SASIH
Saat daun-daun Berguguran
Apa bila wariga Bali menyatakan sasih ini dianggap kurang membawa keberuntungan, hendaknya Anda tak berhenti berusaha. Karena yang paling penentukan masa depan hidup Anda adalah karma baik dan usaha terus-menerus.
Memasuki Sasih Jestha kini Bali benar-benar memasuki musim jeda. Rutinitis upacara tak sepadat Sasih Kedasa, Kapat, dan lain-lain. Maklum dalam kepercayaan astrologi orang Bali dua sasih berturut-turut, sesuai ala ayuning sasih, baik buruknya bulan, Sasih Jestha dan Sadha ditenggarai sebagai sasih kurang memberi keberuntungan. Bila pun hendak dipaksakan, kecuali berkaitan dengan upacara odalan dan ngotonin orang Bali cenderung menghindari dua sasih ini.
Entah pemali apa ada di balik keogahan itu, lontar-lontar wariga di Bali juga jelas-jelas menyuratkan, bahwa dua sasih dimaksud dianggap sasih mala, artinya: sasih yang dianggap kurang memberi keberuntungan. Mengenai hal ini lontar wariga menuliskan, “Hari yang mati, kelewat bahaya, tidak baik dipakai sebagai hari penyelenggaraan upacara, tiada dewa berkenan menerima, jika coba menggelar upacara ayu, hanya memuaskan buta dan kala serta tak urung mendapat kutuk para dewa.”
Jika pun tidak bisa dihindari, sebaiknya minta petunjuk pendeta ahli jika memilih sasih ini— terutama pendeta yang betul-betul menguasai wariga. Bila ketentuan ini dilanggar, tak hayal konon menuai nasib apes. “Ala, pisuna makueh, atukar satiba paraning corah, dibelit bahaya fitnah, pertengakaran, dusta sepanjang hayat”, begitu lontar wariga menyuratkan. Tapi jangan takut kutuk jika yang Anda melaksanakan untuk kerahayuan. Karena dalam wariga terang disuratkan bahwa semua ketentuan ala ayuning dewasa kalah karena dauh ayu, dan hari baik senantiasa diungguli hati dan pikiran yang baik.
Jika pun hujan terkadang masih turun, Jestha memiliki tanda-tanda fisik kurang menguntungkan, kemarau tak bisa terhindarkan. Hawa panas, angin berhembus dari tenggara menuju timur laut. Rasa awas mesti dipelihara senantiasa, maklum menurut kecenderungan sasih saat ini diramalkan terjadi badai pasang. Justru itu para nelayan dianjurkan berhati-hati. Karena badai bisa tiba-tiba menghadang Anda.
Ciri paling mencolok sasih Jestha, alam mulai diramaikan burung-burung pemakan biji. Manyar, pipit, derkuku, dan punai berseliweran, mereka terbang riang, bernyanyi sembari mengintip padi mulai menguning. Panen sedang menunggu tiba. Sementara, sejumlah pohon mulai menggugurkan daun, seperti hendak menghindari kemarau. Musim panas diramalkan sedikit panjang, mengingat dari pangunyan sasih (karakter bulan), kali ini Jestha tengah ngunya sasih Karo( bulan kedua). Tandanya, hawa siang hari melambung panas, opek, sedang di malam hari dingin menggigil. Kondisi hawa begini sering memantik flu, gerah dan panas dingin. Debu mulai melayang, menerbangkan virus. Dengan begitu Anda harus hati-hati.
Sasih Jestha yang jatuh tepat pada penanggal apisan (paro terang pertama), Sabtu Pon, Wuku Pahang, tanggal 25 April 2009 akan berakhir pada hari Sabtu Umanis, Wuku Madangkungan, 23 Mei 2009, tepat pada hari Tilem (bulan) mati Sasih Jestha. Seperti biasa, Jestha kali ini adalah hari kerja. Para petani tengah sibuk meladang, meluku sawah dengan sapi-sapinya.
Sebaiknya, pinta para ahli wariga, “Sebaiknya pada sasih ini hindari menanam tanaman dulu, sebab ada kemungkinan ia mudah terserang embun “beracun”. Orang Bali menyebutnya dengan serangan “damuh lengis”. Sementara di paro gelap ke 15 diperkirakan terjadi “serangan” “damuh angin”. Tentu kedua macam embun ini kurang aman bagi tanaman.
Apa bila wariga Bali menyatakan sasih ini kurang dianggap membawa keberuntungan, Anda hendaknya tak berhenti berusaha. Karena nasib, di samping juga dipengaruhi tanda-tanda alam di langit, toh yang paling penentukan masa depan Anda adalah karma baik dan usaha terus-menerus— karenanya karma baik tetap penentu masa depan Anda. Jika pun momen (dewasa ayu) yang Anda pilih terbilang bagus, bila kemudian Anda ogah berusaha jangan pikir keberuntungan akan menghampiri Anda. S