SAMETON
I Gusti Made Sutjaja
Jembatan Bali Baru Bernama Sutjaja
Semula ingin belajar ke India, I
Gusti Made Sutjaja malah kepincut dengan studi bahasa,
akhirnya. Sebagai linguis, dia telah melahirkan puluhan
buku paling langka : kamus bahasa Bali tribahasa sekaligus
dwiaksara.
Belum
genap setahun, tepatnya 8 Oktober 2005, ia dikukuhkan
sebagai guru besar bidang ilmu bahasa pada Fakultas
Sastra Universitas Udayana, Denpasar. Ini jabatan paling
bergengsi dalam dunia akademis. Namun bagi seorang pembelajar
bernama I Gusti Made Sutjaja, jabatan guru besar bukan
segalanya. Ilmuwan tidak dipandang semata dari gelar
kesarjaannya, lebih jauh justru dilihat dari tanggung
jawab akademisnya, serta sumbangan nyata bagi masa depan
ilmu itu sendiri.
Sejumlah sejawat menilai, ia tergolong sosok teramat
teguh memegang janji diri, lurus, dan sedikit tampak
kaku. Tak salah bila para mahasiswanya menjuluki ia
dosen paling killer. Karena sikapnya tak cenderung bengkok,
dalam hal jabatan, Sutjaja mesti rela “disalip”
para murid dan kolega. Banyak alasan kenapa bisa disalip
para murid? Jawabannya tentu tak enak ditulis di sini.
Bukan juga soal jenius atau bloon, pemikir kreatif atau
epigon, kredibel atau sekadar saja. Toh, peraih Ph.D
dari Universitas Sydney (1988) ini, menyandang jabatan
guru besar bukan perkara mudah atau asal jadi—kendati
kemudian banyak yang menggampangkan. Maka jadilah guru
besar itu hanya berat di titel, tidak menghasilkan sesuatu
dalam peran keintelektualan. Tak ubahnya pisang, hanya
berbuah sekali. I Gusti Made Sutjaja, linguis yang kini
tergoda memetakan kultur penutur bahasa Bali, bisa dibilang
sosok langka. Langka, karena pilihannya senantiasa melawan
arus, yakni menekuni bidang yang belum tentu menjamin
kemapanan ekonomi hidup. Walaupun kedudukan ilmu bahasa
sangat mendasar dalam pengembangan ilmu-ilmu kemanusiaan,
toh jadi linguis bukan dambaan banyak orang, alih-alih
buat genersi kini. Tapi Sutjaja, anak kedua I Gusti
Made Tamba, pendiri Perguruan Rakyat Saraswati ini,
tak harus merasa rendah diri. Kendati harus sendiri,
sudah pilihan hidup. Justru lewat bidang ini namanya
kian dikenal, kerap diudang sebagai profesor tamu di
sejumlah perguruan tinggi, baik di dalam maupun di luar
negeri. “Ya, ini anugerah dari kesendirian itu,”
papar Sutjaja, lirih.
Ditemui di rumah yang lengang, di bilangan Jalan Noja
Saraswati, Denpasar, sang profesor terlihat ceria. Mukanya
cerah. Ditemani sang istri setia, Ni Luh Ngurah Ariningsih,
Sutjaja tampak bahagia. Walaupun hingga kini, lebih
dari 35 tahun perkawinannya, Tuhan belum juga menganugerahkan
putra buatnya. Seekor anjing kate berbulu lebat bermanja-manja
di pangkuan. Terkesan sang tuan sangat menyayangi hewan
piaraannya. “Tiap minggu anjing dikeramas sampo
khusus. Pakannya ditambah hati ayam goreng dan susu.
Sementara saya sendiri, mulai mengurangi daging,”
sambut Sutjaja ramah.
Di ruang tengah, tempat ia biasa belajar dan bekerja,
Sutjaja intim dengan dunia virtual (maya). Lewat media
komputer, ia tengah masyuk mendengar Geguritan Trasmigrasi
ka Lunyuk, karya Jero Mangku Lunas dari Desa Lunyuk,
Sumbawa. Dari monitor terlihat jelas gurat-gurat wajah
Mangku Lunas, kumis dan janggut memutih, tanpa baju
melekat di badan. Ia melagukan bait demi bait setiap
pupuh dalam buku yang sudah lusuh. Geguritan Trasmigrasi
ka Lunyuk bertutur tentang rombongan transmigran dari
Nusa Penida menuju Desa Lunyuk, Sumbawa, tahun 1969.
