No. 94/ Tahun IX Pebruari 2008

BALE BENGONG
| hal 1 | hal 2 | hal 3 |

Mulat Sarira
Sutrisna Widjaya

Mulat sarira atau introspeksi, mempunyai dampak positif yang sangat efektif bila benar-benar dan dengan benar dilakukan. Tetapi istilah ini seringkali mengalami bias dalam penerapannya. Audiens pembelajaran Jati Diri yang kami ajak berbagi setuju bahwa hanya kurang lebih lima persen saja dari masyarakat yang benar-benar melakukan mulat sarira. Sembilan puluh lima persen sisanya memanfaatkannya sebagai bahan dalam memberi nasihat. Saya terkesan dengan iklan televisi (TV) yang menggambarkan gadis kecil yang merajuk kepada ayahnya, lantaran sifat buruk yang ada pada seorang temannya. Suka usilkah, suka mengganggukah, suka menggosipkan orang-orangkah, dan lain sebagainya. “Aku juga suka digosipin ayah, sebel deh” demikian ujarnya dengan muka kecut, lecek, cemberut. Ayahnya dengan penuh pengertian tetap mendengarkan, dan sambil tersenyum kecil dia lalu mengambil handphone yang ada kameranya. Jeprettttttt. Dan jadilah foto gadis kecil yang kecut, lecek, dan cemberut sebagaimana adanya. Wow, foto ini ternyata mampu mengubah muka kusut menjadi senyum kecil hampir seketika. Senyum seorang gadis kecil yang benar-benar tulus dan polos. Barangkali ia sedang berbisik kepada dirinya sendiri, “Iya ya, lucu. Ternyata aku yang perlu berubah”. Kata kunci sekaligus penutup dalam iklan tersebut adalah, “Saatnya melakukan introspeksi”.
Apakah kita perlu menjadi anak kecil seperti pada iklan TV tersebut, tentu tidak. Tetapi kita perlu menghayati kembali bahwa di dalam diri kita masih ada jiwa anak kecil yang lugu dan polos, yang punya daya imajinasi serta kemampuan belajar tinggi.
Apakah kita perlu punya ayah atau guru pembimbing yang menyayangi kita dan memberi umpan balik dengan cara yang sangat arif? Barangkali benar, tetapi bagaimana kalau guru tersebut belum ada?
Mari kita coba membayangkan seorang kembaran dengan rupa dan bentuk yang persis sama dengan diri kita, tapi punya sifat dan sikap arif, searif yang mampu kita bayangkan. Dia bertindak sebagai pengamat. Selalu hadir bersama kita di manapun dan apapun yang sedang kita lakukan. Ketika kita melakukan suatu kesalahan, dengan penuh pengertian ia memaklumi dan memandang diri kita sebagai manusia yang memang bisa melakukan kesalahan. Barangkali ia hanya geleng-geleng kepala sembari tersenyum kecil, sebagaimana umumnya orang arif yang tidak suka menyalahkan. Ketika kita melakukan sesuatu yang baik dan benar, ia juga tersenyum-senyum. Kali ini lebih sumringah sembari mengangguk-angguk, sebagaimana umumnya orang arif memberi motivasi dan penegasan.
Setelah mencoba simulasi ini dan merasakan adanya perubahan positif, mari kita masuk ke tingkat yang sedikit lebih rumit. Sekarang kembaran kita tidak melakukan tugasnya (mengamati kita), dengan tangan kosong. Sekarang ia bertindak sebagai camera-man, selalu membawa handycam, dan merekam seluruh peran-peran yang kita jalankan dalam menapaki jalan kehidupan. Sesekali ia mengajak kita untuk memeriksa dan mendiskusikan hasil rekamannya. Selamat mencoba, Hyang Widhi selalu memberi damai milikNya kepada kita semua.
Dr Sutrisna Wijaya MPH, Ketua Lembaga Pengembangan Citra Diri (LPCD), Denpasar