No. 73/ Tahun VII Mei 2006

SAMETON

I Gusti Made Sutjaja
Jembatan Bali Baru Bernama Sutjaja

Semula ingin belajar ke India, I Gusti Made Sutjaja malah kepincut dengan studi bahasa, akhirnya. Sebagai linguis, dia telah melahirkan puluhan buku paling langka : kamus bahasa Bali tribahasa sekaligus dwiaksara.

Belum genap setahun, tepatnya 8 Oktober 2005, ia dikukuhkan sebagai guru besar bidang ilmu bahasa pada Fakultas Sastra Universitas Udayana, Denpasar. Ini jabatan paling bergengsi dalam dunia akademis. Namun bagi seorang pembelajar bernama I Gusti Made Sutjaja, jabatan guru besar bukan segalanya. Ilmuwan tidak dipandang semata dari gelar kesarjaannya, lebih jauh justru dilihat dari tanggung jawab akademisnya, serta sumbangan nyata bagi masa depan ilmu itu sendiri.
Sejumlah sejawat menilai, ia tergolong sosok teramat teguh memegang janji diri, lurus, dan sedikit tampak kaku. Tak salah bila para mahasiswanya menjuluki ia dosen paling killer. Karena sikapnya tak cenderung bengkok, dalam hal jabatan, Sutjaja mesti rela “disalip” para murid dan kolega. Banyak alasan kenapa bisa disalip para murid? Jawabannya tentu tak enak ditulis di sini. Bukan juga soal jenius atau bloon, pemikir kreatif atau epigon, kredibel atau sekadar saja. Toh, peraih Ph.D dari Universitas Sydney (1988) ini, menyandang jabatan guru besar bukan perkara mudah atau asal jadi—kendati kemudian banyak yang menggampangkan. Maka jadilah guru besar itu hanya berat di titel, tidak menghasilkan sesuatu dalam peran keintelektualan. Tak ubahnya pisang, hanya berbuah sekali. I Gusti Made Sutjaja, linguis yang kini tergoda memetakan kultur penutur bahasa Bali, bisa dibilang sosok langka. Langka, karena pilihannya senantiasa melawan arus, yakni menekuni bidang yang belum tentu menjamin kemapanan ekonomi hidup. Walaupun kedudukan ilmu bahasa sangat mendasar dalam pengembangan ilmu-ilmu kemanusiaan, toh jadi linguis bukan dambaan banyak orang, alih-alih buat genersi kini. Tapi Sutjaja, anak kedua I Gusti Made Tamba, pendiri Perguruan Rakyat Saraswati ini, tak harus merasa rendah diri. Kendati harus sendiri, sudah pilihan hidup. Justru lewat bidang ini namanya kian dikenal, kerap diudang sebagai profesor tamu di sejumlah perguruan tinggi, baik di dalam maupun di luar negeri. “Ya, ini anugerah dari kesendirian itu,” papar Sutjaja, lirih.
Ditemui di rumah yang lengang, di bilangan Jalan Noja Saraswati, Denpasar, sang profesor terlihat ceria. Mukanya cerah. Ditemani sang istri setia, Ni Luh Ngurah Ariningsih, Sutjaja tampak bahagia. Walaupun hingga kini, lebih dari 35 tahun perkawinannya, Tuhan belum juga menganugerahkan putra buatnya. Seekor anjing kate berbulu lebat bermanja-manja di pangkuan. Terkesan sang tuan sangat menyayangi hewan piaraannya. “Tiap minggu anjing dikeramas sampo khusus. Pakannya ditambah hati ayam goreng dan susu. Sementara saya sendiri, mulai mengurangi daging,” sambut Sutjaja ramah.