Orang Bali teramat jarang mencatat perjalanan hidup,
namun Mangku Lunas, seorang dari rombongan itu, melakukan
sesuatu yang tak lazim itu: mencatat penuh kesadaran
semua kejadian di perjalanan hingga membuka lahan dan
bermukim di Desa Lunyuk. Lunas, si penembang kisah ini,
adalah rombongan paling berumur dalam keberangkatan
itu. “Kini usianya lebih dari 100 tahun, serta
tetap bugar pula,” papar Sutjaja sembari memperlihatkan
buku Pasalin Geguritan Trasmigrasi ka Lunyuk.
Sutjaja agaknya terpesona dengan sosok Mangku Lunas,
yang liat dan “angkuh” menantang zaman—datang
dari bebukitan tandus Nusa Penida menuju Sumbawa yang
bergunung tersengat matahari. Sutjaja mencitrakan kisah
ini sebagai perjalanan orang Bali mencari tongos (wilayah)
demi mendapatkan tegak, tempat ia meneruskan hidup,
berbiak, mengolah diri, dan membumikan kreativitas.
“Saya mengagumi orang-orang Bali di Lunyuk, dengan
membawa serta kebudayaannya, Bali menjadi semakin indah
dalam diaspora,” ungkap dosen pengagum berat leksikograf
ternama, Herman Neurbroner van der Tuuk, perancang dan
penulis Kawi Balineesch-Nederlandsch Woordenboek, yang
juga merupakan tokoh penting berdirinya perpustakaan
lontar Gedong Kirtya, Singaraja.
Lima puluh tahun mendatang, karya Mangku Lunas akan
menjadi catatan penting bagaimana orang Bali di awal
orde baru mengawali suatu diaspora ke seluruh pelosok
Nusantara. Lewat gerakan nasional bernama trasmigrasi
mereka berbaur dengan etnis lain. Bila di masa kolonial
gerakan itu dilakukan lewat perbudakan, yang dilegalkan
raja-raja Bali, hal mana manusia dianggap barang atau
hewan. Tentu ini catatan kelam tak mudah dilupakan sejarah.
Di sini kemudian, kenapa catatan perjalanan Mangku Lunas
dianggap penting.
Tentu bukan semata geguritan ini menyimpan
data-data kebahasaan tentang bagiamana bahasa Bali dihidupkan
penutur Bali di luar Bali. Lebih daripada itu, catatan
ini memperlihatkan semangat hidup dan etos kerja orang
Bali semurni-murninya. Sutjaja menyaksikan langsung
hal ini saat melakukan penelitian kebahasaan di Lunyuk,
tahun 1990-an. Ini mendorong Sutjaja bersusah payah
membukukan geguritan Transmigrasi ka Lunyuk, disertai
teks Bali dalam aksara Bali dan huruf Latin, diterjemahkan
ke dalam bahasa Indonesia dan Inggris. Dengan begitu,
karya ini hadir dalam terbitan dwiaksara sekaligus tribahasa.
Diterbitkan atas biaya sendiri, dengan maksud kisah
ini tak semata dibaca orang Bali, tapi juga dipahami
kalangan dunia internasional. Tentu Sutjaja tak cuma
memperlihatkan kepekaannya sebagai ahli bahasa, namun
juga berpkir tentang politik dan strategi kebudayaan.
Boleh jadi Mangku Lunas tak tahu menahu perihal yang
satu ini, apalagi tentang politik kebudayaan itu, tapi
bangga karyanya dibaca orang. Tak sia-sia kerja yang
ia lakukan.
Belakangan
Sutjaja getol menekuni bidang bahasa Bali. Ada puluhan
buku terbit dari tangannya, dan semua atas biaya sendiri.
