Edisi No. 106/ Tahun X Februari 2009
majalah gumi bali [sarad]
prihal pikir, kata dan laku manusia bali
 
Jendela/Daftar Isi
Adat
Paruman/Sajian Utama
Lipsus
Seni
Figur
Glosari
Inspirasi
Kelir
Kesehatan
Kerabat Kita
Nyama Braya
Paras-Paros
Peristiwa
Pintu Hati
Pustaka
Sambung Rasa
Sasih
Susila
Tatwa
Laras


   
LARAS

Musuh Terbesar Guru Terbaik


Dr. N. Sutrisna Widjaya, MPH

Kegiatan utama yang meningkatkan harkat dan martabat seseorang secara berkesinambungan adalah pembelajaran. Dengan belajar ia menjadi semakin cerdas dan semakin berwawasan dari waktu ke waktu, sehingga orang bijak menganjurkan kita untuk belajar terus menerus seumur hidup. Pembelajaran formal di dunia pendidikan dari yang paling dasar sampai ke tingkat perguruan tinggi umumnya didominasi oleh penggunaan otak kiri, berorientasi pada kecerdasan akademik atau nalar. Kecerdasan emosi, kecerdasan sosial dan kecerdasan spiritual yang menjadi urusan otak kanan umumnya kurang mendapat porsi memadai dalam pendidikan formal, sehingga tidak heran mereka yang unggul dalam nilai-nilai akademik belum tentu mendapat tempat di jajaran puncak para peraih prestasi kehidupan, kecuali bila mereka belajar juga tentang kecerdasan beragam yang bersifat holistik.
Ketinggian harkat dan martabat seseorang tidak hanya ditentukan  kecerdasan nalar dan luasnya pengetahuan yang ia kuasai. Sikap dasar yang benar dan baik, sifat-sifat yang luhur, perilaku berdasarkan kesadaran sebagai penerima, pembawa dan penyalur sifat Tuhan yang telah dikaruniakan kepada umatnya, jauh lebih dominan. Untuk tiba pada tujuan tersebut, atau ada di jalur perjalanan tersebut kita membutuhkan guru-guru pembimbing. Siapakah mereka ? Dalam buku-buku Tao buah karya Lao Tze banyak disebut bahwa musuh-musuh kita adalah guru terbaik kita, tetapi kita masih harus menggali untuk menemukan jawaban, mengapa demikian. Dari acara darma wacana di televisi kita pernah mendengar bahwa kematian adalah guru yang agung, tetapi kita juga masih membutuhkan penjelasan lebih lanjut, mengapa demikian.
Musuh dalam arti yang jamak adalah mereka yang berseberangan dengan kita, dalam cara berpikir, bersikap dan berperilaku. Musuh adalah mereka yang tidak kita sukai, yang membuat kita kesal, jengkel dan marah bahkan dendam. Tetapi pemahaman seperti ini ternyata masih jauh dari memadai. Musuh pada dasarnya adalah sama dengan orang lain, yang sesekali berhadapan dengan diri kita. Bila kita belajar menerima orang lain apa adanya, dan belajar juga tentang hukum bayangan cermin sebagai salah satu hukum pikiran, orang lain seringkali sekadar berfungsi sebagai sebuah cermin yang kebetulan ada di depan kita. Cobalah tersenyum semanis mungkin di depan cermin, maka ia pasti memantulkan bayangan yang persis sama. Cobalah juga marah di hadapan cermin, dan iapun sekedar merefleksikan hal yang persis sama. Jadi musuh itu suka mengingatkan kita tentang hal-hal yang kita benci yang sesungguhnya ada, tersembunyi jauh di dalam benak pikiran kita yang paling dalam.
Ketika kita menggunakan cara-cara pembenar dengan mengatakan bahwa musuh kita sangat-sangat egois, sesungguhnya kita sedang merasa tidak senang dengan egoisme yang ada di dalam diri kita. Ketika kita marah terhadap sikap dan tindakan musuh terhadap diri kita, kita sesungguhnya secara tanpa sadar sedang mendefinisikan diri sebagai pemarah. Jadi, musuh sesungguhnya dapat membantu menemu-kenali kekurangan yang ada pada diri kita sendiri, hal-hal yang perlu kita pelajari sekaligus kita perbaiki. Itulah sebabnya dikatakan bahwa musuh-musuh terbesar adalah guru-guru terbaik kita yang layak mendapat ucapan terima kasih. Bagaimana dengan kematian ? Kematian adalah tahap akhir dari perjalanan yang dimulai dengan lahir – kemudian hidup, dan – akhirnya mati. Stephen R. Covey, penulis “7 Kebiasaan Orang-orang Yang Paling Efektif”  sangat dikenal di kalangan pemburu sukses. Salah satu dari 7 kebiasaan yang diuraikannya adalah melihat tahap akhir di dalam pikiran. Bila seorang mahasiswa sering-sering melihat dengan mata pikirannya, berimajinasi atau mengembangkan mimpi tentang wisuda di dalam pikirannya, penelitian telah membuktikan bahwa ia akan menjadi lebih efektif di dalam tahapan-tahapan studi/proses sebelum momen wisuda yang bersejarah tersebut. Ini dikenal sebagai prinsip “The Power of the Dream”. Dalam menjalani kehidupan, kepastian tentang kematian adalah tahapan terakhirnya. Sayang sekali kematian adalah sesuatu  yang paling ditakuti karena ia menunjukkan nilai rapor dari sekolah dengan bidang studi “menjalani kehidupan”. Sesungguhnya kematian tidak pernah bermaksud mempermalukan kita, bila sebelum mati kita tidak atau belum menjalani kehidupan sebagaimana mestinya. Kematian tidak pernah memaksa murid-muridnya dengan keharusan memilih hal-hal yang baik dan menghindari yang buruk, ia sekedar menunjukkan nilai rapor, sembari membiarkan yang berangkutan menetukan pilihannya sesuai dengan pikiran-pikiran bebas yang dianugerahkan oleh Sang Pencipta kepada manusia sebagai bagian dari ciptaannya. Ia selalu menerima murid-muridnya apa adanya, satu sikap yang agung. Jadi, dengan menganggap musuh sebagi guru terbaik (dan gratis), dan dengan secara periodik melihat di dalam pikiran saat-saat kematian, kita mendapat pelajaran-pelajaran yang paling berharga tentang hal-hal yang perlu diubah untuk menjadi diri sejati sesuai dengan keinginan masing-masing.