|
PARUMAN
hal 1 | hal 2
Hidup Bahagia Penuh Syukur
Tak gampang memuaskan dahaga batin jika orang tidak belajar mengendalikan keinginan. Seenak-enak nikmat dari luar, lebih nikmat bahagia yang muncul dari dalam, tentu.
Bahagia, ini kata paling indah dalam hidup semua orang, karenanya begitu mudah diucapkan. Pebisnis, penguasa, penjahat, pelacur, orang suci, penjudi, pengemis, bahkan mereka yang tengah sekarat menanti kematian berharap dapat mengenyam kebahagiaan. Tapi apa kiranya bahagia itu? Benarkan kebahagiaan ada dalam hidup? Bukankah pada intinya semua orang ingin bahagia, tetapi kenapa ia tak mudah diwujudkan? Lalu tidakah bahagia itu hanya khayalan, semata mimpi penghibur hidup? Tidak mudah menjelaskan hal ini, jika toh gampang dijelaskan, tidak mudah bisa merasakan, alih-alih mengalaminya.
Perasaan tidak mudah merasakan kebahagianlah yang juga dialami Ni Ketut Yuliani (43). Saat lajang, begitu lulus perguruan tinggi, wanita berkulit kuning langsat kelahiran, Gianyar ini berharap bisa hidup bahagia. Mendapat pekerjaan layak, berkeluarga, punya anak, suami pengertian, hubungan kelurga rukun, penghasilan cukup, sehat, bahagia bisa membantu orang bila diperlukan, rumah indah dengan pekarangan dirimbuni taman bunga-bunga.
Itulah gambaran bahagia menurut Yuliani. Sayang Yuliani cuma bisa berharap dan berharap. Begitu lahir anak kedua, setelah enam tahun berkeluarga, rumah tangga Yuliani berantakan. Sang suami tergoda wanita muda. Percecokan sering terjadi, suami jarang pulang, Yuliani tertatih menghidupi keluarga dan dua anak masih kecil. Bahagia pun tak kunjung direngkuh, bila pun begitu ia tetap berharap suatu saat badai pasti berlalu. Menurutnya, hidup ini senantiasa berubah. Tapi satu hal yang masih ditangguhkan dalam hati, ia belum bisa memaafkan sang suami. “Suatu hari, bila ayah anak-anak saya tobat, saya pasti memaafkannya.,” ujar Yuliani dengan muka merah.
Banyak sumber menyebabkan orang tak bisa bahagia. Nyoman Mura (58), bukan nama asli, pria yang dipercaya punya talenta bisnis tajam punya pengalaman getir dalam hidup. Diawali dari bisnis ekspor sapi, ia kemudian mengepakkan sayap di bidang property, bisnis perumahan mewah. Bisnis lelaki yang punya hobi memancing ini tergolong sukses. Beberapa tahun Mura berjaya di puncak bisnis dengan aset triliunan rupiah. Empat anaknya kuliah di luar negeri. Kemewahan pun melimpah, maklum kakek-buyutnya juga kaya.
Prahara datang tak beranjuk, kurang tepat dalam spekulasi, usaha laki-laki kelahiran Tabanan ini tiba-tiba ambruk. Seluruh aset dijual guna menutupi utang-utang. Tak tahan dengan tagihan menggunung, Mura pun depresi, sekali ia sempat stroke. Mura kini kembali jadi orang biasa, gelisah terbelit utang, sakit-sakitan, dengan beban anak-anak tanpa pekerjaan. Membayangkan prahara itu kembali, Mura jadi trauma, nyalinya ciut. Sadar usaha itu dibangun dengan susah payah. Tapi nasib baik belum memihak padanya.
Tak ada orang berharap hidupnya makin jelek. Tapi hidup sendiri ternyata tidak lurus, senantiasa ada gelombang yang membuat hidup berguncang terus. Selalu ada kelu, stress, depresi, kesedihan, kegelisahan, kepanikan, kebingungan, dan lain sebagainya. Dalam kondisi sedemikian, tak banyak orang yang bisa tawakal, apa lagi bersyukur. Banyak orang tergoda mencari bahagia sesahat. Mereka “menghibur diri, melakukan apa saja, asalkan bisa melupakan penatnya derita hidup. Minum-minuman keras, hingga terbetot narkoba, main perempuan, berjudi, dan sebagainya.
Adakalanya orang merasa tak bahagia karena harapan dan cita-cita tak terpenuhi. Betulkah itu? Tak semua benar, tentu. Orang kaya, punya berjibun deposito, rumah mewah, mobil berkelas, istri cantik belum tentu bahagia. Tapi betulkah orang-orang sederhana, yang hidup serba pas-pasan bisa hidup bahagia. “Sepanjang kebahagiaan dicari di luar diri, omong kosong khayalan bernama bahagia,” demikian kata orang bijak. Jika soal menghibur diri, hendak mencari bahagia sesaat tentu banyak orang bisa melakukan.
I Made Sakra (62), pensiunan guru SD di Klungkung merasa bahagia terhibur cucu-cucu nan mungil. Pagi-pagi ia terbengong girang mendengar suara burung perkutut nan merdu, menyiram tanaman hias, disertai sapaan kopi hangat dari menantu. Tapi menurut, Sakra hiburan ini bersifat sementara. Benaknya kadang terganggu saat memikirkan nasib anak cucu kelak. Ia terkadang gelisah tanpa sebab, malam-malam terbangun, susah tidur, lalu teringat masa lalu yang getir, dan hidup tertatih mengandalkan gaji pegawai negeri golongan bawah. Ternyata menurut kakek empat cucu ini, bahagia itu datang dan pergi, sesuai suasana hati.
