PARAS PAROS
Pangulun Subak Batungaus
Beragam fungsi tertempel pada Pura Gede Luhur Batungaus. Selain menjadi tempat suci umum, juga tempat para petani mohon keselamatan tanaman padi di huma.
Deru ombak pantai selatan tiada jemu menghantam onggokan bebatuan nan kokoh di tengah laut itu. Sesekali waktu gelombang besar datang, memecah kesunyian kemudian menerjang dinding bebatuan nan tinggi.
Di pinggiran tebing sisi utara, segerombolan generasi muda tampak beriringan mengendarai kendaraan bermotor. Tiba di depan wantian, mereka memarkir kendaraan kemudian menuju tempat suci yang berdiri di atas bebatuan itu.
Pura Gede Luhur Batungaus, begitu orang-orang lumrah menamakan tempat suci yang berada di tengah Samudera Indonesia tersebut. Keberadaan pura yang jauh dari keramaian, hening, sunyi dan sepi, menjadikan tiada sedikit orang begitu bergirang datang sembahyang ke Pura Batungaus. Dari masyarakat biasa, petinggi daerah, penekun spiritual, calon pejabat, hingga para balian (dukun) begitu bergirang bersujud pada penguasa ke tempat suci ini.
Dalam cermatan Jero Mangku Gede Batungaus, I Ketut Gibu, saban hari raya tertentu, seperti Purnama (bulan penuh) dan Tilem (bulan mati), warga yang menghaturkan bakti ke Ida Batari Dewi Danu yang berstana di pura berstatus dangkahyangan ini bisa penuh sampai pagi. “Apalagi kini saat transportasi dan komunikasi sudah lancar, orang bisa datang kapan saja bersembahyang,” tambahnya. Artinya, pada hari-hari suci keagamaan, Mangku Gede Batungaus mesti siap sedia di pura hingga satu hari penuh.
Bukan sebatas menjadi pura umum, Batungaus juga berfungsi menjadi satu tempat bagi masyarakat tani, terutama warga yang berkutat di pertanian padi untuk memohon keselamatan agar tanaman di huma terselamatkan dari segala serangan hama penyakit. Itu sebab, pura yang diempon warga subak Cemagi Let, Cemagi Anyar, Subak Munggu, masyarkat Desa Pakraman Cemagi, serta panyiwi dari Pasedahan Kaba-Kaba dan Sungi, Tabanan ini saban tahun menggelar upacara mohon keselamatan yang lumrah disebut Nangluk Mrana yang dipusatkan di Pura Batungaus.
Begitu penting fungsi dan arti dari yang sejak tahun 2006 telah dilengkapi jembatan penghubung ini, sekalipun belum ditemukan secara pasti bukti nyata awal pendirian dari tempat suci ini. “Sampai kini belum ada prasasti yang ditemukan sebagai tanda bukti sah kapan sejatinya Pura Batungaus mulai dibangun,” Jero Mangku Gede Batungaus mempertegas.
  |
|
Namun dari hasil beberapa penelitian ditunjang berbagai kitab sebagai referensi, maka Pura Gede Luhur Batungaus yang berlokasi di barat daya Kabupaten Badung, sejatinya tiada lepas dari keberadaan Kerajaan Mengwi atau sering pula disebut Kerajaan Mangupura.
Seperti banyak disebutkan dalam buku-buku tentang perjalanan sejarah Bali, termasuk
pada Babad Mengwi, bahwa Kerajaan Mengwi dulunya merupakan kerajaan yang memiliki kekuasaan teramat luas. Bukan hanya di Bali, juga merentangkan kekuasaan hingga ke bumi Blambangan, Jawa Timur.
Sekitar isaka Sad Bhuta Yaksa Dewa (candra sangkala) atau tahun 1556 Isaka (1634 Masehi), setelah I Gusti Agung Putu menduduki tahta di Kerajaan Mengwi dengan bhiseka Ida Cokorda Sakti Blambangan, maka raja ini mendirikan satu tempat suci stana Ida Batari Danu Batur yang diberinama Penataran Agung Hening. Pura ini berlokasi di kawasan Pura Taman Ayun Mengwi. Kala itu yang diangkat menjadi rohaniwan (pamangku) yakni Ki Jero Gede Batuangsut.
Ki Jero Gede Batuangsut merupakan turunan dari Sang Aji Saka yang bertempat tinggal di lereng Lembah Gunung Batur. Hingga kini keturunannya terus mewarisi tugas, gelar, dan fungsi pamangku di Penataran Agung Hening.
