SAMBUNG RASA
Bali 30 Tahun Kedepan
Bali adalah pulau yang suci, karena pada setiap jengkal tanah Bali berdiri tempat suci, tempat orang Bali memuja Tuhan, sehingga Bali disebut dengan pulau seribu pura. Didukung pemandangan alam nan indah, terjadilah perpaduan di antara tiga komponen di atas, yang menghasilkan budaya Bali adiluhung yang terkenal di seluruh dunia, dan mampu menarik wisatawan mancanegara datang berlibur ke Bali.
Sebagaimana ditulis Saudara Pimpinan Redaksi SARAD pada edisi khusus, dengan judul “100 tahun Bali tanpa impian”, bahwa sejak tahun 1958, Bali telah menjadi serba ada, akibat dibukanya akses pariwisata oleh pemerintah Indonesia. Sejak saat itu masyarakat Bali menjadi terlena dengan gemercingan dollar, sehingga kita menjadi lupa menata Bali.
Terjadilah bencana dahsyat pada bulan Oktober 2002, dengan meletusnya bom Bali pertama di Kuta, di pusat pariwisata kita, maka masyarakat Bali pun kelabakan. Seperti kita alami bersama, pariwisata kita mati suri, perekonomian kita yang mengandalkan pariwisata ambruk. Kita seperti baru bangun dari mimpi panjang, bahwa apa yang telah kita lewati selama itu, sebenarnyalah suatu perbuatan yang keliru. Kita telah melupakan Bali yang memiliki taksu. Kita tidak memelihara taksu kita sebagaimana mestinya. Kita tidak menangkal dengan cukup serius, ekses kemajuan pariwisata itu.Terjadilah peristiwa itu. Dan masyarakat Bali tidak siap menghadapi kemungkinan ini.
Selama ini kita hanya bekerja dengan otak kiri, kita melupakan kekuatan otak kanan yang jauh lebih hebat dari logika otak kiri kita. Kita melupakan pepatah yang mengatakan; “Bahwa manusia hanya berhak merencanakan, sedangkan hasilnya ditentukan oleh Tuhan”. Ini yang selama ini terlupakan. Seperti juga disinggung oleh saudara Pimpinan Redaksi SARAD dalam tulisannya itu, di Bali sering terjadi kekisruhan antar desa, antar warga dalam satu desa dan sebagainya. Apa yang menjadi akar masalahnya? Karena masyarakat kita telah jauh dari bimbingan Tuhan. Jauh meninggalkan amanat leluhur. Kita hanya mampu memahami warisan budaya leluhur pada permukaannya saja. Sehingga apa yang kita kembangkan itupun juga hanya berputar-putar di permukaan saja. Kita tidak pernah mampu masuk jauh kedalamnya, apa inti dari warisan leluhur kita itu.
Apa yang ditulis oleh teman kita (Pemred SARAD), kehidupan bersama masyarakat Bali mengalami kemunduran. Saya melihat dari sudut pandang moral. Masalah moral merupakan hal yang sangat menentukan kehidupan sosial masyarakat. Kelihatannya memang benar masyarakat Bali sekarang melangkah mundur. Apa yang saya katakana di bagian awal dari tulidan ini, bahwa Bali adalah pulau sorga, saat ini sudah tidak terekspresi lagi di dalam kehidupan masyarakat Bali. Saya ingin kemukakan, bahwa membangun Bali kedepan haruslah dengan mengembangkan nilai-nilai moral yang terkandung dalam filsafat tat twam asi sebagai falsafah kehidupan yang universal, sehingga sangat cocok diterapkan di seluruh dunia.
Saya punya impian, “ 30 tahun kedepan masyarakat Bali sudah menjadi bagian dari masyarakat global”. Masyarakat global adalah tatanan masyarakat yang memiliki rasa bhakti kepada Tuhan, yang menyadari dan mengakui bahwa ada atman yang sama di dalam setiap mahluk ciptaan Tuhan. Umat manusia di dunia ini adalah sama, yang datang dari sumber yang sama, yaitu Tuhan. Kedepam masyarakat dunia harus bekerja sama untuk kesejahteraan bersama, dengan semangat bersaudara.
