Edisi No. 109/ Tahun X Mei 2009
majalah gumi bali [sarad]
prihal pikir, kata dan laku manusia bali
 
Jendela/Daftar Isi
Paruman/Sajian Utama
Lipsus
Glosari
Kelir
Kesehatan
Kerabat Kita
Paras-Paros
Peristiwa
Pintu Hati
Sambung Rasa
Sasih
Susila
Tatwa
Urun Rembug
Adat
Inspirasi
Nyama Braya
Pustaka
Seni


   
PARUMAN
hal 1 | hal 2 | hal 3

Bayangan Bulan, Kolam tanpa Riak

Apa gerangan rasa hati itu? Tidak gampang dijawab.  Tapi istilah hati selembut salju, hati sebening embun,  hati seputih awan, hati  nan teduh damai merupakan jawaban di mana “merasa-rasa” bukan sekadar perasaan.

Setiap penyembuh, entah ia dokter, dukun, atau tabib  lebih mudah menyembuhkan luka fisik tinimbang luka hati.  Perasaan sakit, perasaan tersiksa, kalut dan gundah hati  tak mudah diobati, tentu. Mereka yang mengalami stress, trauma berat memerlukan waktu cukup lama dalam pemulihan. Seindah apapun panorama alam, semerdu apapun alunan musik  tak cukup menghibur mereka yang tengah ditimpa gulana. Jantung hati, benak, batin, sanubari,  nurani, kalbu, hredaya,dan apapun namanya terang merupakan kunci penting dalam harmoni hidup. Orang tak bisa harmoni dengan tubuhnya apabila rasa hati tidak pernah seimbang, mental mengalami depresi.
Pun bagi mereka yang tidak memiliki rasa belas kasih  tak mudah tergoda derita orang lain. Tak mudah tercerap dalam suasana mengharukan. Di situ hidup lalu jadi hambar. Ibarat kera diberi subeng emas,  mustahil ia  menyentuhnya. Begitu pula si bebal hati tak tertarik merdengar nasihat bijak. Coba menundukkan kera dengan sekeping emas dianggap salah alamat, tentu. Bahwa tidak masuk akal seorang yang bebal seperti kera diberi nasihat tinggi tentang arti hidup. Kesukaan kera pasti pada buah yang matang serta hidup bebas di hutan belantara.
 Intinya, para  bijak  hendaknya paham  siapa gerangan yang hendak diberi sesuatu. Alih-alih mau memberi nasihat keutamaan. Jika pun  dipaksakan, hasilnya pasti sia-sia, ibarat mencampur air dengan minyak. Tabiat air tentu tak pernah bisa menyatu dengan minyak. Singa tidak mungkin memakan rumput. Maka jika Anda memiliki sesuatu yang berharga, hadiahkanlah untuk mereka yang pantas menerima. Nasihat bijak akan bermamfaat untuk mereka yang mencari makna hidup, haus pencerahan, yang  berniat menyalakan lilin penerang  kegelapan hati.
Orang Bali punya istilah menarik buat mereka yang berhati tumpul.     Untuk yang bebal, tak menuruti nasihat baik dijuluki si kuping celeng, bertelinga babi atau disebut juga kuping tebel, telinga bebal. Mereka dianggap sebagai orang yang tidak memiliki perasaan, tan pangrasa.  Bagi orang Bali manusia yang sempurna adalah manusia yang seimbang antara rasa dan akal, antara pangrasa dan wiweka. Manusia bukan seonggok tubuh  dihidupi jiwa. Lebih dari itu, manusia adalah wakil Tuhan dalam  hidup.
Manusia senanatiasa sempurna dalam dunianya, justru itu tak perlu    memvonis  perasaan orang sama.  Rasa, pangrasa merupakan sesuatu tak terukur, memang. Benar apa yang dijabarkan kakawin Niti Sastra: dalamnya samudra bisa diukur, dalamnya hati tak mudah ditebak. Karenanya tidak setiap orang memiliki kadar nurani sama. Kata para bijak, rasa pada hati itu   ibarat bumbu, ia  menjadi sempurna bila rasa hati itu diracik dalam kalbu. Garam pasti asin adanya, kekurangannya ia  tidak memiliki rasa pahit. Cabe yang pedas tidak mempunyai rasa manis. Tapi betapa  sangat bijak orang yang kuasa mengaduk rasa murni. Dengan begitu orang  tak mudah terombang-ambing perasaan.
Tidak mudah memang membedakan perasaan dan kata hati. Perasaan cemburu misalnya,  bukanlah rasa hati, karena dalam perasaan cemburu, hati tidak tersenyum, yang muncul cuma perasaan tersaingi, perasaan terebut. Lalu apa gerangan rasa hati itu? Tidak gampang menjawab hal ini. Tapi istilah hati selembut salju, hati sebening embun,  hati seputih awan, hati  nan teduh damai merupakan jawaban di mana “merasa-rasa” bukan sekadar perasaan subyektif. Rasa sejati konon tidak tersentuh subyektifitas, pun tak mudah tergoyang emosi negatif.
