|
URUN REMBUG
Tanpa Banten, Apa Mungkin?
Tak Sreg Pakai Banten
Bapak Tjokorda yang saya hormati. Selama ini saya mengikuti terus jawaban-jawaban Bapak Tjokorda di Majalah SARAD. Saya salut dengan ketekunan dan pelayanan Bapak. Saya merasa mendapat banyak hal dari pelayanan Bapak itu.
Begini Bapak Tjokorda, saya lahir luar Bali. Sejak tahun 1970, orangtua merantau ke Jakarta. Sebelum menetap di Jakarta, orangtua pernah merantau di Lombok, Lampung, dan Ujung Pandang. Ayah terbilang orang ulet, tidak pilih-pilih kerja. Sejak dulu anak-anaknya dididik disiplin. Syukur anak-anaknya sekarang sukses. Walau tetap sebagai orang Hindu saya merasa tidak sebagai orang Bali. Saya besar dan bertumbuh di rantau. Kakak-kakak saya tinggal di luar negeri. Ada yang bekerja di Australia, ada yang sedang studi di Inggris, dan satu lagi ahli komputer bekerja di India.
Sejak masih muda kakak-kakak suka meditasi, ikut kelas-kelas yoga. Ia pun doyan membaca buku-buku spiritual, entah itu Upanisad, Gita, Damapada, Tao, bahkan kitab-kitab suci agama lain. Kami bersyukur punya warisan banyak buku dari Bapak. Kami merasa, buku yang melimpah itu warisan rohani kami. Dan saban otonan atau di hari-hari tertentu (ini kebiasaan sejak kecil) kami diajar untuk senantiasa berderma kepada sesama, sesederhana apapun. Misalnya ke panti asuhan, melepas ikan, melepas, burung, dan sebagainya.
Nah pertanyaan saya, bisakah kami menjalankan keyakinan leluhur kami tanpa menyertakan banten? Di mana kami mendapatkan banten bila kebetulan kami berada di luar negeri? Kalau lagi di Indonesia, karena ibu kebetulan orang Bali kelahiran Klungkung, beliau masih bisa membantu kami, misalnya; saat otonan cucu-cucunya. Bagaimana suatu saat kami jauh dengan ibu, apakah dalam pemujaan kami harus menyertakan banten? Adakah wujud persembahan lain di luar banten? Mohon pencerahan Bapak Tjokorda!
I Gede Gita Ananda
Jl. Gondangdia, Jakarta
Jawab:
Membaca pertanyaan Sdr. I Gede Gita Ananda, Jl. Gondangdia, Jakarta. Saya merasa kagum atas usaha untuk mengetahui unsur-unsur yang mendasari agama Hindu kita. Unsur pokok agama kita adalah tatwa, etika dan upacara (ritual). Unsur tatwanya sudah dipelajari dan dipahami dengan membaca buku-buku Upanisad, Bhagawad Gita, Dammapada Tao bahkan buku-buku suci agama lain. Tentu unsur etikanya pasti sudah dihayati. Hanya unsur ritualnya yang belum yaitu soal upacara dengan upakaranya. Kalau diandaikan tubuh manusia kepalanya dan hatinya sudah dipahami tetapi tangannya yang belum diketahui secara jelas. Tatwa sebagai kepala sedangkan ritual sebagai tangan belum diketahui. Kata Upa-cara adalah pelaksanaan (cara) sedangkan upa-kara adalah hasil pekerjaan tangan (kara). Di Bali upakara ini adalah banten yang disajikan. Soal banten inilah yang Sdr. Gede tanyakan. Ketahuilah yang diungkapkan di dalam rontal Yadnya Prakerti pada dasarnya sudah dicantumkan di dalam Bhagawad Gita Bab IX.
Di dalam Bhagawad Gita Bab IX sloka 26 disebutkan bahwa bunga merupakan unsur pokok persembahan yang ditujukan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa di samping daun, buah-buahan dan air.
Pattram puspam phalam toyam
Yo me bhaktyaprayacchati
Tad aham bhaktyaupahrtam
Asnami prayatatmanah
Artinya
Siapapun yang dengan kesujudan mempersembahkan padaKu daun, bunga, buah-buahan dan air, persembahan yang didasari oleh cinta dan keluar dari lubuk hati yang suci Aku terima.
