Edisi No. 109/ Tahun X Mei 2009
majalah gumi bali [sarad]
prihal pikir, kata dan laku manusia bali
 
Jendela/Daftar Isi
Paruman/Sajian Utama
Lipsus
Glosari
Kelir
Kesehatan
Kerabat Kita
Paras-Paros
Peristiwa
Pintu Hati
Sambung Rasa
Sasih
Susila
Tatwa
Urun Rembug
Adat
Inspirasi
Nyama Braya
Pustaka
Seni


   
SENI

Pegrafis Utopis di Negeri Cinta

Dedok adalah cinta. Baginya, cinta bukan hanya urusan birahi dan lendir. Ia bisa hadir dalam wujud perdamaian dan saling pengertian. Kepulangannya dari Amerika hanya membawa teknik baru: monoprint. Hanya itu ?

Bagi Anda yang merasa kalut dan pusing berat akibat ‘hasil buruk’ pada pemilu legislatif 9 April lalu, cobalah berjalan-jalan ke Ganesha Gallery, Four Season Resort, Jimbaran. Di sana, mulai 16 April sampai 11 Mei 2009 digelar pameran tunggal pelukis Bali Dedok bertajuk Peace Love Understanding.  Menyaksikan tema-tema cinta dan perdamaian dalam lukisan itu, mudah-mudahan hati dan pikiran Anda yang gundah gulana bisa terhibur. Semoga.
Saat di temui SARAD di rumahnya di Jl. Salawati, Denpasar, penampilan  pegrafis langka Bali Dedok tak banyak berubah. Sorot matanya masih segar, janggotnya masih panjang, tampak terpelihara dengan baik.
Dedok baru saja datang dari Amerika Serikat. Ia ke tanah impian para seniman bukan sekedar berleha-leha, tamasya. Kepergiannya ke Negeri Cinta hampir 3 bulan itu merupakan titik penting  dalam keseluruhan capaian kreatifnya.  Ia menjadi satu-satunya pemenang dari Indonesia  dalam sebuah audisi tahunan yang diadakan Fellowships Freeman Foundation Residency Vermont Studio Center, Johnson, Vermont USA.
Di sana, jebolan Institut Seni Indonesia Jogjakarta ini berkumpul, berkreasi, dan berbagi ilmu dengan para seniman dari Eropa, Amerika dan Asia. Di sela-sela waktunya, ia juga sempat mengunjungi museum-museum besar, yang menyimpan karya pelukis-pelukis besar seperti Pollock, Picasso, dan lain-lain.”Saya bisa menyaksikan langsung karya-karya asli mereka, yang selama ini hanya bisa saya nikmati di buku-buku pelajaran,” ungkapnya bangga.
Selain itu, ayah dua putri ini juga berkesempatan menggelar pameran tunggal di Vermont Studio Center,USA,  12-18 Februari lalu. Puluhan karya bertemakan cinta dan perdamaian itu mendapat apresiasi yang bagus dari para pengunjung. ”Meski berbeda kultur, mereka mampu menikmati karya saya, karena tema cinta yang saya angkat kan bersifat universal. Pas juga saat itu perayaan Valentine Day, jadi klop deh,” ujarnya sambil berseloroh.
Inilah nasib baik Dedok, berkotbah tentang cinta di tanah cinta: Amerika.
Namun menurutnya, hal terpenting yang bisa dipelajari selama tamasya kreatifnya di negeri Paman Sam itu adalah sebuah teknik yang disebut cetak monoprint. Di dunia seni lukis Indonesia, teknik print making sebenarnya bukan sesuatu yang asing.
Tapi Dedok mengaku, teknik gambar-cetak (print drawing) yang selama ini dia kenal dan pelajari di kampus sangat berbeda dengan yang ada di Amerika. ”Di sana (Amerika,red) proses monoprint memang hanya sekali cetak, dan langsung jadi. Sedangkan di sini yang saya kenal proses cetak bisa terjadi berulang-ulang,” Jelas jebolan Jurusan Seni Grafis ISI Jogjakarta tersebut.

