No. 100/ Tahun IX Agustus 2008
majalah gumi bali [sarad]
prihal pikir, kata dan laku manusia bali
 
Reracikan/Daftar Isi
Paruman/Sajian Utama
Cakepan
Paras Paros
Nyama Braya
Bale Bengong
Dresta
Kelir
Kalangan
Parinama
Orta
Sasih
Susila
Tatwa
Upacara
Wirasa/Surat Pembaca


   
PARINAMA


Glosari Sansekerta
Nyoman S. Pendit

DHARMASASTRA (darmasastra)
Kitab hukum atau kaidah-kaidah  hukum dalam agama Hindu. Ini  termasuk seluruh kepustakaan hukum  Hindu, terutama hukum-hukum Manu dan Yadnyawalkya serta orang-orang  suci lainnya yang benar-benar  berwewenang perihal hukum dan telah  mengumpulkan Smriti yang diterima melalui wahyu ilahi. Karya-karya hukum ini terbagi atas tiga bagian : (1) Acara, peraturan-peraturan tatakrama, (2) Wyawahara,  pengadilan dan (3) Prayascita,   persudian. Para ahli hukum Hindu disebutkan ada 18 orang: 1. Atri,  2. Wisnu, 3. Harita, 4. Usana, 5.  Angira, 6. Yama, 7. Apastamba, 8.  Samwarta, 9. Katyayana, 10.  Brihaspati, 11. Parasara, 12. Wyasa, 13. Sanka bersama-sama 14. Likita yang sering disebut-sebut  jadi satu, 15. Daksa, 16. Gotama,  17. Satatapa dan 18. Wasista.

DIK  (dik)
Menunjukkan, memperlihatkan; ruang, dalam aliran filsafat Vaisesika adalah Realitas Abadi ke-7.
  
DIRGHA-SVARA (dirga-swara) 1017
Juga disebut  Dirgha-varna  - yaitu profesi seseorang dalam hidup  bermasyarakat, termasuk Trivansa: brahmana adalah cendekiawan intelektual (pemimpin upacara spiritual agama), kesatria adalah pembela negara dan bangsa,  waisya adalah ekonom pengusaha yang  melakukan niaga dan perdagangan  serta sudra adalah mereka sebagai  pekerja, buruh, pelayan masyarakat membantu lancarnya tugas-tugas  mereka yang berpredikat Trivansa tersebut terdahulu.
 
DIRGHATAPAS (dirgatapas)
Bertapa lama untuk penebusan dosa.  Juga sebagai nama lain dari Gautama, pendiri aliran filsafat Nyaya karena ia melakukan tapa lama dalam studinya di masa lalu.

DIVYACAKSHU (diwiacaksu)
Penglihatan suci, penglihatan ilahi (sakti). Mata manusia biasa hanya dapat melihat apa yang kelihatan nyata sehari-hari, sedangkan jiwa,  atman, hanya bisa dilihat dengan  mata hati lewat wahyu ilahi, seperti halnya penglihatan suci yang diberikan kepada Arjuna oleh  Krisna dalam Bhagavadgita, atau  kepada Bima oleh Dewaruci dalam  Mahabharata. Agama Hindu percaya  akan adanya penglihatan suci ini  yang bisa dimiliki oleh orang-orang suci dengan jalan meditasi, tapabrata dan pensucian diri.
 
DVIVEDIN (dwiwedin) 1669
Dia yang memahami dua kitab suci  Weda.

GANDHARI (gandari)
Putri mahkota raja Subala dari  kerajaan Gandara yang dipersunting oleh Dritarastra, saudara Pandu  yang buta. Ia melahirkan 100 anak  dikenal dengan nama Kaurawa bersaudara. Yang tertua adalah Duryodana. Pada waktu pertama kali hamil, Gandari mohon doa restu dari  Bagawan Wyasa, penyusun kitab-kitab  suci Hindu yang diwahyukan Hyang Widhi, karena kehamilannya agak  luar  biasa selama 2 tahun. Segumpal besar daging tanpa bentuk lahir. Berkat keahlian  Bagawan Wyasa, gumpalan-gumpalan ini  dimasukkan dalam 100 tabung kendi. Setelah  beberapa waktu barulah lahir bayi  yang membawa firasat mengerikan.  Inilah Duryodana. Dari 100 tabung itu terlahirlah  99 bayi laki-laki dan 1 bayi perempuan  yang diberi nama Duhsala. 99 bayi ditambah Duryodana inilah merupakan Kaurawa, 100 orang bersaudara.

GUNA-DHARA (guna-dara)
Seseorang atau sesuatu yang  memiliki sifat-sifat, kualitas baik, terhormat.

GUPTA (gupta)
Sebagai istilah Gupta dapat berarti: dikawal, dilindungi, dilestarikan, dirahasiakan, tertutup, tersembunyi, rahasia, gelap. Gupta-dhana - uang rahasia, anggaran rahasia, pendanaan rahasia; gupta - duta - utusan rahasia, duta rahasia, mata-mata,  spion; gupta-griha - kamar rahasia; gupta-tama - mengendalikan, mengekang panca indria.

