No. 95/ Tahun IX Maret 2008

PARUMAN
| hal 1 | hal 2 | hal 3 | hal 4

Pulang ke Rumah Hening

Batin yang suci bersih itu tak saja “milik” seorang adipandita -- alih-alih milik seorang yogin atau pertapa. Siapa saja yang belajar “menelanjangi diri,” mendermakan seluruh hidup demi “sang mahahidup,” kesucian dan keheningan pasti memeluknya

Apa gerangan warisan paling mulia orang Bali dalam memaknai kehadirannya di planet bumi ini ? Dan apa pula warisan paling dalam dari jejak peradaban spiritual manusia Bali itu? Dua pertanyaan ini tentu bisa dijawab dengan sejumlah argumen. Namun hendaknya tak dilupakan, dua arus pertanyaan ini bisa diarahkan karena orang Bali memiliki retret perjalanan ke dalam diri disebut: Nyepi. Orang boleh tidak setuju dengan jawaban ini, tapi cobalah berpikir jernih, bukankah keheningan itu pemantik kreatifitas mengagumkan -- di mana manusia bisa melahirkan sesuatu yang besar, agung tak terbantahkan zaman. Bukankah keheningan itu mengantarkan seseorang bertemu sang diri jati sejati, sang mahaurip yang menghidupi segala.
Para mpu, yogin, pendeta besar, pengarang produktif sekaliber Ida Pedanda Made Sidemen, boleh jadi dituntun keheningan intuitif tersebut, sehingga sang pengarang menjadikan keheningan sebagai pemantik kreatif paling sublim. Cokot, pematung kreatif yang eksentrik atau I Gusti Nyoman Lempad, pelukis dengan garis tangan yang original dipastikan mendarat di dataran yang sama, yakni: dataran yang bernama samudra keheningan. Para penyair, novelis, pelukis, pematung, filosuf, ilmuwan, fisikawan kelas dunia dipastikan diletupkan energi halus bernama keheningan. Boleh jadi, Gabriel Garcia Marquez, peraih nobel kesusastraan kelahiran Aracataca, Kolombia, pengarang novel One Hundred Year of Solitude [Seratus Tahun Kesunyian], dipicu energi kesunyian mahahebat. Dipastikan Empu Kamalanatha, penulis kakawin Dharma Sunya, merasakan langsung betapa indahnya kesunyian mahapenuh, sehingga sang Empu senantiasa rindu menyatu dengan kesunyian maharahasia itu.
Jika Bali kemudian kerap dipuji memiliki kedalaman estetik, melahirkan seniman-seniman kreatif, tentu karena orang Bali mempunyai cara ampuh meng-nol-kan diri, yakni: lewat ziarah bernama Nyepi. Bagi pejalan sunyi sekaliber Ida Pedanda Made Sidemen, retret dari nol menuju nol, menangkap kosong dengan kosong boleh jadi bukan isapan jempol semata, alih-alih sekadar guyonan filosofis. Dipastikan keheningan akan menghampiri semua orang jika sang diri sadar pada jati dirinya. “ Yan matutur ikang atma ring jatinia ,” demikian tulis kitab Wrahaspatitatwa. Masalahnya hening tak cukup diraih dalam hitungan jam atau hari. Hening di dalam diri terang merupakan retret panjang yang senantisa terus dicari dan dicari. Di titik ini kemudian orang Bali mendaraskan Nyepi sebagai retret memahami jalan berpulang. Segala kesibukan fisik, lalu-lalang pikiran, lonjakan-lonjakan indria, tekanan-tekanan dan carut-marut hidup “dikosongkan” demi meraih keheningan. Tentu jalan paling memungkinkan menghayati kesunyian adalah menerima diri apa adanya, berserah dengan melepas keinginan berlebih, hidup menuruti keperluan. Karena jika orang hidup semata menuruti keinginan, betapa susah akhirnya keheningan diraih, sungguh tak gampang Nol mahapenuh bisa digapai.
Teks-teks susastra Bali begitu berlimpah mendaraskan, bahwa keheningan merupakan puncak di mana jerat-jerat keinginan bisa dikendalikan secara berlapis, bertahap – ibarat mengelupas kulit bawang. Nyepi pun kemudian menjadi lakon hidup paling berharga, paling dramatik bagaimana sepatutnya orang belajar melepas. Sebab tanpa melepas segalanya pasti senantiasa mengikat, menjerat hingga orang selalu tergantung padanya. Seperti pemabuk tergantung alkohol, bak morfinis mengalami sakaw , kecanduan. Bagi pemburu keheningan, yang terpenting dalam hidup bukanlah semangat memiliki. Namun semangat untuk senantiasa menjadi merupakan proses di mana seseorang makin dekat pada pencerahan, begitulah teks-teks suci menuliskan.
