PARUMAN
hal 1 | hal
2 | hal 3
Satu Tuhan, Enam Miliar Doa
Apa sesungguhnya yang diyakini sebagai doa hingga lebih dari enam miliar penduduk bumi melakukannya? Mereka yang sakit, mereka yang menderita, atau mereka yang tengah bersukaria senantiasa berdoa dengan cara masing-masing. Baik yang ateis, agnotis maupun pemeluk agama senantiasa melakannya.
Mulailah dengan doa. Ini nasihat elok kerap disampaikan para bijak. Dalam hidup yang serba sembraut, tentu tidak banyak orang memulai sesuatu dengan doa. Terlebih bagi banyak orang yang belum terbiasa melakukannya. Bahkan di antara orang yang terbiasa melakukan, nasihat bijak ini pun sering dilupakan. Dan doa menjadi sesuatu yang menyiksa, tidak berguna dalam hidup. Memang, bagi orang yang belum bisa menerima kenyataan hidup, doa menjadi ibarat racun— di mana orang kerap menyalahkan keadaan, mengutuk diri, menyumpahi orang, serta-merta menyatakan Tuhan tidak adil. Dan hidup semata dijelali keluh dan penyesalan.
Keluh, sumpah serapah, dan apapun namanya boleh jadi pantulan karena orang tak percaya kekuatan doa, orang kadang terlalu percaya pada kekuatan sendiri—tanpa ada keyakinan bahwa ada kekuatan lain hadir, terlibat dalam hidup; entah ia bernama karma, alam, Tuhan, dan sebagainya. Pertanyaan kemudian, apakah dengan melakukan doa orang terselamatkan secara lahir batin, dijauhkan dari penderitaan hidup, dilepaskan dari nasib buruk? Jawabnya: belum tentu pula. Namun menurut para suci, sepanjang doa dilakukan dengan pikiran kacau, tidak fokus, jauh dari rasa bakti, doa pun menjadi sesuatu yang mekanis, tak lebih dari rutinitas tanpa kedalaman makna. Para bijak menyarankan berdoalah dengan penuh keyakinan hati dan penuh rasa bakti.
Lalu apa sesungguhnya yang diyakini sebagai doa hingga lebih dari enam miliar penduduk bumi tetap melakukannya? Fakta ini memberi petunjuk bahwa doa tetap menjadi sandaran setiap orang menggapai harapan. Mereka yang sakit, mereka yang tengah menderita, atau mereka yang sedang bersukaria pasti senantiasa berdoa dengan cara mereka masing-masing, baik yang ateis maupun pemeluk agama yang taat. Mereka ingin beban hidup diringankan, dijauhkan dari mara bahaya, harapan mereka dikabulkan.
Inilah sejumlah alasan kenapa saban detik doa dipanjatkan. Pendek kata mereka ingin hidup damai. Ini pula yang menjadi alasan kenapa saban pagi, sebelum matahari terbit para pendeta di Bali memuja Siwaraditya, Tuhan sebagai Mahasumber Energi— dengan satu harapan bumi dengan segala isinya hidup sejahtera, damai, dan saling memelihara.
Secara teks, merujuk Kamus Besar Bahasa Indonesia, doa cukup diartikan sebagai permohonan semata, di dalamnya tercakup pengertian; harapan, permintaan, pujian kepada Tuhan. Nun dalam peradaban Bali, doa tak semata mecangkup harapan, permintaan, dan pujian. Bagi orang Bali doa itu melingkupi pula tindakan menyembah, penghormatan, pujaan, kontemplasi, termasuk ritus dan berjapa, dan sebagainya— orang Bali cukup menyebutnya dengan ngrestiti, mendoa kehadapan sang penyelamat bernama Sang Maha Urip.
Bahkan dalam kitab-kitab tua bercorak Siwa-Budha, doa itu tak cuma menyangkut pemujaan pada hari-hari tertentu, namun juga mencakup kesantunan hidup sehari-hari, baik dalam pikiran, perkataan, dan tindakan. Kakawin Jinarthiprakrti misalnya, secara tegas menyuratkan bahwa pikiran, kata-kata, dan tindakan yang menyenangkan bagi setiap makhluk merupakan doa paling ampuh dalam hidup. Pendeknya, pikiran, kata-kata, dan tindakan yang baik merupakan doa paling manjur bagi setiap orang. Begitulah selayaknya hidup, hendaknya seluruh perbuatan menjadi doa sehari-hari.
