Edisi No. 109/ Tahun X Mei 2009
majalah gumi bali [sarad]
prihal pikir, kata dan laku manusia bali
 
Jendela/Daftar Isi
Paruman/Sajian Utama
Lipsus
Glosari
Kelir
Kesehatan
Kerabat Kita
Paras-Paros
Peristiwa
Pintu Hati
Sambung Rasa
Sasih
Susila
Tatwa
Urun Rembug
Adat
Inspirasi
Nyama Braya
Pustaka
Seni


   
KERABAT KITA

Habis Guru Terbitlah Pengusaha

Cita-cita sebagai pendidik akhirnya kandas di tengah jalan. Kini, dia malah sukses berkutat di usaha. Mengelola bisnis garmen sampai tembus manca negara.

Ruangan kecil di ujung barat laut rumah di kawasan Perumahan Permata Indah, Jalan Pererepan nomor 44, Desa Pemogan, Kecamatan Denpasar Selatan, Kota Denpasar tampak cukup sederhana. Hanya dilengkapi dua meja persegi panjang, alat pendingin, sebuah tempat meletakkan sesaji (pelangkiran) di ujung timur laut, serta lukisan kuda berlari penuh energik.
Di bawah lukisan kuda, wanita setengah baya mengenakan baju kaos berwarna merah muda dengan rambut sedikit acak-acakan, tampak duduk santai. Sesekali waktu  kepalanya ditengadahkan melnikmati plafon rumah nan bersih.
Sejurus kemudian, dia keluar menuju tempat puluhan orang yang lagi sibuk menjahit, menyetrika baju kaos oblong sudah jadi. Wanita bernama lengkap Desak Putu Kriani itu terlihat berkeliling ruangan. Mengamati orang-orang yang suntuk menunaikan kewajiban. “Memantau karwayan  bekerja, siapa tahu ada kesalahan atau ada yang perlu dipertanyakan,” pengusaha garmen bertubuh langsing itu beralasan.
Ibu Desak, begitu putri pertama dari lima berkeluarga buah hati Dewa Putu Mergug dengan Jro Made Mundeh ini biasa disapa, saat ini lagi disibukkan mengurus garmen. Satu usaha yang dirintisnya sejak 9 tahun silam dan kini berkembang cukup pesat. Tak hanya meladeni pesanan dalam negeri, tiada sedikit melayani permintaan pelanggan dari luar negeri seperti Jepang, Jerman, Perancis, dan negara Eropah lainnya.
Di sela-sela kesibukan mengurus usaha garmen yang bernaung di bawah payung PT Adhi Manggala Putra, wartawan SARAD I Wayan Sucipta, sempat bercengkerama terkait kisah awal terjun di bisnis garmen. Berikut petikan wawancaranya :

Pendidikan formal yang Anda tekuni bukan di bidang usaha atau di bisnis, tapi sebagai tenaga pendidik.  Bagaimana sampai terpincut di dunia bisnis?
Ceritanya cukup panjang. Sejak kecil saya memang berkeinginan menjadi guru. Maklum, dasa warsa 1980-an profesi guru begitu melekat di masyarakat, termasuk dalam diri saya. Maka, selepas Sekolah Menengah Pertama (SMP), saya langsung melamar ke Sekolah Pendidikan Guru (SPG) Negeri Denpasar. Kini menjadi  SMA 7 Denpasar.

Apa yang Anda bayangkan pada sosok guru kala itu?
Amat sederhana. Pagi pergi ke sekolah berpakian bersih dan rapi, bertemu teman-teman seprofesi, kemudian mengajar anak-anak. Siang hari pulang. Sempat pula terbayangkan bisa membeli kendaraan.
Niat Desak Kriani menjadi “Pahlawan tanpa tanda jasa” begitu membara memang. Terbukti tamat dari SPG Negeri Denpasar tahun 1987, ibu empat putra ini memilih melanjutkan kuliah pada IKIP (Institut Keguruan Ilmu Pendidikan) swasta di bilangan Denpasar.
Karena orangtuanya tak sanggup membiayai, maka sambil kuliah dia mengajar di sekolah dasar (SD) swasta.  Dari sinilah mencoba meraih cita-citanya menjadi seorang pendidik dengan mengetoktularkan ilmu yang didapatkan selama bersekolah di SPG.
Beberapa bulan berjalan, Kriani menikmati profesi sebagai pendidik. Hatinya teramat girang bisa mengajar, mempraktekkan sistem pembelajaran pada anak-anak di sekolah dasar. Pagi-pagi sudah bangun, membersihkan diri, mengenakan busana atas bawah yang rapi kemudian berangkat ke sekolah. Siang hari saat jam sekolah usai, dia kembali ke tempat kos. Sorenya pergi kuliah, hendak memperdalam ilmu menjadi guru.   
Sayang, rasa riang itu lamat-lamat mulai terusik. Jiwa pengabdian menjadi guru mulai ada yang mengganjal. Bukan karena sistem mengajar, bukan pula akibat gangguan suasana sekitar sehingga Desak Kriani memilih berhenti dari profesi yang sempat dicita-citakan sejak masih duduk di bangku SD.