Jadi unsur-unsur pokok persembahan itu sebagaimana tertuang di dalam sloka di atas di Bali oleh umat Hindu berkembang menjadi bentuk Banten. Landasan utama atau yang mendasar dalam beryadnya yang didasarkan dengan hati yang suci dan cinta kasih itulah yang akan diterima oleh Tuhan meskipun bentuknya sangat sederhana. Yadnya dengan bentuk besar dan mewah tetapi didasarkan atas “ego” yang tinggi tidak akan mempunyai arti yang suci. Akan tetapi bagi umat yang mampu tidak ada masalah dengan upakara yang besar asalkan didasarkan pada kesucian dan cinta kasih serta disertai dengan pemahaman yang benar tentang persembahan tersebut. Dasar inilah yang dikembangkan oleh para Rsi dan oleh para ahli agama serta para “seniman” agama untuk mewujudkan berbagai bentuk upakara. Mulai dari yang amat sederhana sampai yang besar dan megah. Inilah yang dimaksudkan dengan persembahan yang dituangkan di dalam rontal Bali. Antara lain rontal Yadnya Prakerti sebagai berikut:
Sahaning bebanten pinaka raganta tui, Pinaka warna rupaning Ida Bhatara, pinaka andha buana. Sekare pinaka kesucian ketulusan kayunta mayadnya, reringgitan tatuasan pinaka kalangengan kayunta mayadnya. Raka-raka pinaka widyadhara widyadhari.
Maksudnya:
Semua banten lambang diri kita (manusia), lambang Kemahakuasaan Tuhan, lambang alam semesta. Bunga-bungaan lambang kesucian dan ketulusan melakukan yadnya. Reringgitan dan tatuasan (potong-potongan daun kelapa muda (busung) pada banten) lambang kesungguhan pikiran melakukan yadnya. Raka-raka (buah dan berbagai jajan perlengkapan banten) lambang para ilmuan-ilmuan sorga (widyadhara-widyadhari).
Misalnya canang, sudah umum dipakai sebagai sarana persembahan, tetapi masih ada umat yang belum memahami maknanya. canang berasal dari bahasa Jawa Kuno. Awalnya berarti sirih sehingga di Bali ada istilah “pecanangan” yang isinya sirih, gambir, pamor, tembakau dan buah pinang.
Di Bali canang disusun menjadi sarana yadnya (persembahan) yang bahan intinya yakni peparosan dibuat dari daun sirih, kapur, gambir dan buah pinang. Sirih pada zaman dahulu diberikan sebagai penghormatan terhadap para tamu. Bahkan sampai sekarang sirih memiliki arti penting dalam sebuah upacara di Bali dan juga masih disuguhkan kepada tamu.
Porosan walaupun bentuk dan wujudnya kelihatan sederhana isi dalamnya yaitu base atau sirih (Piper Batle L.) yang berwarna hijau adalah pelambang Dewa Wisnu, prabhawa Hyang Widhi sebagai unsur stithi (pemelihara dan pengayom). Buah atau pinang (Areca Catechu L.) yang berwarna merah adalah pelambang Dewa Brahma, prabhawa Hyang Widhi sebagai unsur pencipta. Pamor kapur warna putih adalah pelambang Dewa Siwa prabhawa Hyang Widhi sebagai unsur pelebur atau pamralina. Dengan demikian porosan adalah pelambang Tri Murti prabhawa Hyang Widhi sebagai unsur utpthi, stithi, pralina (lahir, hidup, mati).
Tidak itu saja, bahan lainnya seperti ceper yang berbentuk segi empat melambangkan Catur Purusa Artha dan taledan atau Tapak Dara melambangkan keharmonisan serta urassari lambang keheningan pikiran atau keteguhan pikiran.
Jadi canang itu adalah wujud persembahan kepada Tuhan dalam manifestasinya sebagai Tri Murti. Umat memohon anugrah kepada Beliau agar umat mampu mencapai empat tujuan hidup yakni Catur Purusa Artha dengan selamat.
Banten itu bukanlah suguhan untuk makanan Tuhan. Banten itu adalah bahasa agama dalam bentuk simbol yang Mona. Mona artinya diam/tidak bersuara. Banten itu memang diam/tidak bersuara sama dengan aksara. Tetapi kalau dicoba ungkap dengan sabar maka banten itu akan banyak menuturkan berbagai ajaran agama Hindu yang sesuai dengan konsep Weda dan kitab-kitab sastranya. Lewat Banten nilai luhur dapat ditanamkan ke dalam lubuk hati secara motorik.
Sarana upacara atau bebantenan di Bali sesungguhnya tidak hanya hiasan belaka. Tetapi di dalamnya sarat makna simbolik. Pada umumnya sarana upakara tersebut sebagai media bagi umat untuk menghubungkan diri dengan Sang Pencipta.
