PUSTAKA
Panduan Orgasme bagi Wanita
Setelah buku-buku soal seks didominasi kaum pria, kini kaum hawa bisa membuka mata hingga bisa tersenyum lebar. Membaca dan memahami daerah-daerah sensitif pria. Harapan baru bagi para wanita.
Beragamnya buku-buku yang menyajikan ’hidangan’ seks selama ini disusun berdasarkan imajinasi - bukan studi empiris (apalagi serius) - laki-laki terhadap wanita. Sehingga sangat jarang ditemui buku tentang seks yang bisa
match dengan pemahaman wanita atas tubuhnya sendiri.
Sebut saja buku karangan IB Putra Manik Aryana - asli Bali - yang notabene berbicara masalah seks ala Bali. Pergulatannya dalam bidang Sastra Bali membuahkan dua buah buku seputar seks pria dan wanita. Buku pertama Manik mengisahkan ‘perjalanan seorang pria dalam menjelajahi tubuh kaum hawa’. Kupasan yang lugas dan terbuka sangat menarik, tentunya bagi pria yang menginginkan pasangannya mencapai klimaks dalam hubungan bersenggama. Tapi, buku ini tak lain sebagai buku panduan bagi lelaki hidung belang !
Mengapa ?
Karena, di sini wanita ditelanjangi habis-habisan dan sebagai ’objek jamahan’ pria. Hampir 90% penjelasan buku ini berkutat soal tubuh wanita melulu sehingga menimbulkan rasa tidak enak bagi wanita yang membaca. Seolah-olah hanya kaum adam saja yang membutuhkan seks di dunia ini. Belum, lagi urusan psikologis kurang diperhatikan. Singkat kata, ketimpangan itu nampak pada sebagian besar isi buku itu tentang wanita saja, dan tak disinggung sedikitpun soal pria.
Hanya saja keberanian Manik Aryana sebagai ‘wong Bali asli’ menulis buku ini patut diacungi jempol. Semua permasalahan seks – khususnya wanita – ditampilkan di buku pertamanya ini. Sungguh luar biasa. Beberapa teknik dan metode pria mempercepat wanita dalam mencapai orgasme diterangkan dengan jelas (hal 40-48).
Sajiannya tentang pusat-pusat erotis wanita, aneka jenis vagina lengkap dengan gambarnya, cara-cara merangsang daerah erotis wanita. Bahkan di sana dijelaskan ciri-ciri wanita yang sedang mengalami klimaks yang ditandai dengan tubuh bergetar, mendesis, tersedu, mengaduh nikmat, memeluk dan menggigit (hal 68). Menarik lainnya, adanya doa dan mantra yang diucapkan pria dalam bersenggama, sehingga memantapkan hubungan intim. Buku pertama Manik ini diakhiri dengan berbagai pengobatan seks alternatif medis yang menyajikan ramuan-ramuan kesehatan.
Kelengkapan isi buku tersebut bukan berarti menandakan buku ini telah sempurna. Karena di sana dicantumkan nama penyunting, maka kesalahan cetak tidak terlalu banyak – meskipun ada. Berbeda dengan buku ke-II sebagai lanjutan buku pertama – entah ada penyunting atau tidak, tapi tidak dicantumkan – yang tak luput dari kesalahan tata bahasa.
Cover ke-dua buku itu sangat menarik, bahkan mungkin anak-anak akan ikut tertarik. Sayang, Manik tidak mencantumkan ”Bacaan Khusus Dewasa” di sampulnya, dan anehnya lulus sensor. Padahal buku itu diperdagangkan di toko buku umum, siapa tahu anak SD membeli dan membacanya.
Buku kedua Manik sengaja dikarang khusus bacaan untuk wanita. Tentu saja dengan alasan, ingin menelanjangi pria di hadapan mata wanita. Sayang usahanya gagal dalam mengungkap seluk-beluk pria sehingga tidak dikupas secara tuntas. Bukankah ini tidak adil untuk wanita?
