Edisi No. 101 / Tahun IX September 2008
majalah gumi bali [sarad]
prihal pikir, kata dan laku manusia bali
 
Jendela/Daftar Isi
Paruman/Sajian Utama
Lipsus
Kekariban
Tamu Kita
Adat
Glosary
Kelir
Peristiwa
Pustaka
Sambung Rasa
Sasih
Srada
Urun Rembug


   
KEKARIBAN

Keresahan Mahasiswa Hindu Rantau di Bali
Tetap mempertahankan budaya di tanah asing, memang serba salah. Mempertahankan identitas budaya asal dikira tidak mau membaur. Lalu mereka pun bikin organisasi Hindu rantau di Bali.

Ini ceritera Hindu Jawa yang telah terkontaminasi dengan Hindu Bali. Ceritera tentang para mahasiswa Hindu asal Jawa yang menghadapi pilihan sulit: tetap pada identitas kehinduan lokal atau berbaur dengan tradisi Hindu Bali.
Bukan ceritara baru bahwa pengaruh budaya Bali khususnya  yang berbau Hindu sebagian besar diterima mentah-mentah oleh orang Hindu Jawa. Baik dalam hal upakara sampai pada tempat upacara. Banyak pihak menyangkan soal ini,  mengingat Hindu adalah agama yang fleksibel. Artinya Hindu dapat tumbuh dimanapun tempatnya berada menurut desa, kala dan patra. Namun bagi orang-orang Hindu yang tidak memahami Hindu secara utuh, menganggap bahwa Hindu adalah agama yang doktrin – harus ini, harus itu. Padahal Hindu selalu menyesuaikan di mana adat itu berlaku.
Meskipun pepatah mengatakan ‘di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung’ ada di kepala setiap orang, tetapi kenyataan tidaklah seindah ’puisi’ itu. Satu hal yang perlu diingat bagi setiap insan — lepas dari identitas agamanya adalah tanah kelahirannya sendiri. Tetapi saat bersamaan, ’rumput tetangga akan tampak lebih hijau daripada rumput di halaman sendiri’. Artinya ada sikap mendua dari umat Hindu Jawa jika melihat (dan juga meniru) Bali yang serba ’lengkap’ dan wah untuk urusan ritual, di sisi lain orang Hindu Jawa juga dituntut untuk ngopeni kabudayaan Jawi.
“Sebagian besar umat Hindu Tengger yang terpengaruh dengan budaya Hindu Bali adalah mereka yang rata-rata sudah tua”, papar Raha Winarko, mahasiswa asal Tengger, Jawa Timur yang sekarang melanjutkan studi di Universitas Hindu Indonesia (Unhi) Denpasar. Dengan bangganya orang-orang Jawa membawa budaya-budaya Bali dan diterapkan di Jawa tanpa ada rasa ‘membatasi’. Banyak kejadian demikian menimpa mahasiswa yang sudah menamatkan studinya di Bali dan saat kembali ke Jawa, seperti lupa dengan asalnya. Ditandaskan Raha, seorang tokoh agama dari Departemen Agama Kabupaten Tengger pun ikut tergoda. Kenyataan ini tentu saja menyayat hati pecinta Hindu Tengger. Kalau orang dewasa bahkan orang tua sudah terpengaruh dengan Hindu Bali, lalu bagaimana dengan generasi muda ? Bisa-bisa Hindu asli Tengger berubah menjadi Hindu Bali secara keseluruhan.
Dalam pengamatan mahasiswa semester III Fakultas Ilmu Agama Unhi ini, Hindu Tengger, hanya tinggal nama saja karena kehinduannya telah ’dijajah’ oleh Hindu Bali. ”Upacara melaspas pelingih, misalnya, unsur budaya Hindu Bali, seperti banten pamalaspas diterapkan di Tengger sama persis dengan banten di Bali” , ujar Raha memberi contoh.  Jika saja umat Hindu Tengger tetap melestarikan adat asli Tengger (Hindu Tengger), mungkin peniruan mentah-mentah tidak akan terjadi. Ia menyayangkan keadaan yang sekarang sedang menimpa rekan-rekan maupun kerabatnya di Tengger. ”Yo...piye maneh. Wis ora iso diomongi, (habis bagaimana lagi. Sudah tidak bisa dibicarakan lagi)” tandas pria berambut ikal ini pasrah.
Namun ia tak pernah putus asa. Mahasiswa yang pandai berdharma wacana ini mempunyai cita-cita yang sangat mulia. Ia ingin mengabdi di desa, tempat ia lahir setelah menamatkan S1 di Unhi. Langkah pertama yang akan ia lakukan yaitu menyamakan rasa kekeluargaan antara umat Hindu di daerahnya. Hal ini dilakukannya lantaran umat Hindu di daerah Tengger, tempat ia dilahirkan selalu jor-joran (bermusuhan) pada acara-acara keagamaan tertentu, misalnya pada waktu hari raya Nyepi. Saat itulah umat Hindu selalu bertanding membuat ogoh-ogoh sehingga siapa yang menang akan dimusuhi yang kalah. ”Ini malah membuat Hindu jadi jelek di mata umat agama lain,” tandas pria yang mahir memainkan alat musik keyboard ini.
