|
TAMU KITA
Jalan Lurus Agung Arwata
Menduduki posisi penting di Pemerintahan Provinsi Bali, tak menjadi Anak Agung Ngurah Made Arwata gelap mata. Tak hendak melakukan yang nakal dilakukan. Baginya kekayaan itu tak kekal. Pasti berubah.
Ruang di lantai satu pada sebuah rumah di bilangan Jalan Raya Lukluk, Desa Kapal, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung itu, dipenuhi beraneka jenis buku bacaan. Di sela-sela rak buku, seorang pria usia 60-an tahun lebih terlihat membuka-buka beberapa jenis buku. Satu, dua buku dibuka kemudian diletakkan kembali pada tempat semual. “Saya lagi mencari buku untuk bahan mengajar esok di Diklat Bali,” lelaki bernama lengkap Anak Agung Ngurah Made Arwata itu menerangkan pada awal Agustus lalu.
Mengajar, dan terus berbagi ilmu ke banyak orang, memang menjadi tugas keseharian Agung Arwata. Posisinya di Widyaiswara, Laboratorium Kepemimpinan, Diklatda Pendidikan Provinsi Bali, mengharuskan ayah 4 putra ini, mesti siap sedia memberikan pengajaran, memaparkan berbagai hal kepada para pegawai negeri sipil.
Lahir di Denpasar 30 Agustus 1947. Sejak masa kanak-kanak planolog ini dikenal kreatif. Bahkan untuk ukuran anak-anak di lingkungannya masa itu, sebelum menetap di Desa Kapal, sejak kecil Anak Agung Arwata tinggal bersama keluarganya di lingkungan Jalan Kepundung, Kota Denpasar, Agung Arwata dikategorikan anak nakal. “Saya dari kecil selalu berpikir pembuktian terhadap sesuatu. Apa yang saya baca, maka ingin selalu melakukan, ” pria yang di masa sekolah dasar (SD) sering jadi bintang pelajar ini membuka kembali lembaran hidupnya tempo dulu. Bukan cuma di SD, waktu mengenyam pendidikan di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 1 Denpasar, tahun 1963, Agung Arwata juga selalu meraih prestasi, sehingga sempat bebas dari biaya SPP (sumbangan penyelenggaraan pendidikan).
Pendidikan di rumah tangga, terutama dari ayahnya kala itu memang amat berpengaruh terhadap sikap kesehariannya. “Ayah saya orang moderat. Tak pernah mengarahkan anak-anak harus menjadi atau menekuni profesi tertentu pada putra putrinya,” dia bertutur. Paling penting buah hatinya bersekolah, entah jadi apa nanti tak pernah terlalu dipikirkan. Bagi yang mau berkutat di seni atau melakoni profesi lain, ayah Agung Arwata memberikan kebebasan.
Hanya, dari sudut disiplin, orangtuanya memang amat ketat, terutama mengatur waktu. Mengingat kesibukan orangtua di luar rumah, maka anak kedua dari 6 bersaudara, buah hati Anak Agung Ngurah Made Wiranata dengan AA Sayu Ketut Nandri ini saban hari diberikan jadwal. Agung Arwata pun saudara lainnya harus menuliskan dan melaporkan segala sesuatu yang telah dilakukan selama seharian. Laporan itu akan diperiksa sepulang sang ayah kerja. Jika dalam laporan ternyata ditemukan keanehan, keganjilan, sang ayah akan memanggil putra-putrinya guna menanyakan hingga keanehan itu terjadi. “Ayah saya memang rada ketat untuk urusan kedisiplinan, tapi lebih mengarahkan ke sifat mendidik,” kata Agung Arwata. Buktinya, dia dan saudara yang lain diberikan melakukan sesuatu dan tak pernah marah.
Sifat moderet sang ayah bukan tanpa akibat. Kebebasan yang diberikan itulah, membuat Agung Arwata justru keblalasan dan menjadi orang yang selalu ingin tahu dan mau membuktikan kebenaran dari yang pernah didengar, dilihat, atau dibaca, sifat ingin tahunya terkadang bisa menimbulkan bencana bagi dirinya atau orang lain. Misalkan di sekolah pernah ada guru yang mengajarkan, bahwa emas bisa larut dalam air raksa. Begitu pulang sekolah, lelaki yang menyelesaikan pendidikan S2 di Institut Teknologi Bandung, jurusan Perencanaan Wilayah Desa dan Kota tahun 1984 ini, buru-buru mengambil cincin ibunya, kemudian dilarutkan dalam air raksa.
Pernah pula dia mendapat penjelasan dari seorang guru bahwa air itu mengalir dari pegunungan ke laut. Membuktikan kebenaran ungkapan sang guru, ketika musim hujan tiba, dia membendung got yang ada di dekat rumah dengan tumpukan sampah. Begitu air akan datang dia malah berdiri di atas gundukan sampah hingga dirinya ikut hanyut bersama sampah. Hampir saja nyawa Agung Arwata kecil tak terselamatkan. Beruntung ada orang lain sigap menarik tangannya, sehingga bisa terselamatkan.