Namun tidak begitu dengan Gusti Made Gita (52), pengusaha paroh baya ini suka mengumpulkan benda-benda dianggap sakral. Di rumahnya ia mengkoleksi ratusan keris, benda sakral seperti genta, batu permata, dan sejumlah benda-benda antik lainnya. Benda-benda itu ia peroleh dari seluruh penjuru Nusantara, ia beli dari sejumlah pengepul, dengan harga lumayan tinggi. “Ya namanya orang senang,” papar Gusti Made Gita pendek.
Tak heran jika lelaki kalem ini dijuluki Gusti Made Keris, karena hobinya mengkoleksi keris. Ia pun membangun ruangan khusus menyimpan barang lawas ini. Saban Tumpek Landep, dikenal sebagai odalan Sanghyang Pasupati keris-keris ini pun mendapat perlakukan khusus. Lelaki kelahiran, Denpasar Barat ini merasa nyaman dan bahagia bila selalu dekat dengan keris-keris itu. Ia merasa percaya diri apabila memakai cincin batu permata langka, diyakini meneguhkan semangat hidup. “Pernah suatu saat saya tak memakai batu permata ini,” tunjuk Gusti Made Gita.
Lalu apa yang terjadi kemudian? “Saya merasa lunglai, tak bertenaga, lagi pula merasa kurang semangat. Maka ke manapun saya pergi, batu ini selalu menyertai. Apalagi dalam mempimpin rapat saya kurang pede tanpa batu-batu alam itu, tak mudah percaya diri.” Gusti Made Gita boleh jadi benar, tapi belum tentu betul bagi orang lain. Karena, sebagaimana petuah orang bijak, kebahagiaan tak mudah didapat dari luar. Sepanjang orang dibuat menjadi tergantung, kebahagian sejati tak mungkin diraih. Petuah ini boleh jadi benar, sebab begitulah yang dituliskan para tetua Bali.
Seenak-enak nikmat dari luar, tentu tak mudah disamakan dengan bahagia yang datang dari dalam. Bahagia dalam tingkat permukaan boleh saja ditentukan dari terpenuhinya keinginan pikiran. Seorang remaja yang sedang ngebet ponsel baru toh merasa bahagia dan puas setelah keinginannya terpenuhi. Tapi yang namanya keinginan tak ubahnya lubang pasir haus air. Lubang pasir itu pun tak pernah puas pada air, sebab tak ada celah di mana air bisa tergenang.
Begitulah keinginan itu, tak kunjung dipuaskan. Di titik ini, bahagia merupakaan saat yang pendek, tentu. Sebab begitu keinginan terpenuhi, muncul keinginan baru, begitulah ia terus muncul. Bagi orang Bali kecenderungan ini diistilahkan tak ubah bara disiram minyak, buka api siramin lengis. Api keinginan pun makin membesar. Di sini nasihat tetua Bali betul, “Sebaiknya tidak usah menuruti keinginan berlebih, orang musti bisa mengukur diri, dan hidup akan indah bila dijalankan sesuai kondisi yang ada. Jika ini bisa dilakukan, rasa frustasi pun pasti menjauh.
Memang orang kerap bicara perihal kebahagiaan lahir batin. Tapi menurut para bijak, sungguh tak mudah memuaskan dahaga batin apabila orang tak belajar mengendalikan keinginan badani. Sepanjang orang tergantung, membiarkan godaan luar menjejali keinginan biologisnya, sepanjang itu pula kebahagiaan bersifat sementara atau sesaat. Lalu dahaga batin akan kebahagiaan tak cukup terpenuhi -- karenanya orang pun senantisa dikendalikan kekuatan luar.
Alakah elok orang mau berguru pada tabiat laron, di mana kawanan laron menemu ajal karena menuruti godaan luar – hingga laron pun mati sia-sia. Bayangkan saat musim hujan tiba, laron tergoda keluar sarang, dengan riang merubung lampu obor yang menyala di tengah kegelapan. Ajal laron pun tuntas dalam kobaran api. Begitulah nasib manusia yang tidak bisa membedakan kebahagian semu dan kebahagian sejati. Dan mereka yang senantiasa nuukin indria, tak pelak ajalnya pun dikabuti keinginan indria.
Tapi apakah kebahagian bisa diraih dengan jalan menyiksa diri? Melakukan tapa dengan keras, puasa tanpa berhitung kelemahan fisik, meditasi berhari-hari? Sekali lagi orang tak bisa melawan tubuh, sebab tubuh adalah arta paling utama dalam meraih kebahagiaan. Dalam fisik yang lemah, sakit-sakitan, kebahagiaan tentu akan menjadi khayalan semata. Maka teks-teks Bali pun menyarankan dengan sangat elok, hendaknya tubuh ini dirawat baik. Tubuh sebaiknya mendapat makanan sehat, segar, dan nutrisi yang cukup.
Bagawad-Gita, kitab paling agung yang dimiliki dunia Timur pun bertutur indah tentang pentingnya memperhatikan makanan. Sebab makananlah penentu kondisi pikiran, dan pikiran adalah penentu, pengendali keinginan. Gita menyarankan, orang hendaknya menyantap makanan satwik, makanan yang tidak basi, selalu segar, tidak pedas, bersumber dari bahan nabati.
Selain makanan banyak hal tentu yang mesti diperhatikan dalam merengkuh bahagia. Cara hidup, lingkungan, serta hubungan sosial sangat menentukan di mana orang bisa harmonis lahir batin. Pendeknya, orang tak usah terombang-ambing karena pengaruh luar. Hidup penuh syukur, tulus, pemaaf, pemberi, ringan hati, riang, menerima apa adanya, sungguh tak jauh dari kondisi bahagia dan damai. Maka pandai-pandailah bersyukur, niscaya kebahagiaan pasti jadi pihala Anda. I Wayan Westa
|