Bukan hanya di Tengger, di Jawa Tengah juga terancam akan proyek balinisasi. Ariyanto yang berasal dari Boyolali, Jawa Tengah. Ia juga memaparkan hal yang sama, yaitu keprihatinan dengan Hindu Jawa yang semakin memudar. Hal ini nampak pada bentuk pelinggih-pelinggih di Jawa Tengah khususnya, yang menirukan bentuk pelinggih di Bali. Bahkan sampai urusan bebanten segala. ”Podo. Plek...! (sama persis)” cecar Ariyanto. Bagi Ariyanto Hindu di Jawa dan di Bali sangat berbeda — meskipun tujuannya sama. Dari segi busana, rutinitas keagamaan, upakara dan upacara sampai hal yang terlihat sekecil debu di ujung kuku seperti nada (melodi) Tri Sandya pun berbeda. Baik Raha maupun Ariyanto bersikeras berkeinginan mempelajari Hindu di Bali dengan tetap memegang teguh budaya mereka sendiri. Buktinya, pada hari raya keagamaan Hindu di Bali, mereka tetap mengenakan busana sembahyang ala Jawa. Dengan blangkon (sebutan udeng di Jawa) mereka berani dan dengan  rasa percaya-diri melenggang ke berbgai pura di Bali untuk mengikuti persembahyangan bersama umat-umat Hindu Bali lainnya. Ribuan pasang mata menoleh ke arah mereka. Sebagian berseru ‘cocok’ tak sedikit pula terdengar cibiran, cemooh dari orang Hindu Bali soal ’kulit’ yang mereka kenakan. Apa kata mereka ?
“Kenapa orang Jawa pakai blangkon dicemooh ? Umat Hindu Bali yang sembahyang di Pura Jawa selalu memakai udeng !”, ucap Ariyanto dengan hentakan suara yang terasa keras. Bukan sebuah luapan emosi, tapi mencoba meredam rasa jengkel dalam hati agar si pencemooh dapat bercermin diri. Parahnya lagi, ke dua mahasiswa asal Jawa ini, juga sering dilecehkan orang Hindu Bali yang menganggap Hindu hanya ada di Bali, tidak di tempat lain. Tentu saja ini merupakan sebuah pemikiran dan pengetahuan yang begitu sempit dan fanatik. Andai saja semua orang-orang Bali rajin membuka sejarah perkembangan agama Hindu di Indonesia, mungkin ke dua mahasiswa ini tidak akan begitu sakit hati dengan anggapan ‘Hindu hanya ada di Bali’ – mirip diskriminasi.
Untuk itulah mereka berangkat membentuk perkumpulan mahasiswa luar Bali yang kuliah di Unhi. Kurang lebih berjumlah 100 mahasiswa dari luar Bali dari semester I sampai VIII. ”Bukan ingin mengkotak-kotakkan diri atau mengasingkan diri. Namun ingin melakukan interpretasi Hindu yang lebih pluralistik dan berwawasan kebangsaan,” kata Raha. Untuk tujuan itu para mahasiswa yang tergabung dalam organisasi bernama Organisasi Mahasiswa Hindu Rantau (Omahendra). ”Pada awalnya organisasi ini berbentuk paguyuban, tapi terkesan primordial banget. Lalu dibentuklah organisasi yang lebih enklusif,” papar Raha. Organisasi telah mengadakan kegiatan Latihan Kepemimpinan Manajemen Organisasi di pura Er Jeruk Sukawati, 26-27 Juli lalu dengan menghadirkan pembicara mantan aktivis muda-mudi Hindu di Yogya, Dewa Ketut Putra dan Susilo Edy Purwanto, mantan demonstran yang juga alumni Unhi.  
Pertemuan dengan anggota mahasiswa luar Bali yang notabene berasal dari Sumatra, Sulawesi, Lombok, dan Jawa, mereka bisa mengenal budaya Hindu di daerah masing-masing, bahwa Hindu sangat fleksibel dan plural – memperkaya pengetahuan. ”Organisasi inimemang dibentuk untuk memperkecil cultural lag (kesenjangan budaya) Hindu yang beragam,” kata Edy menimpali.
Kesenjangan budaya inilah yang mungkin dialami sama Raha dan Ariyanto. Namun tidak bagi Juah Ginting, mahasiswa Hindu asal Medan. ”Hindu di Bali itu rumit...!” ujarnya pada SARAD, terheran-heran. Rumitnya Hindu di Bali di tunjuk Ginting dengan  banyaknya ragam pura dan hari-hari raya keagamaan.
Hindu di Medan, menurut Ginting, sungguh sangat berbeda dengan Hindu Bali dan Hindu Jawa. ”Di Medan hanya ada persembahyangan Purnama-Tilem” celetuknya acuh tak acuh. Pendek cerita, mahasiswa yang mempunyai hobi main gitar ini masih tetap dengan gaya Medan-nya yang kental, terutama cara bicara yang menghentak-hentak. Dengan cara itu ia masih bisa beradaptasi dengan lingkungan di Bali.
Baik Raha, Ariyanto maupun Ginting memiliki persamaan dalam bersikap, yaitu keinginannya untuk kembali ke daerah asal masing-masing. ”Ingin mengabdikan ilmu di daerah asal,” ujarnya lirih. Sebuah kalimat yang klise, namun bisa juga dilihat sebagai suatu pernyataan ironik: Di satu sisi kaum muda datang ke Bali untuk mencari ’kiblat’ Hindu Indonesia, namun sesampainya di Bali mereka justru merasa terasing dengan identitas kehinduannya.
Tri Wahyu Utami, Jayakumara

