INSPIRASI
Pendidikan Murah Mengapa Tidak?
Biaya mahal sering menghambat hak anak bangsa atas pendidikan layak. Yayasan Sri Satya Sai Bali coba rintis sekolah murah. Kiatnya; saling berbagi, saling memberi; Saluung-luung sabhayantaka. Tak tergantung uluran tangan pemerintah.
.jpg)
Jam menunjukkan pukul 10.05 pagi. Di lantai dasar sebuah bangunan berukuran 21 m x 9 m berbentuk aula besar tiga lantai, tampak puluhan anak-anak TK sedang riang bermain. Ada yang saling kejar-kejaran, bermain perosotan, ayunan, atau sekedar duduk sambil memperhatikan teman-temannya berlarian. Perasaan gembira tak bisa disembunyikan dari wajah imut mereka.
Saat didatangi SARAD untuk pengambilan foto, mereka dengan bersemangat bergaya di depan kamera.”Ayo om, aku difoto
dong om,” teriak bocah-bocah lugu itu tanpa sungkan. Pagi itu, sepertinya mereka sangat menikmati suasana penuh akrab. Mengenakan seragam biru muda, tubuh anak-anak itupun tampak sehat-sehat.
Salah seorang anak yang mengaku bernama Prema, bercerita tentang perasaannya bersekolah di TK ini. ”Teman-teman pada baik-baik semua, om.
Nggak ada yang nakal, jadi Prema suka sekolah di sini,”ucapnya.
Tak lama berselang, lonceng sekolah berupa besi gelontongan berbunyi nyaring. Anak-anak itu berhenti bermain. Dengan tertib, mereka menuju ruangan kelas, berkumpul, lalu duduk bersila membentuk lingkaran. Dipimpin seorang guru, mereka duduk hening, dilanjut melantunkan bait-bait indah
mantram gayatri. Dilanjutkan proses belajar di kelas masing-masing.
Demikian sebagian kegiatan Taman Kanak-kanak (TK) Sai Prema Kumara. Menurut penjelasan Kepala TK, Wayan Wijania, pada angkatan tahun ini, jumlah anak TK keseluruhan sebanyak 78 orang, dibagi dua kelas yakni TK A (usia 4-5 tahun) sebanyak 30 orang anak, dan sisanya TK B (usia 5-7 tahun). Sejak awal beroperasi bulan Juli 2002 lalu, TK yang terletak di Banjar Tegeh Kori, Kelurahan Tonja, Denpasar Utara itu sudah meluluskan tak kurang dari 300 orang anak.
”Seperti TK umumnya, kami juga memberikan materi dasar seperti sikap perilaku, kognitif, fisik motorik, seni dan bahasa. Namun di sini ada keunggulan lain yang khas, yang membedakannya dari TK lain,”ungkap pria berusia 31 tahun itu dengan mimik serius.
.jpg)
Keunggulan yang dimaksud, jelas Wayan, antara lain mengintegrasikan nilai-nilai budi pakerti dalam setiap aktivitas anak. Ia mencontohkan, kalau di TK umum anak diajarkan bahwa manusia punya 2 mata dan 1 mulut, di TK ini diselipkan nilai budi pekerti, bahwa mata harus dipergunakan untuk melihat yang baik saja, dan mulut digunakan untuk berucap yang baik, makan makanan yang baik.
”Juga saat kami mengenalkan nama pepohonan. Kami akan jelaskan ke anak-anak, bahwa pohon itu iklas memberikan bunganya untuk sembahyang, pun menjadi tempat berteduh bagi semua, termasuk bagi yang ingin menebangnya. Selayaknya sifat pohon itu ditiru,” tutur lajang asal Baturiti, Tabanan itu.
Keunggulan lain yang justru paling menonjol adalah masalah biaya pendidikan. Tak seperti TK pada umumnya, di TK Sai Prema Kumara orang tua siswa tak diwajibkan membayar biaya seperti uang SPP, uang gedung maupun pungutan lain. ”Di sini kita terapkan konsep
seva. Bagi yang benar-benar tidak mampu, kita bebaskan dari pungutan apapun. Sebaliknya, bagi yang memiliki kemampuan finansial lebih, kita harapkan mereka menyumbang dengan kesadaran
seva. Intinya, kita saling percaya, dan yang terpenting, anak-anak kurang mampu tetap memiliki kesempatan mengenyam pendidikan layak. Untuk masalah biaya operasional, semua menjadi tanggung jawab Yayasan,”kata Wayan.