Seperti tak pernah lelah ia berusaha menerjemahkan kisah
klasik Bali, ke dalam terjemahan tribahasa, yakni Bali,
Indonesia, dan Inggris—sekaligus dwiaksara: Bali
dan Latin. Namun karya yang terus menerus menuju penyempurnaan
adalah kamus tribahasa: Bali, Indonesia, Inggri—yang
kian hari datanya terus menggunung. Seperti biasa kamus
ini disajikan untuk mereka yang akrab dalam dunia virtual.
Justru itu baik kata maupun terjemahan diusahakan sesederhana
mungkin, supaya gampang diakses, mudah dimengerti. Boleh
dibilang, seabad lebih setelah terbit Kawi Balineesch-Nederlandsch
Woordenboek, (Kamus Kawi Bali-Belanda) karya rintisan
van der Tuuk setebal 3.600 halaman, dan terdiri dari
4 jilid itu, kini kamus tribahasa-dwiaksara karya I
Gusti Made Sutjaja Ph.D juga menjadi kamus rintisan
di zamannya, jembatan antargeneasi, manakala Bali memasuki
dunia virtual dan internet.
Sutjaja beruntung didampingi seorang istri yang hari
lahirnya bertepatan dengan odalan Sang Hyang Saraswati.
Darinya ia seperti mendapat kekuatan untuk menulis terus,
menyusun candi bahasa dalam wujud kamus tribahasa-dwiaksara.
Tantangannya cuma satu: berlomba dengan sang waktu.
“Tapi, tanpa ‘Saraswati’ yang satu
ini, saya tak berarti apa-apa. Senyatanya dialah motivator
hidup saya,” papar lelaki kelahiran 2 Oktober
1944 ini, memuji sang istri. Di rumahnya yang dirimbuni
beraneka tanaman hias, dia terus belajar dan bekerja.
Membaca, mencatat, dan mengumpulkan kata demi kata tanpa
mengenal lelah—tidak juga siang atau malam, bola
mata terus melotot di depan monitor kumputer dipandu
ratusan kamus dalam berbagai bahasa. Mudah-mudahan sang
waktu tak keburu memanggil, sehingga kerja tuntas diselesaikan
Sutjaja. Berikut petikan wawancara SARAD dengan “sang
jembatan generasi Bali Baru” ini.
Kenapa Anda tertarik mendalami linguistik?
Begitu tamat SLUA Saraswati, Denpasar, tahun 1964, sebenarnya
saya mau belajar kebudayaan ke India. Surat-surat sudah
siap. Sayang, menjelang keberangkatan, ada persoalan
politik antara India-Indonesia. Saya urung berangkat.
Narendra Pandit Sastri, kolega Bapak (I Gusti Made Tamba,
Red) yang ikut membatu di Perguruan Saraswati, sedikit
kesal. Ia ingin supaya saya melajutkan ke India. Tak
ada pilihan, kemudian saya melanjutkan di Jurusan Sastra
Inggris, Fakultas Sastra, Universitas Udayana. Waktu
itu dibuka cuma sampai sarjana muda.
Tahun 1972 saya melanjutkan ke IKIP Malang, jurusan
yang sama tapi keguruan. Lulus dari Malang, saya mengajar
bahasa Inggris di Perguruan Saraswati, kemudian menjadi
pengajar tetap di Fakultas Sastra Universitas Udayana.
Sebenarnya sejak SLUB saya sudah tertarik dengan bahasa
Inggris, biasa mendengarkan lagu-lagu berbahasa Inggris
dari piringan hitam milik Bapak. Saat sepi di rumah,
kerap saya masuk ke ruang belajar Bapak, membuka-buka
kamus Inggris. Nah, dari situ saya sangat tertarik belajar
bahasa, hingga mencapai doktor linguistik dari The University
of Sydney.
Bagimana kisahnya tertarik pada pengembangan bahasa
Bali?
Arus balik itu berawal dari pertemuan saya dengan Margaret
J. Wiener, sejarawan Amerika yang tahu banyak seluk-beluk
Kerajaan Klungkung sampai kejatuhannya ke tangan kolonial.
Ia datang ke rumah sebagai tamu saya. Aduh! Saya malu,
ia datang dengan pakaian Bali, nylempot. Tampilan dan
tatakramanya percis orang Bali, berbicara dengan bahasa
Bali ragam tinggi, alus. Saya minder sendiri.