INDRAGNI (indrageni)
Pasangan Indra-Agni; Indravayu -pasangan Indra-Vayu (Bayu); Indrabrihaspati - pasangan Indra-Brihaspati; Indramaruti -pasangan Indra-Maruti; Indravaruna -pasangan Indra-Varuna (Baruna), yang dipuja dan disembah untuk memohon karunia-rahmatNya sesuai kandungan kemahakuasaan  masing-masing pasangan.

IRMA (irma)
Tangan (manusia); kaki depan (binatang).

IRYA (iria)
Meminta sedekah dari pintu ke pintu sebagai tugas keagamaan untuk calon pinandita atau bhikshu (biksu).
 
KARNA (karna)
Putra Dewi Pritha yang lebih dikenal sebagai Dewi Kunti. Ia lahir karena wahyu Batara Surya kepada Dewi Kunti sebelum menikah dengan Pandu. Karna adalah saudara  Pandawa Lima (Yudistira, Bhima, Arjuna, Nakula dan Sadewa) lain ayah. Tetapi semuanya ini  tidak diketahui sampai saat  menjelang Karna gugur dalam perang  besar di medan Kuruksetra melawan Pandawa sendiri, sebab Karna berada di pihak Kaurawa.  Kisahnya: Durwasa, seorang suci, memberi  Kunti sebuah mantra kalau-kalau ia  suatu ketika ingin punya anak dari  salah satu Batara yang menjadi idolanya. Diam-diam, ketika masih remaja, Kunti menggunakan mantra  itu untuk memanggil Batara Surya. Tidak dinyana, Kunti pun hamil dan  melahirkan seorang bayi laki-laki.  Sebab malu besar, bayi dibuang di sungai Yamuna. Adhirata, pengemudi  kereta Maharaja Dritarastra, memungut bayi itu dan diserahkan kepada Sri Baginda. Bayi ini tumbuh besar, gagah dan tampan. Itulah  Karna, yang dalam perang besar  Mahabharata menewaskan Gatotkaca,  putra Bima, dan pada gilirannya  Karna sendiri tewas di tangan  Arjuna.

KUMBHAKA (kumbaka)
Kendi, ceret tempat air minum; dalam praktek meditasi mengatur pernapasan (pranayama): menahan, menyimpan napas dalam waktu lama.

LOKA (loka)
Ruang atau daerah yang luas di  dunia dengan alam semesta. Pada  umumnya dapat diartikan sorga, bumi dan atmosfir atau dunia bawah. Dalam agama Hindu klasifikasi loka  ada tujuh yaitu: 1. Bhurloka, bumi,  2. Bhuarloka, ruang antara bumi dan matahari, 3. Swarloka, sorga diatas matahari diantara bintang kutub, 4. Maharloka, ruang di atas  bintang kutub dimana mahluk suci  terhindar dari kehancuran tiga bumi  bawah, 5. Janarloka, tempat  keturunan Batara Brahma, 6. Tapaloka, hunian mahluk semi-suci, 7. Satyaloka atau Brahmaloka, hunian mahluk yang bebas dari  inkarnasi atau nitis. Dalam arti  kiasnya Saptaloka yaitu tujuh ruang  berarti bumi, langit, sorga,  angkasa tengah, tempat inkarnasi, hunian yang memperoleh rahmat, dan  ruang kebenaran. Para penganut  aliran filsafat Vedanta dan Sankhya  mengakui adanya delapan loka yaitu:  1. Brahmaloka, dunia mahluk suci yang super, 2. Pitriloka, dunia  para resi dan leluhur, 3. Sunaloka,  bulan dan planet-planet, 4. Indraloka, dunia mahluk suci semi  super, 5. Gandarwaloka, dunia  roh-roh  surgawi, 6. Raksasaloka, dunia para raksasa, 7. Yakshaloka, dunia para yaksha, dan 8. Pisachaloka, dunia mahluk halus.

MANUSANHITA  (manusamhita)
Kitab hukum Hindu disebut Hukum  Manu. Kitab ini merupakan naskah pertama dan terutama dalam klasifikasi Smriti, memuat kumpulan  undang-undang dan peraturan menurut  zamannya, disusun jauh sesudah kitab-kitab suci Weda. Diperkirakan disusun sekitar abad ke-5 sebelum  Masehi. Terjemahan ke dalam bahasa Inggris telah dilakukan oleh Sir W. Jones dan disunting oleh Haughton  yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Prancis dan Jerman.

MARGA (marga)
Jalan. Dalam agama Buddha  dimaksudkan 'jalan yang ditunjukkan oleh Sang Buddha untuk menghindari malapetaka dan penderitaan'.

MUKTI (mukti)
Suatu situasi jiwa terbebas dari keduniawian dan berada dalam kebahagiaan Ilahi. Didalam Upanishada dilukiskan seseorang yang memperoleh wahyu akan dituntun menuju eksistensi abadi (sat), kebenaran absolut (cit) dan kebahagiaan Ilahi (ananda): Tuntunlah aku dari tan-nyata ke nyata. Tuntunlah aku dari gelap ke terang. Tuntunlah aku dari dunia mati ke alam tanpa-kematian.