Pada bagian awal buku dimuat sanjungan-sanjungan khusus bagi wanita yang diagung-agungkan bak bidadari yang tinggal di kahyangan. Hak dan kewajiban wanita dijelaskan sebagai kaum hawa tulen. Juga diterangkan tipe-tipe seorang pria/suami hingga usaha wanita menghadapi karakter pria (hal. 32-50) Ini sama saja menyarankan wanita untuk memakai topeng setiap hari, menjadi orang lain yang sangat lain dengan kepribadiannya tanpa pengertian pihak pria – mirip perbudakan.
Referensi berupa teks-teks Bali yang dipakai dalam buku ini antara lain
Rukmini Tattwa,
Teks Indrani, Teks Arjuna Wiwaha, kisah-kisah dewi Saci dan epos
Mahabaratha. Yang paling mencengangkan adalah teks
Arjuna Wiwaha (hal 55-75) yang menceritakan kisah Arjuna bertapa di goda oleh tujuh bidadari kahyangan. Karena tidak mempan digoda, maka Siwa turun menganugrahkan kesaktian dan berbulan madu bersama 7 bidadari selama 7 hari 7 malam. Selama itu, bidadari-bidadari mengerahkan segala kemampuan dan berbagai jenis ’gaya’ dalam bersenggama dengan Arjuna.
Sungguh ini merupakan gambaran keegoisan pria, alih-alih pria saja mau dimengerti dan dipuaskan. Parahnya lagi, wanita dianjurkan meniru ’gaya’ para bidadari itu saat bersenggama, sepertinya laki-laki miskin ’gaya’ saja.....
Tambah menghebohkan lagi, ketika pembaca membuka bagian yang mengupas jelas tentang prosesi gaib yang dilakukan wanita ketika suaminya atau pria idamannya memilih WIL (wanita idaman lain) – pinjam istilah Manik sendiri. Hal ini dilakukan wanita apabila segala usaha untuk mengembalikan pria itu dalam pelukannya telah dicoba dan akhirnya gagal. (hal. 103). Kasihan wanita, betapa egoisnya pria, apalagi kalau semua pria telah membaca buku pertama Manik, pasti ingin mencoba variasi vagina-vagina lainnya. Buku ini, tidak bisa dikatakan sebagai pelipur lara sakit hati wanita atas buku pertamanya.
Di Jawa, Purwadi telah menulis buku berjudul
Kamasutra Jawa. Covernya memang bagus, sopan dan santun. Tapi sayang sekali, buku itu hanya memuat judul ’
Kamasutra Jawa’, tapi isinya ? Mirip ’gado-gado’.
Kamasutra kok isinya sejarah
serat ? Aneh ’kan ?
Purwadi mengatakan ”.....kamasutra atau liku-liku ilmu percintaan....” (hal 5), tapi kenyataannya isi buku itu hanyalah sebuah kisah sejarah
Serat Centini pada saat dibuat sampai perkembangannya. Tulisannya bertele-tele. Isinya juga masih mentah. Artinya, seksualitas Jawa tidak dibahas secara gamblang, meskipun dari
sono-nya orang Jawa terkenal dengan
unggah-ungguhnya, tapi kalau sudah masalah seksualitas bahkan bersenggama, apakah alat kelamin masih ditutup ’celana dalam’ juga ?
Purwadi kurang berani membaca referensi lain. Setidaknya, tulisan ini tidak sedangkal itu. Lihat saja dalam sebagian ulasannya, tidak mungkin ’kan pembaca diajak kembali ke masa lalu atau sejarah tentang kerajaan ?... Kalau saja Purwadi menuangkan sedikit saja seksologi masa dulu orang Jawa, lalu bandingkan dengan masa sekarang. Yakin
deh, hasilnya akan luar biasa.
Kisah seputaran seks Bali dan Jawa yang dikarang oleh Manik dan Purwadi ternyata masih perlu disempurnakan kembali agar pembaca juga
orgasme dengan isi di dalamnya.