Banten itu adalah bahasa untuk menjelaskan ajaran agama Hindu dalam bentuk simbol. Misalnya banten menurut Lontar Yadnya Prakerti adalah simbol ekpresi diri manusia. Misalnya banten Peras dinyatakan lambang permohonan hidup untuk sukses. Setelah Patram yaitu daun-daunan atau daun kelapa muda dan daun pisang disebut di dalam Bhagawad Gita maka unsur Puspa yaitu bunga atau kembang.
Pemakaian kembang atau puspa yang merupakan bentuk sesajen yang paling mudah dan murah. Puspa adalah benda yang disuguhkan sebagai cara menunjukkan perasaan yang dapat memberikan kepuasaan. Yang penting ialah bahwa perbuatan itu akan dapat memberikan rasa puas pada diri sendiri seseorang yang ingin menyampaikan perasaannya. Bentuk Banten yang lebih komplek ialah dengan menambah hasil bumi lainnya yaitu buah-buahan, makan-makanan dan kue (jajan).
Dalam menyelenggarakan upakara persembahan ada beberapa alat peraga yang sering dipakai baik sebagian maupun selengkapnya tergantung pada keadaan setempat. Alat-alat yang sering disebut ada empat jenis seperti Puspa (bunga) Dhupa (bau wangian), Dipa (api) dan Toya (air). Masing-masing dalam upakara mempunyai fungsi sebagai berikut:
Dhupa dan Dipa.
Di dalam kitab Weda Parikrama disebutkan dari semua jenis alat perlengkapan itu adalah dhupa dan dipa. Dhupa adalah sejenis bahan yang dibakar yang berbau harum. Dalam upacara itu dipa ini diganti dengan api takep atau pasepan. Yang penting itu adalah untuk mengadakan api dengan asapnya yang harum. Karena itu untuk membuat harum kadang-kadang dipakai kemenyan, gula, kulit duku, kayu cendana dan lain-lain. Asap ini adalah merupakan lambang aksara. Dipa sebagai unsur yang kedua bisa lampu minyak atau lilin.
Kedua jenis unsur di atas dhupa dan dipa adalah ‘api’, sebagai unsur yang paling menonjol. Semua upacara memerlukan api (Agni). Api mulai dihidupkan pada permulaan upacara, seperti dhupa, api takep dan pasepan. Para pendeta akan memulai dengan memantrai dhupa dan dipa agar seluruh jiwa raganya bersih.
Peranan api (agni) dalam upacara keagamaan sangat menonjol karena sifatnya, fungsinya dan misinya yang khusus bagi manusia. Api dihidupkan di setiap rumah tangga sehingga ia dikenal sebagai ‘grhapati’ (Penguasa dalam rumah tangga). Api adalah pengantar upacara yang menghubungkan antara manusia dengan Tuhan. Agni adalah dewa yang mengusir unsur yang negatif dan membakar habis semua mala sehingga menjadikannya suci. Api adalah pengawas moral dan saksi yang abadi. Apilah yang menjadi pemimpin upacara yadnya yang sejati menurut Weda.
Air (Tirtha, Toya)
Air mempunyai peranan penting juga dalam upacara keagamaan. Air untuk memelihara kebersihan, untuk kehidupan, untuk pembaptisan atau untuk wisuddhi dan lain-lain. Pendeknya untuk banyak hal air memegang peranan yang amat penting. Air lambang pelebur dosa dan menghabiskan noda-noda. Air merupakan simbol amrta (hidup) dan air pula yang menjadikan badan kita tetap bersih dan suci.
Semua peralatan di Bali harus diperciki air suci sebelum upacara dimulai. Percikan air suci kepada orang dalam upacara itu dimaksudkan untuk mendapatkan kesehatan, ketentraman (kedamaian), kebahagiaan dan lain-lain. Air dianggap mempunyai kekuatan untuk meleyapkan pengaruh jahat atau negatif.
Demikian pentingnya air dalam kehidupan beragama sehingga semua upacara keagamaan tidak pernah lepas dari pada penggunaan air. Istilah air dalam upakara keagamaan tidak sama. Tirtha dipakai sebagai istilah untuk nama air suci. Istilah yang sama juga adalah toya (toyam).
Disamping itu ada kawangen. Dalam Lontar Siwagama dan Lontar Sri Jaya Kusuma, Kawangen disebut sebagai lambang Omkara (aksara suci Tuhan). Kata Kawangen berasal dari kata wangi atau harum.
Perlengkapan kawangen terdiri atas kojong dari daun pisang, plawa dan hiasan (pepayasan) bunga dan peporosan yang bernama silih asih. Peporosan silih asih itu terbuat dari dua lembar daun sirih berisi kapur (pamor). Disamping itu Kawangen dilengkapi uang gepeng.