Apa yang melatarbelakangi Anda memilih berhenti sebagai tenaga  pendidik?
Perhitungan kala itu murni  soal keperluan hidup. Saya masih kuliah dengan biaya sendiri. Termasuk membayar sewa rumah. Sedangkan pendapatan dari menjadi guru, lebih-lebih di swasta kala itu amat minim. Jangankan beli baju, bisa bayar kos-kosan saja sudah syukur.

Solusinya?
Agar kuliah tak terbengkalai, apalagi sampai berhenti, maka saya memilih kerja di swasta dan itu bukan menjadi guru melainkan di satu perusahaan garmen. Saya dapat di administrasi. Begitu terjun di kerjaan baru, malah kebingungan. Apalagi bertugas merekap data dan mengetik. Sedangkan kerja mengetik sama sekali belum pernah dilakoni. Akibatnya, tugas-tugas yang harus diselesaikan berjalan lamban. Itu sebab waktu awal-awal bekerja, bos sempat bilang rugi membayar karyawan kalau cara kerjanya seperti ini.

Bagaimana perasan Anda kala itu?
Cukup tersentak, dan saya bilang kalau begitu, nggak usah dibayar saja. Untungnya pemilik perusahaan cepat tanggap dan mengataklan maksud dari peringatan itu agar saya lebih giat belajar mengetik.
Desak Kriani menyadari kekurangan dalam diri, maka dia berupaya belajar lebih giat. Begitu lepas dari IKIP tahun 1993, ternyata tak lagi berkeinginan melamar jadi guru. Dia tetap memilih bekerja di perusahaan. Selama rentang waktu 7 tahun dia sempat menjadi karyawan di berbagai perusahaan swasta. Pindah dari satu perusahaan ke perusahaan lain. Dan, dalam kurun waktu itu pula berbagai jabatan pernah direngkuh, dari soal administrasi, menangani eksport, sampai tingkat manager produksi. Tahun 2000, saat masih bekerja di kawasan Kuta, terbersit keinginan lain.

Apa itu?
Saya berkeinginan punya kerja sampingan. Waktu itu tujuannya amat sederhana, sambil bekerja agar bisa mengurus anak-anak. Saya pun berpikir tak mungkin bisa berlama-lama bekerja di perusahaan milik orang. Maka, dengan modal Rp 10 juta membeli mesin jahit.

Apakah saat itu sudah piawai menjahit?
Saya memang tak bisa menjahit, bahkan sampai sekarang. Saat awal membangun usaha juga merekrut empat orang tukang jarit.

Adakah usaha garmen yang di pilih akibat pengaruh dari tempat Anda berkerja?
Itu semua memang tiada lepas dari pengaruh yang dapatkan selama bekerja. Sebelum membuka usaha sendiri, saya pernah bekerja pada beberapa perusahaan swasta di bilangan Denpasar dan Kuta. Kebetulan tempat itu dominan bergerak di usaha  garmen.

Bagaimana Anda mengatur usaha di awal, apalagi masih tercatat sebagai karyawan di satu perusahaan?
Pagi bekerja, sore sepulang kantor keliling mencari pesanan. Berbagai tempat ditelusuri mencari orang-orang yang mau memanfaatkan jasa menjahit. Termasuk bilang pada pemimpin perusahaan tempat bekerja, jika saya sekarang memiliki tukang jarit yang siap mengerjakan baju kaos pesanan perusahaan.

Apa tanggapan pemilik perusahaan?
Beruntung bos tempat bekerja baik hati dan terus mendorong untuk maju, termasuk memberikan orderan.  Karena telah dipercaya, saya pun berupaya memberikan pelayanan terbaik lewat menunjukkan hasil kerja yang maksimal.
Pasca memiliki usaha sampingan, istri dari Gede Putu ini terus memacu semangat kerja. Menjalin komunikasi dengan banyak orang agar bisa. Sifat kerja keras yang tertanam sejak kecil tentu tak terlalu menyulitkan Desak Kriani dalam melakukan tugas-tugasnya. Setiap peluang ditangkap sebaik mungkin, kemudian dicerna secara maksimal. Menginjak tahun ke tiga (2003), nyaris tanpa kendala. Karyawan direkrut meningkat sampai 30 orang. Pesanan pun datang mengalir.

Begitu besarnya tanggungjawab yang mesti dipikul, apakah Anda masih bisa mendua dalam membagi tugas?
Tentu tidak, makanya tahun 2003 mantapkan diri mengelola usaha sendiri. Berhenti kerja di perusahaan orang pun jadi pilihan. Sekalipun sudah berhenti, hubungan saya dengan tempat kerja terdahulu tetap baik. Pesanan menjahit masih terus diberikan.

