BALE
BENGONG
| hal 1 |
hal 2 | hal 3 |
Mulat Sarira
Sutrisna Widjaya
Mulat
sarira atau introspeksi, mempunyai dampak positif yang
sangat efektif bila benar-benar dan dengan benar dilakukan.
Tetapi istilah ini seringkali mengalami bias dalam penerapannya.
Audiens pembelajaran Jati Diri yang kami ajak berbagi
setuju bahwa hanya kurang lebih lima persen saja dari
masyarakat yang benar-benar melakukan mulat sarira.
Sembilan puluh lima persen sisanya memanfaatkannya sebagai
bahan dalam memberi nasihat. Saya terkesan dengan iklan
televisi (TV) yang menggambarkan gadis kecil yang merajuk
kepada ayahnya, lantaran sifat buruk yang ada pada seorang
temannya. Suka usilkah, suka mengganggukah, suka menggosipkan
orang-orangkah, dan lain sebagainya. “Aku juga
suka digosipin ayah, sebel deh” demikian ujarnya
dengan muka kecut, lecek, cemberut. Ayahnya dengan penuh
pengertian tetap mendengarkan, dan sambil tersenyum
kecil dia lalu mengambil handphone yang ada kameranya.
Jeprettttttt. Dan jadilah foto gadis kecil yang kecut,
lecek, dan cemberut sebagaimana adanya. Wow, foto ini
ternyata mampu mengubah muka kusut menjadi senyum kecil
hampir seketika. Senyum seorang gadis kecil yang benar-benar
tulus dan polos. Barangkali ia sedang berbisik kepada
dirinya sendiri, “Iya ya, lucu. Ternyata aku yang
perlu berubah”. Kata kunci sekaligus penutup dalam
iklan tersebut adalah, “Saatnya melakukan introspeksi”.
Apakah kita perlu menjadi anak kecil seperti pada iklan
TV tersebut, tentu tidak. Tetapi kita perlu menghayati
kembali bahwa di dalam diri kita masih ada jiwa anak
kecil yang lugu dan polos, yang punya daya imajinasi
serta kemampuan belajar tinggi.
Apakah kita perlu punya ayah atau guru pembimbing yang
menyayangi kita dan memberi umpan balik dengan cara
yang sangat arif? Barangkali benar, tetapi bagaimana
kalau guru tersebut belum ada?
Mari kita coba membayangkan seorang kembaran dengan
rupa dan bentuk yang persis sama dengan diri kita, tapi
punya sifat dan sikap arif, searif yang mampu kita bayangkan.
Dia bertindak sebagai pengamat. Selalu hadir bersama
kita di manapun dan apapun yang sedang kita lakukan.
Ketika kita melakukan suatu kesalahan, dengan penuh
pengertian ia memaklumi dan memandang diri kita sebagai
manusia yang memang bisa melakukan kesalahan. Barangkali
ia hanya geleng-geleng kepala sembari tersenyum kecil,
sebagaimana umumnya orang arif yang tidak suka menyalahkan.
Ketika kita melakukan sesuatu yang baik dan benar, ia
juga tersenyum-senyum. Kali ini lebih sumringah sembari
mengangguk-angguk, sebagaimana umumnya orang arif memberi
motivasi dan penegasan.
Setelah mencoba simulasi ini dan merasakan adanya perubahan
positif, mari kita masuk ke tingkat yang sedikit lebih
rumit. Sekarang kembaran kita tidak melakukan tugasnya
(mengamati kita), dengan tangan kosong. Sekarang ia
bertindak sebagai camera-man, selalu membawa handycam,
dan merekam seluruh peran-peran yang kita jalankan dalam
menapaki jalan kehidupan. Sesekali ia mengajak kita
untuk memeriksa dan mendiskusikan hasil rekamannya.
Selamat mencoba, Hyang Widhi selalu memberi damai milikNya
kepada kita semua.
Dr Sutrisna Wijaya MPH, Ketua Lembaga Pengembangan Citra
Diri (LPCD), Denpasar
|