Kojong itu berbentuk segitiga, yang merupakan simbol Ardha Candra, uang gepeng sebagai simbol Windu, bunga dan daun plawa sebagai lambang Nada. Sementara dalam Berihad Arinyaka Upanisad, kawangen lambang Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Cara penggunaan kawangen yang benar adalah muka kawangen berhadapan dengan muka umat yang memakainya di dahi di atas kedua alis.
Membangun Peradaban Rohani
Butir-butir pengertian yang bisa diangkat dari pemaparan di atas menunjukkan adanya penuangan ajaran Catur Marga melalui upacara dan upakara. Adanya nilai kreatifitas yang tinggi (Karma Marga), penuangan rasa cinta kasih (Bhakti Marga), pemahaman akan sistem pengetahuan (Jnana marga) dan adanya nilai kontemplatif yang terus menerus kepada Tuhan Yang Maha Esa (Raja marga).
Upakara banten dilihat dari proses pembuatannya sampai siap dipersembahkan dalam suatu upacara secara langsung mengajak manusia berpikir terus menerus terhadap Tuhan. Hal ini juga dibuktikan melalui etika bagi seorang sarathi banten(tukang banten) bahkan harus melakukan mona brata dan tidak boleh sambil menikmati makanan.
Berpikir terus menerus tentang Tuhan akan senantiasa ingat kepada Tuhan. Lama kelamaan ingatan kepada Tuhan akan melekat dalam hati. Selanjutnya apabila ingatan kepada Tuhan sudah melekat dalam hati seseorang maka dia akan menjadi seperti apa yang diingatnya. Bhagawad Gita VIII 6 menyatakan: Keadaan hidup manapun yang diingat seseorang pada saat ia meninggalkan badannya, pasti keadaan itulah yang akan dicapainya, wahai putra Kunti.
Manusia adalah makhluk berpikir. Dan berpikir merupakan eksistensi kemanusiaannya. Karena berpikirlah manusia. Kalau seseorang tidak berpikir tentang Tuhan dia pasti berpikir tentang sesuatu mengenai kenikmatan-kenikmatan duniawi yang ada di dalam alam pikirannya. Oleh karena pikiran itu liar seperti seekor kuda liar yang sulit dijinakkan maka Maharesi Patanjali dalam Yoga Sutra menyatakan: Yogaccittawrittinirodah, artinya yoga dimaksudkan untuk mengendalikan gelombang-gelombang pikiran sehingga bebas dari khayalan lalu mantap di dalam menjalin hubungan bhakti terhadap Tuhan.
Upakara Bebanten dimaksudkan untuk melatih, mengembangkan dan memantapkan pikiran manusia untuk menjalin hubungan cinta bhakti dengan Tuhan Sang Pencipta. Hal ini akan mengangkat seseorang untuk mengalami rasa rohani yang terus menerus (intens). Selalu ingat kepada Tuhan dalam salah satu prinsip bhakti disebut smaranam. Dan adanya upakara bebanten dalam suatu upacara menandakan pelaksanaan prinsip ajaran bhakti. Selain melalui sarana upakara bebanten, selalu ingat kepada Tuhan juga bisa dicapai melalui cara mendengar (srawanam) dan memuji (kirtanam). Jadi selalu ingat kepada Tuhan merupakan dasar dan tujuan bhakti. Prinsip dasar dan tujuan bhakti yang merupakan pokok pengertian dalam menghayati salah satu dimensi rohani agama Hindu juga merupakan nilai yang terkait dengan upakara bebanten.
Banyaknya upacara keagamaan yang ditetapkan dalam sastra Weda nampaknya telah dipikirkan berdasarkan konsep keagamaan khususnya konsep bhakti seperti dikutip di atas. Dengan demikian akan memungkinkan umat Hindu senantiasa ingat kepada Tuhan dalam setiap saat dimanapun mereka berada.
Dalam pengertian Tri Guna: satwam, rajas, dan tamas upakara bebanten ini akan merupakan proses memantapkan kedudukan rohani seseorang di dalam Jiwa Satwam. Setelah sebelumnya melakukan proses pendakian dari tamasa guna dan rajasa guna. Selanjutnya apabila jiwa satwam dipupuk terus maka akan mengangkat seseorang sampai wisuddha bhakti (wisuddha satwam) yaitu keadaan bebas. Fenomena ini berarti pembebasan bagi seseorang. Senantiasa berpikir tentang Tuhan merupakan ciri seseorang yang didominasi oleh pengaruh jiwa satwam.
Pentingnya ingat kepada Tuhan dijelaskan dalam pustaka suci Bhagawad Gita VIII,5 sebagai berikut:
“ante kale ca mam ewa, smaranam muktwa kalewaram, yah prayati sa madbhawam yati na’sty atra samsayah”
|