Kenapa doa itu menjadidalam hidup? Jawaban paling memungkinkan adalah mensyukuri anugerah hidup itu sendiri. Apapun kondisi seseorang, kaya atau miskin, tengah berbahagia atau sedang menangguk derita hidup ini sepantasnya memang patut disyukuri. Bagi manusia Bali hidup ini adalah anugerah. Benar nasihat para bijak, hanya dalam hidup ini manusia bisa bertumbuh dan menyempurna. Harapan menuju penyempurnaan itu merupakan dambaan setiap orang—dambaan setiap orang menemukan jalan terang, dianugerahi tubuh sehat, pikiran jernih, dan kebutuhan hidup serba cukup.
Demikianlah kitab-kitab agama menyuratkan harapan itu dalam doa. Mereka melantunkannya tanpa jemu, penuh ketulusan dan rasa rendah hati. Inilah kenapa kemudian seluruh seloka-seloka Weda mencatatkan beragam madah pujian dengan harapan doa-doa mereka terkabul “didengar” sang penguasa hidup. Para pemuja berharap hidup mereka diberkati, harapan mereka terpenuhi, hidup mereka berkelimpahan.
Cukupkah dengan berdoa harapan orang lalu bisa terpenuhi, keberlimpahan datang begitu saja? Ini sesuatu yang mustahil, tentu. Ibarat membakar ketela tanpa api, tanpa api ketela tidak mungkin matang. Karenanya laku doa mesti senantiasa dibarengi usaha. Bhartrihari, penulis kitab Nitisataka menuliskan seloka indah,”Tangan melakukan amal kebaikan, bukan karena menggenakan gelang.”
Mpu Kanwa, pengarang kakawin Arjunawiwaha pun melarang seseorang yang mohon kebahagiaan dan berkah Tuhan tanpa pernah perbuat kebaikan. Dengan medium wirama Mandamalon, pengarang ini menulis: “Ada orang tanpa pernah beramal, tidak melakukan yoga dan tapa. Lalu merengek, dengan paksa memohon kebahagian dan kesenangan kepada Tuhan. Maka dibaliklah permohonan itu, sehingga akhirnya ia menderita, disiksa sifat rajah dan tamah serta ditindih rasa sakit.
“Bila dilandasi perbuatan serba baik, siapakah gerangan tak akan menemukan kebahagiaan?” demikian Mpu Kanwa mengingatkan. Pengarang yang mempersembahkan karyanya demi keagungan dan kebesaran Raja Airlangga pun mewanti arif, “Bagi mereka yang berpegang teguh pada dharma, yang hatinya tidak goyah (budhi tepet) senantiasa, kebahagiaan dunia dan surgawi pasti ditemukan.
Karena itu, tepat pula saran Bhartrihari, “Wahai orang baik, jika engkau ingin menikmati hasil yang engkau inginkan, engkau harus menyembah dewa dengan perbuatan baik, yang mengubah orang jahat menjadi baik, mengubah orang bodoh menjadi terpelajar, dan membuat yang tersembunyi menjadi kelihatan.”
“Membuat yang tersembunyi menjadi kelihatan.” Pesan ini kelihatan pragmatis segaligus mistis, memang. Apa gerangan dikmaksud Bhartrihari? Yang pragmatis tentu menjadikan sesuatu yang tiada menjadi ada. Sebagai misal, mereka yang ingin mendapatkan keperluan hidup tentu dengan cara berusaha lewat kerja. Mustahil kesejahteraan datang bila orang berdiam diri. Para petani mendapatkan beras dengan jalan menanam padi. Para pemintal mendapatkan kain dengan menenun, begitu seterusnya. Buruh-buruh mendapat upah dari jerih melayani. Para siswa memperoleh pengetahuan keterampilan hidup karena mereka mau belajar. Lalu adakah sesuatu yang kebetulan di dunia ini? Semua mesti diupayakan dengan sungguh-sungguh.
Makna mistik dari nasihat Bhartrihari tentulah begitu luas. “Membuat yang tersembunyi menjadi kelihatan.” Ini merupakan harapan para bijak. Semua guru-guru suci yang sempat hidup di bumi memiliki cita-cita seperti ini. Mereka ingin mengantarkan para murid-muridnya ke jalan terang, percis sebagaimana doa di mana orang mengakhiri renungan suci, “Ya Tuhan, bimbinglah kesadaran dari dari kenyataan yang tidak abadi menuju menuju kenyataan abadi, dari kegelapan kembali sebagai cahaya, dari kelahiran-kematian berulang-ulang menuju kekekalan abadi.
Memang tiada komunikasi yang bisa dilakukan kehadapan Yang Mahasempurna, kecuali dengan satu bahasa, yakni: bahasa hati dalam doa. Orang percaya bahwa Tuhan hanya mendengar “keluh” itu lewat bahasa hati. Dan orang pun percaya, bahwa Tuhan juga bersemayam di jantung hati setiap makhluk— karena Dia adalah sang penyangga hidup senantiasa. I Wayan Westa