Di ruang tengah, tempat ia biasa belajar dan bekerja, Sutjaja intim dengan dunia virtual (maya). Lewat media komputer, ia tengah masyuk mendengar Geguritan Trasmigrasi ka Lunyuk, karya Jero Mangku Lunas dari Desa Lunyuk, Sumbawa. Dari monitor terlihat jelas gurat-gurat wajah Mangku Lunas, kumis dan janggut memutih, tanpa baju melekat di badan. Ia melagukan bait demi bait setiap pupuh dalam buku yang sudah lusuh. Geguritan Trasmigrasi ka Lunyuk bertutur tentang rombongan transmigran dari Nusa Penida menuju Desa Lunyuk, Sumbawa, tahun 1969. Orang Bali teramat jarang mencatat perjalanan hidup, namun Mangku Lunas, seorang dari rombongan itu, melakukan sesuatu yang tak lazim itu: mencatat penuh kesadaran semua kejadian di perjalanan hingga membuka lahan dan bermukim di Desa Lunyuk. Lunas, si penembang kisah ini, adalah rombongan paling berumur dalam keberangkatan itu. “Kini usianya lebih dari 100 tahun, serta tetap bugar pula,” papar Sutjaja sembari memperlihatkan buku Pasalin Geguritan Trasmigrasi ka Lunyuk.
Sutjaja agaknya terpesona dengan sosok Mangku Lunas, yang liat dan “angkuh” menantang zaman—datang dari bebukitan tandus Nusa Penida menuju Sumbawa yang bergunung tersengat matahari. Sutjaja mencitrakan kisah ini sebagai perjalanan orang Bali mencari tongos (wilayah) demi mendapatkan tegak, tempat ia meneruskan hidup, berbiak, mengolah diri, dan membumikan kreativitas. “Saya mengagumi orang-orang Bali di Lunyuk, dengan membawa serta kebudayaannya, Bali menjadi semakin indah dalam diaspora,” ungkap dosen pengagum berat leksikograf ternama, Herman Neurbroner van der Tuuk, perancang dan penulis Kawi Balineesch-Nederlandsch Woordenboek, yang juga merupakan tokoh penting berdirinya perpustakaan lontar Gedong Kirtya, Singaraja.
Lima puluh tahun mendatang, karya Mangku Lunas akan menjadi catatan penting bagaimana orang Bali di awal orde baru mengawali suatu diaspora ke seluruh pelosok Nusantara. Lewat gerakan nasional bernama trasmigrasi mereka berbaur dengan etnis lain. Bila di masa kolonial gerakan itu dilakukan lewat perbudakan, yang dilegalkan raja-raja Bali, hal mana manusia dianggap barang atau hewan. Tentu ini catatan kelam tak mudah dilupakan sejarah. Di sini kemudian, kenapa catatan perjalanan Mangku Lunas dianggap penting.

Tentu bukan semata geguritan ini menyimpan data-data kebahasaan tentang bagiamana bahasa Bali dihidupkan penutur Bali di luar Bali. Lebih daripada itu, catatan ini memperlihatkan semangat hidup dan etos kerja orang Bali semurni-murninya. Sutjaja menyaksikan langsung hal ini saat melakukan penelitian kebahasaan di Lunyuk, tahun 1990-an. Ini mendorong Sutjaja bersusah payah membukukan geguritan Transmigrasi ka Lunyuk, disertai teks Bali dalam aksara Bali dan huruf Latin, diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan Inggris. Dengan begitu, karya ini hadir dalam terbitan dwiaksara sekaligus tribahasa. Diterbitkan atas biaya sendiri, dengan maksud kisah ini tak semata dibaca orang Bali, tapi juga dipahami kalangan dunia internasional. Tentu Sutjaja tak cuma memperlihatkan kepekaannya sebagai ahli bahasa, namun juga berpkir tentang politik dan strategi kebudayaan. Boleh jadi Mangku Lunas tak tahu menahu perihal yang satu ini, apalagi tentang politik kebudayaan itu, tapi bangga karyanya dibaca orang. Tak sia-sia kerja yang ia lakukan.
