Edisi No. 106/ Tahun X Februari 2009
majalah gumi bali [sarad]
prihal pikir, kata dan laku manusia bali
 
Jendela/Daftar Isi
Adat
Paruman/Sajian Utama
Lipsus
Seni
Figur
Glosari
Inspirasi
Kelir
Kesehatan
Kerabat Kita
Nyama Braya
Paras-Paros
Peristiwa
Pintu Hati
Pustaka
Sambung Rasa
Sasih
Susila
Tatwa
Laras


   
SENI

Terang Suram Endek Bali

Di tangan Cok Abi, ‘taksu’ endek kembali diangkat. Lebih trendi dan casual. Diyakini ke depan, masyarakat luas semakin bangga menggunakan endek, layak menggunakan jeans.

Busana, lazim disebut fashion ternyata lebih dari sekadar fungsi praktisnya sebagai pembalut aurat, ia telah berkembang dan menciptakan nilai-nilai ‘lebih’, baik nilai seni, nilai sosial maupun ekonomi.
Nilai ‘lebih’ yang melekat pada pakaian sangat disadari  para leluhur orang Bali. Mereka wewarisi kepada generasi di bawahnya bahan-bahan pakaian yang berkualitas, yang pembuatannya melibatkan segenap ketekunan, kesabaran dan nilai seni yang tinggi.
Salah satu kekayaan peninggalan budaya leluhur Bali yang tak ada duanya di dunia adalah seni tenun. Teknik menenun ini telah  ditemukan sejak zaman dulu. Hasilnya sangat dikagumi, bukan hanya bagi selera lokal, namun juga membangkitkan selera masyarakat dunia. Bahan dan prosesnya pun bermacam-macam, misalnya dibuat dari benang ulat sutera, dipintal dengan tangan, diberi warna dengan bahan pewarna alam dari tumbuh-tumbuhan dan dikerjakan dalam waktu lama, bahkan bertahun-tahun. Tenunannya sangat rapat, halus, dibuat dengan kesabaran, ketekunan dan ketelitian yang prima. Pun motif hiasnya memakai teknik ikat yang rumit.
Kain tenun  paringsingan, songket, dan endek Bali adalah beberapa contoh hasil karya besar para leluhur Bali dalam usaha memberi nilai ‘lebih’  cara berbusana orang Bali. Namun, seiring perkembangan, bahan-bahan busana ini mulai ditinggalkan, karena selain tidak praktis dan modis, kerumitan pembuatan dan kelangkaan bahan baku menjadikan harganya sangat mahal. Orang Bali beralih ke busana-busana yang lebih praktis dan ‘modern’ seperti batik, katun, jeans dan lain sebagainya. Kini, warisan tetua Bali itu seakan menjadi ‘mitos’.
Muramnya perkembangan busana-busana tradisional Bali inilah yang menjadi motivasi dan tantangan berkarya bagi Tjokorda Gede. Abinanda S, seorang desainer muda  kelahiran Bali. Pria yang akrab dipanggil Cok Abi ini berusaha menggali, apa sesungguhnya yang harus dimunculkan dari gaya busana orang Bali. “Akhirnya terpikir endek, karena itu benar-benar kain khas Bali, dengan unsur yang sudah dikenal masyarakat luas. Saya ingin mengangkat kembali ‘taksu’ kain tradisional Bali, khususnya endek, “papar alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Trisakti ini.
Kain endek, menurut Tjok Abi, sebenarnya dapat dikembangkan menggunakan hasil-hasil pemikiran baru tanpa harus kehilangan ciri yang paling mendasar dari tekstil yang dipergunakan. Rancangan baru ini mendekatkan rancangan tradisional setempat dengan trend yang berkembang di dunia internasional. “Kuncinya adalah  mengembangkan motif-motif tradisional menjadi motif-motif yang berorientasi pada pasar global. Karena konsep berpakaian masyarakat saat ini lebih didasarkan pada model dan kenyamanan.” Jelas pria kelahiran Denpasar, 13 Januari 1968 ini serius.
Dengan ketekunan dan kepekaan estetik, lulusan Cavendis College London, Inggris ini terus menggali dan mematahkan kesan berat yang dipikul endek. Di tangannya kain endek bisa tampil trendi, dan sangat casual. "Masih banyak ragam hias Bali yang sangat menarik bisa digali dan ditanam pada sebuah kain. Siapa bilang endek tidak bisa gaya, dia bisa dibuat bergaya pakaian India dengan warna dan patter-nya, atau bergaya Barok dan Romantik dengan sentuhan etnik. Bisa juga gaya Mongolia.
Atau kalau yang ingin santai dan cuek bisa dibuat gaya kreasi yang sederhana dan praktis. Atau kalau ingin agak lain bisa memilih gaya Hippie Chik, salah satu gaya busana yang in tahun ini. Gaya ini merupakan paduan antara gaya dari berbagai etnik (multietnik) dengan selera individu, mirip dengan gaya grunge yang pernah populer di awal tahun 1990-an. Cocok untuk penampilan casual atau semi-formal,” ungkap nominator desainer terbaik versi Fashion TV Paris ini.
Sayangnya, menurut Tjok Abi, endek itu memang rumit, mahal, dan motifnya sangat konvensional. "Kesan ini yang ingin saya ubah, saya ingin kehadiran endek bisa terangkat seperti halnya batik. Memang masih memerlukan jalan panjang. Persoalannya pada motif yang sangat konvensional, dan sulitnya merawat bahan endek."
Untuk mewujudkan impiannya itulah, Pemilik de Galuh Butiq ini merangkul beberapa teman-temannya dari luar negeri menggarap motif endek agar terlihat beda. Hasilnya, rancangannya pun terkesan sangat casual dan modern.
“Belakangan ini kain endek sudah kembali digemari. Banyak busana uniform, baik itu karyawan hotel maupun pegawai negeri yang sudah menggunakan bahan endek. Ini perlu diapresiasi dan dikembangkan, karena endek adalah salah satu produk budaya asli Bali yang bernilai seni tinggi. Ke depan, saya bermimpi, masyarakat luas semakin bangga menggunakan endek, seperti menggunakan jeans,” harapnya.
Solusi yang harus diambil untuk mengangkat endek memang tidak bisa dilakukan  seorang Tjok Abi saja. Harus ada instansi yang terkait, misalnya departemen perindustrian yang turun ke desa-desa ke tempat perajin. Tentunya dengan bekerja sama dengan sarjana-sarjana design tekstil. Kalau ini bisa terjalin dengan rapi, endek bisa jadi pilihan busana yang menarik, tidak terkesan berat, tidak juga terkesan ribet.
Dewa Ketut Putra, Jk