Di mana gerangan letak rasa sejati? Teks-teks susastra Bali menyebut berada di puncak hati, ring tungtung atinta rasa. Kaum awam pasti bingung membaca istilah ini. Tapi tak perlu risau, capaian belum layak dilihat dari istilah yang dimunculkan. Eloknya mesti dilihat dari lakon hidup sehari-hari. Mereka yang pikirannya senantiasa tenang, teduh, penyabar, tidak bersenang bila memperoleh keberuntungan, pun tidak bersedih bila ditimpa musibah menjadi ciri mereka yang batinnya senantiasa seimbang, degdeg. “Batin mereka yang suci bersih tak mudah goyah oleh apapun,” catat kakawin Darma Sunya.
Para bijak mencatatkan, setiap tindakan yang membuat orang lain bahagia, setiap kata yang membuat orang lain tersadar, setiap langkah yang membuat orang tersenyum pastilah pemilik hati yang degdeg itu.  Rasa hati itu ibarat kolam yang tenang, sebutir  biji yang jatuh  menyebabkan kolam beriak, tentu. Tapi kolam tak pernah hirau pada riak, setiap riak pasti hilang tertelan ketenangan. Begitu pula hati manusia, mereka yang batinnya telah mencapai pemenuhan  tak gampang beriak. Apalagi hendak melahirkan gelombang, sungguh mustahil bisa terjadi.
Keikhlasan, ketulusan, dan senantiasa berterima merupakan simpul-simpul di mana hati akan dimenangkan atas perasaan negatif. Karenanya tetua Bali pun mewanti arif, jangan pernah memikirkan hal-hal yang tidak diinginkan. “Eda ngenehang ane boya-boya, jangan memikirkan yang bukan-bukan.” Sebab memikirkan sama artinya dengan mengundang. Namun memikirkan kedamaian merupakan tindakan bermamfaat memperoleh rasa nyaman.Tapi mesti dimenegerti, kedamaian bukanlah produk pikiran, sebaliknya ia merupakan produk hati. Hanya hatilah yang bisa merasakan kedamaian dan kebahagian. Tuhan bisa dirasakan kehadirannya  dalam kondisi hati tenang dan damai.
Rasa hati memiliki kekuatan tersendiri mengkondisikan masa depan Anda— ia adalah modal hidup utama manusia. “Rasa hati sangat dibutuhkan untuk memperluas wawasan dan penilaian yang baik,”tulis Rebert K. Cooper dalam bukunya Executive EQ. Menurutnya, sebagian besar kebijaksanaan kreatif intuitif berada di pusat kecerdasan emosional. Hanya Anda sendiri yang dapat memanggilnya, mengangkatnya ke permukaan. Intuisi praktis semacam ini adalah indra— perasaan yang cerdas—dari pengetahuan batiniah.
 Pendeknya, dengan hatilah orang melihat kebenaran yang tidak kuasa dipandang mata. Dengan hati manusia dapat mengagumi keindahan musik, merasakan indahnya biru laut, serta dengan hati pula perasaan manusia bisa tergugah, terpanggil meringankan beban hidup orang lain. Dengan hati manusia menyempurnakan hidup, menemukan penyembuhan,  menghapus dahaga jiwa. Inilah kenapa orang kemudian memerlukan agama, memerlukan bimbingan spiritual, memerlukan pencerapan estetik, tak lain bertujuan hendak menemukan kedamaian hati. Semua jalan tentu untuk merawat batin senantiasa tersenyum, teduh dalam damai.
Derita, sengsara, sakit, kegagalan yang dialami manusia saban hari mesti dimaknai positif. Nyata, di balik setiap momen itu ada hikmah— bahwa keteguhan rasa hati mesti diuji senantiasa, karenanya tanpa itu orang mudah goyah, lunglai dalam hiruk pikuk hidup. Kenapa orang terjerumus  korupsi, kenapa orang mudah hanyut dalam kenikmatan narkoba, faktor dalamnya jelas:  karena  tak memiliki keteguhan rasa hati. Orang lalu kerap mencari kenikmatan di luar tanpa mau melakukan penyembuhan batin. Kenyataannya memang lebih gampang mencari penenang di luar diri tinimbang mencarinya di luar,  kendati  ketenangan itu mudah rapuh, tak ubah debu tertiup angin.
Boleh jadi sepanjang hidup orang lebih banyak bekerja dengan otak kiri—menafikan peranan otak kanan yang memberi stimulus pada ketajaman rasa, sehingga proses pengalaman hidup  terasa kering, hampa tanpa senyum  yang keluar dari pangkal hati. Orang jadi mudah putus asa, gampang patah hati akibat benih kebaikan yang tertanam di kalbu tak pernah tumbuh dengan baik, dan semua tanaman batin pun layu dalam keputusasaan. Wayan Westa

 
 
BPR Kanti