Hal ini dibenarkan oleh Koordinator Bidang Pendidikan Yayasan Sri Satya Sai Bali, Dewa Nyoman Dana. Menurutnya, yayasan memiliki beberapa kiat agar besarnya biaya operasi bisa ditanggulangi. ” Bagi yang betul-betul tidak mampu diupayakan dengan bantuan orang tua asuh. Sebaliknya, bagi orang tua yang mampu disamping membiayai anaknya bisa juga membiayai siswa yang kurang mampu. Semacam subsidi silang. Yang jelas, kami tidak mematok besarnya biaya yang harus dibayarkan. Semua berdasar kesadaran orang tua,”jelas Dewa.
Ibu Dede, orang tua murid yang sempat diwawancarai SARAD saat menunggui anaknya, menyatakan alasannya memilih TK Sai Prema Kumara.”TK ini lain dari yang lain. Selain biaya yang murah, anak saya juga dibekali pendidikan spiritual dan budi pakerti. Dari segi kualitas, TK ini tak kalah dengan TK lain. Ekstra Kurikulernya juga lengkap. Pokoknya saya senang anak saya masuk di TK ini,” ucap wanita berambut pendek itu dengan bersemangat.
Ditanya tentang prestasi, Wayan Wijania menunjukkan banyak lembaran tanda penghargaan yang pernah di raih TK yang dipimpinnya itu, mulai dari lomba lukis, lomba busana dan lain-lain.”Dari segi prestasi, TK ini berani diadu denan TK lain,”tegasnya sambil tersenyum.
Hampir semua ahli pendidikan sepakat, Taman Kanak-kanak (TK), adalah sebuah tempat yang sangat strategis membantu membangkitkan karakter, bakat dan potensi yang baik pada diri anak. Usia 3-7 tahun disebut juga sebagai usia emas (
golden ages), usia yang sangat menentukan arah masa depan anak kelak. Diyakini, kesalahan mendidik anak pada usia emas ini akan berakibat buruk bagi kelangsungan hidupnya kelak.
Namun, harapan orang tua agar anak tercintanya bisa mengenyam pendidikan awal ini acapkali terhambat, terkendala masalah biaya. Tak dipungkiri lagi, bagi sebagian masyarakat, terutama yang kurang mampu, menyekolahkan anak-anaknya, meski hanya setingkat TK, tetap menjadi beban berat di tengah himpitan ekonomi yang semakin mencekik.
Terobosan yang dilakukan Yayasan Sri Satya Sai Bali dengan menyelenggarakan pendidikan murah sepatutnya dijadikan inspirasi, bahwa pendidikan murah itu bukanlah mimpi kosong. Kiatnya cukup sederhana; saling berbagi dan memberi, serta didasari kesadaran
seva, saling melayani antar sesama,
seluung-luung sabhayantaka (kebersamaan dalam suka maupun duka).
Tentu, selain biaya murah, hal terpenting yang tak bisa diabaikan adalah kualitas pendidikan. Banyak kritik yang dilontarkan pada metode pengajaran di sebagian besar sekolah yang masih menganut metode monologis dan satu arah; guru menjelaskan-murid mendengar, guru subjek-murid objek, guru lebih pintar-murid tak tau apa...! Metode ini menjadikan murid –pinjam istilah tokoh pendidikan dunia ketiga Paolo Freire—seperti celengan, hanya pasif menerima ’receh-receh” pengetahuan sang guru. Muncullah apa yang disebut pendidikan ’gaya bank’.
Seeloknya pendidikan harus bermuara pada pembebasan. Karena sebagai individu, anak sudah memiliki bakat dan potensi tertentu dalam dirinya. Tugas pendidik-lah membangkitkan potensi diri anak, bukan menjejalkan kepala anak dengan seribu macam teori dan pengetahuan
an sich. Dengan demikian, metode pengajaran yang dialogis dan penuh keakraban akan memberikan ruang kepada anak didik untuk mengekspresikan diri secara penuh. Hal ini untuk mencegah lahirnya generasi —pinjam syair lagu anak-anak—bebek-bebekku, mari kemari, ikutlah aku...!
Dewa Ketut Putra & Rumbiasa