 
Hati-Hati Memilih Endek
Klungkung adalah salah satu daerah penghasil endek  berkualitas. Luh Putu Ida Kusuma, seorang perajin endek asal Klungkung memberi beberapa tips  agar kain endek tidak mudah luntur dan rusak. “Agar warnanya tetap bagus dan cerah, kain endek perlu dirawat apik Namun merawat kain endek tidaklah berbelit-belit, tidak serumit merawat songket”ungkapnya.
Bila kain kotor, cukup dicelup-celup di dalam seember sabun cuci dan tak perlu waktu lama. Selanjutnya, kain diangin-angin, jangan terkena sinar matahari langsung sebab sinar matahari dapat memudarkan ketajaman warna dan corak.
Ida Kusuma pun mengingatkan agar kain asli kampung halamannya itu terasa halus, kain itu dapat disetrika ketika masih setengah kering. Syaratnya, jangan disetrika dengan suhu panas. Apabila kain dalam keadaan terlalu kering ketika disetrika, hasilnya justru tidak baik.
"Kain menjadi susah dihaluskan dengan setrika. Jika disemprot air, hasilnya malahan tidak maksimal. Apalagi kain yang sudah ada lukisannya. Lebih baik disetrika di sisi kain lainnya, bukan langsung terkena lukisannya. Namanya juga biar awet," pesan Ida Kusuma.
Saran lain, jangan terkecoh dalam membeli. Pasalnya, tenun endek makin banyak ditiru. Namun, endek asli Klungkung tetap memiliki ciri khas, yaitu bagian pinggiran kain yang panjang lebih tebal sekitar satu sentimeter dan warnanya lebih gelap. Tentu saja buatannya pun lebih rapi.
Juga jangan sampai terkecoh kain berbahan sutra sekalipun. "Kadang yang motif-motif bunga, misalnya, sudah bukan dibuat dengan cara dibordir lagi, melainkan disablon biasa. Makanya, harganya miring. Jadi, hati-hati memilih dan membeli bila menginginkan kualitas," ujarnya.
Tips perawatan ala Putu ini dibenarkan oleh Cok Abi. Menurutnya. Untuk merawat kain endek tidaklah sulit. Jangan dicuci dengan mesin cuci, sabun cuci biasa atau di-dryclean.
Pada waktu tertentu, pada musim kemarau misalnya endek cukup diangin-anginkan, tidak di bawah terik matahari langsung. Dimasukkan ke dalam plastik, atau digulung, disimpan dengan posisi tegak di lemari. Diberi atau ditaburkan wangi-wangian alami di lemari penyimpannya, untuk mencegah datangnya binatang-binatang kecil perusak.
Dewa Ketut Putra, Jk