Apa langkah yang diambil selanjutnya?  
Terus berupaya membesarkan perusahaan. Selain mencari pesanan, tiap kali dapat untung, modalnya dialihkan untuk menambah mesin sehingga mempermudah bekerja. Urusan di rumah tangga, sepenuhnya diserahkan ke suami yang kebetulan juga bekerja.

Apa pula dilakukan agar karyawan bisa betah bertahan?
Jiwa mendidik itu tetap menjadi pegangan. Sekalipun gagal menjadi guru secara formal, ilmu itu coba saya terapkan di perusahaan. Mereka saya arahkan secara baik, benar, dan teliti. Konsep kerja hati-hati dan ketelitian itu amatlah penting. Lebih-lebih diperuntukkan bagi orang luar. Sedikit saja ada yang kurang memuaskan, customer akan protes. Itu sebab ketika ada kegiatan packing, menjarit, menyetrika, saya tetap memantau sepenuhnya.

Cara lain?
Tetap menumbuhkembangkan komunikasi. Semua di sini adalah keluarga besar, maka komunikasi itu harus nyambung. Bila ada kendala mesti diperbincangkan sehingga bisa diselesaikan dengan baik. Mungkin karena saya terlahir dari keluarga kurang mampu, maka saya tak tahan melihat penderitaan orang. Termasuk karyawan.

Maksud Anda?
Sedapat mungkin kewajiban untuk karyawan diutamakan. Bila melihat ada yang perlu mesin atau kendaraan, sedapat mungkin dilayani. Untuk pembayaran mereka bisa mencicil lewat perusahaan.

Bagaimana dengan urusan keluarga dan kegiatan adat, terutama mengatur  waktu antara keduanya?
Mengelola perusahaan agar tetap maju itu penting dilakukan. Tapi bagi saya, lebih penting masalah keluarga. Sesibuk apapun saya selalu menyempatkan diri  bercengkerama dengan anak-anak dan suami. Kedekatan itu amat penting dilakukan sehingga keluarga tak mudah terpecah. Saya juga sering melibatkan anak-anak dalam perusahaan. Misalkan ada pengepakkan barang, mereka saya ajarkan dan langsung dipraktekkan. Cara-cara seperti ini disamping untuk menjalin rasa keakraban, sekaligus mengajarkan anak-anak agar nanti hidup mandiri.

Kini Anda amat suka pergi sembahyang ke berbagai tempat suci di Bali malah sampai ke luar daerah. Apa sejatinya yang Anda cari?
Kedamaian, keheningan, dan menghilangkan stres. Setelah seharian bekerja di perusahaan, mengurus 55 karyawan dengan berbagai pekerjaan, tentu pikiran ini akan dibebani banyak persoalan. Belum lagi ada komplain dari customer. Untuk menetralisasi  beban yang bercokol di kepala, saya rasakan lewat mendekatkan diri dengan Tuhan sebagai satu cara  di samping tiap minggu berolahraga.

Apakah dalam persembahyangan itu mengikutsertakan karyawan?
Sesekali waktu saya ikutsertakan. Langkah ini juga sebagai satu upaya menjalin keakraban sesama karyawan.
Kriani tergolong sukses menjalankan usaha garmen. , wanita kelahiran Pejeng 40 tahun silam—Desak Putu Kriani lahir di Banjar Intaran, Desa pejeng, Kecamatan Tampaksiring, Kabupaten Gianyar, 5 Pebruari 1969—tetap tampil sederhana. Tiada kemewahan yang tampak dalam dirinya. Sifat itu muncul tentu tak lepas dari kebiasaan yang tertanam dan melekat dalam diri sedari kecil. Berasal dari lingkungan keluarga tergolong berpendapatan rendah, menyebabkan dia mesti hidup serba dalam keterbatasan. Kesederhanaan, tampil bersahaja dan seadanya seakan menjadi kartu as dalam hidupnya.

Kini teman-teman Anda yang satu angkatan waktu di SPG Denpasar telah banyak menjadi guru. Bagaimana perasaan Anda?
Biasa-biasa saja. Saya selalu berpatokan bahwa jalan hidup dan rezeki  tiap manusia itu sudah ditentukan Hyang Maha Agung.  Mungkin bukan garis tangan jadi pegawai negeri sipil (PNS).

Kenapa Anda begitu yakin bukan berjodoh di PNS?
Beberapa tahun lalu sempat mencoba mencari PNS, begitu sampai pada detik-detik terakhir akan dapat, ada saja kendala menghadang yang pada akhirnya membuahkan kegagalan. Dan, saya meyakini apapun yang dikerjakan asal dilandasi kemauan, kerja keras, dan berasal dari lubuk hati paling dalam, pasti bisa meraih sukses. WS

   
 
 
BPR Kanti