Kapok? Belum ternyata. Suatu kali dia melihat ada film orang terbang, kini mirip film Superman, Agung Arwata ingin membuktikan apa yang sempat dilihat. Dia naik tembok pembatas di stadion Lilabuana (kini stadion Ngurah Rai) yang ada dekat kolam. Setelah berada di ketinggian, dia pun terjun bebas ke kolam renang yang ada di bawahnya.
Sikap-sikap yang tergolong nakal, berani, dan selalu ingin tahu itulah, hingga menyebabkan dirinya di kalangan keluarga dikategorikan sembagai anak yang memiliki sifat aneh.
Tatkala melanjutkan pendidikan di Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 1 Denpasar, Agung Arwata tergolong orang luar biasa. Luar biasa, sebab tak ada guru yang tidak pernah memberi hukuman padanya. Hampir seluruh guru sempat memberi ganjaran atas perilaku nakal kala itu. Dia tergolong pelajar yang kreatif tapi jahil. Jika melihat guru pengajar suka mengajar sambil duduk, maka dia bergegas mencari kapur barus kemudian dibubuhkan ke kursi guru tadi. Akibatnya, guru bersangkutan akan terus kentut hingga tak jadi duduk.
Agung Arwata memang terkadang membikin geram para guru. Tapi di satu sisi dia termasuk orang yang cerdas, loyal pada teman, dan berusaha berbuat yang terbaik demi kepentingan bersama.
Sikap yang terbina dari kecil itu ternyata terbawa hingga dewasa. Pun saat mendapat pekerjaan di Pemerintahan Provinsi Bali, pria ini selalu berusaha mengabdikan diri sebaik mungkin. Bekerja sesuai aturan adalah sesuatu yang mutlak.
Godaan itu memang selalu hadir, lebih-lebih saat posisi penting berada dalam genggamannya. Beberapa kali sempat ada pengusaha yang mau ‘nyogok’ dirinya agar proyek yang hendak dibangun si pengusaha dari luar Bali itu berjalan lancar. Akibat perilaku pengusaha tersebut, Agung Arwata sempat dibuat tersinggung dan merasa terhina. “Cara-cara seperti itu, dengan memberi uang, bukan berarti diri saya yang merasa dihina, tapi lembaga tempat saya bekerja hendak dinodai. Ini yang tak bisa saya terima,” tukasnya tegas.
Memegang jabatan tertentu, lebih-lebih di pemerintahan, bagi seorang Arwata sejatinya sebuah kedudukan, posisi, status yang mengandung unsur melaksanakan tugas, hak, dan melaksanakan kewajiban sesuai tupoksi (tugas pokok dan fungsi). Jadi, tatkala seseorang menjabat tertentu di tempat kerja, mestinya dia selalu bertanya dalam diri apa dan sejauh mana ruang lingkup tugas yang mesti dilakukan sesuai jabatan yang diberikan. “Sekalipun kita menjabat, bukan berarti kita harus bekerja sendiri. Melainkan dalam satu tim,” dia mengingatkan. Artinya lagi, perlu ada kerjasama dalam kebersamaan. “Saya misalkan, mesti mengenal diri Anda dan sebaliknya,” ingat dia. Nah, setiap sesuatu yang dimulai karena akan dilakukan bersama-sama, maka harus dilandaskan pada satu komitmen. Kesepakatan yang sangat mendasar. Segala sesuatu yang telah disepakati itu mesti dihormati dan dijalankan menurut aturan.
Di samping itu, dalam tim harus saling menjaga kebersamaan dan satu sama lain mestilah saling percaya.
Komitmen memang dirumuskan bersama-sama plus aturan main pun telah dibuat. Namun dalam perjalanan ada saja yang melenceng. Banyak orang yang mengingkari kesepakatan yang dibuat bersama-sama. Di satu sisi lelaki yang sempat pula memegang posisi sebagai Kepala Biro Lingkungan Hidup Setwilda Propinsi Bali tahun 1993 ini, tetap berkomitmen melakukan tugas sesuai aturan yang telah digariskan. Pada kondisi seperti itulah, Arwata kerap dikatakan kaku. Tak lentur. Padahal apa yang dilakukan sesuatu sesuai komitmen awal, bukan memaksakan kehendak untuk orang lain. “Itu sebab pada saat tertentu saya berseberangan dengan teman lain. Itu terjadi akibat perbedaan cara memandang atas segala yang telah disepakati,” katanya.
Bekerja sesuai aturan plus selalu ingin berbuat yang benar bagi orang banyak, menjadi prinsip Agung Arwata dalam melaksanakan tugas-tugas di pemerintahan. Taat pada aturan itu pula menjadikan dia tak tergoda dengan berbagai kemudahan yang sebenarnya bisa direngkuh. Saat mendapat mobil dinas, dia tak hendak membawa kendaraan tersebut ke rumah atau dipakai jalan-jalan bersama keluarga, layaknya yang kini banyak terjadi di lapangan. Begitu jam kantor usai, maka kendaraan dinasnya dimasukkan ke garase kantor. Tak hendak dibawa pulang dan mantan Kepala Biro Bangda (Pembangunan Daerah) Setwilda Bali tahun 1989 ini, memilih pulang dengan kijang butut tahun 1980-an.