Belakangan Sutjaja getol menekuni bidang bahasa Bali. Ada puluhan buku terbit dari tangannya, dan semua atas biaya sendiri. Seperti tak pernah lelah ia berusaha menerjemahkan kisah klasik Bali, ke dalam terjemahan tribahasa, yakni Bali, Indonesia, dan Inggris—sekaligus dwiaksara: Bali dan Latin. Namun karya yang terus menerus menuju penyempurnaan adalah kamus tribahasa: Bali, Indonesia, Inggri—yang kian hari datanya terus menggunung. Seperti biasa kamus ini disajikan untuk mereka yang akrab dalam dunia virtual. Justru itu baik kata maupun terjemahan diusahakan sesederhana mungkin, supaya gampang diakses, mudah dimengerti. Boleh dibilang, seabad lebih setelah terbit Kawi Balineesch-Nederlandsch Woordenboek, (Kamus Kawi Bali-Belanda) karya rintisan van der Tuuk setebal 3.600 halaman, dan terdiri dari 4 jilid itu, kini kamus tribahasa-dwiaksara karya I Gusti Made Sutjaja Ph.D juga menjadi kamus rintisan di zamannya, jembatan antargeneasi, manakala Bali memasuki dunia virtual dan internet.
Sutjaja beruntung didampingi seorang istri yang hari lahirnya bertepatan dengan odalan Sang Hyang Saraswati. Darinya ia seperti mendapat kekuatan untuk menulis terus, menyusun candi bahasa dalam wujud kamus tribahasa-dwiaksara. Tantangannya cuma satu: berlomba dengan sang waktu. “Tapi, tanpa ‘Saraswati’ yang satu ini, saya tak berarti apa-apa. Senyatanya dialah motivator hidup saya,” papar lelaki kelahiran 2 Oktober 1944 ini, memuji sang istri. Di rumahnya yang dirimbuni beraneka tanaman hias, dia terus belajar dan bekerja. Membaca, mencatat, dan mengumpulkan kata demi kata tanpa mengenal lelah—tidak juga siang atau malam, bola mata terus melotot di depan monitor kumputer dipandu ratusan kamus dalam berbagai bahasa. Mudah-mudahan sang waktu tak keburu memanggil, sehingga kerja tuntas diselesaikan Sutjaja. Berikut petikan wawancara SARAD dengan “sang jembatan generasi Bali Baru” ini.
Kenapa Anda tertarik mendalami linguistik?
Begitu tamat SLUA Saraswati, Denpasar, tahun 1964, sebenarnya saya mau belajar kebudayaan ke India. Surat-surat sudah siap. Sayang, menjelang keberangkatan, ada persoalan politik antara India-Indonesia. Saya urung berangkat. Narendra Pandit Sastri, kolega Bapak (I Gusti Made Tamba, Red) yang ikut membatu di Perguruan Saraswati, sedikit kesal. Ia ingin supaya saya melajutkan ke India. Tak ada pilihan, kemudian saya melanjutkan di Jurusan Sastra Inggris, Fakultas Sastra, Universitas Udayana. Waktu itu dibuka cuma sampai sarjana muda.
Tahun 1972 saya melanjutkan ke IKIP Malang, jurusan yang sama tapi keguruan. Lulus dari Malang, saya mengajar bahasa Inggris di Perguruan Saraswati, kemudian menjadi pengajar tetap di Fakultas Sastra Universitas Udayana. Sebenarnya sejak SLUB saya sudah tertarik dengan bahasa Inggris, biasa mendengarkan lagu-lagu berbahasa Inggris dari piringan hitam milik Bapak. Saat sepi di rumah, kerap saya masuk ke ruang belajar Bapak, membuka-buka kamus Inggris. Nah, dari situ saya sangat tertarik belajar bahasa, hingga mencapai doktor linguistik dari The University of Sydney.
Bagimana kisahnya tertarik pada pengembangan bahasa Bali?
Arus balik itu berawal dari pertemuan saya dengan Margaret J. Wiener, sejarawan Amerika yang tahu banyak seluk-beluk Kerajaan Klungkung sampai kejatuhannya ke tangan kolonial. Ia datang ke rumah sebagai tamu saya. Aduh! Saya malu, ia datang dengan pakaian Bali, nylempot. Tampilan dan tatakramanya percis orang Bali, berbicara dengan bahasa Bali ragam tinggi, alus. Saya minder sendiri.
