URUN REMBUG
hal 1 | hal 2 | hal 3
PARISADA-KU : NGAYAHI, NGAYOMO DAN NGAYEMI UMAT
Nanang Sutrisno
Tanpa terasa Parisada Hindu Dharma Indonesia telah menapaki usia 50 tahun dalam sejarah pengabdiannya kepada umat Hindu di Indonesia. Kiranya tak berlebihan, bila kesempatan ini saya gunakan untuk mengucapkan selamat dan terima kasih kepada para pendiri, sesepuh, dan pengurus yang telah membesarkan majelis ini. Tanpa bermaksud mengecilkan jasa para panglingsir dan pengurusyang lainnya, izinkan saya menyampaikan rasa hormat dan bhakti setulus-tulusnya kepada Pukulun Bhatara- Ida Pedanda Made Kamenuh, atas peran serta Beliau dalam kebangkitan umat Hindu, khususnya di Banyuwangi. Semoga ulang tahun emas ini menjadi petanda, Parisada semakin cerdas dalam berpikir, dewasa dalam bersikap, dan matang dalam bertindak guna membina dan mengayomi umat Hindu di seluruh persada nusantara.
Saya, generasi muda Hindu dari pelosok desa di bumi Blambangan Selatan (Pesanggaran-Banyuwangi), tidak banyak tahu tentang Parisada, walaupun tidak asing kedengarannya dalam wacana publik. Pada mulanya, saya mengetahui Parisada hanya sebagai organisasi yang pengurusnya ahli ber-dharma wacana dan selalu mendapat tempat paling di depan saat persembahyangan bersama. Akan tetapi, pemahaman ini mulai berubah ketika salah seorang pengurus Parisada Kecamatan Pesanggaran datang ke rumah saya untuk urusan perubahan Kartu Tanda Penduduk saudara saya, “dari semula tertulis bukan Hindu menjadi Hindu”. Di sini saya mengerti bahwa pengurus Parisada juga bertugas membantu umat untuk mendapatkan hak-hak administratifnya. Menjadi umat Hindu di tengah-tengah mayoritas umat lain, membuat keberadaan Parisada terasa begitu penting. Tanpa Parisada, mungkin sulit mempertahankan diri tetap menjadi Hindu karena janji-janji surga dari umat lain begitu menggiurkan.
Pemahaman saya tentang Parisada semakin bertambah ketika datang ke Bali pada medium 2000. Jika tidak salah, saat itu surat kabar lokal sedang hangat mewacanakan “konflik” Parisada, yang berujung pecahnya Parisada Bali menjadi dua kubu. Ternyata, Parisada menjadi ajang pertarungan ideologi (bila tidak etis disebut -- kepentingan), antartokoh umat Hindu sehingga harus pecah menjadi dua kubu. Mengenai hal ini, tentu bukan kompetensi saya untuk menilai kubu mana yang benar sehingga lebih baik diabaikan saja. Yang jelas, fenomena ini merupakan pembelajaran penting bahwa dalam tubuh Parisada tersimpan beranekaragam pemikiran sebagai petanda bahwa majelis ini ditukangi oleh orang-orang cerdas. Bagi saya, dinamika dan dialektika pemikiran di tubuh Parisada sangat diperlukan agar majelis ini memiliki lebih banyak referensi dalam merumuskan dan melaksanakan berbagai terobosan guna kemajuan umat Hindu di Bali. Mengingat penetrasi budaya modern dan global terjadi begitu cepat sehingga Parisada dituntut berbenah dan mendewasakan diri agar eksistensinya sebagai majelis tertinggi umat Hindu tetap fungsional.
Eksistensi suatu lembaga atau majelis agama, tentu saja bukan sekadar eksis di atas kertas --formalitas belaka-- melainkan eksis dalam peran dan fungsinya. Cukup berat memang, karena Parisada harus mengakomodasi berbagai hasrat, harapan, keinginan, kebutuhan, bahkan kepentingan seluruh umat Hindu, tanpa kecuali. Sementara itu, Hinduisme dari berbagai latar pemikiran begitu mudah diakses umat seiring terbukanya kran informasi dari berbagai negara dan bangsa. Ini memberikan tantangan baru bagi Parisada untuk memberikan formula pembinaan yang pas bagi umat Hindu sehingga sradha-bhakti-nya meningkat, tetapi tidak kehilangan identitas dan jati diri budayanya. Tugas Parisada akan semakin berat, ketika harus memberi pencerahan kepada umat tentang efek negatif informasi yang diperoleh dari berbagai saluran sehingga dapat mengurangi tingkat konversi agama.
Melihat begitu besar peran dan fungsi Parisada, tentu tidak banyak lagi harapan yang perlu saya sampaikan pada ulang tahun emasnya ini. Saya hanya menyampaikan pesan Mbah Dharmo, “Ngger, Hindu iki bakale maju lek pemimpinen iso ngayahi, ngayomi, lan ngayemi umate” (Cucuku, Hindu ini akan maju kalau pemimpinnya melayani, mengayomi, dan menenteramkan umat). Sebagai sebuah pesan, tentu bukan otoritas saya untuk menerjemahkan maknanya. Oleh karena itu saya serahkan kepada Parisada untuk memaknai pesan tersebut disertai harapan semoga mengalirkan bhisama yang membawa umat Hindu pada puncak keemasannya.
Penulis, Hindu asal Banyuwangi