Harapan itu justru muncul pada buku karangan Ki Guno Asmoro,
Kamasutra & Kecerdasan Seks Modern. Buku ’ajaib’ ini adalah sebuah hasil karya beberapa jenis cerita tentang seks orang-orang India yang dijadikan satu. Tentu saja hasil itu mengupas tuntas permasalahan seks pria-wanita.
Cover buku ’ajaib’ ini sangat sederhana, warna yang gelap dan terkesan agak tertutup itu seolah-olah mengisahkan kenikmatan yang tersembunyi. Dilengkapi dengan gambar dua insan saling berpelukan kening dan matanya terpejam mengibaratkan suatu isyarat yang sangat mendalam. Entah apa maknanya, tapi sepintas sangat menarik bagi kaum dewasa karena telah lulus sensor, artinya lengkap dengan tulisan ”Khusus Dewasa”.
Buku ’ajaib’ ini adalah sebuah rangkuman dari berbagai kitab Kamasutra dari India yang dikolaborasikan dengan seks modern. Tebalnya sampai 267 halaman, terlepas dari cacat salah cetak, bahkan kalimat-kalimatnya mudah dipahami. Sangat disayangkan jika orang-orang yang sudah dewasa tidak membaca buku ini karena isinya komplit dan kupasannya terstruktur. Apabila di buku lain tidak ditemukan sajian tentang alat kelamin pria, buku ini adalah jawaban dari pertanyaan yang tersisas pada kedua buku di atas. Dalam buku ini, para kaum hawa bisa membuka mata lebar-lebar untuk membaca dan memahami hingga bisa tersenyum lebar (hal. 96-99). Dijamin, para wanita akan terkesima ketika membuka halaman itu dan tak menyangka sebelumnya.
Strategi bermain cinta dalam buku ’ajaib’ ini dikupas habis-habisan. Bayangkan saja, ada 17 posisi bersenggama dengan sebutan berbeda-beda (hal.: 196-220). Ditambah lagi jurus-jurus perangsangan sebelum bersenggama dan jurus tusukan-tusukan ’lingga’ dalam rangka membuat wanita menjadi orgasme (hal 155-169). Sungguh mengagumkan.....
Bagi anda pasangan muda bahkan pasangan tua sekalipun yang mempunyai ’gaya’ lain daripada posisi-posisi yang sudah disebutkan. Buku ini terasa lebih kreatif, mengundang inspirasi. Dan jika memungkinkan, pembaca bisa menyampaikan kekurangan di buku itu kepada Ki Guno Asmoro – tapi sayang sekali penulis menggunakan nama samaran dan tanpa identitas lengkap. Jadi ya... kemana alamat kritik harus disampaikan?
Tri Wahyu Utami
| Judul buku |
: Seks Ala Bali (Menyibak Tabir Rahasya Kama Tattwa) |
| Penulis |
: IB Putra Manik Aryana, SS.M.Si |
| Editor |
: - |
| Penyunting |
: Pasek Suardika |
| Penerbit |
: Bali Aga |
| Tebal |
: 110 halaman |
| Judul buku |
: Seks Ala Bali II (Wadhu Tattwa) |
| Penulis |
: IB Putra Manik Aryana, SS.M.Si |
| Editor |
: - |
| Penyunting |
: - |
| Penerbit |
: Bali Aga |
| Tebal |
: iv + 154 halaman |
| Judul buku |
: Kamasutra Jawa |
| Penulis |
: DR. Purwadi, M.Hum |
| Editor |
: - |
| Penyunting |
: Arif Fahrudin |
| Penerbit |
: DIVA Press |
| Tebal |
: 303 halaman |
| Judul buku |
: Kamasutra & Kecerdasan Seks Modern |
| Penulis |
: Ki Guno Asmoro |
| Editor |
: Widodo |
| Penyunting |
: - |
| Penerbit |
: Smile-Books |
| Tebal |
: xii + 267 halaman |