Sebagai orang Bali saya tidak mengerti bahasa ibu sendiri, malu. Nah, dari sini muncul tekad mendalami bahasa Bali. Sebagai ahli bahasa, dan kebetulan orang Bali, tentu tak susah melakukan itu. Saya mulai mencatat, mengumpulkan, dan menerjemahkan teks dan cerita-cerita rakyat Bali. Hasilnya, puluhan buku panduan belajar bahasa Bali dan kamus pelajar bahasa Bali saya kerjakan. Jangan lupa, semua ini saya lakukan atas spirit guru-guru saya. Saya diajar oleh guru-guru yang sampai kini susah dilupakan, beliau adalah I Gusti Bagus Sugriwa dan Bapak Wayan Simpen AB, dua-duanya mahir dalam pengajaran bahasa Bali. Begitu juga dua guru bahasa Inggris saya, Nang Lecir (Nyoman Oka) dan Ibu Gedong Bagus Oka. Beliau-beliau inilah yang memantapkan saya makin mendalami studi bahasa.
Apakah bahasa Bali masih memiliki masa depan?
Saya tetap optimis, bahasa Bali tetap diperlukan penuturnya. Saya sudah memeriksa data terakhir dari UNESCO, di sana bahasa Bali tidak dicantumkan sebagai bahasa yang sudah mati atau akan mati. Justru hari ini saya menyaksikan kesadaran ke arah itu, orang Bali merasa malu tidak bisa berbahasa Bali. Kita melihat, orang Bali tidak hanya hidup di Bali dan Lombok. Sejak digalakkan program transmigrasi, persebaran bahasa Bali mencapai kawasan menasional. Antara tahun 1990-1992 saya melakukan pemetaan dan penelitian bahasa Bali di pemukiman transmigrasi Bali di Lampung, Sulawesi, Sumbawa, dan Timor Timur. Di situ menunjukkan ada keinginan kuat untuk tetap menggunakan bahasa Bali di antara warga kelompok etnis Bali dalam interaksi keseharian, dan berdampingan dengan kelompok-kelompok lain. Bahasa daerah dalam kehidupan rural memang tetap hidup dan merupakan keseharian hidup mereka. Jangan lupa bahasa ini sekarang menjadi kajian akademik yang merambah pusat-pusat penelitian bahasa di Negeri Belanda, Amerika, dan Jepang.
Apa problem terbesar bagi pengajaran bahasa Bali kini?
Pendekatan pengajaran bahasa Bali itu harus diubah. Diperlukan pembaruan dalam cara pendekatan dan penanganan belajar mengajar bahasa Bali untuk orang Bali sebagai penutur asli bahasa ini. Pembaruan harus diarahkan kepada orientasi belajar mengajar. Apa yang dikenal selama ini sebagai orientasi struktur formal kata dan kalimat, penekanan pada analisis segi kebahasaan yang coba dituangkan dalam latihan membuat kalimat dan membaca bahan sebagai cerminan bentuk tatabahasa yang sedikit baku. Saya kira pendekatan ini tidak tepat. Bukankah umumnya anak-anak Bali sudah bisa berbahasa Bali? Apakah saat Anda berkomunikasi ingat tatabahasa?
Saya memiliki perbandingan dengan sistem belajar bahasa Inggris bagi penutur asli bahasa ini. Anak-anak datang ke sekolah sudah berbekal pengetahuan intuitif tatabahasanya yang diperoleh lewat proses pemerolehan bahasa di rumah atau di lingkungannya. Sistem sekolah berkewajiban membenahi cara mengeja apa-apa yang telah diketahui para siswa. Meniru, muruk mabasa, adalah cara belajar bahasa paling tepat sebelum meningkat pada kompetensi pengajaran tatabahasa. Struktur dan tatabahasa itu penting ketika orang hendak melakukan kajian bahasa. Coba tanya orang tua yang pintar menuangkan pikiran dengan bahasa Bali, apakah mereka belajar tatabahasa lebih dahulu? Nah, kita harus kembali ke pola ini. Sebab pendekatan struktur yang selama ini kita adopasi tidak menunjukkan hasil belajar maksimal. I Wayan Westa