Tentu bertolak belakang orang menyongsong Nyepi dengan cara memanjakan keinginan, berpesta pora menuruti panggilan selera lindah, menghibur diri memanjakan indria-indria, bekerja tanpa membiarkan tubuh dan pikiran beristirahat, alih-alih menuruti kehendak kelamin. Bukankah tubuh ini juga sebuah “mesin,” di mana saban hari mesti diistirahatkan demi kestabilan tubuh dan pikiran sendiri. Konon hanya ini cara membiarkan indria-indiria mengaso , dengan demikian indria tidak dibiaran liar bak singa lapar atau bak kuda tanpa kendali. Ini tentu petuah yang indah dan mudah diomongkan, namun betapa susah menjalani tanpa ketetapan hati. Maka itu teks-teks susastra Hindu mewanti dengan arif, hendaknya orang senantiasa teguh dalam sikap, sudira angambeki yoga.
Tapi orang bijak sekelas Sidharta Gautama mengikhtiarkan, “Pikiran yang terkendali adalah pangkal kebahagiaan, sekaligus pangkal keheningan.” Karena mereka yang telah dimatangkan hatinnya, pikiran merupakan akar dari semua pengalaman. Jika orang memandang dunia dengan cara yang tidak jernih, kebingungan dan derita pasti menghampiri. Para tetua Bali pun menelentangkan hal yang sama, bahwa pikiran itu mengantarkan orang pada dua pilihan, yakni: sorga dan neraka. Sedari awal, Mpu Kanwa, penulis kakawin Arjunawiwaha menyatakan, hati ini ibarat air dalam tempayan, jika air di tempayan jernih, bayangan bulan dan segala yang terlihat akan tampak jernih dan bersih. Sebaliknya, jika air di temapayan kotor (puek) dipastikan segala yang terlihat juga kotor.
Jika manusia, “raja” alam ini kuasa meng-nol-kan diri, tak mustahil alam pun mendapat keriangan, kebebasan, keheningan. Tumbuh-tumbuhan, binatang, dan seluruh isi alam ini tak terusik, ia tumbuh seturut kodrat alamnya. Di titik ini Nyepi lalu menjadi puncak drama kesunyian mahakolosal – karena tidak saja tubuh, alam ini pun sejatinya sebuah mesin – di mana ia perlu diistirahatkan dari aktifitas nafsu naluriah manusia – alih-alih hendak memperkosa, mengeksploitasi semata menuruti kemaruk nafsu serakah. Meminjam seloroh Fred Wibowo, pengamat media televisi Indonesia, “Apabila pohon terakhir sudah dibabat, burung terakhir sudah ditembak, ikan terakhir sudah dipancing, dan sungai terakhir sudah menjadi kering, manusia toh tidak bisa makan uang.” Demikianlah keserakahan itu, akibatnya cuma kehancuran.
Inilah sejatinya harapan dari tawur atau caru bhumi sudha yang diselenggarakan sehari menjelang Nyepi. Cita-cita idealnya jelas, supaya alam ini, bumi ini senantiasa menyangga hidup. Dan rasa syukur pada sang penyangga hidup itulah diarahkan lewat jalan menyepikan kemelekatan dunia. Konon ego akan runtuh manakala orang tersadar, bangkit menyadari hakikatnya yang sejati, karena betapa sang mahahening hanya dapat diraih dengan jalan mengheningkan sang diri sejati – mengurangi kemelekatan, membuang kedengkian, dan rasa iri, mengasihi semua, memupuk kepedulian sosial sebagai bentuk tanggung jawab, bahwa dunia ini, alam dan segala isinya mesti dirawat bersama: itulah hakikat tawur.
Bila boleh dimaknai lebih luas, tawur bhumi sudha bisa saja dimaknai sebagai panggilan untuk “melenyapkan” derita dunia. Kesengsaraan, kemiskinan, keterbelakangan, kebodohan, dan penyakit sosial lainya adalah medan atau tempat di mana orang bisa menghaturkan derma sepenuh hati. Di sini orang diajarkan untuk melepaskan kepemilikan demi membantu meningkatkan harkat hidup antarsesama. Inilah guna dari segala hak milik, kekayaan, kepintaran, kekuatan, dan kebijaksanaan mesti diaraskan untuk melenyapkan derita dunia. Di medan ini, di “tegal Kuruksetra” bernama “derita dunia” orang disempurnakan oleh derma sendiri. Dan para penderma niscaya menemukan kesucian dan keheningan mahapenuh. Dan kerja pun menjadi jalan bakti memuja Tuhan.