Sebagai orang Bali saya tidak mengerti bahasa ibu sendiri,
malu. Nah, dari sini muncul tekad mendalami bahasa Bali.
Sebagai ahli bahasa, dan kebetulan orang Bali, tentu
tak susah melakukan itu. Saya mulai mencatat, mengumpulkan,
dan menerjemahkan teks dan cerita-cerita rakyat Bali.
Hasilnya, puluhan buku panduan belajar bahasa Bali dan
kamus pelajar bahasa Bali saya kerjakan. Jangan lupa,
semua ini saya lakukan atas spirit guru-guru saya. Saya
diajar oleh guru-guru yang sampai kini susah dilupakan,
beliau adalah I Gusti Bagus Sugriwa dan Bapak Wayan
Simpen AB, dua-duanya mahir dalam pengajaran bahasa
Bali. Begitu juga dua guru bahasa Inggris saya, Nang
Lecir (Nyoman Oka) dan Ibu Gedong Bagus Oka. Beliau-beliau
inilah yang memantapkan saya makin mendalami studi bahasa.
Apakah bahasa Bali masih memiliki masa depan?
Saya tetap optimis, bahasa Bali tetap diperlukan penuturnya.
Saya sudah memeriksa data terakhir dari UNESCO, di sana
bahasa Bali tidak dicantumkan sebagai bahasa yang sudah
mati atau akan mati. Justru hari ini saya menyaksikan
kesadaran ke arah itu, orang Bali merasa malu tidak
bisa berbahasa Bali. Kita melihat, orang Bali tidak
hanya hidup di Bali dan Lombok. Sejak digalakkan program
transmigrasi, persebaran bahasa Bali mencapai kawasan
menasional. Antara tahun 1990-1992 saya melakukan pemetaan
dan penelitian bahasa Bali di pemukiman transmigrasi
Bali di Lampung, Sulawesi, Sumbawa, dan Timor Timur.
Di situ menunjukkan ada keinginan kuat untuk tetap menggunakan
bahasa Bali di antara warga kelompok etnis Bali dalam
interaksi keseharian, dan berdampingan dengan kelompok-kelompok
lain. Bahasa daerah dalam kehidupan rural memang tetap
hidup dan merupakan keseharian hidup mereka. Jangan
lupa bahasa ini sekarang menjadi kajian akademik yang
merambah pusat-pusat penelitian bahasa di Negeri Belanda,
Amerika, dan Jepang.
Apa problem terbesar bagi pengajaran bahasa Bali
kini?
Pendekatan pengajaran bahasa Bali itu harus diubah.
Diperlukan pembaruan dalam cara pendekatan dan penanganan
belajar mengajar bahasa Bali untuk orang Bali sebagai
penutur asli bahasa ini. Pembaruan harus diarahkan kepada
orientasi belajar mengajar. Apa yang dikenal selama
ini sebagai orientasi struktur formal kata dan kalimat,
penekanan pada analisis segi kebahasaan yang coba dituangkan
dalam latihan membuat kalimat dan membaca bahan sebagai
cerminan bentuk tatabahasa yang sedikit baku. Saya kira
pendekatan ini tidak tepat. Bukankah umumnya anak-anak
Bali sudah bisa berbahasa Bali? Apakah saat Anda berkomunikasi
ingat tatabahasa?
Saya memiliki perbandingan dengan sistem belajar bahasa
Inggris bagi penutur asli bahasa ini. Anak-anak datang
ke sekolah sudah berbekal pengetahuan intuitif tatabahasanya
yang diperoleh lewat proses pemerolehan bahasa di rumah
atau di lingkungannya. Sistem sekolah berkewajiban membenahi
cara mengeja apa-apa yang telah diketahui para siswa.
Meniru, muruk mabasa, adalah cara belajar bahasa paling
tepat sebelum meningkat pada kompetensi pengajaran tatabahasa.
Struktur dan tatabahasa itu penting ketika orang hendak
melakukan kajian bahasa. Coba tanya orang tua yang pintar
menuangkan pikiran dengan bahasa Bali, apakah mereka
belajar tatabahasa lebih dahulu? Nah, kita harus kembali
ke pola ini. Sebab pendekatan struktur yang selama ini
kita adopasi tidak menunjukkan hasil belajar maksimal.
I Wayan Westa
|