|
SASIH
Karo Berselimut Gerhana
Bagi orang Bali, “drama langit” ini menemukan makna penting, memahami “persetubuhan” kosmis matahari bulan, samgama mistis antara Surya dan Candra.
Apa yang paling mencolok menandai kedatangan Sasih Karo (bulan ke 2) kecuali musim kian dingin? Tentu tak boleh dilupakan musim kini tengah merambat menuju titik di mana alam makin mengering. Pohon-pohon kehilangan kesegaran, daun-daun merontok, debu-debu beterbangan. Tidak berlebihan bila horoskop Jawa Kuna memetaforkan musin ini sebagai “Bantala Rengka”, artinya: tanah berbongkah. Seutuhnya begitulah karakter Sasih Karo. Dan alam kian kerontang manakala Bali memasuki Sasih Katiga, Kapat, dan Kalima. Sejatinya alam tak mudah berbohong, apa yang dikodratkan terjadi pastilah terjadi, berulang terus sebagaimana hukum alam – karenanya yang senantiasa berlaku tetap itu disebut Rta.
Nyatanya susah ditampik, saat Sasih Karo datang persedian air berangsur surut, memang. Sawah yang terbiasa tergantung curah hujan kondisinya makin kering. Tanahnya pecah berbongkah-bongkah, hingga tak ada tanaman bisa bertahan, kecuali tanaman keras, semisal pohon nangka, mangga, kelapa dan sebagainya. Kendati dalam rajamam serba gersang, pohon randu berbunga merah yang awalnya meranggas mulai bersemi, tunas daun muda tampak girang menjulur-julur matahari. Demikian juga kembang Jepun, tengah berbunga lebat, baunya harum menggoda kumbang. Sasmita alam ini menyibakkan kearifan, dalam situasi teramat kritis senantiasa ada harapan bertumbuh, berkembang, dan terus maju.
Kali ini, saat Sasih Karo datang astrologi Jawa Bali, Batara Sakri mempunyai pengaruh yang kuat bagi semesta alam. Baik itu mengenai cuaca, musim, dan nasib manusia. Perihal kodrat atau nasib manusia misalnya, astrologi Bali mendaraskan, bahwa mereka yang terlahir di Sasih Karo, jelas berada dalam kuasa Batara Sakri, sifatnya cenderung keras hati, berbudi luhur serta hampir tak punya keraguan. Tutur kata sopan, pikirannya cemerlang dan cerdik. Umumnya orang-orang yang terlahir dalam kuasa atmosfir Sasih Karo mudah mengerjakan sesuatu dan pandai menggamit hati orang. Sayang sering lupa diri, maka itu kadang suka berlaku besar kepala. Setidaknya inilah ramalan astrologi Bali menangkap sasmita langit. Toh begitu, percaya tidak percaya manusia sendirilah penentu karma. Nasib buruk dan baik ditentukan diri sendiri, bukan akibat belas budi orang lain atau karunia dewa-dewa.
Sebagaimana siklus sasih, Karo kini jatuh tepat pada hari Sabtu Pahing, Wuku Warigadean, tanggal 2 Agustus 2008 – di mana sehari sebelum sasih berganti, tepat pada bulan mati Sasih Kasa, tanggal 1 Agustus 2008 terjadi gerhana matahari. Gerhana bisa dilihat dari Indonesia bagian barat, mulai tampak 15.04.1 WIB, pertengahan 16.47.3 WIB, berakhir 19.38.4 WIB. Bagi orang Bali, “drama langit” ini menemukan makna penting, memahami “persetubuhan” kosmis matahari bulan, samgama mistis antara Surya dan Candra. Dalam konteks agama-agama dimaknai sebagai persatuan atau panunggali, Siwa dan Budha, keheningan di dalam dan keheningan di luar dalam peraduan mahaindah semesta alam.
Sementara akhir dari “siklus” Karo berakhir pada hari Redite Pahing Umanis Wuku Langkir, 30 Agustus 2008, di mana sebelum daur sasih bergulir menuju Sasih Ketiga, tepat tanggal 17 Agustus 2008, saat tarik menuju bilangan 62 tahun kemerdekaan Republik Indonesia, dan di situ terjadi gerhana bulan parsial. Gerhana dapat dilihat dari kepulauan Nusantara, dimulai 01.23. 1 WIB, pertengahan gerhana 04.10.1 WIB, akhir gerhana 06.57.1 WIB. Kali ini, demi menjaga keseimbangan pola hitungan purnama-tilem dilakukan ngunalatri, di mana siklus purnama maju satu hari sebelum gernaha bulan – yang seharusnya jatuh pada hari Minggu Pahing Wuku Dungulan, 17 Agustus 2008.
Sesuatu yang istimewa dilakukan manusia Bali saat memasuki Sasih Karo. Suatu perayaan besar akan segera digelar, yakni: hari raya Galungan dan Kuningan. Terhitung dari hari Sugian Jawa, jatuh tepat pada hari Sukra Wage, Wuku Sungsang, berlanjut menuju hari Sugian Bali, Penyekeban, Penyajajaan, Penampahan, Galungan, Umanis Galungan, Ulihan, Pamacekan Agung, Penampahan Kuningan, hingga perayaan puncak hari raya Kuningan merupakan momen-momen hari penyempurnaan hidup. Karena betapa sungguh hidup itu mesti bertumbuh, berkembang maju menuju penyempurnaan demi penyempurnaan. Dan penjor-penjor kemerdekaan jiwa pun ditancapkan, untuk senantiasa mensyukuri keberlimpahan sang mahaidup. S |