No. 95/ Tahun IX Maret 2008

PARUMAN
| hal 1 | hal 2 | hal 3 | hal 4

Hura-hura dalam Sunyi

Sudah bukan menjadi rahasia: Nyepi di Bali selalu diwarnai aktivitas konsumsi tinggi dan kekerasan. Agamawan dan politisi berkolaborasi menuding masyarakat yang ‘salah'. Tapi bukankah masyarakat semata pelaksana tradisi

Maksud pemerintah baik saat menetapkan hari Nyepi sebagai hari libur Nasional, yaitu bersikap adil. Komunitas Hindu yang terwakili dalam organisasi Parisada pun terharu, saling berpelukan. Pertanda perjuangan untuk mencapai kesetaran agama Hindu di hadapan agama Abramahik lainnya tercapai. Untuk urusan administrasi berupa kucuran dana dari negara bagi pembinaan pemeluk Hindu (berupa pembangunan infrastruktur) pun semakin lancar. Dengan demikian, makna spiritual Nyepi yang rajin dikampanyekan dalam setiap dharma wacana berupa keheningan dan intropseksi diri sudah selayaknya menjadi semakin merasuk pada setiap insan Hindu.
Tapi ini hanya di atas kertas. Di Bali, misalnya, hari raya Nyepi diwarnai dengan hiruk-pikuk. Mulai dari adu argumen kelas sosial mana yang berhak menentukan tanggal pasti Nyepi (bulan Maret atau bulan April)—maklum, siapa yang menguasai waktu ia pula yang menguasai gumi —hingga jeritan kekerasan, tingkat konsumsi tinggi, dan berbondong-bondongnya kelas menengah Bali ‘mengungsi' ke Hotel justru pada saat Nyepi.
Hari raya Nyepi lalu berubah kelamin menjadi keramaian-berdarah—semacam festival.
Kalau sudah begini bagaimana makna Nyepi yang sarat dengan petuah keheningan dan introspeksi-diri secara personal di Bali?
“Bagi saya, Nyepi adalah saat yang tepat untuk tidur seharian” kata Nyoman Lindung, warga Banjar Poh Gading, Kelurahan Ubung Kaja, Denpasar. Kurang lebih begitu makna hening bagi Lindung.
Lindung bisa jadi adalah wakil orang Bali perkotaan yang memiliki interpretasi atau mengartikan berbeda dengan kaum agamawan yang getol menganjurkan insan Hindu untuk puasa, dipenuhi aktivitas meditatif. Bagi Lindung, Nyepi adalah sebuah festival dan keheningan sekaligus atau dengan lain perkataan: Nyepi adalah dewasa ayu (hari baik) baik secara sosial untuk melakukan aktivitas pelepasan diri (katarsis) dari belenggu beban sosial sehari-hari.
Ini bisa saja terjadi karena Lindung adalah seorang guru pada sebuah Sekolah Menengah Pertama (SMP) swasta di Denpasar. Di kota yang sama, ia juga menjabat sebagai kepala sekolah Sekolah Dasar (SD) dan dosen pada sebuah perguruan tinggi swasta. Praktis, dalam sehari setidaknya ia harus pergi pagi pulang petang. Ini belum termasuk urusan domestik khas tradisi Bali lainnya, seperti bersih-bersih rumah, yang disebut rusak. Lindung berasal dari Banjar Wanasari, Kecamatan Petang, Kabupaten Badung.
Walau menjalani hidup di perkotaan dengan lintang pukang semacam ini, toh ayah dua putra ini masih bisa bersyukur, mengingat masa lalunya yang sempat menjadi tukang ojek di kawasan Tembau, Denpasar, sehingga ia memiliki wawasan dunia preman di Denpasar. Kini, Lindung merasa yang harus dilakukan adalah mengisi hidup saja. “Saya menaruh harapan besar pada anak saya,” katanya. Anak Lindung kini kuliah di Fakultas Sastra Jurusan Antropologi Universitas Udayana, Denpasar.
Kembali ke soal Nyepi, kakek dua cucu ini tak mau berpusing-pusing soal keheningan Nyepi yang sering dikotbahkan di media. Apa pun bentuknya itu. Urusan meditasi sudah dilakukannya hampir setiap hari. Ia bermeditasi pada ruangan khusus berukuran 2x3 meter, dilengkapi foto diri Sai Baba dan patung Ganesha. Untuk urusan ngejot (menghaturkan sesajen ) pun rajin dilakukan pada sanggah yang dibangun di depan rumahnya. Urusan niskala sudah dilakukan sebagaimana mestinya. Beres.
