|
ORTA
Ngaben Perdana di Banyuwangi
Upacara ngaben rupa-rupanya mulai merambah ke lain daerah, termasuk pemeluk Hindu di Jawa. Adalah warga Hindu di Desa Purwoasri, Kecamatan Tegaldlimo, Kabupaten Kecamatan Banyuwangi, Propinsi Jawa Timur, yang mulai mengadopsi upacara ngaben ala warga Hindu di Bali. Upacara yang baru pertama kali digelar tersebut berlangsung pada Jumat, 18 Juli lalu, yakni menyucikan Mangku Sugimin (50), pamangku Pura Jati Tali Wangi, yang meninggal pada awal Juli.
Karena baru pertama kali, penganut Hindu yang hadir saat prosesi benar-benar membludak. Mereka mengikuti kegiatan langka ini penuh khusyuk dari awal hingga akhir.
Tiada beda dengan kerabatnya di Bali, ngaben di Banyuwangi juga diawali mengiring layon ke setra. Demi keamanan dan kenyamanan, upacara ngaben dilaksanakan dengan meminjam setra milik komunitas Hindu Bali di Desa Amertasari, Rogojampi, Banyuwangi. Ribuan warga yang mengikuti upacara begitu bersemangat mengusung layon Mangku Sugimin yang berjarak sekitar 60 kilometer dari Tegaldlimo.
Tiba di setra, jenazah langsung disucikan. Upacara kemudian di puput Ida Bhagawan Agni Sila Dharma Bhiru Daksa dari Gria Dalem Tamansasri, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan. Penyucian jenazah berlangsung khusyuk. Umat yang sejak pagi sudah menunggu mengiringinya dengan tertib.
Menjelang sore hari, jenazah dimasukkan ke kotak perabuan. Lalu dibakar. Satu prosesi yang paling menarik perhatian dan tak hanya disaksikan warga Hindu. Sejumlah warga lain ikut berdesakan menyaksikan ritual ini.
Warga masih tetap bertahan hingga pembakaran selesai. Mereka khusyuk memperhatikan tiap tahapan ritual ngaben, mulai menata abu jenazah hingga menyucikannya sebelum di larung ke laut.
Tokoh Hindu Tegaldlimo, Sujarwo menegaskan, ngaben pertama bagi penganut Hindu di wilayahnya sekaligus menjadi wahana pembelajaran. Mereka berencana akan selalu menggelar ngaben pada setiap keluarga yang meninggal. “Ini semuanya murni swadaya dan keinginan umat. Kami ingin tradisi ngaben untuk penyucian leluhur bisa dipraktikan di Jawa. Kedatangan umat juga spontan. Tanpa undangan, mereka sudah berkumpul dan menyepakati prosesi ngaben, “ujar Sujarwo.
Ritual ngaben yang berlangsung hingga senja itu diakhiri dengan melarung abu ke laut. Warga yang turut serta berebut menenggelamkan abu hingga tengah laut.
Mertha Segara Jadi Duta Badung
Kelompok Pemindang Ikan Mertha Segara Banjar Pande Desa Abiansemal Kecamatan Abiansemal, mendapat kesempatan sebagai duta Kabupaten Badung dalam lomba UKM (Usaha Kecil dan Menengah) Pengolahan Tingkat Propinsi Bali.
Kelompok yang dikomandani Ni Made Samudri dengan anggota 53 orang, dinilai (diverifikasi) Tim Penilai Tingkat I Bali pertengahan Juli lalu.
Dalam paparan Ketua Tim Penilai Propinsi Bali Ir. I Made Sukaya, lomba ini baru yang pertama kali dilaksanakan di Bali bahkan di Indonesia, bertujuan melakukan seleksi UKM, pengolahan yang berprestasi dengan memberikan penghargaan (award) atas usahanya yang telah menerapkan prinsip-prinsip sanitasi dan hygiene dalam proses pengolahan, memotivasi UKM pengolahan hasil perikanan agar lebih berprestasi dalam meningkatkan produktivitas usaha dan pengembangan produk bernilai tambah, serta meningkatkan kesadaran akan jaminan keamanan dan mutu produk hasil olahan sepanjang mata rantai pengolahan dan pemasaran
Sesuai petunjuk Teknis lomba UKM pengolahan, menggunakan beberapa kriteria.
Aspek-aspek yang dinilai meliputi Aspek Teknis 80 persen serta aspek Bisnis dan Kelembagaan 20 persen lebih lanjut Sukaya menambahkan bahwa tujuan lomba ini.
