Edisi No. 109/ Tahun X Mei 2009
majalah gumi bali [sarad]
prihal pikir, kata dan laku manusia bali
 
Jendela/Daftar Isi
Paruman/Sajian Utama
Lipsus
Glosari
Kelir
Kesehatan
Kerabat Kita
Paras-Paros
Peristiwa
Pintu Hati
Sambung Rasa
Sasih
Susila
Tatwa
Urun Rembug
Adat
Inspirasi
Nyama Braya
Pustaka
Seni


   
SAMBUNG RASA

Hentikan ekspose Bunuh Diri
Pada tanggal 4 April 2009 lalu, sebuah koran lokal di Bali di halaman pertamanya memuat foto seorang pemuda yang mati gantung diri di pohon alpukat. Saya sangat kaget dan sedih. Sebagai orang awam, saya tidak tahu apakah media massa boleh memuat foto vulgar seperti itu. Saya tidak tahu, apakah media massa memiliki semacam kode etik tentang pemuatan foto yang tidak pantas.
Namun secara pribadi, dari hati nurani terdalam, saya sangat menyayangkan pemuatan foto seperti itu. Saya yakin, selain bertugas mengungkap kebenaran, media massa pasti juga memiliki tugas memberikan penyadaran-penyadaran, dan pendidikan kepada masyarakat.
Seperti diketahui, kasus bunuh diri di Bali semakin meningkat. Ada karena alasan ekonomi, karena sakit, karena putus pacar dan sebagainya. Saya khawatir, media massa justru memiliki andil orang melakukan bunuh diri. Untuk itu saya mohon kepada semua media massa di Bali, tolong hentikan meng-ekspose berita-berita bunuh diri. Saya yakin, masih banyak hal-hal positif yang bisa diberitakan dari kehidupan Bali. Mengapa Cuma asyik dengan berita kriminal. Jangan korbankan hati nurani masyarakat hanya untuk alasan ’oplah’ atau ’berita heboh’
Ketut Kinten,
Nusa Dua, Bali

Pecalang  kurang SIGAS
Nyepi adalah salah satu hari suci umat Hindu yang sangat signifikan, memberikan banyak kontribusi baik itu kepada manusia, alam dan sang pencipta. Perayaan nyepi di Bali seharusnya direalisasikan dengan intensif dan penuh kesadaran bagi umatnya, karena ini merupakan moment dan suatu tradisi yang dapat dikatakan sebagai identitas  Agama, Budaya dan Daerah.
Hari nyepi yang sudah lewat banyak meninggalkan ketidakpuasan bagi segenap umat Hindu dan ini ditujukan kepada petugas desa spesialis upacara agama dikenal dengan nama Pecalang,dimana kurang “ SIGAS “ (siaga dan tegas)  dalam melaksanakan tugasnya. Contoh  di Kabupaten Karangasem perayaan nyepi kurang mendapat respon  apresiatif baik itu dari umat Hindu maupun umat lain yang juga menjadi penduduk tetap di Karangasem.
Di hari Nyepi yang seharusnya masyarakat tidak berkeliaran di jalan dan menghentikan aktifitasnya tetapi malah sangat marak melakukan aktifitas di tengah jalan dengan duduk-duduk dan bermain layaknya hari-hari biasa, parahnya lagi pecalang yang dulunya ditakuti sekarang dijadikan bahan mainan (Badut ) warga setempat. Ini merupakan sorotan  sangat tidak baik ditambah lagi pecalang kurang tegas terhadap warga yang apatis terhadap aturan adat dan Agama, jika ini dibiarkan maka harcurlah taksu Bali yang mempunyai nilai budaya dan tradisi  terkenal di mancanegara.
Saya mengharapkan agar pecalang memang harus benar-benar mempunyai keinginan untuk mengabdi dan harus tegas kepada masyarakat dengan watak kurang patuh terhadap aturan, jangan malah mengijinkan masyarakat berkeliaran di tengah jalan terutama di daerah Karangpati ( Karangasem ) yang masyarakatnya kurang diberikan pemberitahuan secara tegas, bila perlu diambil orang-orangnya dan diberikan tindak tegas  agar di Tahun Caka ( Nyepi ) mendatang tidak terjadi hal-hal seperti ini lagi, saya sebagai umat Hindu sangat kecewa dengan masyarakat yang tidak punya rasa saling menghargai. Suksma
Agung Paramita
Subagan, Karangasem

Cerita Asyiik, Seru dan Mendidik
Saya anak SMP kelas III. Saya sangat senang membaca cerita SARAD, pada lembaran cerita untuk anak-anak.Terutama tentang cerita  I Lara membuat semangat belajar saya kadang bangkit. Saya usul, kenapa tidak dibuat komik, kan bisa saya koleksi, paling tidak sebagai  teman ngangon sapi di ladang.
Sambil nyabit rumput saya sering membaca SARAD. Saya tunggu cerita I Lara berikutnya.
Kadek Dwi Ananda Saraswati,
Canggu- Kuta.