Tawur apapun wujudnya dalam bentuk bhutayajna terang tak cuma dimaksud hendak mengharmoniskan unsur-unsur membentuk alam ini, semisal mengharmoniskan unsur tanah (pertiwi), unsur air (apaha), unsur api (teja), unsur angin (bayu), dan akasa (unsur eter). Tapi menghapuskan segala kesengsaraan dunia, menolong kaum miskin, menghapus kebodohan, menuntaskan derita orang serta kepedulian sosial lainnya mesti dimaknai sebagai bentuk pengharmonisan unsur pancamahabhuta yang tidak seimbang itu. Sebab bumi dan tubuh ini adalah pancamahabhuta, karena itu mesti dijaga keharmonisannya. Bukankah S. Radhakrishnan, cendekiawan India terkemuka, penulis buku Indian Philosophy (1929), menyatakan bahwa, agama yang tidak menumbuhkan kepedulian sosial, agama yang tidak terpanggil menghapus kesengsaraan orang banyak akan ditinggalkan pemeluknya?
Di aras kepedulian sosial -- merengkuh keheningan lewat jalan derma, bisa menjadi lebih bermakna tinimbang orang bersuntuk-suntuk duduk bermeditasi tanpa peduli panggilan hidup nyata, faktual, penuh gelombang dan tantangan. Sebaliknya hidup cuek , hanya menuruti kehendak nafsu, semata menjadi budak perut, sungguh tak mengantarkan orang segera insaf, alih-alih memperoleh pencerahan. Percuma beratus-ratus momen Nyepi lewat begitu saja tanpa melahirkan manusia-manusia baru. Sia-sia seluruh hidup bila saban hari orang tidak pernah “naik kelas” ke tingkat kesadaran lebih tinggi. Dan hidup tak lebih dari sebongkah batu, tanpa punya potensi mengembang dalam adab kesadaran kian tinggi.
Inilah hakikat tawur atau bali -- hakikat puncaknya bermakna kembali? Lalu ke mana orang hendak kembali? Jawabnya pasti: ke rumah keheningan. Di dalam jagat kecil, tubuh atau badan inilah “rumah keheningan.” Untuk itu tubuh ini mesti dijaga kesucian dan kestabilannya dengan jalan mengendalikan nafsu. Teks-tekk suci pun menyebut tubuh ini sebagai brahma pura, rumah Tuhan. Karena di situ, mereka yang rumah keheningannya telah tersucikan, bersih atas kekotoran nafsu badaniah, sejatinya ia bagai tirta amerta, tutur katanya sanggup menenangkan pikiran setiap orang.
Adalah kakawin Darma Sunya, karya Empu Kamalanatha bertutur perihal kesadaran puncak itu. Begini sang Empu menulis, “Ambek sang kawi siddha suddha kadi sagara gumawanga teka nirmala, iccha nispriya sara ning kalengengan yatika pasamudaya ning rasa, tatwajnana wekas nikang paramasastra sira ta pinaka adipandita, saksat lingga nikang sarat pinaka dipa yasa nira huwus praksita. “Batin pujangga yang suci hening tak ubahnya air samudra bersih tak ternoda. Batinnya tenang, bebas dari keinginan tak tergoyangkan, itulah kumpulan rasa, dinamai “tatwa jnana.” Ia bagaikan adipandita, benar-benar lingga-nya dunia, ibarat nyala yang ajaran tersebar luas, menerangi dunia.
Tentu saja batin yang suci bersih itu tak saja “milik” seorang Adi pandita -- alih-alih milik seorang yogin atau pertapa. Siapa saja yang belajar “menelanjangi diri,” mendermakan seluruh hidupnya demi “sang hidup,” entah ia seorang pandita, petani, buruh, atau seorang paria, kesucian dan keheningan pasti mendekat padanya. Keheningan mahasuci itu terang milik semua makhluk. Setiap yang kuasa meng-nol-kan diri, sadar akan jalan berpulang, kepenuhan, kelimpahan niscaya memeluknya. Pastikan “rumah keheningan” itu senantiasa di badan – tatkala langit di luar dan langit di badan menyatu dalam diri.
I Wayan Westa