Di Indonesia, seni grafis kerap dipandang sebagai salah satu cabang dari seni lukis. Pendapat ini tidak bisa dielakkan mengingat banyak pegrafis juga dikenal sebagai pelukis. Dan produk seni grafis juga sebagaimana halnya seni lukis ditorehkan di atas kanvas, meskipun dari segi teknik pembuatan sedikit berbeda. Kalau seni lukis sepenuhnya menggunakan tangan guna menghasilkan karya seni, maka seni grafis menggunakan teknik cetak mulai dari cetak digital, cukilan hardboard, monoprint atau cetak saring.
Agak berbeda dari teknik konvensional, teknik monoprint memerlukan beberapa proses kreatif. Dimulai dengan melukis di atas plat. Setelah selesai,  plat ditempeli dengan kertas lukis yang lembab, lalu dipres. Bahan cat yang semula menempel di plat, akan berpindah ke kertas. Cetakan di kertas inilah yang umum disebut lukisan monoprint.
”Teknik yang selama ini saya kenal, kertas yang sudah tercetak itu, kembali dicetak berulang-ulang, agar hasilnya bagus. Padahal itu menyalahi konsep teknik monoprint yang saya pelajari di Amerika,”kata Dedok.
Tak menunggu lama, setelah mempelajari teknik baru itu, Dedok langsung bereksprimen. Masih di Amerika, ia menciptakan karya-karya berdasarkan teknik baru itu. Hasil eksperimen inilah yang kini dipamerkan di  Ganesha Gallery, Four Season Resort, Jimbaran.
Meski digarap dengan teknik baru, tema-tema keseluruhan karya Dedok masih berkisar tentang ’CINTA’. Ia begitu percaya dengan kekuatan cinta. Berbeda dari para penganut  skiptisisme yang memandang cinta hanya urusan birahi, reproduksi, dan lendir,  Dedok yakin cinta bisa hadir dalam varian lain, seperti perdamaian, kasih sayang, harapan dan saling pengertian antar sesama. ”Sampai kapanpun, cinta akan mampu menginspirasi orang untuk saling mengasihi. Saya yakin, cinta juga bisa mencegah kekerasan dan perang,” tegasnya.
Perjalanan kreatifnya ke Amerika juga memberi inspirasi bahwa perbedaan kultur, ras agama atau identitas lain tidak akan mampu mencegah kekuatan cinta, justru malah saling menguatkan. Dedok benar-benar masih dimabuk cinta, dan seperti syair lagu, ia tetap bersenandung ”Aku masih seperti yang dulu.....”
Tengok misalnya lukisan berjudul ”hope” (harapan). Karya berbahan kertas cetak ukuran 43 cm x 61 cm ini menggambarkan sosok lelaki tinggi besar, seperti barong landung berdiri seperti tersesat di depan sebuah bangunan mirip gereja, khas Barat. Fokus terletak pada lambang hati (cinta) warna merah di dada lelaki itu. Dedok seakan ingin menyerukan, bahwa perbedaan antara Timur-Barat harus selalu disikapi dengan landasan rasa cinta, saling mengasihi. Tampak, cinta di sini berfungsi sebagai pemersatu; antara Timur-Barat, tradisional-modern.
Harapan senada juga tampil dalam karyanya berjudul Love, Peace & Understanding (cinta, perdamaian, dan saling pengertian). Karya berukuran 30,5 cm x 45,5 cm ini melukiskan seekor binatang menyerupai barong, seakan menyerukan kata-kata perdamaian yang disimbulkan seekor burung merpati.
Boleh jadi, tehnik yang digunakan Dedok merupakan hembusan nafas baru bagi dunia seni grafis di Indonesia dan tampilan warna-warna suram dalam karya-karya kali ini menunjukan ’kegelisahan’ estetik tersendiri. Dedok lalu membiarkan kegelisahan itu terkurung dan membungkusnya dengan tehnik yang diagung-agungkannya. Ini terlihat dari garis-garis bentuk yang begitu tebal seolah memberitahu publik ’ini gambar barong’, ’ini gambar gereja’ bla..bla.....
Ini merepresentasikan ketidakpercayaan seniman sekaliber  Dedok yang selalu gelisah: ’membunuh’ sisi liar yang bergolak dalam dirinya. Bandingkan dengan periodisasi kesenimanan penyair WS Rendra sebelum dan sesudah pulang dari Amerika. Sesudah pulang dari Amerika Rendra menggagas teater absurd yang menjadi trend setter dunia teater di Indonesia era 1970-an. Rendra melakukan—pinjam istilah kaum posmo—dekonstruksi terhadap credo keseniannya, sementara Dedok justru sebaliknya: bersikap utopis terhadap pergolakan dunia.
Lalu apa kata Dedok ?
”Seperti lagu cinta, tema lukisan saya akan senantiasa diminati, selama orang punya hati dan cinta”
Entah sampai kapan laju perjalanan kreatif Dedok akan tetap bertahan pada rel cinta tapi yang jelas di Amerika kata cinta begitu gampang untuk dimanipulasi. Coba saja tengok film-film Hollywood yang doyan memanipulasi cinta. Beda dengan film-film Eropa yang begitu suram melihat persoalan antarmanusia — dan karenanya penikmat semakin kaya perspektif. Artinya, Dedok tak pernah berkreasi menggali ’varian-varian gelap’ dari cinta, seperti tema gantung diri karena putus cinta, cemburu bahkan yang membela keyakinan tertentu. Di mata Dedok semuanya akan baik-baik saja dengan cinta. Fenomena bom bunuh diri sebagaimana terjadi di Amerika pada 11 September 2001 lalu misalnya, bukankah itu bagian tak terpisahkan dari cinta?
Dedok memang pegrafis utopis. Dalam berkesenian, ia mengambil posisi — pinjam ajaran Plato — dunia ide adalah dunia yang sempurna, kinclong tanpa cela. Beda dengan dunia empiris yang hanya merupakan bayangan saja, penuh cacat cela. Pergolakan dunia seolah selesai dengan ide cinta.
Bukan main ! Hari gini masih bicara cinta.....? Dewa Ketut Putra
 
 
BPR Kanti