PARUMAN
hal 1 | hal
2 | hal
3
Seloka Duka Ratnakara

Luar biasa peranan benak hati dalam kisah hidup manusia. Hati yang tersadarkan bisa mengubah kekejian menjadi seseorang pencinta hidup nan agung. Kisah Walmiki pengarang Ramayana misalnya; berawal dari perubahan besar yang terjadi di dalam benak— hingga Ramayana, karya terbesarnya menjadi sastra pencerah dunia sepanjang abad.
Mulanya ia bernama Ratnakara, pemuda sudra yang memiliki kebiasaan buruk, doyan membunuh, merampas milik orang. Suatu hari di tengah hutan ia menghadang seorang Rsi(orang suci) yang tengah melakukan perjalanan suci. Rsi ini hendak dirampok. Bila melawan sang Rsi akan dibunuh.
“Sabar anak muda” kata Rsi lemah lembut. “Sebelum engkau merampas harta-benda miliku serta mengambil jiwaku, aku ingin bertanya, siapakah kelak yang menanggung beban dosamu di kemudian hari ?”
“Ayah dan keluargaku” jawab Ratnakara geram sembari menghunus pedang.
“Apa alasannya Nak”
“Ayahku tidak melarang perbuatan jahat ini,” jawabnya
“Baik, harta-bendaku akan kuserahkan semua, tetapi pintaku padamu, cobalah kini bertanya pada ayahmu, pada ibumu dan juga pada istrimu, benarkah mereka akan menanggung segala dosa perbuatanmu itu? Coba pergi menemui mereka sebentar. Jangan khawatir aku pasti menunggu kedatanganmu di sini.”
Ratnakara pergi menemui sang ayah, bertanya sebagaimana dikehendaki sang Rsi.
“Nak segala perbuatan dan dosamu tentu kau sendiri yang menaggung, baik sekarang atau di hari kemudian,” jawab sang ayah singkat.
Mendengar jawaban ayahnya, Ratnakara tercengang.
“Perbuatanmu tak ubahnya menebar dan menanam pohon-pohon. Apa yang engkau sebar dan kau tanam akan tumbuh dan berbuah sebagaimana engkau sebar dan tanam.”
Tidak puas dengan jawaban ayahnya, Ratnakara menemui sang ibu serta-merta menayakan hal serupa.
“Anakku, ibumu telah melahirkanmu. Sejak delapan bulan dalam kandungan ibu selalu was-was dan memohon pada Tuhan agar dirimu lahir selamat. Setelah engkau lahir kupelihara dirimu baik-baik, kususui engkau dengan kasih sayang, kuasuh engkau hingga dewasa dengan segala kecintaanku.”
“Kini engkau telah dewasa Nak, kadang-kadang engkau memberi ibumu makanan dan pakaian, tapi perbuatanmu belum berarti apa-apa dibandingkan dengan apa yang telah ibu perbuat untukmu. Dan kini engkau datang menanyakan apakah ibu bisa menanggung dosa yang engkau perbuat. Yang engkau pasti mengerti anakku, dosa itu ditanggung oleh mereka yang menjalani sendiri, bukan oleh orang lain. Dan orang lain ikut terkena imbas atas perbuatanmu,” kata sang Ibu tenang.
Mendengar nasihat itu, hati Ratnakara makin sedih, seperti ada sesuatu yang mengguncang di kalbu. Dadanya terasa berat, bibirnya terasa kaku. Ratnakara lalu pergi menemui istrinya.
“Istriku maukah engkau menanggung beban dosa-dosaku kelak?”
“Kakanda sejak kita kawin, kuserahkan badan dan jiwaku ini pada kanda, kuabdikan diriku untuk kanda. Sebagian kebebasanku hilang kuberikan pada kanda, demikian juga kegembiraanku kubagi bersama kanda sebagai suami. Tiap hari dinda melakukan pekerjaan guna kesenangan dan kepuasan hati kanda, belahan nyawa dinda. Kini kanda bertanya, apakah istri kanda turut menaggung dosa yang kanda perbuat tanpa sepengetahuan dinda? Dinda rasa itu bukan tanggung jawab istrimu. Dinda tidak turut menanggung dosa itu karena istri kanda ini tidak ikut serta dalam pekerjaan dosa itu,” jawab sang istri sabar.

Dengan tubuh lunglai dan muka pucat Ratnakara menemui sang Rsi ke tengah hutan. Ternyata orang suci yang hendak dirampok itu tetap berdiri di tempat.
“Bagaimana Nak, apa kata ayahmu dan keluargamu yang lain?”
