|
SASIH
Cataka Meramal Hujan
Rajaman musim kemarau tak terhindarkan kini – di mana banyak wilayah Bali dibelit kelangkaan air, banyak sungai berangsur mengering, sawah-sawah mengerontang, petani gagal panen.
Kendati panas sepanjang bulan, betapa baik jika berlaku sedikit awas kini. Karena berkah langit, disebut “blabur ketiga” bisa datang tiba-tiba. Jika itu terjadi, ia merupakan hujan paling dasyat sepanjang sasih ini – hal mana harus diyakini sebagai kemurahan Bapa Langit. Karena dalam sekejap terjadi panorama dramatik, pemandangan kontras pun terhampar. Sebab bila dalam sasih ketiga debu-debu terlihat beterbangan, membedak daun-daun hujan bisa saja tiba-tiba membuat senyap. Dan kawanan serangga, jengkrik, ulat-ulat pun seakan menikmati pesta “blabur” Sasih Katiga.
Memang saat Sasih Ketiga tiba, kemarau kian memuncak, air makin terceruk ke dalam bumi, daun-daun rontok, bukit-bukit gundul, burung pemakan biji mulai kesulitan mencari makan. Ulat yang tergulung di daun hijau berangsur punah - nyaris tak ada makanan, karena daun-daun keburu rontok. Di bukit-bukit tropis ilalang terlihat kuning tembaga, kering dirajam panas matahari. Di sana-sini, di seantero Bali para pemuja bumi, petani baru saja usai memanen padi, asap bakaran jerami dengan bau nyangluh mengepul di sana- sini.
Tapi jika “blabur asuji” itu jadi datang, panorama alam jadi sungguh kontras. Pokok-pokok pohon terlihat seperti bangkit dari kesadaran baru, tersadar saat mendapat siraman hujan pertama. Dan ulat-ulat pun keluar dari kepongpong, kawanan laron bertaburan merubung lampu-lampu, hendak merasakan hangat ujan pertama. Namun di balik godaan itu laron kepincut kenikmatan semu. Betapa dibalik fenomena semu itu ia terjebak, karena sesungguhnya ia tengah mencari akhir hidup – bertemu ajal dalam temaram sinar lampu. Kisah kawanan laron agaknya penting direnungkan para pendamba kesejatian. Sebab di titik ini hendaknya orang awas pada pilihan hidup. Karena sungguh laron-laron itu terjaring godaaan sesaat, karenanya ia mati saat mengejar kenikmatan semu – dan laron pun mati “termakan” nikmat. Inilah akibat dari mereka yang tidak awas, menganggap fenomena sebagai kesejatian.
Mengingat begitu dramatik kontras hidup yang dihadirkan saat Sasih Katiga, para pujangga Jawa Kuna lalu melukiskan puncak musim kering ini sebagai drama cinta yang tak bersambut. Betapa di sasih ini matahari melintasi zenit, dan terbakar dengan hebatnya di langit tak berawan. Lalu dengan sia-sia burung cataka dan kalangkyang mencari tanda-tanda yang meramalkan datangnya hujan.
Empu Tan Tular, pengarang kakawin Sutasoma menyebutnya sebagai sesuatu yang tidak masuk akal, bahwa burung-burung ini merindukan bulan Asuji ( bulan ketiga) dan menangis pada bulan keemat (sasih kapat). Sesuatu yang tiba-tiba menimbulkan rasa duka, ibarat hujan lebat pada bulan ketiga yang tidak ditandai deru di kejauhan. “Anggyat lwir hudan adres ing katiga tan pakakarana karengwan ing gereh,” demikian tulis Empu Tan Tular.
Sasih Ketiga kali ini tepat jatuh di hari Soma Pahing, Wuku Langkir, tanggal 1 September 2008. Sementara siklus sasih berakhir pada hari Selasa Umanis, Wuku Krulut, pananggal apisan, hari pertama di mana bulan menuju terang, tanggal 30 September 2008.
Kemunculan Sasih Katiga kini ditandai dengan berhembusnya angin dari utara ke selatan. Berdesir pelan dan lamat. Sasih ketiga memang terkenal dengan hembusan angin utara, dan suhu panas pun tak begitu menyengat. Boleh jadi ini dampak dari pangunyan sasih - hal mana Katiga kini tengah ngunya Karo, dan karakter sasih pun dibikin sedikit sejuk.
Kendati tengah ngunya Karo, rajaman musim kemarau pun tak kunjung terhindarkan – di mana banyak wilayah Bali dibelit kelangkaan air, banyak sungai berangsur mengering, sawah-sawah kekeringan, petani mengalami gagal panen. Di Desa Seraya, Kecamatan Seraya, Kabupaten Karangasem, misalnya; penduduk dicoba berlatih sabar, berjuang mendapatkan air setelah menempuh puluhan kilo meter, dan mengantre dalam waktu begitu lama.
Lain di Seraya, lain pula kondisi air di wilayah tertentu di Bali. Semisal di Tampak Siring, Ginyar, Bangli, dan wilayah-wilayah Bali yang dialiri sungai besar, bukankah di sana air melimpah ruah. Boleh jadi ini akibat orang Bali belum belajar bagaimana mendistribusikan air secara merata ke seluruh pelosok Bali.
Memang tidak gampang melakukan hal itu, tapi bukankah teknologi senantiasa pasti memberi jawaban? Problem besarnya, tentu karena para pemegang kekuasaan tak hendak mau berpikir arah itu. Akibatnya, cadangan air di daerah kering pun tergantung musim penghujan. Dan saat kemarau tiba, drama yang sama terulang kembali. Antrean penunggu air di Seraya pun dibuat kian memanjang. S
|