Kelompok pemindang yang dirintis sejak tahun 1996 memang tergolong unik. Jika kelompok sejenis banyak bertebaran di daerah pantai. Seperti disampaikan Kadis Perikanan dan Kelautan Kabupaten Badung, Putu Oka Swadiana, kelompok yang beromzet ratusan juta ini justru berkembang di daerah pegunungan, jauh dari laut dan hasilnya khas. Ikan hasil pemindangan dari kelompok yang dalam proses pemindangannya memerlukan ikan dan menghasilkan pindang sekitar 2 sampai 3 ton perhari, ternyata tak terasa asin layaknya produksi pindang di tempat lain.
Selain proses pemindangan, kelompok ini juga menerapkan sistem diversifikasi. “Kami juga mengembangkan budidaya lele yang dipelihara pada kolam yang dialiri limbah pindang,” jelas Ni Made Samudri.
Alternatif Perkawinan di Bali
Dalam upaya menggapai kehidupan berbahagia dan penuh kebajikan, proses pembentukan keluarga baru sangat penting dipikirkan. Terlebih dalam masyarakat yang menganut sistem kekeluargaan patrilinial seperti di Bali, anak laki-laki dipandang sebagai penerus keturunan.
Sayang, tidak semua pasangan suami istri dikarunia anak laki-laki, sehingga keluarga ini memilih untuk mengangkat sentana rajeg dan menjadikan anak perempuan sebagai purusa. Cuma, dalam beberapa kasus, pihak mempelai laki-laki tidak bersedia statusnya diubah menjadi pradana, maka muncullah bentuk perkawinan pada beberapa daerah di Bali dikenal dengan perkawinan negen dadua mapanak bareng atau perkawinan yang mana dua orang berstatus purusa.
Dalam cermatan ahli Weda, I Made Titib pada seminar yang mengangkat topik “Lembaga Perkawinan Negen Dadua Mapanak Bareng” yang dilaksanakan Universitas Tabanan (Untab), akhir Juli lalu, ternyata jenis perkawinan ini ternyata dibenarkan dalam Weda. dalam kemarin, menegaskan. Selain itu akan menyelamatkan keturunan bagi mereka yang tidak memiliki anak laki-laki, manakala mempelai pria juga tidak berkenan untuk nyentana. Meski demikian, Guru Besar IHDN Denpasar ini melihat anak perempuan bukan berarti tidak dihargai. Malah Weda sangat menjungjung tinggi keberadaan wanita dan setiap pria harus menghormati wanita baik ibunya, saudara maupun istrinya.
Model perkawinan seperti ini memang belum lumrah berlaku di Bali, tapi menurut pemerhati hukum adat yang juga menjadi pembicara dalam seminar ini, Wayan P Windia, bukan berarti tidak boleh dilakukan. Ini menjadi pilihan bagi kedua keluarga yang harus berstatus purusa.
Peluang dipermasalahkan hanya karena belum dikenal luas masyarakat, sehingga dirasakan aneh dan menyimpang. Perkawinan gelahang bareng masih relatif baru dalam masyarakat Bali. Meski demikian, model perkawinan ini sebagai pilihan masa depan bagi keluarga Hindu, terutama yang ada di Bali sebagai akibat dari ada satu keluarga yang memiliki anak perempuan saja dan pihak laki-laki tetap menginginkan agar berstatus purusa karena terikat dengan tanggung jawabnya. Selain itu, juga menghindari status ceput atau putung tanpa keturunan.
Berintegrasi atau Konflik
Menyama braya adalah satu terminologi yang sering didengung-dengungkan di Bali. Konsep dan implementasi menyama braya itu tetap menjadi satu pembahasan yang cukup menarik, di tengah pluralisme saat ini. Itulah yang menjadi topik seminar di Fakultas Sastra Unud pada Sabtu, awal Juli lalu, ‘’Konsep Menyama Braya Antaragama/Etnik’’. Yahya Anshori dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bali, yang membawakan makalah ‘’Dinamika Kehidupan Antarumat Beragama di Bali: Konflik dan Integrasi’’ memaparkan pendekatan konflik integrasi umat beragama dari perspektif budaya, ideologi-kebangsaan dan perspektif transendental. Menurutnya potensi konflik itu ada dalam setiap pribadi. ‘’Perang sudah terjadi sejak proses lahirnya manusia, maaf, mulai dari pertemuan sperma dengan sel telur sampai ada sel yang menang dan terus tumbuh. Karena itu manusia punya potensi agresif,’’ sebutnya.