Ratnakara terdiam, tatapan matanya penuh kesedihan, lalu menyatakan ia tidak akan merampas harta milik orang suci yang setia pada janji itu. Mereka dipersilakan meneruskan perjalanan. Sejak kejadian itu Ratnakara menyesali segala perbuatan jahatnya. Teringat dosa-dosanya ia kerap menyendiri di tepi sungai Tamasa. Sadar akan kesalahan Ratnakara berniat n menebus dosa-dosanya. Akhirnya ia melakukan
tapa begitu keras, sampai-sampai seluruh tubuhnya dipenuhi tanah, dan dikerubuti anai-anai. Narada seorang dewa rsi datang menemuinya. Atas kebesaran tapanya, Ratnakara lalu dipanggil Walmiki, artinya rumah anai-anai.
Suatu hari Ratnakara tengah menikmati semerbak harum bunga-bunga di hutan, ia melihat pemandangan yang menarik hati. Sepasang burung krauncha, tengah asyk bercumbu, seakan saling menyatakan gelora asmara. Sebentar-sebentar ekor burung krauncha mengibas-ibas mendekati si betina, paruhnya dogosok-gosokkan satu sama lain sembari hinggap di ranting. Sungguh mesra kelakuan dua burung ini, terlihat begitu bahagia. Ratnakara terhibur melihat dua burung tengah bercinta ini.
“Aduhai, alangkah bahagianya sepasang burung itu. Nyata bukan manusia saja yang dapat hidup bahagia, mahluk Tuhan sekecil burung krauncha dapat juga menikmati kebahagiaan. Sungguh agung karunia Tuhan yang menitahkan sekalian alam ini penuh suka cita”, bisik Ratnakara.
Selagi Ratnakara dipenuhi rasa bahagia karena ikut menikmati kebahagiaan sepasang burung, mendadak ia dikejutkan peristiwa yang melukai hatinya. Panah seorang pemburu dilepas dari arah yang tidak diketahui Ratnakara. Panah itu mengenai tepat dada seekor burung jantan. Seketika burung melayang ke bawah, dan jatuh di pangkuan Ratnakara.
Burung betina terkejut ditimpa peristiwa naas itu, menjerit berterbangan kian kemari. Ratnakara mengalami derita jiwa sangat berat. Mengalami pemandangan keji itu, tubuh Ratnakara menggigil, air matanya menitik. Ia tak kuat lagi menyaksikan kekejian, lalu mengutuk perbuatan pemburu yang kejam itu—disumpahinya supaya si pemburu tidak mengenal belas kasih sesama mahluk idup— serta tidak mendapatkan tempat tinggal selama hidup. Tiba-tiba Ratnakara sadar akan kutuk itu, perbuatan itu tidak pantas dilakukan.
“Hak apakah yang aku miliki untuk mengutuk pemburu itu? Mengapa aku terhasut menurutu emosi,” sesal Ratnakara.
Sejak saat itu Ratnakara menjadi seorang yang sangat berperasaan, hatinya begitu halus. Kerap ia menyanyikan lagu-lagu duka yang dikarang sendiri, serta-merta mengharukan setiap orang yang mendengar. Lagu ini sebagai pernyataan bela kasih terhadap kesedihan yang menimpa sepasang burung krauncha yang pada awalnya hidup bahagia.
Saban teringat peristiwa sedih itu, Ratnakara senantiasa menyanyikan lagu mengharukan. Dewa Rsi Narada suka mendengar nyanyian duka itu. Suatu hari, saat Ratnakara mengidungkan lagu sedih sembari duduk di bawah pohon, Narada dating menemui.
“Lagunya sangat mengharukan hati Ratnakara”, sapa Narada.
“ Siapakah Tuan yang tiba-tiba datang kemari ?”
“Aku Dewa Rsi Narada. Demi mendengar lagumu yang indah mengharukan itu, aku datang kemari. Bila kau berniat mengarang cerita hendaknya engkau suguhkan dengan lagu semerdu dan seindah itu.”
“Tetapi Tuan, apakah di atas dunia ini ada seorang yang hatinya benar-benar suci lahir-batin, yang mengenyampingkan kenafsuannya, dan telah mengabdi pada kebenaran, keadilan, kasih sayang, dan cinta?” tanya Ratnakara.
“Ada Ratnakara! Dia seorang raja putra negeri Ayodya, namanya Rama. Kepahlawananya, kebijaksanaanya, dan kesucian hatinya pantas disurat.”
Kelak atas petunjuk Narada, Ratnakara lalu menuliskan kisah agung Ramayana. Dus, barang siapa yang membaca kisah ini, kelak hati dan dosa-dosanya akan dimaafkan.”
WW