Edisi No. 101 / Tahun IX September 2008
majalah gumi bali [sarad]
prihal pikir, kata dan laku manusia bali
 
Jendela/Daftar Isi
Paruman/Sajian Utama
Lipsus
Kekariban
Tamu Kita
Adat
Glosary
Kelir
Peristiwa
Pustaka
Sambung Rasa
Sasih
Srada
Urun Rembug


   
LIPSUS
hal 1 | hal 2 | hal 3

Salah Kelola Bencana Menganga
Keperluan air di Bali saban tahun meningkat. Jika tak ada perbaikan pengeloaan dan pola distribusi, potensi yang ada akan mentok hanya bagi 4,2 juta jiwa penduduk.

Made Sujana, warga Subak Selat, Desa Buahan Kaja, Kecamatan Payangan, Kabupaten Gianyar, hanya bisa termenung memandangi lahan huma yang muali mengering. Sudah lebih dari seminggu areal persawahan yang semestinya siap dibajak tak juga mendapat bagian air.  “Sampai kini sawah saya belum dapat giliran air. Kalau dipaksakan membajak, takut tanahnya tambah mengeras,” ayah dua putra ini beralasan.     
Bermasalah dengan air, tentu bukan kali pertama dialami petani satu ini. Tiap kali musim tanam, terlebih kemarau tiba, persoalan ketersediaan air pasti menimpa sebagian besar lahan persawahan di Desa Buahan. “Acapkali lahan yang sudah siap tanam kembali kering. Tanah huma menjadi pecah dan saya terpaksa harus mengulang mencangkul,” tuturnya.
Kasus tanah huma kekeringan bukan hanya dialami warga Subak Buahan. Beberapa lahan pertanian milik warga subak, terutama di Bali Barat mengalami nasib serupa. Akibat debit air di bendungan Palasari, Kecamatan Melaya, Kabupaten Jembrana surut hingga lima meter, sekitar 1.300 hektar tanaman padi di wilayah Palasari dan sekitarnya hampir tiga bulan berjalan mengalami krisis air. Sedangkan petani huma di wilayah Subak Sombang, Desa Tukadaya, memilih tak menggarap lahannya karena tak ada huma kering.
Bukan cuma kalangan petani huma yang bermasalah dengan air. Kisah menyedihkan dialami masyarakat Desa Seraya Timur, Kecamatan Seraya dan di Kecamatan Kubu, keduanya berlokasi di Kabupaten Karangasem, yang saban tahun menjadi langganan kesulitan air bersih. Ribuan warga di dua desa bertetangga itu, saat musim kemarau tiba selalu kesulitan mendapatkan air bersih. Mereka harus rela antre berjam-jam di sungai nan jauh dari desa, hanya untuk mendapatkan seember air.      
Di perkotaan sebagian masyarakat dibuat jumpalitan dan kerap gusar menanti kucuran air Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM).  “Air PDAM ngadat bukan cerita baru bagi kami. Hampir setiap hari terjadi, terutama menjelang musim kemarau ,” Made Suartini warga dari kawasan Jalan Gunung Agung Denpasar berkeluh. 
Ancaman kekeringan dan krisis air bersih memang mendera Bali belakangan ini. Petani huma acap tertatih-tatih karena padinya kurang mendapat air. Pelanggan PDAM kerap dibuat menjerit akibat tak mendapat air. Para pemilik sumur pun bersiap-siap menggali lebih dalam lagi agar mendapatkan air bersih. “Air sungai di beberapa tempat memang mengalami penurunan debit. Entah apa yang menyebabkan,” keluh Pan Sawan, warga dari Desa Gadungan, Selemadeg Timur, Kabupaten Tabanan. 
Penurunan debit air di sejumlah daerah di Bali dibenarkan Kepala Urusan Teknik Balai Wilayah Sungai Bali-Penida Kantor Dinas Pekerjaan Umum Propinsi Bali, I Made Artika Jaya.
Berdasarkan data yang tercatat di Balai Wilayah Sungai Bali – Penida, jumlah sungai di Bali ada 162 buah. Dari angka itu, beberapa di antaranya mengalami kekeringan. Di Karangasem sebanyak 17 sungai, Buleleng sekitar 10 sungai, dan di Negara, Kabupaten Jembrana ada 6 sungai yang mengering.
Kondisi serupa juga terjadi di Kabupaten Tabanan. Hampir semua sungai serta sumber air di daerah lumbung beras itu debit airnya mengecil.
Masalah penyediaan air, tak terkecuali air bersih memang sedang melanda sebagian warga di Bali. Kisah air menyembul bening dari kelebutan, mengalir jernih ke telabah hingga ke hulu-hulu sawah petani, mengucur di pancuran-pancuran permandian umum, hanya kisah indah masa lalu.
Kenapa ini terjadi? Padahal dari inventarisasi sumber-sumber air pada studi Penyusunan Pola Induk Pengembangan Sumberdaya Air di seluruh sub-sub Satuan Wilayah Sungai (SWS) di Bali—studi ini membatasi definisi potensi sumber daya air (SDA) pada jenis sungai, mata air, dan 10 persen air tanah—menemukan data: hingga awal tahun 2005 saja, total SDA di Bali 4.582,054 juta m³ per tahun. Terdiri atas SDA sungai 4.125,58 juta m³ per tahun. Air tanah 160,201 juta m³ per tahun, dan 290,273 juta m³ per tahun untuk mata air.