Soal pengelolaan uang, pernah pula suatu kali teman sejawatnya menyuruh agar dana yang tersisa diatur dengan baik. Agung Arwata mengartikan mengatur itu bukanlah membagi bersama teman lain. Dana sisa itu justeru dimanfaatkan untuk membangun tempat suci.
Akibat perilakunya yang menurut sekelompok orang yang berprofesi sama kurang pas, maka dia sempat diolok-olok. “Arwata ini orang bodoh atau polos,” Arwata menirukan ucapan temannya. Toh, dia bergeming, ungkapan teman-temannya itu dianggap angin lalu semata. Dia sadar betul segala yang telah dilakukan selama ini, itulah yang terbaik dan mampu membuat dirinya hidup nyaman. Baginya, sukses mengutamakan kepentingan orang banyak jauh merasa lebih berharga dibandingkan dengan menguntungkan segelintir orang. “Seorang yang memegang posisi penting itu sejatinya hanya dituntut berbuat untuk orang banyak tanpa dituntut mengeluarkan biaya. Nah, kita kan hanya disuruh mengurus dana untuk diberikan ke orang lain. Koq, dana itu harus diambil,” dia berkilah.
Bekerja sesuai ketentuan jadi falsafah Agung Arwata. Itu sebab, hidup dilakoni datar-datar saja. Tak terlalu menggebu-gebu. Dinikmati penuh enjoy dan selalu mengembalikan segala sesuatunya ke dalam dirinya sendiri.
Dalam hal kedisiplinan, jika ingin membuat orang lain menghargai waktu, maka harus dimulai dari diri sendiri. “Diri kitalah yang disiplin lebih dulu,” dia mengingatkan. Jika itu sudah dilakukan, maka nantinya akan menjadi teladan bagi orang lain. Lebih ringkasnya, mulailah segala sesuatu itu dari dalam diri. Soal nantinya segala yang telah dilakukan itu diikuti atau tidak oleh orang lain, terserah pada yang menerima. Tak harus dipaksakan.
Kalau toh telah melakukan sesuatu yang menurut ukurannya terbaik, namun ujung-ujungnya belum mau diikuti oleh orang lain termasuk putra-putrinya, Agung Arwata tetap menerima dengan lapang dada. Tanpa harus kecewa. Sebab setiap manusia terlahir dengan jalannya masing-masing, maka biarkan orang menyelesaikan karmanya masing-masing pula. Katanya, “Penekanan-penakanan seperti itulah yang saya lakukan. Termasuk pada anak-anak. Saya cuma mengingatkan pada mereka agar menjadi orang yang berguna. Itu saja”. Lewat cara itu dia berupaya memberikan tumpahan rasa cinta kasih terhadap putra-putri pun keluarga lainnya. I Wayan Sucipta.
Demi Mereka yang Tertindih
Penafsiran orang tentang kekayaan amat beragam, memang. Ada yang menilai kaya itu dari banyak memiliki harta benda, harta gono-gini, ada pula yang menafsirkan dirinya merasa kaya bila suah banyak punya teman.
Bagi Anak Agung Ngurah Made Arwata, dirinya akan merasa kaya, bila telah mampu memberikan sesuatu kepada orang lain secara tulus hati. Satu sifat hakiki orang Bali yang tak ingin menguasai sesuatu secara berlebihan, malah selalu ingin berbagi jika punya kelebihan.
Buah dari pemahaman seperti itulah yang ujung-ujungnya menumbuhkan sifat bares, suka berderma dengan tulus ikhlas pada diri lelaki satu ini.
Tatkala ada orang yang betul-betul memerlukan pertolongan dan dia mampu memberi bantuan, rasa hatinya begitu senang. Dan, bukan cerita baru lagi jika Agung Arwata suka mentraktir teman-temannya. Bahkan pada masa kanak-kanak sempat menunjukkan sifat yang kurang ajar. Ketika itu sang ibu berjualan beras, begitu melihat orang yang sedang menderita tak punya beras, beras ibunya diambil kemudian didermakan pada orang kurang mampu itu. “Saya sendiri merasa agak aneh atas sikap itu. Barangkali semua itu muncul akibat kelemahan yang dimiliki yakni tidak kuat melihat penderitaan orang lain,” Arwata beralasan. Dia pun berkeyakinan bahwa selalu saja ada jalan untuk bisa memenuhi tuntutan dalam hidupnya.
Tak hendak rakus dan tiada suka mengambil alih kepentingan orang untuk kepentingan diri sendiri, memang selalu bertumbuh dalam diri mantan Kepala Badan Diklat Daerah Bali ini. Apa yang menjadi haknya itulah yang akan diambil. WS
|