Konflik yang ada juga dapat terjadi di internumat beragama dan antarumat beragama. Namun agama belum menjadi dasar utama konflik, hanya dipakai alat atau asesoris saja. Konflik sosial terjadi karena beberapa penyebab, diantaranya perbedaan individu yang meliputi perbedaan pendirian dan perasaan, perbedaan latar belakang kebudayaan sehingga membentuk pribadi-pribadi yang berbeda, perbedaan kepentingan antara individu atau kelompok dan perubahan-perubahan nilai yang cepat dan mendadak dalam masyarakat. Agar konflik tidak meluas sekaligus menjaga hubungan menyama braya, Yahya Ansori mengingatkan ada potensi integrasi yang patut ditegakkan, seperti kesadaran kultural yang meliputi seni budaya, budaya “guyub, ukhuwah, manyama braya’’ dan menjunjung tinggi pluralisme budaya, kesadaran berbangsa dan kesadaran transendental misalnya bahwa semua ajaran agama pada hakikatnya sama.
Pendapat Ansori diamini Ida Ayu Tary Puspa, dosen Institut Hindu Dharma Negeri, Denpasar, yang memaparkan tentang hidup damai berdampingan dalam pandangan Hindu dan menekankan bahwa ajaran Hindu banyak memuat tentang menyama braya dan mengasihi sesama manusia. Misalnya nampak pada ajaran Ardhanareswari yang mengindikasikan saling melengkapi antara peran perempuan dan laki-laki, ajaran Catur Paramitha dan lainnya.
Tri Dasawarsa Wihara Samsag Dharsana
Suasana ceria menyelimuti areal Wihara Samyag Dharsana di Desa Petandakan Kecamatan Buleleng, paruh akhir Minggu ketiga Juli lalu. Kala itu ratusan penganut Buddha se-Bali dengan wajah cerah merayakan peringatan Tri Dasawarsa (30 tahun) Wihara Samyag Dharsana sekaligus perayaan Hari Asadha Puja 2552 tahun 2008.
Dalam penjelasan Ketua Panitia Penyelenggara, Nyoman Santika, beberapa hari sebelum pucak peringatan 30 Tahun Wihara Samyag Dharsana, juga digelar beragam kegiatan seperti menyalurkan bantuan sembako kepada janda dan duda lanjut usia, kerja bakti, serta pada 14 Agustus mendatang mengadakan donor darah sekaligus pelayanan kesehatan gratis untuk 300 warga di Desa Petandakan dan sekitarnya.
Sesuai penuturan Ketua Wihara Samyag Dharsana Ketut Suela, Wihara yang menjadi pusat kegiatan umat Buddha di Desa Petandakan dan sekitarnya ini, dibangun sejak tahun 1975 dan diresmikan 20 Juli 1978. Selama 34 tahun warga Budhis di Desa Petandakan dan sekitarnya terus melakukan perbaikan hingga keberadaannya seperti sekarang.
Ngenteg Linggih di Pengubengan
Pertengahan Juli lalu, di Pura Pengubengan, Besakih digelar upacara Ngenteg Linggih. Upacara dipuput lima sulinggih, masing-masing untuk upacara Ngeteg Linggih di-puput Ida Padanda Gde Putra Tembau dari Gria Aan, Klungkung dan Ida Padanda Gede Ngurah dari Griya Cucukan, Klungkung, upacara di paselang di puput Ida Padanda Gede Dwija Nugraha Gria Budakeling, Karangasem, Ida Padanda Gde Pasuruan Geria Kawan Sibetan, Karangasem, serta upacara pedanan di puput Ida Padanda Gede Tianyar Gria Budakeling, Karangasem.
Pura Pengubengan merupakan pura yang diempon Pemerintah Kota Denpasar. Pura yang kini semua palinggihnya menggunakan bahan batu padas, telah mengalami beberapa kali pemugaran, yang terakhir dilakukan pada tahun 1992. Pemugaran dilakukan sehubungan dengan usia bangunan yang sudah lama dan kerusakan akibat kebakaran hutan dan terkait dengan pelaksanaan Karya Agung Tri Bhuawana 1993.
Setelah 14 tahun berjalan, palinggih di utama mandala yang menggunakan batu paras banyak mengalami kerusakan. Lapuk akibat lokasi yang lembab. Mulai Januari hingga Juni 2008 dilakukan pemugaran.
Bangunan fisik yang dipugar hingga menelan dana Rp 2,1 milyar — dana bersumber dari APBD Kota Denpasar — itu ada sembilan bangunan meliputi Meru Tumpang 11, dua buah Bale Pelik, Padmasana, Piyasan, Bale Kulkul, Bale Pasandekan, Bale Gong, Bale Gegitaan Panggungan, Apit Lawang dan Tembok Penyengker. Pura Pengubengan, jelas Ketua Panitia Pemugaranl Made Adi Suarsajaya, awalnya hanya seluas 80 are kini setelah dipugar hingga luasnya mencapai 1,5 ha, sehingga dapat menampung warga yang ingin pamedek tangkil. WS, LS |