Sedangkan JICA (Japan International Cooperation Agency),  lembaga bantuan pemerintah Jepang yang diperuntukkan bagi negara-negara berkembang, mendata hingga per Februari 2005, total persediaan air permukaan (sungai) di Bali 5.357,0 juta m³/tahun. Ini bersumber dari air permukaan 4.965,2 juta m³/tahun dan air tanah 391,8 juta m³ per tahun.
Adapun mata air Bali ada di 160 lokasi, dengan jumlah keseluruhan 1.274 buah, tersebar di 8 kabupaten, terkecuali Denpasar. Dari angka tadi, terbanyak di Buleleng, 327 sumber mata air. Paling sedikit di Badung, hanya 30 lokasi. Angka ini sejatinya  meningkat dua kali lipat dibandingkan tahun 1989 yang sesuai data laporan penelitian Lembaga Penelitian (Lemlit) Universitas Udayana mencapai 500 mata air, dengan volume air 422,59 juta m³  per tahun.
Kuantitas keperluan akan air hingga tahun 2003 mencapai 1.500,5 juta m³ per tahun. Lima tahun ke depan (2010) diperkirakan meningkat hingga pada angka 1.526,4 juta m³  per tahun, dan tahun 2025 naik menjadi 1.679,9 juta m³ /tahun.
Masih berpijak dari laporan JICA, jumlah bendung (empelan) penampung air di Bali saat ini ada 945 unit, tersebar di seluruh kabupaten/kota (lebih lengkap lihat  laporan :  paruman Majalah SARAD edisi 65, September 2005).
Dari segi potensi air, dengan luas pulau 5.600-an km² dan curah hujan cukup tinggi, rata-rata di atas 2.000 mm/tahun, sejatinya memiliki sumber daya air lumayan memadai. Dengan rata-rata hujan seperti dimaksud, masuk air ke bawah tanah sangat bagus, sehingga berpengaruh terhadap persediaan sumber daya air.
Dari hasil yang diperoleh peneliti manajemen air, Nyoman Norken, dosen Hidrologi dan Sumber Daya Air, Fakultas Teknik Unud setiap tahun ketersediaan air di Bali rata-rata 3.000 m³/kapita/tahun.   “Untuk memenuhi keperluan air masyarakat dan irigasi, sejatinya mencukupi,” tegasnya beberapa waktu lalu pada SARAD.
Tak terlalu berlebihan disampaikan Nyoman Norken. Berdasarkan data yang tercatat di Sub Dinas Sumber Daya Air dan Pelaksana Pedesaan Dinas Pekerjaan Umum (PU) Bali menunjukkan: Desember 2001 debit air di hilir Tukad Hoo rata-rata 1,37 m³. Bulan yang sama tahun berikutnya debit air naik rata-rata 2,93 m³, Desember 2003 naik rata-rata 2,98 m³, dan pada Desember 2004 menurun rata-rata 2,55 m.
Artinya, ketersediaan air tanah juga tinggi, terutama di daerah Badung, Denpasar, Gianyar, Klungkung, dan sebagian daerah Tabanan. Andai dirata-ratakan mencapai 30 ml/detik. Angka sebesar itu, kata Nyoman Norken, mampu memenuhi keperluan air satu kecamatan.
Krisis air, terutama di musim kemarau nyatanya tak merata terjadi di Bali. Jika di Buleleng, Jembrana, dan Karangasem debit air sungai mengalami penyusutan, maka berbeda dengan sungai yang tersebar di Kabupaten Badung, Kabupaten Klungkung, dan Kabupaten Gianyar, kondisi air sungainya cukup stabil.
Cobalah tengok di wilayah Tampaksiring (Tirta Empul dan sekitarnya), Gianyar, persediaan air tampak cukup besar, namun ironisnya di wilayah lain justru terjadi kekurangan air. Terjaganya sumber air di sejumlah kabupaten tadi, besar kemungkinan dipengaruhi oleh masih terjaganya hutan-hutan di pegunungan yang notabene memiliki peran mengikat air hujan. “Secara visual, air memang terlihat air melimpah di sejumlah wilayah. Tapi kondisi sebenarnya tidak demikian. Tetap terjadi ketimpangan antara kebutuhan dan penggunaan air tersebut,” Artika mempertegas.
Lebih lagi ketersediaan air di Bali sangat tergantung musim. Apabila musim kemarau, terjadi kekeringan karena terbatasnya air. Sungai-sungai kering karena tidak ada sumber air. Namun jika musim hujan datang, air berlimpah tapi tidak dipergunakan sebaik-baiknya.
Sesuai neraca hujan di Bali tahun 2007, masih ada air tersisa sekitar 30 – 40 persen, tapi air tersebut terbuang sia-sia, langsung jatuh ke laut, tidak dipergunakan. Sehingga saat musim kemarau tiba, terjadi kekurangan air 10 – 20 persen. “Persoalan inilah yang perlu mendapat perhatian lebih dari berbagai pihak,” tunjuk lelaki asal Penebel, Tabanan ini.
Khus us menyangkut keperluan air bersih, berpijak pada laporan hasil survey JICA per Februari 2005, maka kebutuhan akan air bersih di beberapa sektor memang cenderung meningkat. PDAM Denpasar, misalkan, jika pada 2005 memerlukan bahan baku air 76,8 juta m³/tahun, tahun 2010 meningkat menjadi 90,2 juta m³/tahun. PDAM Badung tahun 2005 perlu  air 36,2 m³/tahun dan tahun 2010 sebanyak 42,0 juta m³/tahun.
Artinya, di tengah kerisauan orang-orang akan mengecilnya persediaan air, maka akibat  angka penduduk melambung di luar kendali dan pertumbuhan keperluan sektor bisnis berlipat-lipat, keperluan akan air akan terus membumbung. Arie Lestari, WS

 
 
My Heaven Bali