhan akan memaafkan atau mengampuni kesalahan-kesalahan yang telah kita lakukan. Tuhan dikenal sebagai pemaaf yang agung (Mahaksama). Bagaimana mungkin Tuhan tidak akan memaafkan kita. Sebab, Beliau juga adalah Mahapengasih. Kita harus sangat yakin bahwa Tuhan pasti memaafkan kesalahan kita.
Masalahnya, apa manfaatnya semua ini bagi kemajuan spiritual kita. Dalam Bhagawata Purana, ada siddhi yang bisa dicapai manusia, dimana dengan siddhi itu manusia bisa melihat para Dewa dan para Apsara sedang bercengkerama di alam-alam Surga. Kita bahkan bisa merasakan atau mengetahui bahwa Tuhan telah memaafkan kita, atau sebaliknya kita masih bisa merasakan bahwa Tuhan masih memberi ujian akan keteguhan keyakinan (sraddha) kita. Tapi apa manfaatnya semua ini.
Secara umum cukuplah kita mengetahui bahwa salah satu ciri kebahagiaan spiritual adalah susukham, bukan sukha-duhkha, yaitu: kebahagiaan yang disusul terus oleh kebahagiaan, atau dengan kata lain, kebahagiaan yang tidak lagi disusul kedukaan atau penderitaan. Ciri kehidupan sepiritual itu ditandai kedamaian, kebahagiaan, kesehatan, persahabatan, dira (teguh), puas di dalam dirinya. Memang ciri dunia material ini adalah rwabhinedha. Tapi seorang agamawan, seorang yang mempraktekkan spiritual, dia berada di atas kedua pertentangan dualitas itu,. Dia berada di atas sukha dan duhkha, beyond suffering and happyness. S