Apa yang sudah dilakukan masyarakat diikutinya. Rumahnya di Banjar Poh Gading kini mulai ramai dijadikan tempat pembuatan ogoh-ogoh . Ia pun ikut terlibat dalam sorak sorai pangrupukan . Pada hari berikutnya ia harus dalam keheningan Nyepi versinya sendiri: “Tidur”, kata pria yang tidak mau disebutkan nama aslinya ini.
Sekitar satu kilo meter di arah barat rumah Nyoman Lindung. Saat Lindung tertidur pulas, malam usai pangrupukan , terjadi pelemparan batu di sekitar jalan Kebo Iwa, Denpasar. Pelemparan dilakukan sekelompok massa. Malam yang semestinya dilalui dengan hening pun pecah. Berubah menjadi jeritan kekerasan. Polisi belum berhasil mengidentifikasi massa, tetapi terjadi kesepakatan damai antarpihak yang bertikai. Analisa kerumunan menyebutkan telah terjadi persaingan antarelit masyarakat untuk naik pada status sosial yang lebih tinggi.
Kurang lebih begitu Nyepi di Bali: satu pihak menganggap Nyepi sebagai kesempatan menghilangkan penat. Di lain pihak menganggap sebagai hari baik untuk melampiaskan angkara atau pun hura-hura.
Nyepi memang baik untuk semua pihak, setidaknya dari sisi lingkungan, Nyepi sempat dilirik masyarakat internasional untuk dijadikan model pengurangan dampak rumah kaca. Dari sisi kemasyarakatan Nyepi boleh jadi bisa digunakan untuk penyalur dan peredam agresi kolektif.
“Dalam perspektif manajemen konflik, Nyepi memang sarana ampuh untuk memberi ruang pada masyarakat untuk menyalurkan agresivitasnya,” ujar Sosiolog Agama Universitas Hindu Indonesia (Unhi), Denpasar, Wayan Budi Utama. “Inilah yang disebut festival. Sebuah perayaan,” ujarnya melanjutkan. Dalam sebuah festival tidak ada yang namanya pemain dan penonton. Semuanya menjadi satu, sehingga sekat-sekat tingkatan sosial yang berlaku dalam kehidupan sehari-hari seakan-akan luruh.
Siapa pun boleh mengusung ogoh-ogoh atau cuma menjadi penonton. Bahkan menjadi penggembira dengan membuat ledakan meriam bambu. Semuanya melebur. Hanya saja, Budi menambahkan, ritual masyarakat perkotaan ini tidak senantiasa berjalan mulus karena berbagai kepentingan. “Pengaruh semitisasi begitu kuat dalam hari Raya Nyepi di Bali,” imbuh mahasiswa S 3 Kajian Budaya Universitas Udayana, Denpasar ini.
Apa yang dimaksud semitisasi adalah penyesuaian ritual keagamaan tradisional dengan persyaratan agama yang digariskan oleh negara, seperti yang namanya agama harus memiliki satu Tuhan, satu nabi, kitab suci dn sebagainya.
“Kita tahu bahwa agama Semit merayakan pergantian tahun selalu ditandai dengan perayaan. Lalu orang Bali pun punya keinginan yang sama agar pergantian tahunnya dilakukan dengan hura-hura” imbuhnya dengan mimik serius.
Masalah baru muncul saat beberapa elite tradisional Bali menggunakan kesempatan Nyepi untuk melampiaskan persoalan pribadi sehari-hari bahkan persoalan persaingan untuk naik pada status sosial yang lebih tinggi. “Bukan hanya kekerasan yang selalu mewarnai Nyepi setiap tahun, tetapi juga tingkat konsumsi tinggi yang ditandai ramainya orang Bali ke supermarket dan persewaan VCD dan DVD,” rincinya. Bahkan, muncul gejala orang Bali ke hotel (baca: menginap) justru pada saat Nyepi tiba. Inilah resiko dari semitisasi agama Hindu. Orang ingin berhura-hura terus menerus.
