|
PERISTIWA
Buyan Tersedak Investor
Belakangan ini sejumlah investor getol mengobok-obok “daerah sensitive” orang Bali. Buyan adalah kasus teranyar, lalu adakah ini soal bisnis melulu, atau ada maksud lain?
Aksi simpati untuk Danau Buyan kian ramai saja. Kamis siang, saat sinar mentari sedang terik-teriknya, tepat di bunderan Patung Catur Muka, Denpasar, tampak sekelompok daa teruna, lengkap dengan busana adat dan spanduk, melakukan aksi demo. Di barisan terdepan, terlihat pendemo mengusung spanduk besar bertuliskan “Pecat Pejabat Yang Anti Hindu”. Mereka memang sedang melakukan aksi protes terkait rencana investor menjadikan Danau Buyan sebagai kawasan wisata ekologis dan budaya. Dengan tertib namun penuh semangat, para pemuda yang menamakan dirinya Aliansi Hindu Muda Indonesia (AHMI) ini bergantian melakukan orasi protes. “Kami menolak eksploitasi Danau Buyan dengan dalih apapun, ” teriak seorang bajang jegeg dengan pengeras suara. Seorang pemuda lain, yang mengaku sebagai pemimpin demo Adit Wardana, menegaskan alasan AHMI menolak ekspolitasi Danau Buyan. “Danau Buyan adalah ‘kepala’nya Bali”tandasnya. Adit mencurigai niat baik investor mengembangkan kawasan itu. “Pasti ada maunya. Ujung-ujungnya adalah bisnis,”katanya.
Esok harinya, aksi serupa juga dilakukan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Bali. Bertempat di depan Kantor Gubernuran, Renon, puluhan aktifis melakukan orasi bergantian. Uniknya, beberapa pendemo mengenakan topeng mirip wajah Gubernur Bali, Made Mangku Pastika, melakukan aksi teaterikal.
Terkait demo tersebut, Direktur Walhi Bali, Agung Wardana mengemukakan alasan yuridis, yakni Perda RTRW no.3 tahun 2005 tentang pentingnya fungsi sempadan danau, pantai, sungai dan sumber air lainnya. “Demi menegakkan Perda (peraturan daerah), pemerintah harus menolak rencana eksploitasi Buyan,” tegas Agung bersemangat.
Para pendemo akhirnya ditemui Sekprov Bali, Nyoman Yasa. Menanggapi tuntutan para pendemo, Yasa hanya memberi sinyal singkat dan samar, “Kami masih melakukan pengkajian”.
Terlepas dari berbagai motif yang melatari, protes sebagian elemen masyarakat Bali terhadap rencana PT Anantara menanamkan modalnya di Danau Buyan seeloknya perlu diapresiasi dan dijadikan pertimbangan para petinggi Bali. Dalam perspektif tradisi dan tata ruang Bali, sumber-sumber air seperti danau, beji, empul diposisikan sebagai ulu; kepala. Karena itu, tempat-tempat ini sangat dihormati, dijaga bahkan disakralkan. Tak berlebihan misalnya, para wiku jaman dahulu membangun tempat suci di sekitar sumber air. Pesannya sangat terang; tempat itu meski dijaga, karena dari sanalah air, sumber vital kehidupan mengalir. Demikian pentingnya arti air, sehingga agama Hindu identik dengan agama Tirta, agama air.
Tak bisa dipungkiri, memang, Bali membutuhkan sejumlah pembenahan dan pengembangan di sejumlah sektor. Belum pulihnya sektor pariwisata, ditambah krisis global yang menghantam dunia belum lama ini, menjadikan tingkat pengangguran di Bali semakin tinggi, sebaliknya, pendapatan real penduduk kian merosot. Ini tentu menjadi beban bagi Bali. Kehadiran investor, bagaimanapun diyakini mengurangi beban ini.
Soalnya kemudian, Bali butuh duit apa butuh investeor? Jika butuh investor, eksploitasi pada alam tak mungkin terhindarkan, karena investor butuh wilayah pengembangan. Sementara kondisi fisik Bali semakin rentan, lahan makin sempit, persediaan air kian merosot, hutan menuju ambang kepunahan, alih-alih soal energi. Untuk membangun daerah ini, Bali memang butuh duit. Butuh duit belum tentu harus mendatangkan investor, para petinggi Bali perlu putar otak, merancang strategi supaya beaya yang dibutuhkan membangun Bali tidak dengan cara mengundang investor, karena itu mesti diupayakan jalan lain.
Namun demikian, naïf rasanya semata mengejar keterpurukan ekonomi, para petinggi Bali harus mengorbankan “rasa spiritual” masyarakat Bali. Muncul juga pertanyaan, mengapa harus Buyan? Mengapa belakangan ini para investor getol sekali mengobok-obok “daerah sensitive” orang Bali? Adakah ini bukan persoalan bisnis melulu? Perlu usaha dan renungan panjang untuk menjawabnya. Dewa Ketut Putra |