Di dalam ajaran agama kita (Hindu), telah dicanangkan suatu prinsip hidup yang harus dilaksanakan oleh umat kita adalah catur purusa arta yaitu, dharma, artha, kama dan moksa. Realitasnya di masyarakat sekarang, apa yang dapat kita lihat? Masa sekarang masyarakat kita hanya mengedepankan artha, di dalam melakoni kehidupan ini. Dharmanya ditunda dulu, nanti belakangan. Apalagi moksa? Sangat jauh, mungkin tidak akan pernah dapat diraih, dalam beberapa kali kelahiran. Padahal, jika prinsip ini kita maknai dengan benar, yaitu keseimbangan dalam meraih semuanya itu. Dan jika keseimbangan telah kita dapatkan maka tujuan akhirnya yaitu moksa pasti dicapai.
Begitu pula dengan; “tiga kerangka agama Hindu” yang merupakan tuntunan sadhana kita sebagai umat Hindu. Tiga kerangka agama Hindu meliputi: tatwa, susila dan upacara. Bagaimana realitasnya di dalam kehidupan masyarakat Bali kekinian? Saya melihat pelaksanaannya sangat timpang. Masyarakat Bali berkonsentrasi hanya pada upacara agama saja. Itupun saya lihat sudah bergeser sangat jauh dari gagasan semula yang pada awalnya diciptakan leluhur kita.
Pada awalnya upacara itu adalah yadnya, yaitu persembahan atau pengorbanan suci dengan pikiran suci. Penekanannya pada pikiran suci. Melaksanakan upacara agama dengan dilandasi oleh pikiran suci, barulah upacara itu menghasilkan bhakti. Upacara yang dilandasi oleh ego, tidak menghasilkan bhakti, atau sebagai pengorbanan yang sia-sia. Kembali lagi saya katakan, bahwa jika keseimbangan dari ketiganya bisa kita laksanakan, pasti moksa itu bisa kita dapatkan.
Lalu mungkin ada yang bertanya, “Mungkinkah masyarakat global itu bisa diwujudkan, dan bagaimana caranya mencapai keseimbangan itu?” Jawabannya sangat mungkin dan pasti akan terwujud. Karena 30 tahun kedepan ini adalah waktu yang sudah ditetapkan oleh para leluhur kita. Para leluhur kita sekarang sedang bekerja untuk mewujudkannya. Leluhur kita membangun masyarakat global itu, dimulai dari Bali. Dari Bali beliau semua memancarkan sinar suci-Nya keseluruh dunia ini. Dan kekuatan suci-Nya akan membangun kesadaran umat manusia diseluruh dunia, bahwa semua orang di dunia ini adalah bersaudara. Dengan semangat persaudaraan inilah akan terwujud tatanan masyarakat global itu.
Yang paling penting yaitu; bagaimana kita bisa mencapai keseimbangan itu? Jika tadi saya katakana bahwa untuk mencapai masyarakat global, leluhur kita sedang bekerja di niskala secara gaib, dan hal ini akan terwujud dalam kurun waktu yang telah ditentukan (30 tahun kedepan). Lalu apa yang bisa kita lakukan sebagai umat Hindu, apakah kita akan menunggu hasil yang diberikan leluhur kita? Tidak, tidak. Kita tidak bisa berdiam diri, kita harus meningkatkan bhakti kita kepada Tuhan, melalui sadhana, agar bisa menyesuaikan diri dengan paham di atas, dengan melaksanakan tiga kerangka Agama Hindu secara utuh. Tidak sepotong-potong, untuk mendekatkan diri kita kepada-Nya. Tuhan sebagai perwujudan kasih sayang, dan jika kita dekat dengan-Nya, maka kita juga akan bisa mengembangkan kasih sayang itu di dalam kehidupan sehari-hari kita.
Akhirnya kita bisa menyesuaikan hidup kita dengan tatanan masyarakat global itu. Leluhur kita telah menetapkan, bahwa barang siapa, dan di manapun mereka berada, jika mereka tidak bisa menyesuaikan diri dengan paham tersebut di atas (masyarakat global), mereka akan tersingkir. Demikianlah adanya, semoga bermanfaat bagi kita semua.
Salam bahagia,
Om, Santih,Santih,Santih, Om
I Made Sukasana
Padukuhan Manik Mas Paramartha, Denpasar