Edisi No. 109/ Tahun X Mei 2009
majalah gumi bali [sarad]
prihal pikir, kata dan laku manusia bali
 
Jendela/Daftar Isi
Paruman/Sajian Utama
Lipsus
Glosari
Kelir
Kesehatan
Kerabat Kita
Paras-Paros
Peristiwa
Pintu Hati
Sambung Rasa
Sasih
Susila
Tatwa
Urun Rembug
Adat
Inspirasi
Nyama Braya
Pustaka
Seni


   
SASIH

Saat daun-daun Berguguran

Apa bila wariga Bali menyatakan sasih ini dianggap  kurang membawa keberuntungan, hendaknya  Anda tak berhenti berusaha. Karena yang paling penentukan masa depan hidup Anda adalah karma baik dan usaha terus-menerus.

Memasuki Sasih Jestha kini Bali benar-benar memasuki musim jeda. Rutinitis upacara  tak sepadat Sasih Kedasa, Kapat, dan lain-lain. Maklum dalam kepercayaan astrologi orang Bali dua sasih berturut-turut, sesuai ala ayuning sasih, baik buruknya bulan, Sasih Jestha dan Sadha ditenggarai sebagai sasih  kurang memberi keberuntungan. Bila pun hendak dipaksakan, kecuali  berkaitan dengan upacara odalan dan ngotonin orang Bali cenderung  menghindari dua sasih ini.
Entah pemali apa ada di balik keogahan itu,  lontar-lontar wariga di Bali juga jelas-jelas menyuratkan, bahwa dua sasih dimaksud dianggap sasih mala, artinya: sasih yang dianggap  kurang memberi keberuntungan. Mengenai hal ini lontar wariga menuliskan, “Hari yang mati, kelewat bahaya, tidak baik dipakai sebagai hari  penyelenggaraan upacara, tiada dewa  berkenan menerima, jika coba menggelar upacara ayu, hanya memuaskan buta dan kala serta tak urung mendapat kutuk para dewa.”
  Jika pun tidak bisa dihindari, sebaiknya minta petunjuk  pendeta ahli jika memilih sasih ini— terutama pendeta yang betul-betul menguasai wariga. Bila ketentuan ini dilanggar, tak hayal konon menuai nasib apes.Ala, pisuna makueh, atukar satiba paraning corah, dibelit bahaya fitnah, pertengakaran,  dusta sepanjang hayat”, begitu lontar wariga menyuratkan. Tapi jangan takut kutuk jika yang Anda melaksanakan untuk kerahayuan. Karena dalam wariga terang disuratkan bahwa semua ketentuan ala ayuning dewasa kalah  karena dauh ayu, dan hari baik senantiasa diungguli hati dan pikiran yang baik.
 Jika pun  hujan terkadang masih turun, Jestha  memiliki tanda-tanda fisik kurang menguntungkan, kemarau tak bisa terhindarkan. Hawa panas, angin berhembus dari tenggara menuju timur laut. Rasa awas mesti dipelihara senantiasa, maklum menurut kecenderungan sasih  saat ini diramalkan terjadi  badai pasang. Justru itu para nelayan dianjurkan berhati-hati. Karena badai bisa tiba-tiba menghadang Anda.
 Ciri paling mencolok sasih Jestha, alam mulai diramaikan burung-burung pemakan biji. Manyar, pipit, derkuku, dan punai berseliweran, mereka terbang riang,  bernyanyi sembari mengintip padi  mulai menguning. Panen sedang  menunggu tiba. Sementara,  sejumlah pohon mulai menggugurkan daun, seperti hendak menghindari  kemarau. Musim panas diramalkan sedikit panjang, mengingat dari pangunyan sasih (karakter bulan), kali ini Jestha tengah ngunya sasih Karo( bulan kedua). Tandanya, hawa siang hari melambung panas, opek, sedang di malam hari dingin menggigil. Kondisi hawa begini sering memantik flu, gerah dan panas dingin. Debu mulai melayang,  menerbangkan virus. Dengan begitu Anda harus hati-hati.
Sasih Jestha yang jatuh tepat pada  penanggal apisan (paro terang pertama), Sabtu Pon, Wuku Pahang, tanggal 25 April 2009 akan berakhir pada hari Sabtu Umanis,  Wuku Madangkungan, 23 Mei  2009, tepat pada hari Tilem (bulan) mati Sasih Jestha.  Seperti biasa,  Jestha kali ini adalah hari kerja. Para petani tengah sibuk meladang, meluku sawah dengan sapi-sapinya.
Sebaiknya, pinta para ahli wariga, “Sebaiknya pada sasih ini hindari menanam tanaman dulu, sebab ada kemungkinan ia mudah terserang embun “beracun”. Orang Bali menyebutnya dengan serangan “damuh lengis”. Sementara di paro gelap ke 15 diperkirakan terjadi “serangan” “damuh angin”. Tentu kedua macam embun ini  kurang aman bagi tanaman.
Apa bila wariga Bali menyatakan sasih ini kurang dianggap membawa keberuntungan,  Anda hendaknya tak berhenti berusaha. Karena  nasib, di samping juga dipengaruhi tanda-tanda alam di langit, toh  yang paling penentukan masa depan Anda adalah karma baik dan usaha terus-menerus— karenanya karma baik tetap penentu masa depan Anda. Jika pun momen (dewasa ayu)  yang Anda pilih terbilang bagus, bila kemudian Anda ogah berusaha jangan pikir keberuntungan akan menghampiri Anda. S

 
 
BPR Kanti