“Orang Bali lupa kalau dalam setiap perayaan agama di Bali selalu diimbangi dengan keheningan,” ujar pembuat kalender Bali, Made Suatjana. Istilah bahasa Bali untuk merujuk pada pengertian itu adalah ramya-sunya (keramaian dan keheningan). Jadi, dalam ritual keagamaan tradisional di Bali tradisi ramya-sunya selalu diberlakukan. Seperti terdapat pada istilah nguncal balung , yang merujuk pada ‘larangan' pelaksanaan upaca ngaben dan pawihanan selama periode waktu tertentu setelah Galungan. “Pada saat Galungan orang melakukan ramya (festival) dan sesudahnya orang melaksanakan tradisi sunya (keheningan),” ujar ahli komputer ini.
Demikian pula dengan Nyepi, setelah pangrupukan masyarakat mustinya memasuki masa keheningan. Dalam pantauan Suatjana terhadap lingkungan sekelilingnya, keheningan saat Nyepi bukanlah dimaknai dengan mabrata (berpuasa) atau tindakan-tindakan meditatif lainnya, tetapi lebih merupakan suasana sepi dari hiruk pikuk suara teknologi seperti tivi, sepeda motor, mobil, dan sebagainya. Termasuk maceki dan—seperti apa yang dilakukan Lindung—tidur.
“Orang bebas berjalan ke sana ke mari sambil sekadar bertegur sapa. Bedanya dengan hari biasa ya tidak ada suara motor berseliweran,” tegas pembuat font huruf Bali ke komputer itu. Bali menjadi republik surga kalau setiap orang melaksanakan Nyepi dengan anjuran-anjuran agamawan itu.
Persoalan tingkat konsumsi tinggi dan maraknya jeritan kekerasan saat Nyepi tidak terletak bagaimana secara trasional religi Bali mengatur manajemen agresi, tetapi Nyepi di Bali kini semakin terkepung oleh—pinjam istilah Budi Utama—kapitalisme.
“Kapitalisme membawa nilai-nilai baru yang mau tak mau mempengaruhi orientasi orang Bali, termasuk standar-standar moral,” tunjuknya. Lalu para agamawan dan politisi pun berkolaborasi, menunjuk masyarakat dan tradisi Bali yang perlu ‘diluruskan'.
Kapitalisme pula yang menjadikan anak-anak Bali era sekarang lebih akrab dengan permainan individual seperti play station yang sebagian besar bernuansa kekerasan, misalnya, bukan permainan tradisional kolektif yang dianggap mampu menyalurkan agresi sekaligus mengendalikan. Permainan individual inilah yang menanamkan anak untuk selalu jadi pemenang dengan cara meniadakan teman sepermainan. Tak heran tingkat agresivitas orang Bali semakin tinggi dibarengi kelemahan dalam pengelolaannya. Maka, Nyepi di Bali akan senantiasa diwarnai kekerasan.
Karenanya, sudah waktunya bagi kalangan kelas menengah Bali untuk memikirkan (dan sebisa mungkin menjalankan) agar tradisi ramya-sunya dalam setiap ritual keagamaan dihidupkan kembali, ditempatkan secara proposional dengan menggunakan medium-medium kapitalis, seperti media televisi, misalnya.
Bila dibandingkan dengan media tulis (yang biasanya dikonsumsi kelas menengah terdidik), televisi memiliki kelebihan, yaitu bisa dijangkau oleh segala lapisan masyarakat —tanpa harus tahu baca-tulis. Tentu, pencerahan dalam Nyepi, lewat televisi, tidak bisa dicapai dengan metode monolog seperti yang terjadi selama ini, tetapi dialog—menyertakan penonton sebagai pemain, seperti festival.
Di Inggris, misalnya, terdapat acara agama dalam televisi berupa talk show (bincang-bincang) yang menghadirkan agamawan terhormat disandingkan dengan seorang selebritis yang kehidupan moralnya dianggap kacau balau. Dengan model begini partisipasi masyarakat melalui telepon justru semakin tinggi. Tidak ada pemain tidak ada penonton, tetapi kwalitas pemahaman masyarakat terhadap agama semakin tinggi—sebuah festival yang berujung pada kontemplasi atau keheningan.
Memang budaya kapitalisme tengah menjebak masyarakat Bali kini. Namun tak perlu gusar, hendaknya suluruh hiruk-pikuk hidup didorong menuju keheningan. Dikondisikan dari hingar-bingar menuju hening, dari ramya menuju sunya . Tidakkah orang Bali perlu berpikir ulang tentang aktivitas Nyepi selama ini— jujur mengkritisi dan introspeksi diri.
Jayakumara