SESEPUH JAWA TULEN
Pak Jono – sapaan akrab untuk tokoh Hindu yang mempunyai nama lengkap S. Djono Dhanu Wibowo ini. Beliau berasal dari Solo, Jawa Tengah dan telah berdiam di Bali selama kurang lebih 15 tahun bersama dengan keluarganya.
Semangat sosial dalam jiwa Bapak dua anak ini mampu membakar gelora kebersamaan generasi muda terutama para mahasiswa Hindu yang berasal dari Luar Bali. Meskipun sekarang berusia pensiun, namun kegigihannya dalam melakukan kegiatan sosial memang patut ditiru. Umur baginya tidak jadi soal.
“Membangun Jawa Tengah dan Jawa Timur adalah cita-cita saya dari dulu. Karena di sanalah terdapat bibit-bibit yang akan tumbuh dan mampu mengembangkan Hindu ke depan”, sebuah pengakuan Pak Jono saat ditemui di kediamannya di Tohpati, Denpasar. Harapan dan cita-cita yang sangat mulia. Meskipun telah sekian lama Beliau menjadi tokoh dalam bidang keagamaan Hindu di Jawa maupun di Bali, namun beliau tetap teguh pada ‘Njowone’. Sifatnya yang lemah lembut, penuh cinta kasih terhadap sesama dan unggah-ungguh yang tak pernah beliau lalaikan.
Untuk merealisasikan angan-angannya, maka Ia sangat mendukung dibentuknya perkumpulan mahasiswa dari luar Bali di Unhi. Setiap kali pertemuan beliau selalu memberikan nasehat agar ‘kita tidak boleh lupa dengan leluhur – ojo ora Njawani”. Dengan demikian maka para mahasiswa yang mampir ke Bali untuk menuntut ilmu diharapkan tidak sampai kehilangan jadi diri mereka. TWU.

 
 
My Heaven Bali