Biih luung Satua Basa Baline
Legaang nak tiang ten je bisa basa Indonesia pak SARAD. Demen sajan tiang ningehang tutur reramane ane misi gambaran kuluk ngewerin nika. Misi ngaba kayu galak sajan ajak kulukne. Tiang demen ngubuh kuluk jumah sayangang sewai-wai bisa alihang tiang banyu yen ampun nyak polos ken ambul benehne ngongkong. Pak yen tiang kenyel suud masetipan jak melayangan demen pun maca satuane niki. Tiang kelangen, wenten mecanda ngae tiang kedek ngekek. Ngae nak sigug dadi beneh. Baguuus. pak bagus.
Kadek Ratok,
Keramas Gianyar.

Diusir dari Kost
Adanya hikmah di balik peristiwa semoga membuat setiap kehidupan berjalan harmonis, begitulah kata para penglingsir. Saya anak muda yang sering di jalan kepanasan  kehujanan, dan saat menulis sambung rasa ini  meng-alam-i masuk angin.Dari sebuah pempatan agung hati ini menangis sedih merasa terbuang. Yang paling dasar untuk dijadikan senderan adalah hati bertoleransi dan saling mengerti.
Sehabis diusir dari rumah kost, tak harus menyerah begitu saja. Wajarlah diakui kalau memang sifat malas membuat “terbuang” seperti ini. Perlu diingatkan lagi, cara menyampaikan membuat sesuatu nampak berbeda, maaf setelah lima hari menunggak kost saya harus dikeluarkan atau diusir dengan paksa.
Begitu bernafsunya dengan uang, membuat “ tuan rumah” naik pitam enggan memandang cara arif untuk membijaksanai padewekan tiang. Apa sebenarnya sedang menjangkiti pemilik rumah di kawasan Denpasar yang dengan tega mengusir plus kata-kata kasar untuk pemuda perantau macam seperti saya. Belum lengkap satu Wuku menunggak, sudah  seperti ingin melenyapkan dari muka bumi ini. Tabahkanlah hatimu anak muda perantau, begitu saya menasehati diri. Supaya memberi toleransi barang sedikit untuk kemalasan, dan keterlambatan.
Tremas,
Batumadeg, Karangasem

Kebersamaan di “ petuakan “
Metuakan adalah salah satu aktifitas atau tradisi yang sering dilakukan oleh masyarakat Bali khususnya di Kabupaten Karangasem. Duduk bersamaan dan membentuk posisi lingkaran, itulah terlihat ketika datang ke tempat metuakan. Jika dikaji atau dipandang dari segi positif sangat menunjukkan nilai kolektifitas, walaupun yang terlibat disana berbeda wangsa, struktur social dan Agama.
Uniknya lagi di tempat itu menerima semua golongan masyarakat walaupun hanya didampingi “gempu “ yang berisikan minuman khas orang Karangasem dan dalam bahasa inggrisnya terkenal dengan nama Palem wine . Terkadang pergaulan di petuakan lebih mendapat nilai positif untuk membentuk kekerabatan, saya sebagai orang rantauan yang sudah 21 tahun lamanya tinggal disana sangat dianggap keluarga ketika bertemu apalagi ketika mendapat suatu permasalahan.
Kekaguman sangat terasa, ternyata minuman yang tergolong/masuk dalam kategori minuman keras, di sisi lain dapat mempererat tali persaudaraan dalam perbedaan. Manis, asem, asin dan pahitnya tuak dirasakan bersama-sama dengan takaran satu gelas, dimana dipercayai jika minum satu gelas biasa disebut dengan Eka wibhawa dalam artian akan merasa diri berwibawa dan tangguh sedangkan jika sudah mencapai enam gelas jadilah Tikus ke pantig (nirnoer) seorang pemabuk teler. Pakedek pakenyem sambilang metuakan seperti lirik lagu yang dibawakan oleh Grup Band Lolot dan dibentengi oleh Made Bawa sang vokalis merupakan lagu favorit yang sering di nyanyikan  anak muda pada saat melakukan tradisi Metuakan sehingga terlihat mereka sangat bebas tanpa ada suatu permasalahan personal.
Metuakan sebetulnya merupakan ciri khas atau identitas daerah yang tidak pernah akan punah walaupun banyak aturan yang ingin menyelimutinya. Mabuk ne! sedikit gegonjakan seorang peminum tuak dengan muka merah membuat rekannya tertawa melihatnya, sehingga tidak ada pertikain fisik maupun argument layaknya organisasi Tukang tutur yang belum minum Tuak sudah mabuk serta selalu kontroversi karena perbedaan.
Di petuakan perbedaan itu indah, heterogenitas Tutur membuat asosiasi masyarakat yang suka dengan kegiatan ini menjadi terasa senang dengan saling memberikan pemahaman, keterbukaan dan bercerita tentang pengalaman masing-masing. Menurut budaya umat Hindu tuak adalah minuman Tabuhan yang berikan serta disuguhkan oleh para Bhuta Kala, atau singkat saja minuman idola disenangi oleh para Bhuta, jika yang meminum tuak ini adalah manusia maka dikatakan Bhutalah dia. Lalu bagaimana dengan orang yang bhuta tanpa minum tuak ? Wuuaduoh kalau masalah ini mungkin saja masyarakat Bali perlu Metabuh dengan memakai “ Uang “ atau dalam bahasa seorang Slankers sekaligus Rocker Indonesia yaitu “ UUD”  ujung-ujungnya duit.
Agung paramita,
Jl. Sedap Malam, Denpasar
 
 
BPR Kanti