Tak cukup hanya di Taman Ayun, Cokorda Sakti Blambangan ini juga membangun pura sebagai tempat menyembah Dewi Danu di Barat Daya daerah kekuasaannya, tepatnya pada satu onggokan batu besar di tengah laut. Ide pembangunan pura ini muncul tiada lepas dari wahyu atau wangsit yang diterima Ki Jero Gede Batuangsut, bahwa Ida Batari Danu Batur akan mengadakan hujan angin sangat dahysat hingga memunculkan onggokan batu-batu besar. Raja-raja di Bali selanjutnya diharuskan membangun stana Batari Danu Batur pada onggokan batu dimaksud. Jika sampai tak dilaksanakan, maka akan timbul petaka baru.
Tiada lama setelah mendengar pengakuan Ki Jero Batuangsut, Ida Cokorda Sakti Blambangan menerima laporan dari seorang warga yang berdiam di tepian pantai Barat Daya wilayah kekuasaan Mengwi. Rakyat ini mengaku menemukan batu tebing telah terputus dan terpisah dari daratan. Bebatuan dimaksud terombang-ambingkan angin serta ombak besar. Si pelapor menyebut adanya ‘aus’ artinya angin kencang yang memporandakan tepian pantai.
Mendengar laporan seperti itu, penguasa Kerajaan Mengwi segera memanggil para bhagawanta puri guna diajak berkonsultasi, di antaranya dengan Ida Padanda Gede Kekeran dari Mengwi Tani, Ida Padanda Kompyang Pamaron dari Gria Munggu, serta Ida Padanda Gede Alangkajeng dari Gria Taman Intaran, Sanur.
Dari hasil rembug akhirnya disepakati membangun palinggih Ida Batari Danu Batur di atas onggokan batu yang berada di tengah laut sesuai dilaporkan salah satu rakyatnya. Tempat suci ini dibangun sekitar tahun 1643 atau setelah 9 tahun pasca pendirian Pura Taman Ayun—Pura Taman Ayun didirikan tahun 1634—, dengan nama Pura Panataran Agung Hening Sama-Nu, mempunyai fungsi kekuatan dan kesucian yang sama dengan tempat suci yang ada di Pura Taman Ayun. “Itulah sepintas sejarah keberadaan pura yang kami dapatkan dari berbagai sumber,” sebut Jero Mangku Gede Pura GedeLuhur Batungaus.
Nama daerah tempat pura dibangun lamat-lamat disebut Mangening (berasal dari kata Mahahening), sedangkan pura Penataran Agung Hening Sama-Nu lebih lumrah disebut Pura Gede Batungaus. Sebutan itu muncul dikaitkan dengan batu aus, yakni bebatuan yang diombang-ambing angin kencang.
Selain menjadi tempat menstanakan Dewi Danu, Penataran Batungaus juga sebagai satu tempat penyeberangan Cokorda Sakti Blambang ketika hendak mengadakan perjalanan ke wilayah Blambangan, Jawa Timur. Seperti diketahui, Blambangan merupakan satu daerah kekuasaan Mengwi masa dulu setelah mendapat hadiah dari Raja Buleleng, I Gusti Panji Sakti. Daerah ini merupakan tetatadan (bekal) perkawinan putri I Gusti Ngurah Panji Sakti yang bernama I Gusti Ayu Panji dengan Ida Cokorda Sakti Blambangan.
Ketika Kerajaan Mengwi diperintah Raja III yang bernama Cokorda Nyoman Munggu—bhiseka Cokorda Munggu itu muncul dikarenakan Raja Mengwi ini punya dua keraton. Di Mengwi dan di Desa Munggu (kini Geria Agung Mandara)—, maka dibangun tempat suci pasimpangan (perwakilan) Pura Gede Batungaus yang berlokasi di Banjar Batan Tanjung, Desa Cemagi. “Dibangunnya pura pasimpangan di sini juga tak lepas dari berbagai kendala yang muncul dulu,” sebut Mangku Gede.
Kendala dimaksud, di samping pura pusat sulit diakses masyarakat, konon kawasan sekitar pura cukup lama menjadi daerah kekuasaan hewan sejenis semut. Itu wilayahnya sekarang dinamakan Semenur.
Akibat tak kuasa menahan serangan semut, maka warga memilih mengungsi ke desa di belahan utara dan membangun pura perwakilan persis seperti yang ada di tempat tinggalnya terdahulu.
Saat berlangsung upacara keagamaan (piodalan) yang berlangsung pada Purnama sasih Jyesta (bulan kesebelas sesuai kalender Bali), maka pertama kali upacara dilaksanakan pada Pura Batungaus yang berada di tepian pantai Mangening. Usai di selatan, barulah upacara berlanjut ke Pura Batungaus yang berlokasi di Batan Tanjung, Cemagi. Pada saat upacara biasanya dilakukan ngider buwana (mengitari bumi). I Wayan Sucipta